Sejujurnya sejak tadi Li Xian menjadi bingung sendiri menghadapi wanita yang kini duduk tepat di sampingnya. Meja berbentuk bundar menyajikan banyak sekali makan nikmat. Namun, tetap saja hal tersebut tidak bisa mengalihkan perhatian lelaki itu pada seorang wanita cantik yang sejak tadi sudah memasang ekspresi wajah datar.
“Li Xian, makanlah!” titah Chen Qianqian tersenyum ramah membuat lelaki itu ikut memabalas senyumanya.
Tentu saja ia bukan tipikal lelaki cuek sehingga bisa mengabaikan banyak orang yang ramah pada dirinya. Akan tetapi, Li Xian memang selalu dididik oleh Li Yura agar tetap memasang wajah ramah pada siapa pun. Tidak peduli mereka berada di kalangan atas ataupun bawah. Yang terpenting mereka baik dan dibalas dengan kebaikan pula.
Namun, begitupun sebaliknya. Li Xian tidak akan memberikan toleransi dalam bentuk apa pun kepada orang yang telah menghina keluarganya. Bahkan ia tidak segan-segan memberikan pelajaran yang jauh lebih menyakitkan dari mereka perbuat. Bukan karena Li Xian pedendam, melainkan ia hanya menjunjung tinggi kejujuran.
“Iya, Ta Shao,” balas Li Xian membuat Xiao Na spontan menoleh ke arah lelaki itu.
“Ta Shao?” celetuk Xiao Na memperagakan perkataan lelaki itu dengan wajah sedikit tidak percaya.
“Tentu saja. Bukankah aku dan kau sedang dijodohkan, jadi aku harus beradaptasi dengan semua ini,” balas Li Xian ringan membuat kedua orang tua mereka yang mendengarnya langsung tertawa geli.
“Aiya, Li Xian! Kau jangan sungkan, ya. Abaikan semua perkataan Xiao Na. Dia memang seperti itu. Kurang ramah pada siapa pun,” sela Zhang De Nan tersenyum penuh penyesalan.
Sedangkan Zhang Rou Na langsung melayangkan tatapan tajam ke arah Xiao Na. Sayangnya, wanita itu memutar bola matanya malas. Seakan-akan ia tengah muak dengan semua sandiwara di meja ini.
Spontan Zhang Xiao Na pun bangkit dari tempat duduknya membuat pandangan semua orang yang ada di sana langsung terpaku pada wanita itu. Akan tetapi, ia tidak memedulikan itu semua. Sebab, dirinya memang sudah benar-benar tidak tahan dengan semua ini.
“Maafkan aku. Sepertinya aku mengangkat telepon dulu,” sesal Xiao Na tersenyum singkat.
“Pergilah, Xiao Na!” balas Li Yura tersenyum ramah.
Entah kenapa senyuman itu membuat Xiao Na sedikit tenang. Ia memang cukup terkesan dengan pembawaan wanita anggun di hadapannya. Seakan-akan wanita itu memang menyayangi dirinya tanpa meminta imbalan apa pun sehingga menjadikan kesannya cukup baik.
“Terima kasih. Aku pamit dulu,” putus Xiao Na benar-benar melenggang pergi dari sana membuat Xiao Wei langsung melemparkan tatapan menuntut, tetapi adiknya malah menggeleng pelan. Menandakan kalau ia baik-baik saja.
Kepergian Xiao Na pun membuat meja mendadak sepi hanya Li Xian yang sesekali menoleh ke arah sang ibu dengan tatapan memohon. Memang sejak tadi ia sudah meminta izin pada Li Yura agar dirinya bisa menyusul Xiao Na. Namun, sayangnya sang ibu tetap menggeleng keras.
Tidak ingin menyerah, Li Xian memperlihatkan arloji mewah yang ada di tangan kirinya membuat Li Yura melirik singkat. Lalu, menatap bingung sekaligus terkejut. Ternyata sudah mendekati waktu pergantian tahun.
“Ma,” panggil Li Xian dengan tatapan memohon.
Akhirnya, Li Yura yang sejak tadi melihat kegigihan sang anak pun lebih baik menyetujuinya saja daripada harus terus melihat tatapan menggelikan Li Xian.
“Pergilah,” titah Li Yura membuat Li Xian seketika berbinar ceria.
“Xie xie, Ma,” balas lelaki itu spontan bangkit membuat semua pandangan tertuju padanya.
Sebenarnya sejak tadi tidak ada yang membuka suara seakan tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing. Bahkan Xiao Wei dan Chen Qianqian pun ikut diam sembari terus memakan makan yang ada di hadapan mereka berdua. Sebab, mengingat ada ibu hamil yang mudah sekali lapar.
“Permisi, Nyonya Zhang, Tuan Zhang! Aku harus menyusul Xiao Na. Sepertinya dia belum kembali sejak tadi,” ucap Li Xian meminta izin kepada sepasang suami istri yang terlihat saling berpandangan.
“Oh, baiklah. Tidak apa-apa, Li Xian. Maaf sudah merepotkanmu,” balas Zhang De Nan tertawa pelan.
“Jangan khawatir. Aku akan segera menemukan Xiao Na kembali,” tegas Li Xian membuat Li Tian Xin mengangguk puas.
Kemudian, lelaki berpakaian mantel besar dengan kemeja biru di dalamnya itu pun melenggang keluar. Tentu saja para pelayan hotel yang tanpa sengaja mendapati Li Xian baru saja keluar dari salah satu ruangan privat pun menjerit tertahankan.
Aura kepemimpinan sekaligus ketegasan yang diwarisi oleh Li Tian Xin membuat lelaki itu dikagumi banyak perempuan. Sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka yang mampu menjadikan perasaan Li Xian meledak-ledak bak tengah bersama dengan Xiao Na.
Sebenarnya, Li Xian tidak tahu pasti tentang restoran mewah ini sehingga ia cukup kesulitan mencari keberadaan Xiao Na. Akan tetapi, nasib baik mungkin tengah menghampiri lelaki itu sehingga tanpa sengaja tatapannya terpaku pada seorang wanita cantik dengan rambut tergerai indah yang tertiup oleh angin.
“Nana!” panggil Li Xian berlari cepat menghampiri wanita itu.
Sedangkan Xiao Na yang mendengar namanya dipanggil pun langsung menoleh, lalu mendapati seorang lelaki berpakaian semi formal berdiri tepat di sampingnya.
“Li Xian?” gumam Xiao Na sedikit tidak percaya.
“Kenapa kau tidak kembali lagi ke dalam?” tanya lelaki itu mendudukkan diri tepat di hadapan Xiao Na.
“Entahlah. Aku hanya ingin menikmati tahun baru kali ini di luar,” jawab Xiao Na kembali menatap langit yang mulai dihiasi petasan. Sebab, sudah mendekati detik-detik pergantian hari dan tahun.
Mendengar hal tersebut, Li Xian pun melakukan hal yang sama. Lelaki itu terlihat mendongak ke atas menikmati semilir angin malam yang mulai membelai wajahnya tanpa pamrih. Akan tetapi, diam-diam hal tersebut membuat Xiao Na menoleh sesaat.
Xiao Na mulai terpaku pada garis wajah Li Xian yang kalau diperhatikan cukup menarik. Rahang tegas yang dipadukan dengan hidung bangir itu tampak cocok. Lalu, ada sepasang alis tebal memberikan kesan tegas pada bibir tipis yang entah sejak kapan mulai menarik perhatian Xiao Na.
Tanpa sadar petasan mulai berbunyi bersahut-sahutan membuat Xiao Na langsung mengalihkan perhatiannya pada Li Xian. Kemudian, menatap ponselnya yang sudah menandakan waktu tahun baru telah tiba dan disambut suka cita oleh mereka semua.
“Selamat tahun baru, Li Xian,” ucap Xiao Na tersenyum tulus.
Li Xian sama sekali tidak menduga kalau wanita cantik yang ada di sampingnya akan mengatakan setulus itu. Karena sejak tadi ia sudah menduga kalau Xiao Na tidak akan mengerti apa yang terjadi di tahun selanjutnya dan akan selalu bersikap acuh tak acuh.
Namun, ucapan itu mampu mematahkan semua presepsi dirinya sehingga Li Xian mulai berpikiran kalau Xiao Na akan segera berubah. Memang tidak singkat, tetapi itu sudah menjadi semua jawabannya kalau Xiao Na menerima perjodohan ini dengan lapang d**a.
“Selama ulang tahun, Zhang Xiao Na,” balas Li Xian tersenyum manis.
Seketika Xiao Na yang mendengar hal tersebut langsung terkejut sekaligus tidak percaya. “Dari mana kau mengetahui ulang tahunku?”
“Apa kau lupa kalau aku juga seorang programmer?” balas Li Xian malah berbalik tanya membuat air mata Xiao Na spontan meleleh.
Tentu saja hal tersebut membuat Li Xian menjadi panik, lalu menghampiri wanita itu. Ia menangkup wajah mungil yang sejak kemarin sudah mengisi mimpi indahnya.
“Nana, kau tidak apa-apa?” tanya Li Xian lembut.