74. Shut Up!

1091 Kata
Kini ketiganya pun terhenti tepat di tengah-tengah dua mobil mewah yang berbeda warna. Dapat Xiao Na tebak salah satunya adalah milik Li Xian. Karena terlihat asing dengan desain mobil tersebut seakan ia memang tidak pernah melihatnya selama ini. Atau mungkin mobil milik lelaki itu adalah keluaran terbatas sehingga tidak dimiliki banyak orang. “Pa, dua mobil saja?” tanya Xiao Wei mewakilkan dari kedua wanita yang terlihat berkerut bingung. “Iya. Jadi, Papa dan Mama akan satu mobil dengan Li Tian Xin, sedangkan kau, Xiao Qian, dan Xiao Na bersama dengan Li Xian,” jawab Zhang De Nan menunjuk salah satu mobil milik Keluarga Zhang yang jarang sekali keluar. Memang salah satu koleksi milik Zhang De Na sehingga tampak masih sangat baru. Sedangkan Xiao Wei yang mendengar hal tersebut langsung menoleh ke arah sang istri dengan lesu, lalu menunjuk mobil mewah milik Li Xian. Tentu saja Chen Qianqian yang mengerti akan kode tersebut langsung mengangguk pelan. “Nana, kita akan satu mobil dengan Li Xian,” ucap wanita tengah berbadan dua itu. Seketika Xiao Na langsung mendelik tidak percaya, lalu menatap mobil yang akan ia naiki nanti. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan harga ataupun desainnya, tetapi satu mobil dengan karyawannya sendiri itu sangatlah canggung. Apalagi mereka berdua tengah melakukan perjodohan, jadi tidak mungkin berada di ruang lingkup yang sama. “Ge, aku membawa mobil sendiri saja, ya?” pinta Xiao Na menggeleng keras. Menolak titahan yang sudah tercantum tanpa diganggu gugat. “Tidak. Kita bertiga akan satu mobil dengan Li Xian,” cetus Xiao Wei tidak menyetujui permintaan adiknya sehingga membuat Xiao Na mendengkus keras-keras. Sejujurnya ini memang sudah di luar dugaan Xiao Na. Padahal keluarganya dikenal sangat menyusahkan masalah restoran sehingga tidak sedikit dari para kolega lebih memilih untuk membahas perjodohan ketika mereka tengah berada di kantor sekaligus membahas pekerjaan. Memang sedikit aneh mengetahui keluarganya sama sekali tidak mempermasalahkan ke restoran mana pun. Seakan suami istri Zhang itu sudah kehilangan selera mewahnya di hadapan Keluarga Li yang entah dari mana asalnya. Bahkan Xiao Na masih tidak tahu latar belakang dari leluarga itu, meskipun tengah dijodohkan pada dirinya. Sesosok wanita anggun itu tampak menghampiri Xiao Na sembari tersenyum khas keibuan. Tentu saja tidak ada yang tahu kalau itu hanyalah sandiwara semata. Nyatanya Keluarga Zhang tidak seharmonis kelihatan, mereka selalu saja berakting seakan keluarga paling bahagia. “Nana, nanti kau satu mobil bersama Li Xian, ya?” ucap Zhang Rou Na tersenyum tipis sembari merapikan sedikit rambut Xiao Na yang tergerai indah. Sejenak wanita itu mematung melihat tingkah ibunya sendiri. Ia sedikit tidak percaya kalau mereka akan melakukan aksinya lagi. Padahal hanya di hadapan Keluarga Li yang entah sekaya apa mereka sehingga mampu membuat kedua orang tuanya kembali berakting. Xiao Na menggeram pelan membalas perkataan sang ibu tanpa minat, lalu melenggang pergi meraih lengan kakak iparnya yang tengah hamil untuk masuk ke dalam mobil. Dan meninggalkan Zhang Rou Nan yang terlihat menahan emosinya sendiri. “Ta Shao, kita masuk dulu. Biarlah Mamaku dan Kakakku berbicara sesuka hati. Aku sedang malas meladeni mereka,” ajak Xiao Na membuat Chen Qianqian tersenyum tipis. Memang sudah menjadi rahasia umum kalau Xiao Na dan Zhang Rou Nan sedikit merenggang. Mungkin bukan sedikit lagi, melainkan benar-benar merenggang seakan tidak ada lagi hubungan yang bisa diperbaiki di antara keduanya. “Nana, apa kau akan bersikap dingin terus kepada Mama?” tanya Chen Qianqian pelan. Ia tidak ingin ada orang lain yang mendengarnya. “Entahlah. Aku hanya tidak mengerti dengan wanita itu,” jawab Xiao Na ringan, lalu membuka pintu mobil penumpang untuk mempersilakan kakak iparnya masuk ke dalam. Namun, gerakan itu membuat seorang lelaki yang duduk di jok kemudi mengalihkan perhatiannya menatap dua orang wanita masuk ke dalam. Tentu saja itu adalah Xiao Na dan seorang wanita hamil yang ia ketahui istri dari Xiao Wei. Setelah mendudukkan kakak iparnya dengan baik, Xiao Na pun kembali menutup pintu mobil dan mengitari bagasi belakang mobil tersebut. Kemudian, membuka pintu mobil lagi untuk mendudukkan diri di samping Chen Qianqian. Akan tetapi, sebelum hal tersebut terjadi, Xiao Wei sudah kembali menyusul sang istri dengan menarik keras gaun milik adiknya untuk mengurungkan niat duduk di sana. Hal tersebut tentu saja mengundang tatapan kesal Xiao Na. “Ada apa, Ge?” protes Xiao Na menyingkirkan tangan Xiao Wei sedikit kasar. “Kau duduk dengan Li Xian, dan aku bersama istriku sendiri. Kau jangan bertingkah seolah kau adalah suami Chen Qianqian,” titah Xiao Wei menunjuk jok co-supir yang kosong. “Tidak!” tolak Xiao Na keras. Xiao Wei mengangkat alis kanannya tidak percaya. “Kau yakin? Atau kau mau duduk di bagasi belakang saja?” “Ge! Kau kejam sekali padaku?” sindir Xiao Na kesal. “Apa? Bukankah kau sendiri yang ingin dikejami, Nana?” balas Xiao Wei tersenyum manis membuat wanita itu langsung mendelik tidak percaya. “Ta Shao!!!” seru Xiao Na mengadu pada Chen Qianqian yang sejak tadi sudah tertawa geli melihat kakak beradik itu tengah berdebat. Merasa terpanggil, Chen Qianqian pun langsung menyela, “Suamiku, sudahlah. Kau selalu saja menggoda Nana.” Sedangkan Xiao Na yang sudah mendapat suara pun menjulurkan lidahnya penuh mengejek pada sang kakak. Tentu saja ia sedikit kesal pada Xiao Wei yang selalu saja meributkan hal-hal kecil seperti tempat duduk di mobil ini. Akhirnya, Xiao Na pun memutuskan untuk mengalah saja. Karena tidak ingin berlama-lama berdebat, dan sudah dapat dipastikan beberapa menit lagi akan ada sepasang suami istri yang menegur dirinya agar cepat naik ke dalam mobil. Siapa lagi bukan Zhang Zhang couple. Namun, sebuah pengalaman baru bagi Li Xian untuk mengetahui seberapa dekatnya Xiao Na pada sang kakak. Meskipun lelaki itu telah berkeluarga, tetapi tetap saja hubungan keduanya sama sekali tidak merenggang. Atau mungkin malah semakin mengerat. “Ni hao, Presdir Zhang!” sapa Li Xian tersenyum manis ke arah wanita yang hendak mendudukkan diri di sampingnya. “Kenapa kau yang malah dijodohkan denganku? Aku pikir, ada lelaki tampan seperti Kim Soo Hyun yang akan berkencan denganku di malam tahun baru ini,” ucap Xiao Na tidak pernah menghilangkan nada sinisnya ketika bertemu dengan lelaki itu. “Oh tidak, mimpimu jangan terlalu tinggi, Presdir Zhang. Hati-hati nanti terjatuh akan lebih sakit,” balas Li Xian mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Shut up! Aku malas berdebat denganmu. Karena malam ini mood-ku hancur hanya mengetahui karyawanku sendiri yang datang menemuiku untuk melangsungkan perjodohan konyol ini,” jeda Xiao Na menarik napas pelan. “Bukannya gengsiku besar untuk berkencang dengan karyawan, hanya saja aku sama sekali tidak tertarik dengan lelaki yang satu kantor. Walaupun kau memiliki jabatan tinggi sekali pun.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN