Setelah selesai berganti pakaian, Xiao Na pun kembali ke ruang tamu sayap Timur. Tentu saja untuk menemui tamu tak diundang yang ternyata adalah karyawannya sendiri. Bukan karena ia malu berkencang dengan seorang karyawan, tetapi Xiao Na jelas sekali tidak percaya dengan semua kenyataan ini. Sejak kapan orang tuanya mau menjodohkan diri dengan lelaki dengan latar belakang biasa aja?
Namun, Xiao Na yang tidak ingin ambil pusing pun hanya menuruti kemauan mereka saja daripada berdebat tidak ada habisnya. Karena selama ini ia memang sudah lelah menghadapi kemauan orang tuanya yang selalu saja mementingkan harta sampai Xiao na tidak mengerti. Apakah di otak mereka hanya ada harta?
Yang jelas, ia sedikit bersyukur kalau orang tuanya benar-benar menginginkan dirinya menikah dan bukan karena harta. Sebab, Xiao Na sudah mengetahui latar belakang Li Xian yang tergolong menengah ke atas, meskipun ia tidak tahu pasti hal tersebut. Karena ia mempekerjakan lelaki itu untuk mendorong perusahaannya lebih maju lagi.
“Shushu, A yi, hao!” sapa Xiao Na menundukkan tubuhnya hormat, lalu tersenyum tipis.
“Ah, hao! Ini Nana, benar ‘kan?” tanya Li Yura tersenyum lebar menatap seorang wanita cantik yang kini mendudukkan diri di samping Zhang Rou Na.
Jika kebanyakan mengira Xiao Na akan banyak tersenyum, itu mungkin salah besar. Nyatanya ia hanya memasang ekspresi wajah datar sembari sesekali berbincang pada Chen Qianqian yang terlihat sibuk memakan cemilan. Entah kenapa ibu hamil itu seakan tidak memiliki rasa kenyang sama sekali dan terus saja mengunyah tanpa henti.
“Iya, A yi,” jawab Xiao Na mengangguk singkat.
Li Yura pun melirik ke arah sang anak yang sejak tadi hanya sibuk menatap Xiao Na tanpa berkedip sama sekali. Membuat Li Xian terlihat jelas sekali sangat menginginkan wanita itu, meskipun ia tidak mengatakannya dengan gamblang.
“Sepertinya pertemuan ini memang sudah didukung takdir, ya?” celetuk Zhang De Nan mengundang tatapan penasaran dari Li Tian Xin.
“Mengapa begitu?”
Zhang De Nan yang mendengar perkataan kolega bisnisnya pun tertawa geli. “Belakangan ini Nana jarang sekali bisa mengunjungi kedua orang tuanya. Dia selalu saja beralasan sibuk ketika diminta untuk pulang, dan hanya ada Xiao Wei yang terkadang mengunjungi kami.”
“Tidak apa-apa. Xiao Zhang. Aku tahu menjadi seorang pebisnis itu tidaklah mudah. Apalagi Nana merintis usaha dari bawah dan butuh kerja keras yang tidak singkat,” balas Li Tian Xin tersenyum ringan ke arah Xiao Na dan dibalas senyuman tipis. Menandakan kalau wanita itu menghargai semua ucapannya dengan baik.
“Kau sangat mengerti Nana, Lao Li. Padahal dia bisa saja bekerja dengan Kakaknya yang sudah memegang perusahaanku,” ucap Zhang De Nan menggeleng tidak percaya, lalu menyeruput teh hijau yang dibawakan oleh Li Xian tadi.
“Sekali-kali orang tua memang harus mengerti anak, Xiao Zhang. Lagi pula tidak ada salahnya kalau Nana menginginkan kerja kerasnya sendiri daripada terus meminta padamu,” bela Li Tian Xin yang terus mendukung kemauan Xiao Na.
Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Li Tian Xin ada benarnya. Selama ini Xiao Na hanya menginginkan usaha sendiri tanpa ada iming-iming bantuan dari orang tuanya, meskipun hal tersebut sangatlah mudah. Apalagi selama ini sang kakak selalu saja memperhatikan dirinya dengan baik, di sela-sela sibuknya mengurus perusahaan besar.
Melihat Li Tian Xin yang terus-terusan membela Xiao Na membuat Zhang Rou Na terlihat tidak suka. Meskipun ia tidak memperlihatkannya dengan jelas, tetapi berkali-kali wanita itu mendengkus kesal. Bahkan mampu mengalihkan perhatian Li Xian yang sejak tadi sibuk menatap Xiao Na tanpa henti.
“Bagaimana kalau kita semua makan di luar?” ajak Zhang De Nan menatap semua yang ada di sana dengan berbinar.
“Sayang sekali, aku dan keluarga sudah makan tadi,” sesal Li Tian Xin menggeleng pelan.
“Tidak apa-apa, kita hanya memakan makanan ringan saja. Lagi pula malam ini malam tahun baru yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Kita semua harus merayakannya,” ucap Zhang De Nan seakan tidak ingin melewatkan momen ini.
Sejenak Li Tian Xin pun menatap sang istri untuk meminta persetujuan. Tentu saja tidak ingin membuat Xiao Na canggung, Li Yura pun mengangguk pelan sembari melemparkan senyuman ringan ke arah Xiao Na yang tersenyum kaku. Entah kenapa wanita itu masih saja bersikap seakan mereka semua orang asing.
Sedangkan Li Xian yang mengerti akan tatapan sang ibu pun mengkode Xiao Na untuk bersikap biasa aja, meskipun ia tahu kalau hal tersebut kemungkinannya sangat kecil. Sehingga mau tidak mau Li Xian pun menyikapinya dengan baik, karena wanita itu akan selalu bersikap dingin pada siapa pun yang ditemui.
“Hao! Ini akan menjadi kabar yang sangat baik untuk keluarga kita,” canda Zhang De Nan mengundang gelak tawa geli dari Li Tian Xin.
Kedua keluarga yang hendak melangsungkan perjodohan itu pun bangkit dari tempat duduknya. Tentu saja Li Xian yang mengerti akan tatapan sang ayah langsung berlari lebih dulu menyiapkan kendaraan untuk mereka pergi ke salah satu restoran mewah.
Sayangnya tatapan bahagia itu sama sekali tidak terlihat di wajah Xiao Na. Wanita yang kini mengenakan gaun berwarna merah itu pun melangkah tanpa tenaga di belakang Xiao Wei dan Chen Qianqian. Ia memang sengaja berjalan terakhir agar bisa mengulur waktu lebih lama. Meskipun dalam hatinya sangat menginginkan semua ini gagal begitu saja.
“Nana, apa kau tidak suka melakukan perjodohan ini?” tanya Chen Qianqian pelan.
“Entahlah, Ta Shao. Aku hanya merasa sangat lelah untuk bepergian lagi,” jawab Xiao Na malas.
Hal tersebut membuat Xiao Wei menghela napas panjang, lalu menyela, “Jalankan saja dulu, Nana. Suka atau tidak, kau bisa membicarakannya dengan baik bersama Li Xian. Lagi pula aku lihat dia lelaki yang cukup baik untukmu.”
Seketika Xiao Na pun mempercepat langkahnya menyusul sang kakak yang baru saja mengatakan hal di luar dugaan, dan sedikit aneh. Karena jarang sekali lelaki itu merestui perjodohan dalam pertemuan sekali.
“Apa kau pernah bertemu dengan Li Xian sebelumnya, Ge?” tanya Xiao Na dengan tatapan menyelidik membuat Xiao Wei langsung terdiam terkejut.
“Tentu saja aku pernah bertemu dengan dia. Bukankah Li Xian adalah karyawanmu sendiri?” Xiao Wei malah berbalik tanya membuat Xiao Na memutar bola matanya malas.
“Tidak. Aku bertanya selain di kantor. Di tempat lain. Apa kau pernah bertemu?” tanya Xiao Na masih pada pendiriannya.
Xiao Wei tersenyum geli melihat adiknya yang semakin gencar mencari kebenaran di balik kebohohan. Meskipun tidak sepenuhnya berbohong, tetapi ia mulai merasa pernah mengenal lelaki itu sangat dekat.
“Aiya, kita sudah kehilangan jauh. Ayo, cepat jalan! Pertanyaanmu nanti saja aku jawab.” Elak Xiao Wei berusaha mengalihkan pembicaraan sang adik yang menjurus pada sesuatu.