72. Lucid Dream?

1177 Kata
Sebuah tatapan tajam bak elang itu terpancarkan mengarah pada pintu ruang tamu yang menandakan ada seseorang hendak masuk ke dalam. Lebih tepatnya dua orang langkah kaki dengan gerakan berbeda itu tampak mengalihkan perhatian Li Xian dari perbincangan ayahnya. Ia terus menatap ambang pintu yang masih tertutup sedikit itu, memang tidak sepenuhnya. Entah apa itu alasannya ia pun tidak tahu. Akan tetapi, yang jelas akan ada seseorang masuk ke dalam dengan jenis kelamin sama. Atau mungkin memang ini hanya feeling-nya saja sehingga dapat dengan mudah menebak hal tersebut. Meski belum mengetahui siapa saja yang menghuni tempat ini. “Satu, dua, tiga,” gumam Li Xian tepat ketika angka terakhir disebutkan itu terlihat seorang wanita hamil masuk ke dalam dan disusul seorang wanita berpakaian santai dengan hoodie kebesaran yang dipadukan hotpants. Seakan hendak tenggelam besarnya pakaian tersebut. Sejenak Xiao Na masih belum menyadari kehadiran seseorang yang sangat ia kenali di sana. Sampai tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang berbeda dari sana hingga tatapannya tanpa sengaja bertemu dengan seorang lelaki tampan tak bercela tengah menatap dirinya intens. Seketika wanita itu hampir saja menjatuhkan rahangnya sendiri melihat seorang karyawan dari kantor tengah berkunjung ke mansion milik kedua orang tuanya yang hanya diketahui oleh orang terdekat saja. Bahkan otak pintar milik Xiao Na pun mulai berpikir keras tentang hubungan Li Xian dan kedua orang tuanya datang ke sini. Namun, Zhang Rou Nan yang menyadari pakaian anaknya pun langsung bangkit dan membawa Xiao Na kembali keluar sembari sesekali menoleh ke belakang dengan tersenyum penuh penyesalan. Meskipun tidak ada yang tahu kalau hal tersebut malah mengundang senyuman geli dari Li Xian. “Aiya! Kenapa kau memakai pakaian ini?” tanya Zhang Rou Nan kesal sembari memukul pelan lengan Xiao Na. “Ma, sakit!” protes Xiao Na tidak kalah kesal. Tentu saja pukulan itu terasa sangat pedas di tangannya, meskipun tidak terlalu. “Cepat ganti pakaianmu itu! Kau ini sangat tidak sopan. Bertemu dengan calon suami seharusnya memakai pakaian rapi,” titah Zhang Rou Nan mendorong Xiao Na agar kembali ke kamarnya sendiri. Akhirnya, mau tak mau Xiao Na pun menuruti permintaan sang ibu. Meskipun ada sebuah tanda tanya besar dengan kehadiran Li Xian di sini. Apakah lelaki itu diundang orang tuanya untuk melakukan perjodohan? Sangat tidak mungkin. Lagi pula mereka sudah tidak ingin kaya sehingga merekrut Li Xian yang jelas-jelas seorang karyawan di kantornya sendiri. Namun, ada sebuah pertanyaan yang tidak Xiao Na mengerti. Kenapa ia merasa sedikit familier dengan orang tua Li Xian. Seakan ia pernah bertemu mereka sebelumnya, meskipun sedikit tidak mengerti karena Xiao Na tipikal yang lupa-lupa ingat ketika bertemu dengan orang lain. Setelah itu, Zhang Rou Nan kembali masuk ke dalam sembari berkata, “Maaf tentang kejadian tadi. Xiao Na memang agak sedikit kelelahan ketika di rumah. Jadi, dia suka memakai pakaian santai.” “Tidak apa-apa, jie. Aku mengerti Xiao Na yang pasti kelelahan bekerja setiap hari. Mungkin dia pulang ingin beristirahat, tetapi malah kita datang bertamu,” balas Li Yura tertawa pelan. “Ah, bukan seperti itu. Memang Xiao Na saja yang terlalu pemalas,” sanggah Zhang Rou Nan menggeleng cepat. Sedangkan Zhang De Nan pun menyela, “Wah, aku tidak tahu kalau kau mempunyai luang untuk datang ke sini.” “Iya, Xiao Zhang. Anakku baru saja kembali dari studinya di luar negeri. Aku juga tidak tahu mengapa dia betah sekali berada di sana dibandingkan bersama kami mengelola bisnis,” jawab Li Tian Xin berpura-pura kesal membuat Li Xian hanya menatap sang ayah datar. Kalau seperti ini, memang tidak lain tidak bukan akan Li Xian lagi yang dijadikan kambing hitam. Meskpun itu adalah sepenuhnya kesalahan dirinya sendiri yang sangat menginginkan Xiao Na. Bahkan untuk pindah ke lain hati pun rasanya sulit. “Uhm ... Maaf, aku ingin ke kamar mandi sebentar,” ucap Li Xian diangguki oleh semua orang di sana, dan tanpa pikir panjang ia pun melesat cepat dari ruang tamu tersebut menuju tempat yang telah ditunjukkan oleh Zhang De Nan. Sesampainya di luar ruang tamu tadi, Li Xian pun melangkah tanpa arah tujuan mengikuti kakinya yang terus bergerak seiring mengelilingi mansion besar ini. Meskipun tidak sebesar miliknya, tetapi ini sudah lebih dari cukup untuk ukuran seorang pemilik perusahaan besar. Namun, telinganya mendengar suara langkah kaki mendekat membuat lelaki itu membalikkan tubuh dan mendapati seorang lelaki yang sejak tadi menatap dirinya tanpa berkedip. Atau lebih tepatnya seakan menyelidik. “Aku tidak tahu menjadi anak seseorang paling kaya di China akan sesantai dirimu sehingga meluangkan waktu menjadi karyawan biasa di perusahaan Nana,” celetuk Xiao Wei dengan nada sedikit menyindir di sana. Li Xian yang sudah menebak akan respon lelaki itu pun hanya diam. Ini memang salahnya sudah mendekati wanita itu dengan jalur express sehingga tidak sedikit ada cacian di dalam perkataan seorang lelaki di hadapannya. “Sebenarnya, apa tujuanmu mendekati adikku? Tidak mungkin kau hanya ingin belajar, bukan? Apalagi selama ini aku tahu kalau pendidikanmu lebih melampaui Nana, dan kau bisa saja langsung menjalankan perusahaan ayahmu tanpa harus belajar lagi,” tanya Xiao Wei bertubi-tubi seakan ia terus menembakkan sebuah pertanyaan skakmatt pada musuhnya. Li Xian menghela napas panjang. “Sejujurnya, aku mendekati Nana memang memiliki tujuan tertentu.” Mendengar hal tersebut Xiao Wei mengepalkan tangannya kuat. Ia tengah menahan semua emosinya dan menunggu lanjutan dari perkataan lelaki di hadapannya ini. “Tapi, sebelum itu, apa kau ingat aku?” tanya Li Xian membuat Xiao Wei mendadak bingung. “Apa maksudmu?” “Tidak. Aku hanya bertanya hal itu untuk mencegahmu memukuliku dengan kejam,” ucap Li Xian ringan. Xiao Wei mengabaikan perkataan lelaki itu, dan ia terus menatapnya tajam. Seakan lelucon tadi bukanlah hal besar bagi dirinya. Atau lebih tepatnya ia memang tidak takut apa pun, selain rasa ingin melindungi Xiao Na, adiknya sendiri. “Jadi seperti ini, aku mendekati Nana memang murni dari niat hatiku tertarik padanya. Seolah aku pernah berhubungan dengan adikmu, tapi aku tidak tahu kapan itu. Yang jelas aku sedang mencari sebuah ingatan aneh itu,” sambung Li Xian tersenyum tipis. “Apa kau gila?” hardik Xiao Wei tidak terima mendengar adiknya dijadikan bahan percobaan oleh lelaki itu. “Ya, anggap saja aku memang gila. Tapi, aku benar-benar lupa apakah pernah bertemu dengan adikmu atau tidak. Aku hanya ingin memastikannya saja,” balas Li Xian kesal. “Aku tidak akan pernah mengizinkanmu berhubungan dengan adikku,” kecam Xiao Wei serius. “Aiya, dengarkan aku dulu! Selama ini aku menjalani beberapa terapi diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orang tuaku tentang beberapa ingatan aneh yang muncul di kepalaku hingga sampai pada akhirnya aku bertemu dengan adikmu. Dan mulai dari situ, aku merasa kalau aku dan dia memiliki hubungan spesial,” jelas Li Xian mencoba memberi pengertian pada lelaki yang tengah emosi di hadapannya ini. “Maksudmu, ingatan aneh tentang mimpi tidur?” tanya Xiao Wei sedikit ragu. “Iya, aku mengalami itu beberapa kali saat aku menjadi mahasiswa,” jawab Li Xian tanpa ragu. “Sebenarnya, aku juga merasa kalau kau tidak asing, tetapi aku sendiri tidak bisa memastikannya karena sudah banyak sekali orang yang kutemui selama ini,” ucap Xiao Wei mendadak ragu sehingga membuat Li Xian kembali terdiam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN