71. Uninvited Guests

1104 Kata
Malam tahun baru yang cukup menyebalkan bagi Xiao Na. Ia mulai merasa dirinya seperti anak tiri yang selalu menghindari dari pertemuan apa pun. Bahkan keluarganya sendiri yang sejak tadi sudah berbincang ria bersama sang kakak di ruang tamu sayap Barat. Sedangkan dirinya hanya duduk di kamar bersama Chen Qianqian menghabiskan waktu dengan menonton drama kesukaan yang tak kunjung tamat. Sebenarnya Xiao Na sengaja menghindari orang tuanya sendiri demi menjaga kesehatan hatinya agar tidak kembali merasakan sakit akibat perkataan mereka semua. Sebab, pencapaian Xiao Na memang luar biasa, tetapi ia hanya memiliki satu kelemahan yang selalu diungkit seakan hidup manusia hanyalah memikirkan pernikahan dan seks. Padahal bagi wanita yang baru saja menginjak kepala tiga itu, menikah bukanlah hal besar. Ia hanya perlu melayani suami dan mengurus rumah tangga. Akan tetapi, untuk sekarang dirinya memang benar-benar tidak mengingin seorang lelaki. Lagi pula masih ada seseorang dari masa lalu yang ia tunggu kepastiannya. Meskipun semua itu hanya kemungkinan kecil karena selama ini jarak membentang jauh sehingga tidak ada yang tahu bagaimana sikap seorang lelaki tidak akan sama seperti dulu. “Kau kalau sedang sendirian di apartemen selalu menonton drama seperti ini, Nana?” tanya Chen Qianqian tanpa mengalihkan perhatian dari layar besar tersebut. “Iya, aku akan selalu melakukan hal membosankan ini. Karena tidak ada yang bisa aku lakukan lagi,” jawab Xiao Na menyanggah kepalanya menggunakan bantal, lalu melirik bumil yang kini sudah menghabiskan banyak sekali cemilan. “Ta Shao, apa kau tidak kekenyangan? Sejak tadi aku melihatmu tidak berhenti mengunyah.” “Entahlah. Aku juga tidak tahu, tapi memang mulutku tidak bisa diam. Bahkan berat badanku saja sudah naik sebanyak 5 kg dalam minggu ini. Untung saja Kakakmu tidak pernah mempermasalahkan berat badanku,” tutur Chen Qianqian membuat Xiao Na terlihat tidak suka. “Cih, awas saja kalau dia sampai mempermainkanmu. Aku yang akan membalasnya lebih dulu,” sinis Xiao Na membayangkan kalau hal tersebut benar-benar terjadi. “Tidak, Nana,” balas Chen Qianqian tersenyum geli. Di tengah perbincangan itu, tiba-tiba pintu kamar Xiao Na terkejut pelan membuat Kedua wanita yang ada di dalam spontan menatap ke arah pintu berkayu tertutup rapat sejak tadi. Memang Xiao Na tidak akan pernah mengizinkan siapa pun masuk ke dalam kamarnya tanpa izin. “Siapa lagi!” erang Xiao Na bangkit dari telungkupnya dengan wajah kesal membuat Chen Qianqian hanya diam memperhatikan adik iparnya yang melangkah ke arah pintu kamar. Tentu saja langkahnya itu sangatlah lelet sehingga butuh waktu lama. Tanpa pikir panjang, Xiao Na langsung membuka pintu kamarnya dengan cepat, lalu menatap sang pelaku datar. Itu adalah seorang pelayan dengan wajah terkejut saat mendapati dirinya berekspresi sangat terganggu. “Uhm ... Xiao jie, Tuan Besar Zhang menyuruhmu ke ruang tamu sayap Timur untuk menemui tamu dari kolega bisnisnya. Sebab, sedari tadi kau sudah berada di dalam kamar kini Tuan Besar Zhang memintamu untuk datang ke sana,” ucap pelayan tersebut menunduk takut melihat ekspresi Xiao Na yang berkerut kesal. “Aiya! Ini sangat merepotkan,” keluh Xiao Na mengacak rambutnya kesal, lalu mengangguk pelan. “Aku akan turun sebentar lagi.” Kemudian, Xiao Na kembali menutup pintu kamarnya pelan, semarah apa pun dan sekesal apa pun ia tidak akan melampiaskannya pada pelayan. Karena walau bagaimanapun juga mereka telah menemani sebagian hiudpnya dengan sedikit berwarna, meskipun terkadang jauh lebih kesal saat mereka melakukan kesalahan. Ia memang tipikal perfeksionis untuk tetap mengandalkan semuanya. Sedangkan Chen Qianqian yang melihat melihat ekspresi kesal Xiao Na menjadi frustasi pun mendadak bingung. Ia memang tidak mengerti apa yang telah dikatakan pelayan tadi sehingga membuat suasana hati adik iparnya mendadak buruk. “Ada apa, Nana?” tanya Chen Qianqian penasaran. “Di bawah ada tamu. Kita harus bergegas ke sana. Kalau tidak, Papaku pasti akan sangat menyebalkan. Karena dia akan mengomel sepanjang waktu jika aku menghasutmu untuk tetap di sini,” jawab Xiao na sedikit kesal, lalu mulai memasukkan beberapa potogan lemon ke dalam gelas air minumnya sendiri. Sedangkan Chen Qianqian hanya tersenyum geli. Ia tahu kalau kedua orang tua dari wanita cantik yang masih lajang itu sangatlah keras, terlebih ketika ada tamu. Sehingga seluruh anggota keluarganya wajib untuk datang, meskipun hanya berjabat tangan. “Memangnya siapa yang datang?” tanya wanita tengah dengan perut membesar itu sembari bangkit dari tepi tempat tidur. “Entahlah. Aku malas untuk bertanya sehingga mengiakan saja,” jawab Xiao Na ringan, kemudian meraih lengan Chen Qianqian dan menuntunnya ke bawah menuju ruang tamu yang telah disebutkan tadi. Tentu saja Xiao Na tidak berganti pakaian, ia hanya sedikit merapikan rambut sepundaknya saja. Karena itu akan sangat merepotkan kalau dirinya harus berganti pakaian, sedangkan sang kakak ipar sudah ditunggu di bawah oleh suaminya sendiri. Terkadang ia tidak habis pikir dengan Xiao Wei yang begitu melepaskan Chen Qianqian pada dirinya. Padahal sudah tahu kalau wanita itu tengah hamil sehingga butuh diperhatikan lebih banyak. Akan tetapi, bukannya perhatian yang didapatkan, melainkan hanyalah sebuah pelepasan yang cukup menyebalkan. Di sepanjang perjalanan menuju ruang tamu sayap Timur, Xiao Na sesekali membantu Chen Qianqian yang sedikit kesusahan akibat perutnya sendiri. Karena wanita itu hanya mengenakan gaun selutut berwarna biru sehingga agak sulit untuk bergerak dengan perut yang sudah sebesar bantal. “Ta Shao, kenapa kau mau saja ketika dipaksa memakai pakaian seperti ini. Menurutku, kalau tidak nyaman mending dilepaskan saja. Lagi pula aku merasa sangat kasihan dengan anak yang ada di dalam kandunganmu itu terjepit,” ucap Xiao Na sedikit kesal. “Sudahlah, aku tidak apa-apa. Ini malam yang bahagia, jadi aku harus merias diri lebih baik,” balas Chen Qianqian tersenyum senang. Akhirnya, Xiao Na pun memutuskan untuk diam saja. Karena percuma berdebat kalau tidak ada ujungnya. Sebab, Chen Qianqian berpakaian sesuai dengan suasana hatinya. Bagaimana dirinya bisa tahu? Kala itu ia tidak sengaja mendapati wanita hamil itu tengah bertengkat cukup hebat dengan penampilan Xiao Wei yang hanya memakai celana selutut. Padahal mereka berdua hendak pergi ke salah satu pesta bergensi sehingga harus rapi. Cukup mengejutkan memang melihat orang selembut Chen Qianqian berubah menjadi galak, tetap bukan hanya itu saja. Xiao Na juga pernah mendapati wanita itu memakai piyama seharian. Padahal hari itu sedang ada pesta di mansion ini, tetapi Chen Qianqian bersikeras untuk tetap mengenakannya. Bahkan mandi pun tidak. Tak lama kemudian, mereka berdua pun sampai di ruang tamu dengan gelak tawa yang terdengar cukup keras dari tempat keduanya berdiri. Padahal bisa dikatakan tempat itu cukup besar sehingga tidak mudah mendengarkan percakapan dari dalam, kecuali memang benar-benar sangat meriah. Baru saja kedua wanita itu hendak memasuki ruangan, tiba-tiba langkah Xiao Na kembali terhenti menatap semua orang yang ada di sana dengan pandangan menganga tidak percaya. Sebab, salah satu dari mereka ada seseorang yang sangat ia kenali. Bahkan membuat Xiao Na seketika ingin menenggelamkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN