70. Not Alone

1089 Kata
Tanpa sadar hari mulai malam, Keluarga Li terlihat sangat sibuk menyiapkan segala keperluan perjodohan. Mulai dari banyaknya makanan ringan China, buah jeruk yang dikemas cantik, lalu beberapa makanan khas lainnya untuk dibawa ke kediaman calon jodoh Li Xian. Bahkan Liu Bai yang bukan bagian dari mereka pun ikut sibuk memasukkan ke dalam bagasi mobil Li Xian. Karena Keluarga Li akan memberangkatkan diri menggunakan mobil mewah milik anak semata wayangnya yang jarang sekali dibawa keluar sehingga tidak menimbulkan banyak pertanyaan bagi orang lain. Di dalam mobil, Li Xian sudah terlihat menjadi supir pribadi bagi kedua orang tuanya yang berduaan di kursi penumpang tanpa memedulikan dirinya di depan berusaha untuk tetap fokus menyetir. Meskipun suasana hatinya sangat tidak menentu dan mulai merasa sedikit kesal. “Ma, Pa, apa kalian berdua benar-benar menganggapku seorang supir? Ayolah, seharusnya kalian berdua memberiku perkataan yang bijak, agar aku bisa menerima perjodohan ini dengan lapang d**a,” ucap Li Xian diselingi dengan dengkusan kesal. Li Yura yang mendengar ucapan anaknya pun terdiam sesaat. “Apa kau sudah tahu ke mana tujuan kita?” “Tidak tahu. Sejak tadi aku bertanya belum ada yang menjawabnya,” jawab Li Xian sedikit kesal. “Uhm ... kita akan ke mansion Keluarga Zhang,” ucap Li Yura gamblang. Li Xian terdiam sejenak sembari terus mencerna perkataan ibunya, lalu menatap sang ayah dengan alis yang saling bertaut. Sedangkan Li Tian Xin yang menatap anaknya seperti orang bodoh pun menggeleng tidak percaya. Ia hendak tersenyum geli, tetapi melihat anaknya yang terus berekspresi itu, akhiarya ia pun ikut berkata, “ZhangZhang Group, perusahaan perbankan.” “Zhang ... ZhangZhang? ZhangZhang Group?” gumam Li Xian masih tidak mengerti. Li Yura yang mulai gemas dengan tingkah sang anak pun langsung berseru, “Aiya! Zhang Xiao Na.” Seketika mata tajam Li Xian mendelik tidak percaya, lalu menepikan mobilnya di sisi jalan. Kemudian, ia terlihat membalikkan tubuh menatap kedua orang tuanya dengan menuntut penjelasan. “Benarkah? Apa kita akan ke mansion Xiao Na?” tanya Li Xian tidak bisa menyembunyikan senyumannya. “Tentu saja kita akan ke sana,” jawab Li Yura menimpalkan senyuman pada sang suami. “Iya, Xiao Xian. Cepatlah, kita harus segera ke sana sebelum waktunya tahun baru!” ucap Li Tian Xin membuat Li Xian tanpa menunggu lama lagi langsung menancapkan gas mobilnya yang masih terasa sangat tajam. Diam-diam Li Xian tersenyum senang memikirkan betapa bahagianya ia akan segera menemui wanita itu. Akan tetapi, ia sedikit bingung harus bagaimana menjawab semua pertanyaan wanita itu ketika melihat dirinya bersama dengan sepasang suami istri yang menjalankan bisnis otomotif terbesar di China. Tak lama kemudian, mobil hitam mewah yang ditumpangi Keluarga Li pun terhenti di sebuah mansion tak kalah besar dengan milik mereka. Terlihat dari depan terhiasi banyak lampion merah yang saling tergantung di langit-langit. “Ma, Pa, sudah sampai,” ucap Li Xian melepaskan sabuk pengaman, lalu mulai membuka pintu mobil mewah tersebut yang bergerak ke atas. Mobil mewah buatan LX Group itu tampak mengejutkan pelayan dan beberapa bodyguard yang ada di sana langsung datang menghampiri, lalu menunduk hormat saat Li Xian keluar dari mobil dan menatap mereka semua dengan tersenyum ringan. Ia memang tidak pernah sombong pada siapapun sehingga banyak sekali pelayan yang merasa sangat dihargai pada anak dari salah satu orang terkaya di China. Kemudian, mereka langsung membukakan pintu mobil untuk pasangan suami istri yang terlihat masih sangat harmonis. Li Yura yang memang sejak dulu merintis karir dari bawah pun ikut terlihat ramah pada mereka semua. Ia tersenyum tipis dan disusul sang suami yang terlihat gagah berkharisma, membuat Li Tian Xin benar-benar dikagumi oleh semua orang. “Tuan Besar Li,” sapa semua pelayan di sana menunduk hormat, lalu menoleh ke arah Li Yura dan melakukan hal yang sama. “Nyonya Besar Li.” “Iya, Terima kasih,” balas Li Yura tersenyum. Keluarga Li yang terkenal anak kekayaannya itu pun tampak tidak pernah mengumbar kesombongan pada siapapun. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang menyukai keluarga tersebut tanpa menginginkan sesuatu. “Mari ikuti kami,” ucap salah satu pelayan di sana mempersilakan semua anggota Keluarga Li untuk mengikutinya. “Baiklah,” jawab Li Xian mulai melangkah terlebih dahulu sembari membawakan satu keranjang buah jeruk yang telah dikemas cantik, lalu sesekali menoleh ke arah belakang melihat beberapa bodyguard tersebut membawa makanan yang menjadi kunjungan mereka. Di tengah perjalanan yang lumayan jauh dan mengarah pada sisi Barat mansioan pun membuat Li Xian menghentikan langkahnya, lalu meminta satu kardus yang berukuran sedang pada lelaki tersebut. “Aku tahu kau pegal, kau bisa memberikannya padaku satu kardus itu,” pinta Li Xian membuka tangannya. Tentu saja hal tersebut langsung mengundang tatapan panik dari mereka. Meskipun lelaki keturunan Li itu sangatlah baik, tetapi tetap saja rasanya tidak sopan kalau memintanya untuk membantu membawakan semua makanan ini. “Tidak perlu, Tuan Muda Li. Aku masih bisa membawanya sendiri. Lagi pula sebentar lagi sampai,” tolak bodyguard tersebut dengan halus. “Tidak apa-apa. Memang dia harus membawanya sendiri tanpa harus menyuruh orang lain,” sahut Li Tian Xin membuat sang istri langsung menyikutnya pelan. “Kau selalu saja seperti itu, Lao Tian,” sinis Li Yura, lalu menatap lelaki berpakaian jas hitam formal itu dengan ramah. “Berikan saja satu kardus pada Li Xian. Dia tidak akan keberatan karena di mansion juga akan berlaku demikian. Dia jarang sekali meminta orang lain membawakan barangnya sendiri.” Sejenak lelaki itu pun ragu sembari menatap Li Xian dan Li Yura secara bergantian. Mereka berdua memang sangatlah baik, bahkan rela meringankan beban dirinya yang tidak seberapa. Akan tetapi, hal tersebut sangat tidak sopan membuat ia langsung menggeleng pelan. Mungkin nasib baik dan nasib buruk memang sedang terjadi di mansion itu, sebab ketika Keluarga Li hendak kembali bersuara tiba-tiba dari arah yang berlawanan terlihat sepasang suami istri tengah menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru. “Aiya! Kenapa masih di sini? Ayo, masuk dulu,” ucap Zhang Rou Nan ramah, lalu membawa Li Yura yang tertawa pelan itu untuk masuk ke dalam. Sedangkan Li Tian Xin bertegur sapa sejenak bersama Zhang De Nan. Meskipun tidak seheboh yang dilakukan oleh sang istri. Mereka berdua tampak tenang dan mulai melangkah menuju salah satu sofa panjang yang ada di sana. Li Xian yang merasa dirinya sudah tidak mempunyai teman pun menghela napas panjang, kemudian menoleh ke arah bodyguard tadi dengan wajah melas. “Apa aku selalu ditinggalkan seperti ini?” tanya Li Xian sedikit kesal membuat pelayan dan beberapa bodyguard itu tertawa geli. “Tidak, Tuan Muda Li. Kita masih ada di sini,” jawab pelayan itu ramah. “Ah, kalian benar!” ucap Li Xian tertawa pelan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN