69. Liu Bai Persistence

985 Kata
Setelah menyelesaikan pemasangan kaligrafi dan lampion tersebut, Li Xian pun kembali masuk ke dalam mansion menemui kedua orang tuanya yang ternyata tengah duduk di ruang tamu sembari menikmati cemilan. Mereka berdua tampak seperti pengantin baru dan tidak sadar sudah mempunyai anak yang hampir menikah dan mempunyai cucu. Keduanya belum juga tersadar membuat Li Xian menghela napas panjang. Memang orang tuanya sengaja melakukan hal seperti ini untuk mengusir dirinya secara halus. Karena ketika libur tiba, Li Xian memang banyak menghabiskan waktu dengan Li Yura sehingga terkadang membuat sang ayah merasa kesal. “Ma, Pa,” panggil Li Xian menghampiri keduanya, lalu duduk di salah satu sofa yang kosong. Li Yura yang mendengar panggilan anak semata wayangnya itu pun langsung tersenyum lebar dan menyingkirkan tangan sang suami dari pundaknya. Memang tidak ada yang bisa mengalihkan perhatian sang istri dari Li Xian. Membuat Li Tian Xin mendengkus kesal melihat hal tersebut. “Kau sudah selesai, Xiao Xian? Mau Mama buatkan makanan?” tanya Li Yura antusias. Memang sejak tadi Li Xian belum kunjung makan. Padahal hari mulai gelap. “Tidak. Aku datang ke sini hanya untuk menanyakan perjodohan nanti malam,” jawab Li Xian membuat wanita paruh baya itu menjadi lesu. “Iya. Kau akan kami jodohkan nanti malam.” Li Yura terlihat bingung dengan sikap anaknya yang mendadak berubah. “Apa kau tidak suka?” Li Xian ingin sekali mengiakan perkataan itu, tetapi ia masih cukup sadar untuk terus-menerus menolak permintaan kedua orang tuanya. Sehingga ia memilih untuk berkata lain, “Bukan, Ma. Aku penasaran dengan calonku nanti malam. Apa kalian berdua akan memberi tahuku?” Seketika Li Yura menoleh ke arah sang suami yang terlihat acuh tak acuh, kemudian menyikutnya pelan membuat lelaki itu mengalihkan perhatian dari drama kolosal China yang tengah ditonton. “Baiklah. Papa akan kasih tahu kamu siapa wanita yang akan kita hadiri nanti malam,” putus Li Tian Xin membuat Li Xian semakin penasaran dan menatap sang ayah dengan penuh. Baru saja Li Xian hendak mendengarkan dengan seksama, tiba-tiba dari berlawanan terlihat seorang pelayan tengah melangkah dengan seksama. Membuat ketiga orang yang ada di sana langsung menoleh bingung. “Ada apa, A yi?” tanya Li Xian bingung. “Permisi, Tuan Besar, Nyonya Besar, dan Tuan Muda Li Xian, makan malam sudah siap,” ucap pelayan tersebut membuat Li Xian hampir saja mengumpat kesal, sebab sang ayah pasti akan mengalihkan pembicaraan. “Aiya, hampir lupa kalau kita semua belum makan. Ayo, kita makan dulu!” ajak Li Tian Xin sesuai dugaan. “Pa! Kau belum memberi tahuku,” protes Li Xian kesal. “Sudah, nanti kau akan tahu sendiri,” balas lelaki paruh baya yang sangat dihormati Li Xian. Akhirnya, pasangan suami istri yang masih sangat harmonis itu melenggang pergi ke arah ruang makan. Tentu saja hal tersebut membuat Li Xian nyaris merusak semua properti yang ada di sekitar. Bahkan untuk memberi kata clue pun tidak. “Xian Ge, ada apa?” tanya Liu Bai mendapati kakak sepupunya tengah bersungut kesal seorang diri di ruang sayap Timur. “Menyebalkan sekali Papaku tidak memberi tahu apa yang akan dilakukan saat perjodohan nanti,” jawab Li Xian menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. “Memangnya kau akan serius hadir di sana? Aku pikir cintamu pada Xiao Na jie masih sangat besar sehingga rela menentang Ta Gugu Ta Shushu lagi,” ejek Liu Bai benar adanya karena selama ini Li Xian memang banyak sekali menentang daripada menurut. Bahkan untuk mengerjakan pekerjaan kantor pun sering banyak menolak. Sejenak Li Xian terdiam membisu. Seakan hatinya baru saja terbuka mendengarkan perkataan dari adik sepupu yang jauh lebih muda dibandingkan dirinya. Namun, itu bukanlah hal yang menjadi masalah, melainkan selama ini ia tidak sadar telah melakukan hal-hal di luar batas pembangkangan terhadap orang tua. “Apa aku selama ini seperti itu?” tanya Li Xian serius. “Tentu saja, Xian Ge. Kau selalu menolak dan acuh tak acuh pada pekerjaanmu sendiri,” jawab Liu Bai mengangguk pelan. “Berarti selama ini aku selalu membangkan?” “Hanya orang bodoh yang menganggapmu tidak membangkang.” “Lantas, apa yang harus aku lakukan?” “Kau turuti saja kemauan Ta Shushu yang menjodohkanmu pada wanita lain. Mungkin saja kalian berdua berjodoh. Lagi pula tidak ada salahnya untuk mencoba, ‘kan?” “Kau benar, Xiao Bai.” Namun, Liu Bai hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, lalu bangkit dari tempat duduknya. Akan tetapi, hal tersebut malah mengundang tatapan bingung dari sesosok lelaki yang masih setia di tempatnya. “Kau mau ke mana?” “Tentu saja aku lapar dan ingin menumpang makan,” jawab Liu Bai setengah berteriak karena jarak mereka sudah lumayan jauh. Mendengar hal tersebut membuat Li Xian menghela napas panjang. Entah kenapa lelaki itu suka sekali berada di sini dibandingkan dengan mansionnya sendiri yang jelas-jelas mempunyai seorang adik perempuan lucu. “Sepertinya aku juga mulai merasa lapar,” gumam Li Xian pada dirinya sendiri dan ikut bangkit menuju ruang makan yang tidak terlalu jauh. Sesampainya di sana, Li Xian melihat kedua orang tua dan Liu Bai asyik memakan cemilan pembuka sebelum memakan makanan berat, kebiasaan mansion ini ketika hendak makan malam. Tentu saja pembukaan itu diselingi dengan obrolan ringan dari sang ayah pada Liu Bai yang sudah mengabdi selama beberapa tahun penuh. Meskipun pada awalnya sempat tidak percaya karena Liu Bai adalah anak dari adik kandung Li Tian Xin yang ikut menjalankan bisnis pula. Sejujurnya, di dalam dunia bisnis tidak ada kata saudara sehingga ia memang harus bersikap kejam sedikit pada siapapun, terlebih saudaranya sendiri. Akan tetapi, selama ini Liu Bai terlihat memang sangat bersungguh-sungguh bekerja dengan dirinya sehingga Li Tian Xin pun memberi apresiasi yang cukup besar sehingga menjadikannya sebagai Manager Umum di perusahaan, menggantikan Li Xian dalam segala urusan. “Aku pikir kau tidak makan, Xian Ge,” celetuk Liu Bai saat mendengar kursi yang berada tepat di sampingnya bergeser pelan. “Tentu saja aku makan karena aku lapar,” balas Li Xian ringan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN