Bagi mansion Keluarga Li yang hanya dihuni oleh tiga manusia dewasa memang terasa sangat sepi. Membuat terkadang mereka harus mengundang banyak kolega, teman arisan, dan kerabat-kerabat jauh untuk datang meramaikan mansion.
Sayangnya, tidak sedikit dari mereka hanya datang untuk memanfaatkan kekayaan Keluarga Li saja, bukan bersilaturahmi hingga terkadang menjadikan Li Xian geram pada orang-orang tersebut.
Kini mansion megah bergaya klasik itu tampak dirias oleh beberapa orang menggunakan banyak sekali kaligrafi China dan lampion berwarna merah yang tergantung di setiap langit-langit. Menjadi keadaan di sana tidak jauh dengan mansion Keluarga Zhang.
“Li Xian, apa kau tidak lelah sejak pagi sudah memasang itu tanpa beristirahat?” tanya Liu Bai sembari memegangi banyak sekali kain merah yang berisikan kaligrafi untuk dipasangkan pada dinding mansion.
“Tidak. Cepatlah bantu aku!” jawab Li Xian kesal. Sebab, sejak tadi sepupunya itu tidak berhenti mengomel.
Padahal pekerjaannya hanya memegangi kaligrafi tanpa disuruh untuk memasang seperti apa yang ia lakukan saat ini. Dan melakukan hal tersebut sangatlah mudah, tetapi juga membosankan. Karena hanya memegangi sembari memperhatikan diri telah selesai atau belum memasangnya.
“Ini membosankan. Aku bisa mati jika berdiri seperti ini,” keluh Liu Bai mengerang panjang.
“Kalau begitu, kau bantu aku memasang ini saja,” putus Li Xian perlahan menuruni tangga yang ia bawa dari garasi mobil.
Seketika Liu Bai yang sejak tadi memang sudah sangat kebosanan pun tidak ada pilihan lain untuk menuruti permintaan sepupunya saja. Sebab, ia benar-benar sudah tidak mempunyai tujuan lagi selain datang ke mansion ini.
Karena sejak tadi di mansion orang tuanya sedang kedatangan para kolega yang entah berasal dari mana dan hanya menanyakan tentang apa saja pencapaian mereka selama tahun ini. Padahal namanya juga berbisnis pasti akan sama saja pencapaiannya, tidak akan ada yang berbeda.
“Baiklah. Aku hanya memasang ini, ‘kan?” tanya Liu Bai sebelum dirinya benar-benar menaiki tangga tingkat tersebut.
Li Xian hanya mengangguk singkat sembari memberikan banyak sekali kaligrafi pada lelaki itu, sebab dirinya hendak memasang lampion yang belum selesai dipasangkan oleh para pekerja tadi.
Di tengah Li Xian sibuk memberikan benda tersebut, tiba-tiba dari arah berlawanan terlihat Li Yura menghampiri dirinya dengan membawa sepiring cemilan dan minuman segar untuk melepaskan dahaga yang sejak tadi mulai bersarang tanpa permisi.
“Ma, tahu saja kalau kita berdua sedang haus,” ucap Li Xian tersenyum senang mengambil salah satu gelas yang tengah dibawakan oleh sang ibu.
“Kau memang sejak tadi belum minum, Xiao Xian,” balas Li Yura menggeleng geli melihat anak semata wajahnya yang terlalu bekerja keras, lalu menatap Liu Bai yang masih sibuk mengerjakan pekerjaannya. “Xiao Bai, turunlah ke bawah sebentar! Ta Gugu bawakan minuman dan makanan kesukaanmu.”
Mendengar hal tersebut, Liu Bai langsung menatap ke arah kedua tangan wanita anggun yang sangat ia cintai bagaikan ibunya sendiri. Tentu saja kue yang tengah dibawakan itu adalah kesukaannya sehingga Liu Bai tersenyum lebar dan terburu-buru menuruni tangga tingkat tersebut.
“Pelan-lan, Xiao Bai. Masih banyak,” sanggah Li Yura cemas. Ia takut kalau lelaki itu malah tergelincir dan jatuh ke bawah.
“Jangan dihiraukan, Ma. Liu Bai tidak akan menangis kalau jatuh dari atas situ. Sedangkan dia pernah jatuh dari lantai 1 rumahnya,” sela Li Xian acuh tak acuh membuat sang ibu langsung terkejut.
“Apakah itu benar, Xiao Bai?”
“Benar, Ta gugu. Hari itu aku sedang mengambilkan bola mainan milik Liu Fei yang terjatuh di atap taman hingga tanpa sengaja aku tergelincir ke bawah,” jawab Liu Bai meringis pelan.
“Lalu, apa kau baik-baik saja?” tanya Li Yura penasaran.
“Aku baik-baik saja. Hanya kedua kakiku yang sulit untuk digerakkan,” jawab Liu Bai tersenyum tipis.
Sebenarnya jatuh dari lantai pertama memang tidak sesakit yang dibayangkan. Hanya saja mungkin ada bagian anggota tubuh terasa sakit ketika digerakan. Karena berhantaman langsung dengan lantai marmer yang cukup keras sehingga menimbulkan gesekan secara tiba-tiba.
Sehingga tidak sedikit orang yang terjatuh mengalami kram sesaat, sebab ada sebuah saraf yang bekerja dengan spontan tanpa perintah dari otak. Sehingga menjadikannya terasa sakit dan kaku. Meskipun orang tersebut baik-baik saja dan bisa beraktivitas kembali.
Namun, bagi sebagian orang mungkin akan lebih memilih untuk meninggalkan kembali pekerjaannya sehingga bisa mengistirahatkan tubuh yang terasa sakit tadi. Meminimalisir terjadinya cidera parah pada lutut dan tulang paha dalam.
“Ya sudah, kau jangan seperti itu lagi, Xiao Bai. Nanti kedua orang tuamu merasa sangat cemas,” ucap Li Yura sendu membuat Liu Bai seketika merasa menghangat.
Baru saja Liu Bai hendak membalas perkataan ibu dari kakak sepupunya, tiba-tiba dari arah lain terlihat sesosok lelaki gagah berpakaian santai tengah melangkah mendekati mereka bertiga. Raut Wajah lelaki itu datar seiring dengan langkahnya yang lebar dan terkesan buru-buru.
“Li Xian, nanti kamu ikut kami berdua,” titah Li Tian Xin tegas.
Seketika Li Xian yang tengah memakan cemilan tersebut langsung mengernyit bingung. “Ke mana, Pa?”
“Kau akan kami jodohkan pada salah satu kolega Papa yang kebetulan sekali anaknya baru pulang dari perjalanan bisnis. Jadi, kau harus datang tepat waktu,” ucap Li Tian Xian disambut tatapan aneh dari anak semata wayangnya.
“Pa, bukankah aku sudah pernah berkata untuk tidak melakukan perjodohan? Aku menyukai Xiao Na, Pa,” sanggah Li Xian cepat. Berharap kalau sang ayah akan mendukung dirinya lagi.
“Tidak. Papa sudah bosan mendengar perkataanmu yang selalu saja seperti itu, tetapi tidak ada hasilnya sama sekali. Sudah masuk awal tahun 2021 kau harus segera memegang jabatan penting di perusahaan. Sampai kapan ingin berkelit lagi?” tanya Li Tian Xin terdengar sinis membuat Li Xian membisu.
Sejujurnya ini memang sangat berat untuk Li Xian menyetujui permintaan orang tuanya. Akan tetapi, ia juga tidak bisa berharap lebih banyak pada Xiao Na yang semakin hari memang dekat, dan rasanya memang sulit untuk digapai.
“Baiklah, Pa. Aku akan bersiap nanti,” putuh Li Xian lesu membuat Li Yura merasa prihatin menatapnya, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun untuk mendukung. Karena ini memang sudah keputusan sang suami yang hendak meneruskan semua bisnisnya pada Li Xian.
Li Tian Xin yang mendengar jawaban tersebut pun langsung tersenyum puas. Ia mengangguk singkat, lalu menatap ke arah sang istri. “Apa kau masih ingin tetap di sini?”
“Sebentar,” jeda Li Yura mencegah sang suami hendak mengajaknya pergi. Ia menghampiri Li Xian, lalu menyentuh kepala anaknya lembut sembari berkata, “Apa pun keputusanmu nanti ... Mama akan tetap mendukung. Jadi, jangan pernah merasa terbebani dengan perjodohan ini. Papa hanya ingin kamu berpandangan lurus, Xiao Xian.”
Hati mana yang tidak menghangat ketika mendapat perkataan itu dari orang paling disayanginya, Li Yura. Memang tidak ada yang bisa menggantikan posisi sang ibu dari wanita mana pun, selain Xiao Na. Meskipun ia sendiri tidak yakin dengan perasaannya. Karena semakin hari Xiao Na memang semakin menarik, dan juga susah ditebak.