Tidak terasa hari mulai gelap, mansion Keluarga Zhang mulai dipenuhi oleh banyak tamu. Kebanyakan dari mereka adalah keluarga dari kerabat jauh hingga besar yang datang berkunjung hanya untuk bercengkrama.
Namun, dari sebanyak tamu yang datang, di sana sama sekali tidak terlihat keberadaaan Xiao Na. Sepertinya wanita itu masih di dalam kamar berdiam diri tanpa ingin keluar bertatap muka dengan para kerabat yang menyebalkan itu.
Tentu saja Xiao Na lebih baik menghindar daripada harus datang dengan banyak sekali lontaran segera menikah yang ia dengar dari mereka semua. Seakan hanya perkataan itu saja yang bisa mereka tanyakan pada dirinya. Padahal anak mereka sendiri saja belum ada yang menikah, dan sudah sok-sokan menceramahi dirinya yang sukses di usia masih sangat muda.
Sementara itu, Xiao Na yang melihat ke bawah balkon kamarnya pun tersenyum tipis. Di sana banyak sekali mobil kerabatnya terparkir cantik tepat di depan mansion. Dari sini saja sudah bisa diperkirakan kalau dirinya memang tidak berminat ke sana meskipun sudah beberapa kali ketukan terdengar dari pintu kamar.
Akan tetapi, Xiao Na tidak ingin keluar sebelum benar-benar tahun baru tiba. Ia ingin merebahkan diri saja di dalam kamar sembari menikmati banyak drama yang akan diselesaikan sebelum waktunya pulang nanti.
Layar berukuran cukup besar itu menampilkan salah satu drama yang sedang ramai diperbincangan. Drama dari negeri gingseng itu sukses menarik perhatian Xiao Na. Terlihat beberapa kali ia tersenyum sekaligus gemas melihat tokoh utama yang saling berinteraksi. Padahal Xiao Na tipikal bukan seorang wanita yang menyukai drama percintaan, tetapi ketika ia melihat trailer drama ini entah kenapa langsung jatuh cinta.
Sejujurnya Xiao Na melakukan hal seperti ini hanya untuk mengalihkan perhatiannya saja dari banyak pekerjaan kantor yang sejak tadi meronta-ronta dikerjakan. Meskipun sesekali ia mencuri waktu untuk memilah semua data yang ada, termasuk email masuk dari Yushi. Sekretaris pribadinya itu tengah memberikan sebuah data pemasok dari beberapa komponen alat yang akan ia beli ketika masuk kantor tiba.
“Bisa dikatakan Vicenzo ini cerdik dalam urusan akal, tetapi sayangnya dia punya satu kelemahan di orang tua. Sudah dapat diduga kalau dia belum bisa melupakan ibunya sendiri,” gumam Xiao Na sembari memakan kripik singkong yang diambil dari dapur.
Seiring dengan kunyahannya itu, tanpa sadar ia sudah berdiam diri selama beberapa jam di kamar. Bahkan suara gelak tawa dari para kerabatnya mulai berangsur hilang dan diganti dengan suara sepi seperti biasa. Membuat Xiao Na diam-diam bangkit, lalu melangkah keluar balkon.
Di bawah sana terlihat banyak sekali Keluarga Besar Zhang berpamitan untuk pulang. Karena sebentar lagi detik-detik pergantian tahun sehingga mereka memutuskan untuk menikmatinya bersama keluarga saja di rumah.
Awalnya Xiao Na pikir hidupnya akan kembali tenang, para kerabatnya sudah pulang dan kini tinggalah ia seorang diri menikmati acara menyenangkan tersebut. Akan tetapi, pintu kamarnya kembali diketuk, kali ini dengan suara sang kakak terdengar memanggil.
“Nana, cepatlah keluar! Aku tahu kau di dalam,” seru Xiao Wei dengan nada tinggi membuat Xiao Na yang merebahkan diri langsung bangkit dan berlari membuka pintu kamarnya sebelum didobrak paksa olah sang kakak.
“Kau sangat menyebalkan,” gerutu Xiao Na membuka pintu kamarnya, lalu mempersilakan lelaki yang menjadi panutan itu masuk.
“Kenapa kau sejak tadi tidak turun ke bawah?” tanya Xiao Wei sembari melihat-lihat sekeliling kamar adiknya.
“Aku hanya malas, Ge. Lagi pula tidak ada yang mencariku. Mereka pasti mengira kalau aku akan bekerja lagi seperti tahun kemarin,” jawab Xiao Na mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, dan mendudukkan diri di tepi kasur.
“Kalau begitu, kau temani Ta Shao. Aku ada urusan dengan Papa,” titah Xiao Wei mendadak serius membuat kedua alis milik adiknya bertaut bingung.
“Kau mau ke mana, Ge?” tanya Xiao Na.
“Ingatkah kebiasaan keluarga kita?”
Bukannya menjawab, Xiao Wei malah berbalik tanya pada adiknya yang terlihat bingung sekaligus tidak mengerti. Karena Xiao Na sejak dulu memang tidak pernah tahu apa yang dilakukan keluarganya atau sedang mengadakan apa.
“Entahlah. Aku tidak pernah ingin tahu,” jawab Xiao Na ringan membuat Xiao Wei mendengus kesal.
“Ya sudah. Aku hanya ingin memberi tahumu itu saja,” putus Xiao Wei hendak melenggang pergi, tetapi kembali terhenti saat ia berkata, “Jangan lupa bersihkan tubuhmu itu. Sudah sangat menyengat. Aku tidak ingin Chen Qianqian mati lemas karena hanya mencium wanita tubuhmu.”
Xiao Na hanya mencibir pelan. Ia tahu kalau Xiao Wi hanya sekedar mengejek dirinya yang belum juga bersiap padahal hari sudah malam. Sedangkan di luar sana sudah terdengar banyak sekali bunyi petasan dan kembang api yang dinyalakan untuk meramaikan tahun ini.
Setelah itu, Xiao Na mendekati lemari pakaiannya yang terletak di walk in closet. Ia memilah dan memilih pakaian rumahan seadanya. Meskipun malam ini akan banyak sekali yang datang, tetapi hal tersebut tidak akan membuat Xiao Na urung untuk tetap berada di dalam kamar.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya kembali terketuk kali ini Xiao Na sudah mengetahui sang pelaku. Semestinya itu adalah Chen Qianqian, kakak ipar. Wanita tengah hamil muda itu memang dekat sekali dengan dirinya sehingga sering dikatakan sebagai kakak beradik.
“Nana, apa kau sudah rapi?” tanya Chen Qianqian mulai melangkah masuk saat handle pintu kamar tersebut bisa dibuka.
“Masuk saja, Ta Shao. Aku sedang berganti pakaian,” jawab Xiao Na setengah berteriak membuat wanita menyadari asal suara yang mengarah pada pintu kecil tembus tembok terbuka sedikit.
“Baiklah. Aku duduk di kasurmu, Nana,” ucap Chen Qianqian menatap pekerjaan yang tengah adik iparnya lakukan. Ternyata tidak ada apa pun di sana, selain serial drama kolosal terputar tanpa penonton dengan volume kecil.
Sejenak Chen Qianqian menunggu Xiao Na yang mulai merias diri di meja rias. Ia hanya mencepol rambutnya asal dengan hoodie berwarna abu-abu gelap. Tentu saja memakai pakaian itu mengundang tatapan bingung dari dirinya.
“Kau tidak berganti pakaian, Nana?” tanya Chen Qianqian bingung.
“Tidak. Aku akan memakai ini sepanjang tahun 2020,” jawab Xiao Na ringan, lalu menghampiri wanita cantik itu sembari membawakan minuman dari kulkas kecil yang ada di kamarnya.
Chen Qianqian pun menerima minuman tersebut dengan senang hati, lalu meminumnya dengan nikmat. Sebab, minuman yang diberikan Xiao Na adalah salah satu kesukaannya.
“Kau benar-benar ingin membuat Mama dan Papa marah, ya?” goda ibu hamil itu sembari tertawa pelan.
“Mereka saja yang terlalu memberatkan semua ini. Ta Shao,” balas Xiao Na tidak mau kalah membuat Chen Qianqian tersenyum geli.