Kapan pun dan di mana pun posisi yang paling menyenangkan adalah rebahan. Memang hal tersebut sudah diakui banyak negara kalau aktivitas yang tidak banyak menguras tenaga. Bahkan tidak sedikit dari mereka menghabiskan banyak waktu hanya untuk merebahkan diri dan bersantai di dalam kamar tanpa ingin diganggu oleh siapa pun.
Hal tersebut mulai menjadi kebiasaan baru bagi Xiao Na. Sudah ketiga harinya ia berada di mansion, tetapi tetap saja menghabiskan banyak waktu di dalam kamar yang sangat membosankan. Walaupun sudah diketahui kalau nanti malam sudah tepat pada waktu pergantian tahun.
Bahkan mansion bercat putih bersih pun mulai berganti dengan warna merah dihiasi banyak lampion berbentuk bulat yang menggantung di setiap langit-langit. Tulisan kaligrafi China dengan latar belakang merah pekat pun tidak absen dari pemandangan mata. Seakan semua yang ada di tempat ini menginginkan keberkahan selama setahun ke depan.
Hanya kamar Xiao Na yang sejak tadi masih bersih dari tulisan-tulisan ong tersebut. Padahal sudah berkali-kali wanita itu diingatkan untuk segera memasangnya di kamar, tetapi tetap saja tidak bisa mengalihkan dari Xiao Na yang masih merebahkan diri di atas kasur tanpa terusik akibat suara gaduh dari luar kamar.
Ia terlihat sibuk bercengkrama melihat rekan kerja dan tim didikannya yang saling bercerita mengenai malam tahun baru nanti. Tidak sedikit dari mereka membuat makanan tradisional bersama keluarganya, tetapi tidak dengan Keluarga Zhang yang lebih memilih untuk memesan daripada membuatnya sendiri. Mungkin hanya ada makanan kecil buatan Chen Qianqian yang biasa menjadikan sesuatu sebagai cemilan tahun baru.
“Xiao Na jie, apakah kau tidak mendekorasi kamarmu?” tanya Demo melihat sisi kamar bosnya yang masih putih bersih.
“Entahlah. Aku memang harus segera berhias,” jawab Xiao Na perlahan bangkit, lalu memutar arah kamera ponselnya untuk memperlihatkan banyak sekali dekorasi yang masih tersimpan cantik di dalam kardus.
“Wah, itu sangat banyak jie!” seru Mingyu terperangah tidak percaya melihat dekorasi sebanyak itu belum terpasang sama sekali.
“Tentu saja. Melihatnya seperti ini pun sudah membuatku malas sehingga aku lebih memilih untuk membiarkannya saja, tapi Kakakku pasti akan segera mengomel kalau dekorasi ini tidak kunjung di pasang,” keluh Xiao Na meletakkan ponselnya di atas meja rias.
Kemudian, wanita berpakaian santai itu mulai membongkar semua isi dari kardus dekorasi yang ditinggalkan sang kakak. Di sana terlihat banyak sekali hiasan serba merah dengan lampion yang setengah jadi di dalamnya.
Sejenak Xiao Na pun menyibukkan diri mendekorasi kamarnya meninggalkan konferensi video call yang diselenggarakan oleh Su Yuan untuk saling memperkenalkan apa yang tengah mereka lakukan di sore menjelang malam tahun baru.
“Aku menjadi ingin ke sana membantumu, jie,” celetuk Grunt pelan, tetapi masih dapat terdengar jelas di telinga Xiao Na.
“Kalau begitu, kemarilah!” balas Xiao Na tertawa pelan sembari berusaha mengaitkan semua lampion tersebut di langit-langit kamar.
Dalam sekejap kamar Xiao Na yang awalnya bersih tanpa warna merah, kini mulai berubah dengan segala pernak-pernik menandakan ingin mendapat keberkahan. Namun, buliran keringat tampak memenuhi dahi mulus wanita itu sehingga mengundang tatapan kagum dari timnya.
“Astaga, jie! Kau sangat cantik saat berkeringat seperti itu,” puji Feng Zhen mulai tebar pesona membuat wanita yang mendengar pujiannya berpura-pura mual.
“Apa kau selalu menggoda wanita seperti ini Xiao Zhen?” sinis Xiao Na sembari melangkah menghampiri meja rias untuk kembali mengambil ponselnya, lalu membawa ke arah kamar mandi. Ia hendak mencuci tangan Sebentar untuk mengusir debu-debu nakal yang bersarang di tangannya.
“Feng Zhen memang benar-benar tidak sopan, jie. Bahkan saat kemarin kita melakukan lari pagi, dia masih sempat-sempatnya menggoda wanita cantik. Padahal keadaannya sangat berkeringat, tetapi malah mengundang tatapan terpesona dari para wanita. Aku menjadi bingung sendiri,” timpal Demo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Apakah itu benar?” tanya Grunt tidak percaya.
“Aku tidak akan berbohong,” jawab Demo malas.
Sontak Xiao Na tertawa pelan mendengar penuturan salah satu trainee yang paling muda tersebut. Meskipun Demo terbilang masih sangat kecil diantara yang lainnya, tetapi ia selalu bersikap jujur dan mengatakan apa adanya tanpa ada yang ditutupi sama sekali.
Hal tersebut membuat Demo semakin disukai dan dibenci timnya sendiri. Disukai karena dia bisa menjadi lading informasi yang akurat, dan dibencinya terkadang Demo tidak tahu situasi saat mengatakan hal tertentu. Membuat Zarco sebagai ketua tim harus ekstra sabar menghadapi para pengikutnya.
“Aku jadi penasaran. Apakah para gadis itu masih mau dengan Feng Zhen yang jarang mandi,” ucap Mingyu mengundang gelak tawa dari semuanya. Bahkan Xiao Na pun tanpa sadar ikut tergelak.
“Kau sangat menyebalkan!” sentak Feng Zhen marah.
Sebenarnya apa yang dikatakan Mingyu memang benar. Feng Zhen terkadang sangatlah jorok hingga tidak mandi selama berhari-hari tanpa mengganti pakaian dalam. Padahal hal tersebut seharusnya yang paling sering diganti. Karena akan banyak sekali kuman yang bersarang di sana sehingga menimbulkan penyakit kulit.
“Aku mengatakan yang sejujurnya. Kau memang selalu tebar pesona kepada banyak gadis sehingga terkadang aku merasa bingung sendiri. Apakah dia terlihat tampan? Padahal kalau dilihat dari sisi wajahnya, Zarco dan Grunt jauh lebih tampan. Akan tetapi, kalau dilihat sikapnya yang ramah mungkin Feng Zhen bisa dikatakan mengunggulinya,” jelas Demo panjang lebar.
“Kau benar-benar sangat menyenangkan, xiao didi,” ucap Feng Zhen tersenyum manis, walau terlihat sekali dipaksakan.
“Sudah, sudah,” putus Xiao Na membuat mereka semua kembali mengalihkan perhatiannya dari perdebatan Demo dengan Feng Zhen. “Aku ingin bertanya.”
“Tanyakanlah, jie,” jawab Grunt.
“Apakah selama liburan tahun ini kalian berniat untuk pergi ke suatu tempat?” tanya Xiao Na antuasias.
“Tidak ada yang pasti, jie. Aku hanya menginginkan libur panjang yang dihabiskan waktu hanya untuk merebahkan diri,” jawan Mingyu menatap ke langit-langit kamarnya sendiri semari sibuk berpikira.
“Kalau aku lebih baik ke taman, jie. Di sini banyak sekali taman yang terawat bagaikan di kota sehingga mau datang kapan pun tetap terbuka,” sahut Demo tersenyum senang.
“Oh ya, taman apa itu? Sepertinya aku baru tahu,” tanya Xiao Na penasaran.
“Dekat rumahku, jie. Jadi, kalau kau memang penasaran bisa langsung datang ke sini. Karena aku akan selalu berada di rumah tanpa ada orang tuaku,” jawab Demo diakhiri dengan kalimat yang setengah berbisik. Seakan menandakan kalau lelaki itu tidak baik-baik aja.