Tidak terasa waktu dengan cepat berlalu, rasanya baru kemarin Xiao Na menghadiri sebuah perjodohan dari teman rekan kerja orang tuanya. Kini ia hendak melakukan hal menyebalkan itu lagi.
Meskipun ini sudah ketiga harinya ia berdiam diri di dalam mansion tanpa melakukan apa pun, Xiao Na tetap saja menghabiskan waktu untuk tertidur di kamar bak orang mati. Sama sekali tidak bisa dibangunkan oleh siapa pun.
Sedangkan Chen Qianqian yang tidak ingin Xiao Na kena masalah lagi pun mulai mengajak adik iparnya untuk berbelanja di salah satu mal terkenal. Tentu saja mengisi waktu kekosongan untuk belanja adalah hal yang mudah dilakukan. Apalagi kepribadian adik iparnya yang mudah dan tidak ingin ambil pusing membuat ibu hamil itu merasa sangat bahagia.
“Nana, apa kau sudah siap?” tanya Chen Qianqian berusaha mengetuk pintu kamar adik iparnya pelan.
Sementara itu, Xiao Na yang sudah mendengar kakak iparnya selesai pun melangkah dengan gontai membuka pintu kamar. Memperlihatkan penampilan dirinya yang sudah lumayan rapi, meskipun tidak serapi biasanya. Xiao Na hanya mengenakan celana selutut dengan hoodie berwarna cokelat, dan rambut pendek sepundaknya ia biarkan tergerai rapi.
Xiao Na menggeram pelan, lalu melirik ke arah penampilan Chen Qianqian yang lebih menarik daripada biasanya. “Kau terlihat sangat rapi, Ta Shao.”
“Benarkah?” Ibu hamil itu tampak berbinar bahagia mendengar pujian tulus dari adik kandung dari suami tercintanya.
“Hm ... Kau terlihat sedikit berbeda, mungkin karena bawaanmu sedang hamil.”
Setelah itu, Xiao Na pun menggandeng lengan Chen Qianqian menuruni anak tangga satu per satu yang mengarah ke lantai satu, lalu berbelok untuk menaiki elevator kecil. Tentu saja keduanya hendak mempercepat waktu sehingga menggunakan salah satu teknologi modern yang dimiliki mansion ini.
Tak lama kemudian, elevator tersebut berhenti tepat di depan pintu garasi mansion yang terlihat banyak sekali barisan mobil mewah milik kedua orang tuanya, dan beberapa mobil mewah lainnya milik keluarga yang segera memiliki keturunan.
Sedangkan Xiao Na sendiri tidak memiliki banyak mobil di tempat ini. Karena dirinya lebih memfokuskan diri menggunakan teknologi yang memang sudah dirancang untuk keperluan apa pun. Sehingga ia tidak peduli berapa pun harganya, tetap akan dibeli. Asalkan bisa awet hingga waktu yang telah ditetapkan.
“Nana, hari ini kita memakai mobil milikku saja,” celetuk Chen Qianqian mengundang tatapan bingung dari Xiao Na.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya menginginkan mobil itu. Sudah lama sekali aku tidak menaikinya, dan hanya mengandalkan jemputan dari Xiao Wei,” jawab ibu hamil itu sembari mengusap perutnya lembut.
Tidak ingin berdebat lebih panjang, akhirnya Xiao Na pun menuruti permintaan wanita itu. Kemudian, melangkah ke tempat lain yang lumayan jauh. Sebab, tempat parkir yang menjadi pendaratan mereka berdua adalah mobil milik Xiao Na dan koleksi beberapa dari Zhang De Nan. Memang lelaki paruh baya itu sangat menyukai kendaraan beroda empat sehingga tidak sanksi dirinya rela membeli berapa puh harga yang telah dijatuhkan.
Perlahan mobil berwarna merah mengkilap itu mulai menjauhi mansion kebesaran dari Keluarga Zhang. Xiao Na yang menjadi kemudi pun menjalankan mobil dengan hati-hati. Jarak dengan kecepatan mobil selalu ia awakan, tidak seperti biasanya. Karena ia masih sangat sadar tengah membawa ibu hamil yang butuh waktu untuk rileks.
“Apa pekerjaanmu di Shanghai baik-baik saja, Nana?” tanya Chen Qianqian memecahkan keheningan.
Karena sejak mobil meninggalkan kawasan mansion, keduanya memang langsung terdiam dengan pikiran yang mengarah pada tempat lain.
“Iya, seperti yang kau lihat di berita. Aku mengalami banyak sekali kenaikan hingga membuat jadwal tidurku selalu berkurang,” jawb Xiao Na tanpa minat.
“Kenapa seperti itu? Apa para klien menyusahkanmu?” tanya wanita itu mendadak khawatir.
“Tidak ada. Aku hanya memang ingin bekerja, agar cepat selesai. Tapi, aku tidak takut kalau akan berimbas pada karirku sendiri. Untung saja aku bukan orang yang terburu-buru sehingga bisa melakukan semyanya dengan semaksimal mungkin.”
“Jangan seperti itu lagi, Nana. Kau terlihat sangat lelah Kemarin.”
“Iya, aku hanya kelelahan saja. Tapi, Mama dan Papa tidak mencariku, ‘kan?”
“Tidak. Mereka sudah memastikannya saat melihatmu terlelap kemarin.”
“Oh, baiklah. Aku tahu.”
Tak lama kemudian, mobil itu pun terhenti di sebuah basement mal yang tampak lebih ramai daripada biasanya. Mungkin banyak sekali orang yang menghabiskan waktu untuk membeli keperluan saat akan tahun baru nanti.
Tentu saja malam merayakan yang hampir digemari seluruh dunia itu disambut antusias oleh mereka. Hanya saja Xiao Na masih tidak memedulikan itu semua. Bahkan ia hanya acuh tak acuh mengikuti langkah kakak iparnya yang mulai memasuki mal.
Sesampainya di dalam, kedua wanita itu dibuat terpana saat melihat interior mal yang ada di dalam. Begitu kerlap-kelip mewah yang memanjakan mata. Padahal ini belum memasuki pergantian tahun, tetapi pemilik hotel ini seakan tidak ingin tertinggal dan ikut menghias diri.
Langkah kaki Xiao Na mengarah pada keperluan rumah tangga yang terletak di lantai dua, sehingga ia langsung membawa kakak iparnya untuk menaiki eskalator menuju ke lantai atas. Terlihat banyak sekali orang dari atas sini sehingga terkadang membuat Xiao Na tidak habis pikir.
“Ini sangat ramai, Nana,” celetuk Chen Qianqian melihat keadaan lantai bawah dan atas yang hampir dipadati oleh semua orang.
“Kau benar, Ta Shao. Sepertinya tahun ini akan sangat meriah,” balas Xiao Na mengangguk singkat.
Kemudian, Xiao Na mengajak Chen Qianqian untuk membeli salah satu es krim yang ada di sana. Tentu saja salah satu kedai yang tidak pernah terlewatkan oleh wanita itu. Seakan ia harus membelinya di sana untuk meningkatkan semangat.
“Apa kau selalu harus memberli es krim itu?” tanya Chen Qianqian merasa penasaran pada adik iparnya yang kalau dilihat-lihat tidak pernah absen membeli makanan berasa dingin itu.
“Tentu saja. Ini akan menjadi semangatku, agar siap menjalani keseharian denganmu,” jawab Xiao Na setengah bercanda membuat wanita hamil itu mau tak mau tertawa pelan.
Sedangkan penjaga kedai yang merupakan seorang wanita paruh baya hanya tersenyum geli. Keduanya memang sudah menjadi pelanggan tetap sejak ia mendirikan kedai di tempat ini. Walaupun sesekali yang menjualkan adalah anak dan suaminya, tetapi tetap saja wanita itu tidak pernah lepas.
“Apakah kau sedang hamil?” celetuk sang penjaga kedai mengundang tatapan penasaran dari Xiao Na.
Merasa sudah sangat akrab dengan wanita itu, Xiao Na pun membalas, “Iya, dia kakak iparku. Apa dia sangat cantik?”
“Sangat cantik. Mirip denganmu,” jawab sang penjaga kedai tertawa geli mendengar perkataan Xiao Na.
“Astaga, A yi!” pekik Chen Qianqian mendadak malu mendengar pujian seperti itu.
Seketika Xiao Na dan penjaga kedai itu pun tertawa lepas. Ibu hamil itu benar-benat sangat pemalu. Bahkan wajahnya langsung memerah hanya mendengar pujian yang dimiripkan kepada Xiao Na.