64. I'm So Tired

1019 Kata
Tidak terasa waktu tengah hari mulai lewat, dan Xiao Na masih saja terlelap dalam tidur nyenyaknya. Membuat sang kakak yang sejak tadi sudah mulai beraktivitas menjadi sedikit cemas menyadari adiknya yang belum juga bangun. “Suamiku, apa Nana belum juga terbangun?” tanya Chen Qianqian penasaran. Terlihat seorang lelaki tengah sibuk mengupasi kulit jeruk di samping seorang wanita yang terus mengelus perutnya sembari sesekali tersenyum. Tentu saja keluarga bahagia itu tengah berada di kolam renang yang berada di lantai atas mansion. “Sepertinya belum. Dia sudah begadang semalaman suntuk untuk kembali ke mansion ini. Tentu saja tidak akan bangun sampai sore tiba,” jawab Xiao Wei menyuapkan satu per satu buah tersebut kepada Chen Qianqian. “Tapi, dia belum makan dari pagi,” sanggah wanita hamil muda itu cemas. “Enggak apa-apa. Mogok sehari enggak akan membuat dia mati kelaparan,” balas lelaki itu ringan. Memang benar apa yang dikatakan Xiao Wei. Terkadang adiknya memang lebih seperti kerbau yang tidak akan bangun meskipun bumi telah bergoncang hebat. Akan tetapi, di balik semua itu Xiao Wei sebagai seorang kakak merasa sangat bangga saat mengetahui adik kesayangannya telah sukses di kota lain. Walaupun terkadang ia merasa sangat khawatir saat mendengar Xiao Na baru saja mengalami beberapa masalah kantor. Sehingga terkadang sisi kecemasan itulah yang terkadang membuat Xiao Wei diam-diam membantu adiknya untuk menyelesaikan masalah. “Apa Mama sama Papa sudah tahu kalau Nana pulang?” “Belum. Mereka akan mengetahuinya nanti saat Nana sudah bangun.” “Itu lama sekali, Suamiku. Apa nanti kata mereka kalau Nana pulang selalu tidak memberi kabar.” “Biarlah itu urusana, Nana. Aku juga kalau tidak memergokinya pagi tadi mungkin akan sama ributnya dengan Mama Papa.” Akhirnya Chen Qianqian pun memutuskan untuk kembali diam. Karena ia juga tidak bisa memaksa agar Xiao Na kembali seperti itu. Semua itu telah berakhir sejak ia meninggalkan mansion dan mulai mencari kebahagiannya melalui komputer. Akan tetapi, perhatian keduanya langsung teralihkan saat mendengar suara langkah kaki mendekat. Gesekan keras seakan sang pemiliki sedang malas untuk melangkah membuat Xiao Wei menaikkan alisnya bingung. Jelas ini bukanlah orang yang biasa menggesekkan sandalnya ke lantai. Terlihat seorang wanita berpakaian piyama merah mendekat dengan wajah bantalnya yang masih setengah terpejam membuat Chen Qianqian tersenyum lebar. “Nana, kau sudah bangun?” tanya ibu hamil itu senang. “Pagi, Ge, Ta Shao,” sapa Xiao Na merebahkan diri lagi di kursi santai. Tentu saja pemandangan tersebut mengundang tatapan aneh dari sang kakak yang sejak tadi sibuk mengupasi kulit buah. Ia menatap Xiao Na yang masih saja mengantuk padahal hari sudah mulai sore, dan kedua orang mereka pasti sebentar lagi akan mengomel belum menerima kedatangan Xiao Na. “Semalam berangkat dari Shanghai jam berapa?” Xiao Wei menghampiri adiknya, lalu menyelimuti tubuh mungil itu dengan selimut lebih yang dibawa oleh Chen Qianqian. “Sekitar tengah malam, Kak. Aku butuh makan dulu, jadi tidak langsung ke sini,” jawab Xiao Na tanpa membuka matanya. “Apa kau tidak berhenti di rest area?” tanya Xiao Wei lagi. Kali ini ia telah kembali duduk setelah selesai menyelimuti tubuh adiknya. “Tidak. Aku hanya butuh pulang bukan istirahat seperti orang lemah,” jawab Xiao Na tetap angkuh seperti biasa. Padahal kalau melihat keadaannya seperti ini, Xiao Wei pun sanksi kalau adiknya akan tetap kuat. Karena dengan sikap malas dan tidak bisa membuka matanya itu sudah jelas sekali kalau sedang dalam mode tidak ingin diganggu ingin beristirahat. “Lalu, kalau kau seperti ini terus pasti banyak orang yang menganggapmu lemah, Nana. Bahkan aku sendiri tidak bisa menjamin kalau Mama sama Papa akan mengizinkanmu kembali keluar besok,” sindir Xiao Wei membuat Chen Qianqian yang berada di sampingnya langsung mengkode untuk diam saja. Akan tetapi, Xiao Na yang sudah terlanjur mendengarnya pun menghela napas panjang. Apa yang dikatakan oleh sang kakak benar adanya. Mereka tidak akan melepaskan begitu saja/ Apalagi dirinya yang masih kelelahan seperti ini. “Lantas, aku harus bagaimana?” erang Xiao Na merasa serba salah terhadap sikapnya hari ini. Jujur saja, ia sangat lelah untuk keluar kamar. Akan tetapi, kalau terus di dalam tanpa beraktivitas itu sama saja mengudang kedua orang tuanya untuk lebih mengekang lagi. Mereka takut kalau dirinya tidak pernah pulang seperti tahun lalu. “Begini saja, kau bisa berjemur di sini. Nanti kalau ada Mama sama Papa tinggal aku bilang kalau kau memang sejak tadi bersama kami,” ucap Xiao Wei dengan akal cerdiknya membuat Xiao Na terdiam sejenak. “Apa aku tidak memiliki aktivitas lain?” tanya Xiao Na memastikan. “Untuk hari ini kau selamat, Nana. Karena besok kita semua akan kedatangan tamu,” jawab Xiao Wei tertawa pelan saat melihat wajah malas dari sang adik. Memang tidak ada yang pernah berubah dari mansion ini. Selalu saja menerima tamu saat tahun baru. Padahal Xiao Na sangat berharap kalau mereka berdua liburan sehingga dirinya bisa dengan leluasa di mansion tanpa harus takut ada seseorang yang mengintai. “Oh tidak, aku sangat malas menerima tamu,” keluh Xiao Na menenggelamkan wajahnya di bantal kecil. Membuat teriakan kesal itu teredam penuh. Sedangkan Chen Qianqian yang melihatnya hanya tersenyum geli. “Sudah tidak apa-apa, Nana. Lagi pula ini hanya pertemuan keluarga biasa. Dan tidak akan ada kaitannya dengan dirimu.” “Bukan begitu, Ta Shao. Aku hanya malas menemani para tamu. Karena aku datang bukan untuk bertemu mereka, melainkan mengistirahatkan tubuhku yang mulai lelah ini,” sanggah Xiao Na mulai membenarkan letak selimutnya, lalu mulai bersiap kembali masuk ke dalam mimpi. “Ya sudah, kau istirahat saja di sini sampai kami menyelesaikan berjemur. Nanti kau akan aku suruh untuk ke kamar,” balas Chen Qianqian yang diangguki oleh Xiao Na dalam diam. Wanita itu tampak sama sekali tidak peduli dengan apa yang telah dikatakan oleh kakak iparnya, meskipun sudah banyak sekali diwanti-wanti agar tidak kelepasan dalam bersikap. Akan tetapi, tetapi saja hal tersebut tidak bisa dihindarkan. Karena setiap Xiao Na kembali ke sini selalu saja dalam keadaan mengantuk. Mungkin benar pekerjaan wanita itu sangat banyak sehingga menginginkan istirahat yang berlebih untuk kembali mengisi tenaganya. Walaupun sesekali Xiao Na terlihat jauh lebih segar, tetapi tetap saja kantuk yang menjadi kebiasaan itu tidak pernah hilang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN