Setelah melakukan perjalanan beberapa lama, akhirnya Xiao Na pun sampai di tempat kelahirannya sendiri. Suasana sejuk dan sepi itu tampak memanjakan mata. Karena selama beberapa tahun menatap di sebuah kota yang berisikan banyak gedung tinggi.
Kini Xiao Na telah sampai di mansion mewah milik kedua orang tuanya. Dengan memarkirkan mobil di tempat yang kosong, ia pun turun dan melenggang masuk melalui pintu garasi. Tentu saja pintu tersebut langsung mengarah pada sisi mansion pada sayap Timur.
Sesampainya di dalam, terlihat belum banyak orang yang bangun. Mungkin karena ini masih sangat pagi sehingga belum ada penghuni tetap yang sudah membuka matanya. Hanya ada banyak sekali pelayan mansion tengah sibuk mengerjakan pekerjaannya.
“Xiao jie,” sapa salah satu pelayan berumur yang Xiao Na ketahui adalah kepala pelayan di mansion.
Xiao Na mengangguk singkat. “Kakakku di mana?”
“Tuan Muda Zhang sedang berolahraga di lantai 3, Xiao jie,” jawab pelayan tersebut menunduk hormat.
“Baiklah, aku tahu.” Xiao Na melenggang pergi menaiki tangga satu per satu yang langsung mengarah pada kamarnya sendiri. Biarlah pagi ini belum ada yang tahu kedatangannya, karena tubuh Xiao Na sangat lelah sehingga membutuhkan istirahat terlebih dahulu.
Sepasang kaki mulus nan jenjang tinggi itu mulai melepaskan high heels-nya dan digantikan oleh sandal rumahan yang berbulu halus warna putih. Meskipun jarang ditempati, kamar Xiao Na akan selalu bersih. Karena ia sudah berpesan agar para pelayan membersihkan kamarnya setiap sore sehingga kala dirinya datang nanti tidak akan kotor.
Rasa hangat sekaligus nyaman menyambut tubuh wanita itu saat merebahkan tubuhnya di atas kasur berwarna putih polos. Seakan semua lelahnya tadi menguap di udara dan hanya menyisakan rasa kantuk yang seakan-akan ingin menghukumnya agar cepat tertidur.
Tanpa melepaskan apa pun yang masih membaluti tubuhnya, Xiao Na mulai menjelajah ke alam mimpi. Walaupun ia tidak mengetahui bahwa ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi gerak-geriknya di dalam kamar. Itu adalah Xiao Wei, kakaknya sendiri.
Sebab, lelaki yang memiliki ikatan batin cukup kuat dengan Xiao Na itu mulai merasakan kehadirannya. Bahkan saat ia berolahraga tadi perasaannya mendadak menghangat. Seakan menandakan kalau adiknya ada di sini.
Dan benar saja, Xiao Wei langsung mendapati adiknya tengah menaiki tangga satu per satu sembari melangkah dengan gontai. Ia terlihat lelah dengan gurakan hitam di sekitar bawah matanya. Menandakan kalau wanita itu sejak kemarin tidak tertidur.
Padahal bisa saja Xiao Na menyewa supir untuk mengantarkan kepergiannya, tetapi wanita itu tetap bersikeras pulang sendiri. Walaupun pada akhirnya memang lebih aman pulang sendiri daripada harus ditemani oleh orang yang belum tentu aja menjaga kita seutuhnya. Siapa tahu kalau di tengah jalan akan ada kejadian tidak terduga.
Membayangkan hal tersebut terjadi kepada adiknya membuat Xiao Wei bergidik pelan. Meskipun ia tahu kalau Xiao Na jago bela diri, tetapi kalau kejadian tidak terduga itu malah datang tepat saat malam hari pun tidak akan ada yang bisa mengagalkannya. Karena tenaga lelaki dan perempuan tidaklah sama.
“Tuan Muda Zhang,” sapa dua orang pelayan secara tiba-tiba membuat Xiao Wei yang sejak tadi melamun langsung terkejut.
“Kalian menakutiku saja,” ucap Xiao Wei mendelik tidak percaya sembari mengelus pelan da*danya yang mulai berdebar tidak beraturan.
“Maafkan kami, Tuan Muda Zhang,” pekik kedua pelayan itu sedikit keras membuat Xiao Wei menghela napas panjang untuk menurunkan semua emosinya yang sempat mendidih tadi.
Sejenak ia melirik ke arah dalam kamar Xiao Na yang masih tidak ada pergerakan dari sana, lalu menatap kedua pelayan dengan raut wajah datar. Sebab, Xiao Wei benar-benar hampir merasakan jantungnya sudah tidak ada lagi di tempat.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Kalian berdua kembali sibuk,” sanggah Xiao Wei membuat keduanya langsung meringis pelan.
Memang tidak ada kemarahan, tetapi ia bisa merasakan ada sedikit gejolakan emosi di sana. Karena Xiao Wei yang biasa tersenyum, kini mendadak datar seakan menandakan kalau dirinya benar-benar kesal.
Tanpa pikir panjang dan tidak ingin menambah masalah lagi, kedua pelayan muda yang berniat untuk mendekatkan diri dengan sang majikan pun melesat dengan cepat. Bahkan tidak sampai hitungan detik mereka berdua sudah melenggang sangat jauh membuat Xiao Wei sedikit ternganga melihat tingkah keduanya yang begitu ajaib. Entah datang dari mana mereka bisa sampai ke mansion ini.
Kemudian, Xiao Wei pun ikut melenggang pergi dari sana menuju kamarnya sendiri yang berada tidak jauh dari adiknya. Sebab, kamar Xiao Na merupakan kamar yang terletak paling ujung dari tangga tempat naik menuju arah sini.
Mungkin kedua orang tua awalnya hendak menggabungkan diri dengan Xiao Na agar tetap akur dan saling menyayangi. Akan tetapi, siapa sangka kalau mereka sendirilah yang menjadikan adiknya tidak pernah mau tinggal di tempat ini dalam durasi satu bulan. Karena pasti di minggu ketiga Xiao Na sudah tidak lagi menampakkan batang hidungnya dan sudah kembali ke Shanghai tanpa sepengetahuan siapa pun.
Sesampainya di dalam kamar, Xiao Wei melihat seorang wanita cantik dengan perut yang sedikit membesar tengah berkutat menghias diri di depan cermin. Namun, bukan memoles wajah yang dilakukannya, melainkan sibuk menguncir rambut panjang berwarna cokelat terang.
“Qianqian, zhen me la?” tanya Xiao Wei menghampiri sang istri dengan wajah manja seperti biasa.
“Kau sudah selesai berolahraga? Tolong bantu aku ikatkan ini, sepertinya pakaianku kekecilan sehingga tanganku tidak bisa menggapainya dengan sempurna,” jawab Chen Qianqian mengerucutkan bibirnya kesal membuat Xiao Wei tertawa gemas.
Dengan cepat lelaki itu mencuri sebuah ciuman singkat dari sang istri membuat gerakan spontan dari Chen Qianqin langsung nge-stuck layaknya sebuah program singkat yang tengah dijalankan mendadak berhenti bekerjan seakan ada aliran asing mulai meringsek masuk.
Padahal pernikahan keduanya bisa dikatakan sudah memasuki tahun kedua, tetapi tingkah Chen Qianqian yang pemalu itu malah menandakan mereka seperti baru saja menikah kemarin. Sikap polos dan lugunya seakan selalu melekat sehingga membuat Xiao Wei merasa gemas dan ingin cepat bermanja-manja dengan sang istri tercinta.
“Ayo, cepat! Kau selalu saja seperti itu,” titah Chen Qianqian.
Akhirnya, mau tak mau Xiao Wei pun menuruti perintah tersebut dan mulai menyisir rambut sedikit demi sedikit, lalu mengumpulkannya menjadi satu genggaman tangan. Setelah dirasa sudah terkumpul semua, ia pun mulai menyatukannya menggunakan ikatan rambut yang sudah terjepit di sela-sela jemari.
“Suamiku, apakah Nana sudah pulang?” tanya Chen Qianqian menatap lelaki tampan dari pantulan cermin rias yang ada di hadapannya.
“Pagi tadi dia baru sampai, dan sekarang sedang tertidur di kamarnya,” jawab Xiao Wei tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun seakan takut akan merusak karya yang sekarang ia buat.
“Syukurlah kalau Nana mau pulang,” ucap Chen Qianqian tersenyum senang.