Tidak terasa bulan per bulan telah berlalu sampai tiba rasanya di penghujung tahun yang akan segera berakhir beberapa hari lagi. Bahkan Yushi pun sudah mengajukan cuti tahunan pada Xiao Na demi menghadiri sebuah perjodohan yang telah disiapkan oleh orang tuanya bersama lelaki dari masa kuliah dulu.
Sebenarnya, ia turut bahagia mengetahui sekretaris pribadi yang selama ini sudah mengabdi akan segera mencari pendamping hidup. Akan tetapi, Xiao Na sedikit tidak rela kalau pada akhirnya Yushi akan mengajukan resign saat menjadi seorang ibu.
Xiao Na yang masih setia memandangi kalender di hadapannya pun mulai menghela napas panjang. Semua berlalu dengan begitu cepat sehingga dirinya sampai tidak sadar bahwa hari mulai gelap, dan karyawan pun sudah banyak kembali pulang. Sehingga keadaan kantor saat ini tampak sepi sekali hanya ada beberapa satpam yang masih menjaga keamanan.
Wanita yang lengkap mengenakan mantel besar musim dingin itu tampak melangkah keluar dari ruangannya sendiri untuk mengitari sekeliling perusahaan. Tentu saja ia ingin memantau situasi saat tidak ada karyawan satu pun, sebab hal tersebut menjadikan dirinya sedikit tidak nyaman jika dikelilingi banyak orang.
Sejujurnya, Xiao Na sama sekali tidak berniat untuk kembali pulang ke mansion orang tuanya. Tentu saja semua itu demi menghindari kencan buta dan segala perjodohan yang telah disiapkan dengan repot oleh kedua orang tuanya demi melepaskan masa lajang. Meskipun hal tersebut sama sekali tidak berpengaruh dengan masa karirnya.
Setelah selesai melihat situasi dari perusahaannya sendiri, Xiao Na pun memutuskan untuk turun ke bawah melanjutkan perjalanan menuju Beijing. Karena ia sudah memutuskan pulang saja daripada menghabiskan waktu di kota ini dan membuat keluarganya kesal.
Xiao Na tidak berpamitan pada Tim N&N, sebab ia sudah lebih dulu mengumumkan masalah libur tahun baru ini dengan jarak yang lebih lama. Dengan alasan untuk lebih memberikan mereka liburan agar tidak terlalu suntuk bergelut di depan komputer selama bertahun-tahun.
Sesampainya di bawah, ia melihat beberapa satpam tengah bersenda gurau, lalu bangkit ketika salah satu dari mereka menyadari kedatangannya. Sontak mereka semua langsung menunduk hormat membuat Xiao Na tersenyum tipis.
“Sudah mau pulang, Presdir Zhang?” tanya salah satu satpam yang berwajah tegas.
“Iya, Pak. Apa semua sudah pulang tadi?” Xiao Na masih mempertanyakan beberapa karyawan yang biasa ia lihat tengah menunggu jemputan, kini malah sudah kembali ke asalnya masing-masing.
“Sudah semua, hanya tanggal Presdir Zhang saja yang terakhir kali terlihat saat hendak liburan. Karena mereka sudah tahu kalau akan diperbuat untuk lembur lagi daripada seperti orang kurang kerjaan,” jawab petugas keamanaan dengan lengkap name tag di kaus pakaiannya.
Xiao Na memang terbiasa untuk mendapatkan perlakuan aneh dari sasaeng yang yidak tahu malu sudah meminjam. Akan tetapi, Xiao Na masih sangat berat untuk melepaskan semua uang miliknya pada para penjalah.
Kemudian, mobil mewah berwarna putih itu tampak mengitari parkiran basement yang mulai tidak berpenghuninya. Padahal besok baru diumumkan tentang libur tadi. Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang menanyakan perihal lamaran kerja sama.
Dengan terbiasa berkendara seorang diri, Xiao Na mulai melajukan benda tersebut dengan kecepatan di atas rata-rata. Karena hari ini wanita itu akan berkelana seorang diri tanpa ada siapa pun. Bahkan sang kakak sudah mengatakan ingin menjemput pun tidak jadi.
Tanpa sadar ponsel Xiao Na berdering pelan menandakan ada seseorang yang tengah menghubunginya. Terlihat nama Han Siyang di sana membuat wanita itu menepikan mobil sejenak untuk menghubungkan ponsel dengan mobilnya. Agar bisa saling terhubung.
“Halo, kenapa, Han Siyang?” tanya Xiao Na mulai melajukan mobilnya kembali.
“Nana, apa kau pulang ke rumah tahun ini?” Han Siyang terdengar penasaran membuat wanita itu menghela napas panjang. Tentu saja temannya ini pasti sangat perhatian, karena kalau tidak pasti ia sendiri yang akan mendapat bencana akan segera direpotkan oleh dirinya sendiri.
“Iya, aku pulang tahun ini. Karena Kakakku sudah mengancam untuk segera pulang, agar tidak mendapat masalah. Padahal aku ingin sekali diam di apartemen seorang diri,” celoteh Xiao Na.
“Benar apa yang dikatakan oleh Xiao Wei, Nana. Karena kau selalu saja tidak peduli pada keluarga sendiri,” balas Han Siyang sedikit mengejek membuat wanita itu mencibir pelan.
“Memang aku tidak peduli. Lagi pula ini sudah menjadi takdir saat mereka mulai mengabaikanku.”
“Iya, kau benar. Tapi, tetap saja hal itu tidak dibenarkan. Karena bagaimanapun juga, mereka juga masih menjadi keluargamu.”
“Kau tahu dari mana keluargaku?”
“Lantas, kalau bukan keluarga apa?
“Dengarkah, Han Siyang, mereka memang berkedok sebagai keluarga untukku. Tapi percayalah, kalau semua itu penuh dengan kebohongan. Nyatanya kalau memang keluarga mereka akan tetap memiliki rasa kasihan padaku.”
“Apa kau anak kecil sehingga harus dikasihani?”
“Aku tidak pernah menuntut seperti itu kalau sejak dulu mereka selalu memperhatikanku, Han Siyang.”
“Baiklah. Aku mengerti maksudmu.”
“Kau tidak akan mengerti kalau belum benar-benar berada di posisiku.”
“Oh, jadi kau ingin aku mencobanya?”
“Boleh, kalau kau mau. Aku tidak memaksanya.”
“Tapi, kau jelas terkesan seperti memaksa, Zhang Xiao Na.”
“Benarkah?”
“Ah, terserahlah. Aku tidak peduli padamu lagi,” sinis Han Siyang mulai kehabisan kata-kata akibat dari Xiao Na.
Sejak dulu ia memang tidak akan pernah bisa menang melawan wanita itu. Karena Xiao Na seakan mempunyai banyak sekali stok perkataan sehingga terus bisa membalas perkataannya sampai skak matt. Padahal sejak tadi ia sudah menunggu bungkamnya wanita itu.
Akan tetapi, bukannya bungkam malah lebih berkarya lagi sehingga membuat Han Siyang sedikit merasa kesal. Akibat terus saja dikalahkan oleh wanita yang selama ini sudah menjadi temannya dalam suka maupun duka.
“Oke, lupakan saja. Bagaimana kabar tunanganmu, Han Siyang? Sepertinya kau diam-diam saja sejak acara malam itu tanpa ada cerita lagi padaku,” ucap Xiao Na mulai bersikap santai sembari sesekali fokus pada jalanan yang ada di hadapannya, meskipun terlihat lenggang ia tetap harus waspada. Karena kecelakaan bisa terjadi kapan saja.
“Apa yang ingin aku ceritakan lagi? Karena aku baru bertunangan belum menikah yang langsung unboxing, Nana,” balas Han Siyang tertawa pelan.
“Dasar lelaki. Memangnya harus sekali mengatakan hal tersebut kepadaku. Lagi pula aku hanya ingin tahu kabar tunanganmu saja. Apa kau memiliki rencana lain atau tidak. Kenapa jadi mengarah pada unboxing. Aku tidak terima,” sungut Xiao Na.