61. Almost Die

1133 Kata
“Direktur Li, apakah semua laporan ini sudah bisa diserahkan pada Departemen Pemasaran?” tanya seorang lelaki berpakaian teknisi pada Li Xian yang terlihat sibuk memeriksa satu per satu kontrak kerja dari rapat tadi. Sejenak Li Xian memijat kepalanya yang mendadak pening. Entah kenapa ia tidak tahu kalau bekerja seperti ini sudah membuat kesehatannya mulai terganggu. Akan tetapi, itu sudah menjadi konsekuensi dirinya yang memaksa untuk tetap bekerja di bawah tekanan seperti ini. “Kalau sudah dimasukkan ke dalam arsip alat, kau bisa menyerahkannya ke sana. Tapi, kalau belum kau bisa mengarsipkannya dulu. Karena nanti untuk berjaga-jaga saja kalau Presdir Zhang meminta semua laporan kita,” jawab Li Xian menatap lelaki itu serius. “Baik, Direktur Li.” Setelah itu, ruangan kecil nan mungil dari Departemen Teknologi kembali sepi. Hanya ada Li Xian yang masih berkutat dengan banyak pekerjaannya. Ia terlihat mengendurkan simpul dasi yang mulai terasa mencekik lehernya. Sebenarnya Li Xian tidak tahu kalau semua akan terasa berat seperti ini. Namun, sudah tidak ada waktu untuk menyesali semuanya. Karena ia memang harus tetap bertahan demi mengejar masa depannya. Tak lama kemudian, pintu ruangan yang tadi tertutup sempurna kini kembali terbuka dengan menampilkan sesosok gadis mungil. Ia terlihat memasuki ruangan dengan sangat sibuk membawa banyak sekali map untuk masing-masing departemen yang ada di perusahaan. “Tong Xin, apa kau tidak kesusahan membawa map sebanyak itu?” tanya Li Xian menggeleng tidak percaya menatap rekan kerja yang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri. “Tidak, Direktur Li. Aku hanya ingin mempercepat waktu. Karena sebentar lagi Presdir Zhang akan memintaku untuk segera ke ruangannya. Mempelajari banyak hasil observasi kemarin,” jawab Tong Xin menyerahkan tiga map berlogo perusahaan. “Kau memang selalu seperti itu, Tong Xin,” timpal Li Xian tertawa pelan. “Kalau begitu, apa ingin aku bantu? Kebetulan sekali aku hendak keluar juga.” “Wah, dengan senang hati!” balas Tong Xin menyerahkan beberapa map tersebut kepada Li Xian yang terlihat kembali mengancingkan jas formalnya. Kemudian, keduanya pun kembali keluar dari ruangan. Tentu saja hal tersebut mengundang banyak sekali tatapan geli dari para teknisi yang sering kali melihat kedekatan pemimpin mereka pada seorang gadis mungil dari departemen lain. Tidak urung salah satu dari mereka langsung bersiul menggoda membuat Li Xian hanya tertawa pelan. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Karena menurutnya, semua itu hanyalah guyonan belaka dan tidak akan pernah dibawa serius. Meskipun terkadang Li Xian merasa geli sendiri saat kembali mengingat kalau benar-benar berkencan dengan Tong Xin yang usianya terpaut sangat jauh. Tentu saja kedua orang tuanya pasti akan merasa sangat terkejut saat mengetahui kebenaran tersebut. Akan tetapi, Li Xian sama sekali tidak berpikiran sampai ke sana, sebab masa depannya hanya dimiliki oleh Zhang Xiao Na. “Direktur Li, apa kau tidak pernah merasa risih dengan lontaran mereka yang selalu menganggap kita mempunyai hubungan tertentu?” tanya Tong Xin setengah berbisik. “Tidak. Lagi pula mereka semua hanyalah candaan, Xiao Tong Xin. Kau tidak perlu menganggapnya serius. Karena aku sudah menganggapmu seorang adik,” jawab Li Xian tersenyum geli membuat gadis itu mau tak mau mengulas senyum lebar. Tentu saja Tong Xin sudah menganggap Li Xian seperti kakaknya sendiri. Sebab, sejak dulu dirinya memang sangat menginginkan seorang kakak, dan untuk berkencang ia rasa tidak mungkin. Karena ia sendiri sudah mempunyai lelaki idaman yang berprofesi sebagai dokter. “Aku jadi penasaran. Apakah menjadi anak tunggal itu sangat sulit?” Tong Xin melangkah lebih dulu saat memasuki elevator yang kosong membuat Li Xian menyusulnya dari belakang. “Sangat menyusahkan. Apalagi kalau kau satu-satunya harapan mereka,” balas Li Xian mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh, lalu mulai memencet tombol lantai tujuan. “Kau benar, Xian Ge. Aku juga merasakan hal yang sama jika berada di rumah. Orang tuaku selalu saja menanggapku seorang anak kecil. Hingga terkadang mereka benar-benar memperlakukanku seperti bayi. Bahkan untuk bekerja di luar kota saja aku butuh waktu untuk meyakinkannya,” keluh Tong Xin mengerucutkan bibirnya kesal. “Sudahlah, tidak apa-apa. Mereka sangat memedulikanmu hingga menjadi seperti itu. Karena kau satu-satunya harapan keluarga,” sanggah Li Xian mencoba memberi pengertian pada gadis itu. Sejenak Tong Xin mengangguk pelan menanggapi perkataan lelaki dewasa yang ada di depannya. Semua ini memang menyangkut dengan masa depan dari Keluarga Tong sehingga dirinya tidak bisa berpuas diri. Sementara itu, di sisi lain Xiao Na terdiam membisu di ruangannya. Tatapan tajam bak seekor elang hendak menerkam mangsa terlihat mengitari sepenghujung ruangan. Ia terlihat mencari sesuatu yang tak kasatmata di sana. Bahkan sesosok wanita cantik yang berada tepat di depan Xiao Na ikut terdiam membisu dengan beberapa kertas di tangannya. Yushi menghela napas pelan sembari memberikan laporan dari Departemen Keuangan hari ini. Entah kenapa audit yang seharusnya sudah menyelesaikan tugas malah tetap berada di perusahaan. “Bagaimana bisa para audit itu tidak kembali?” tanya Xiao Na menghadap Yushi serius. “Aku tidak tahu, Presdir Zhang. Karena semua itu sudah aku instruksikan pada Tong Xin,” jawab Yushi menggeleng pelan. “Tong Xin?” Sepasang alis sedikit tebal nan lentik itu tampak bertaut bingung mendengar penuturan sekretarus pribadinya sendiri. “Apa kau yakin memberikan semua instruksi itu pada Tong Xin?” Yushi mengangguk singkat. “Iya benar, Presdir Zhang.” Baru saja Xiao Na hendak memencet tombol yang ada di intercom, tiba-tiba pintu ruangan diketuk oleh seseorang dari luar. Membuat kedua wanita cantik itu langsung menoleh, dan mendapati seorang gadis bersama dengan lelaki dewasa nan tampan masuk ke dalam ruangan. Xiao Na yang merasa sangat penasaran dengan kinerja gadis itu pun langsung menyerangnya berbagai pertanyaan. “Tong Xin, apa yang kau kerjakan selama ini? Kenapa para audit belum menyelesaikan tugasnya? Bukankah aku sudah menurunkan perintah untuk mempercepat keuangan?” Sejenak Tong Xin terdiam mencerna perkataan dari bosnya. Ia terlihat bingung sekaligus tidak mengerti. Akan tetapi, selang beberapa menit kemudian, gadis itu kembali mengangguk. “Aku telah menyelesaikan masalah audit hari ini, dan mengantarkan semua laporan kepadamu, Presdir Zhang,” jawab Tong Xin mengernyitkan keningnya bingung. “Baiklah, mana semua laporan itu?” pinta Xiao Na membuat gadis berpakaian simple nan formal itu langsung menyerahkan hampir semua map yang ada di tangannya. Sedangkan Yushi menghela napas lega. Tong Xin benar-benar membuat jantungnya berdetak lebih kuat saat mengetahui permasalahan audit yang tidak kunjung selesai. Padahal sudah menunjukkan minggu ketiga. “Kau menakutiku saja,” bisik Yushi membuat Tong Xin tertawa tanpa suara. Sebenarnya ia telah menyelesaikan semua laporan itu kemarin, tetapi saat mengetahui ada masalah dengan kontrak kerja membuat Tong Xin mengurungkan niatnya untuk memberikan semua laporan itu. Ia takut kalau semua pekerjaannya malah membebani Xiao Na. Perlahan seulas senyum puas terbit di bibir wanita cantik yang tadi sempat ingin marah besar kepada semua karyawan. “Kenapa kau baru memberikannya sekarang?” tanya Xiao Na menatap Tong Xin serius. “Aku hanya tidak ingin membebani semua masalah perusahaan kepadamu, Presdir Zhang,” jawab Tong Xin tersenyum tipis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN