44. Do you trust me?

1067 Kata
Di tengah Xiao Na menunggu sang ayah siuman, tiba-tiba telinganya seperti mendengar seseorang yang melangkah mendekati dirinya. Tentu saja wanita itu langsung mengangkat kepalanya, lalu menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, tepat di sampingnya terlihat Xiao Wei dengan wajah yang begitu panik. Membuat Xiao Na langsung berpikir, kalau lelaki itu melewati rapat besarnya. Karena terlihat sekretaris pribadi lelaki itu masih mengikutinya. “Nana, apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Xiao Wei menatap sang adik dengan raut wajah penasaran sekaligus panik. “Aku tidak tahu,” jawab Xiao Na menggeleng pelan, membuat lelaki itu langsung mengusap wajahnya frustasi, kemudian ikut mendudukkan diri di samping adiknya yang ikut terlihat kacau. “Aku tidak tahu apa yang telah kau katakan dengan Papa tadi, tapi aku harap kau bisa menceritakannya padaku, Nana,” ucap Xiao Wei dengan nada rendah membuat Xiao Na yang berada di sebelahnya langsung menatap sang kakak tidak percaya. “Apa kau sedang mencurigaiku, Ge?” tanya Xiao Na dengan tersenyum mengejek. Xiao Wei yang mendengar pertanyaan itu pun langsung menggeleng keras. “Tidak, Nana. Aku sama sekali tidak mencurigaimu.” “Tapi, mendengar ucapanmu tadi sudah jelas kalau kau sedang mencurigaiku telah mencelakakan Papa, Ge.” “Xiao Na, aku sama sekali tidak mencurigaimu!” sentak Xiao Wei sedikit membentak, membuat wanita yang amat disayanginya itu terdiam kaku. Bahkan ia sama sekali tidak terlihat bergerak. “Baiklah, aku memang yang membuat Papa masuk ke rumah sakit. Aku pantas kau curigai,” putus Xiao Na tersenyum remeh. Memang diantara semua keluarganya tidak ada yang berbeda, bahkan Xiao Wei pun sama-sama menyebalkan. Padahal kalau dipikir dirinya tidak melakukan apapun. Akan tetapi, ia juga mengerti kalau sang kakak mencurigai dirinya, karena ia yang terakhir bertemu sang ayah. Tanpa pikir panjang, Xiao Na pun bangkit. Tentu saja hal tersebut langsung mengundang tatapan bingung dari sang kakak yang langsung menatap adiknya tidak percaya. “Mau kemana kau, Nana?” tanya Xiao Wei penasaran. Namun, dengan ringan Xiao Na menjawab, “Aku ingin pergi ke tempat yang tidak ada keluargaku sendiri.” Setelah mengatakan hal yang cukup menyakitkan itu, Xiao Na pun melenggang pergi dengan cepat. Bahkan ia sama sekali tidak mendengar jawaban kakaknya yang hendak mencegah dirinya pergi. Melihat sang adik yang melenggang pergi cukup jauh, diam-diam Xiao Wei menghela napas lelah. Entah kenapa ia merasa kalau masalah keluarganya semakin rumit. Kini tidak ada lagi yang bisa dijadikan sandaran oleh adiknya. Membuat Xiao Wei mendadak takut, kalau wanita itu akan memutuskan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. “Jangan berpikiran aneh, Presdir Zhang,” celetuk sekretaris pribadi Xiao Wei yang tanpa diketahui sudah duduk tidak jauh dari tempatnya. “Tidak. Aku hanya memikirkan sesuatu yang selama ini menyangkut di pikiranku,” balas Xiao Wei mulai mengendurkan ikatan dasi yang meliliti leher kokohnya. Akan tetapi, sang sekretaris tidak percaya begitu saja. Seorang wanita berwajah polos itu hanya tersenyum kecil. Meskipun Xiao Wei tidak mengakui, tetapi ia justru semakin mengerti kalau lelaki itu tengah memikirkan sesuatu yang cukup berat. “Percayalah, Presdir Zhang. Adikmu tidak akan berpikiran sempit. Dia hanya butuh waktu untuk menyendiri sekaligus menenangkan suasana hatinya. Karena perkataanmu tadi cukup membuat dia merasa tidak ada yang mempercayainya lagi,” ucap sekretaris pribadinya itu pelan. Namun, Xiao Wei sama sekali tidak berniat untuk membalasnya lagi. Lelaki itu terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tidak sadar bahwa seorang wanita awet muda menghampirinya sembari melangkah tergesa-gesa. Sementara di sisi lain, Xiao Na terlihat melenggang keluar dengan depat sekali. Bahkan semua pengunjung rumah sakit terlihat menatap wanita itu dengan pandangan bingung. Karena langkahnya sangat tergesa-gesa membuat semua orang yang melihatnya langsung mengernyitkan dahi. Apalagi wanita itu memasang wajah kesal sekaligus tajam. Membuat semua orang langsung berprasangka kalau dirinya tengah menahan amarah. Sesampainya di basement rumah sakit, Xiao Na langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata menimbulkan banyak sekali suara klakson yang memprotes cara menyetirnya. Tentu saja wanita itu tidak menghiraukan sedikit pun, ia terus menginjak pedal gas sampai tidak terasa mobilnya terhenti di suatu tempat. Mengingat hari ini masih siang, tidak banyak orang yang datang ke sini. Sebab, mayoritas penduduk yang ada di sini menghabiskan waktu untuk bekerja daripada bersantai seperti dirinya. Akan tetapi, itu bukanlah hal masalah, karena suasana hatinya memang cukup tidak membaik sehingga butuh penyegaran otak. Menara The Bund adalah tempat yang kini Xiao Na kunjungi. Padahal ia sama sekali tidak menyukai keramaia, tetapi melihat situasi cukup pas untuk suasana hatinya. Xiao Na pun memutuskan untuk berdiri di pagar pembatas Sungai Huangpu. Entah kenapa berdiri seperti ini membuat batinnya cukup tenang. Tanpa sadar wanita itu menutup matanya sembari menikmati semilir angin yang menyapu halus kulit lembut miliknya. Bahkan terpaan angin itu nyaris membuat rambutnya berantakan, karena hari ini ia sengaja menggerai rambut, tidak seperti biasanya yang selalu terkuncir rapi. “Nana!” Samar-samar Xiao Na mendengar seseorang yang memanggil nama miliknya, membuat ia membuka mata, lalu menoleh ke arah sumber suara. Sejenak mata cokelat terang menawan milik wanita itu menyipit memperjelas penglihatannya di tengah teriknya matahari. “Han Siyang, sedang apa kau di sini?” tanya Xiao Na mendapati teman seperjuangannya yang berada di sini. Padahal mereka berdua sama sekali tidak memiliki janji untuk bertemu. “Aku sedang mengobservasi lahan untuk membuka cabang baru,” jawab Han Siyang memperlihatkan tangan kerja miliknya, lalu menatap temannya penasaran. “Kau sendiri sedang apa di sini? Bukankah kau sedang tidak libur, Nana?” “Aku hanya suntuk saja,” ucap Xiao Na melangkah menghampiri bangku taman yang kosong, diikuti Han Siyang dari belakang. “Apakah ini menyangkut masalah pribadi?” tanya Han Siyang khawatir. “Entahlah. Bahkan aku sendiri tidak tahu sedang ada masalah apa,” jawab Xiao Na mengangkat bahunya gamang. Mau tak mau Han Siyang pun menghela napas lelah. Sikap seperti ini memang tidak hanya sekali dua kali, tetapi sering sekali Xiao Na mengeluarkan sikap anehnya. Membuat pikiran lelaki itu langsung mengarah pada sesuatu yang cukup abu-abu. “Apa kau masih berusaha mencari calon suamimu itu?” tanya Han Siyang menatap Xiao Na serius. Sejenak wanita itu menatap temannya cukup lama, sebelum akhirnya tawa lepas terdengar begitu keras. Bahkan bahu milik Xiao Na ikut berguncang membuat Han Siyang hanya bisa meringis pelan mendengar tawa temannya. “Tentu saja tidak!” jawan Xiao Na cepat, lalu meredakan tawanya sembari kembali berkata, “Aku hanya sedang dalam suasana hati yang cukup buruk sehingga kau jangan membuatku kesal, Han Siyang.” “Baiklah. Aku tidak akan mengganggumu lagi,” putus Han Siyang mengembuskan panas panjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN