45. Zarco Fan Club

1090 Kata
Suara masing-masing pendukung itu terdengar sangat meriah. Banyak sekali poster serta light stick untuk mendukung para kebanggaan, termasuk pendukung Tim N&N yang terlihat memadati tribun penonton. Semua yang ada di sana terdengar bersorak mendukung mereka. Tentu saja penggemar paling banyak adalah Zarco. Meskipun lelaki itu terlihat dingin dan cuek, tetapi tidak menutup kemungkinan kalau dirinya ramah akan membuat seorang meleleh. “Zarco!!!” teriak para pendukung lelaki itu saat melihatnya di spoiler layar. Menampilkan biodata singkat sekaligus foto terbaru Zarco yang sangat tampan. “Astaga, itu jodoh gue!” “Berasa bisa digapai, hyung.” “Aku meleleh, suami.” “Itu suamiku mau bertanding.” Dan masih banyak lagi sorakan demi sorakan yang terdengar aneh dan menggelitik membuat para tim tidak bisa menyembunyikan senyum jenakanya. Apalagi Demo, lelaki itu tidak bisa diam dan terus menggoda Zarco tanpa lelah. “Kapten, aku tidak tahu kau begitu banyak penggemar,” celetuk Demo mengerjapkan matanya lucu. Sedangkan Zarco hanya menghela napas panjang, tidak ada yang bisa ia lakukan, selain mendiamkan teman se-timnya. “Kau benar, Demo!” sahut Feng Zhen a.k.a DJ tertawa geli. “Bukankah Kapten sudah mengatakan kalau penggemarnya tidak kalah banyak denganku? Tapi, kenapa sekarang aku merasa kalau penggemar Kapten yang lebih banyak. Lihatlah, berapa tribun penonton yang harus menampung penggemarnya?” celetuk Grunt membuat semuanya terfokus pada tribun penonton, lalu saling mengangguk satu sama lain. “Aku juga berpikiran yang sama,” gumam Mingyu mengusap dagunya pelan. “Hei, sudah! Apa kau tidak menyadari tatapan Kapten yang sudah berubah?” seru Feng Zhen mendadak terdiam patuh. Tentu saja semua rekannya langsung ikut terdiam, tetapi bukan karena takut pada Zarco, melainkan kedatangan Xiao Na bersama dengan Su Yuan. “Bagaimana semuanya, Zarco?” tanya Xiao Na menatap lelaki itu tegas. “Sudah lengkap, jie. Hanya tinggal menunggu giliran pemain. Karena di atas sudah ada tim yang akan bertanding,” jawab Zarco. Sejenak Xiao Na hanya mengangguk, lalu menoleh ke arah Su Yuan. Keduanya terlihat berbincang sembari sesekali menunjuk ke arah kertas yang dibawa oleh wanita itu. Kemudian, Xiao Na langsung melenggang pergi dari sana dengan Su Yuan menetap, dan duduk tepat di samping Demo. Tatapan penasaran terlihat dari semua Tim N&N, terutama Demo dan Mingyu. Keduanya langsung menoleh satu sama lain, lalu mengkode agar Demo segera bertanya. Sebab, diantara mereka semua memang yang paling ternistakan adalah Demo sehingga lelaki itu hanya bisa menghela napas pasrah. “Uhm ... Ta Ge, Xiao Na jie mau ke mana?” tanya Demo membuat Su Yuan langsung menoleh. “Oh, dia ingin di backstage. Jadi, kalian hanya ditemani olehku,” jawab Su Yuan singkat. Sedangkan Feng Zhen yang mendengar hal tersebut langsung mengangguk penuh arti. Sejujurnya, Xiao Na memang sama sekali belum pernah menyaksikan secara langsung mereka bertanding. Bukan karena tidak ingin mendukung, melainkan wanita itu ingin kalau mereka semua mandiri, dan meraih juara berkat kegigihannya sendiri. Tak lama kemudian, giliran Tim N&N untuk naik ke atas panggung, dan bersaing dengan salah satu pemain andalan perusahaan lawan Xiao Na. Meskipun tidak sedikit dari mereka merasa kalau pertandingan ini terlihat jelas ada kecurangan. Karena mustahil kalau Tim N&N yang baru saja naik ke atas panggung, dan langsung melawan tim andal dari berbagai pertandingan. Demo yang melihat lawannya sendiri pun langsung berbisik, “Apa kau tidak merasa aneh kalau kita mendapat lawan yang terlalu tinggi?” “Kau benar, Demo. Aku merasa hal yang sama,” balas Feng Zhen ikut berbisik. Sementara di sisi lain, Xiao Na terlihat menduduki salah satu sofa berwarna hitam yang ada di sebuah ruangan jauh dari tempat pertandingan. Ia tidak sendiri, melainkan ada Li Xian. “Presdir Zhang, aku tidak tahu kalau kau senang berada di sini daripada duduk di sofa mentor,” celetuk Li Xian sembari terus mengerjakan pekerjaannya melalui laptop. Xiao Na hanya melirik lelaki itu sekilas, dan memilih untuk mengabaikannya saja. Karena menurutnya tidak penting. “Ada apa, Yushi? Kau membuat konferensi telepon,” tanya Li Xian membuat Xiao Na yang sejak tadi mengabaikan lelaki itu langsung menoleh cepat. Terdengar suara gemerusuk menandakan kalau wanita itu tengah memposisikannya dengan baik dan benar. Kemudian, terlihat banyak sekali karyawan kantor yang duduk di ruang rapat. “Astaga, Yushi. Aku tidak tahu kalau kau sampai mengumpulkan sebanyak itu,” ucap Li Xian benar-benar terkejut. Tanpa pikir panjang, Xiao Na langsung menggeser laptop milik lelaki itu, lalu mendelik tidak percaya. Untung saja ia memutuskan untuk tidak ikut duduk di sana. Kalau tidak, image-nya sebagai pemimpin tegas akan hilang dalam sekejap. “Presdir Zhang!” sapa semua karyawan lelaki itu menunduk hormat. “Apa kau sedang mengacaukan pekerjaanku di sini, Yushi?” tanya  Xiao Na terdengar sinis. “Tidak. Aku hanya memanfaatkan waktu luangmu untuk membicarakan pekerjaan,” jawab Yushi tanpa beban membuat Li Xian diam-diam tersenyum mendengar perkataan sekretaris pemberani itu. Sejenak Xiao Na menghela napas pelan, lalu meletakkan laptop milik Li Xian di atas meja menampilkan keberadaan mereka berdua sekarang. Tentu saja semua itu telah diketahui oleh Yushi. Entah kenapa sekretarisnya itu selalu berani. “Baik, aku akan mulai membuka rapat ini dengan membaca perencanaan singkat yang sudah diletakkan di atas meja,” ucap Yushi tenang, membuat Xiao Na hanya memperhatikan mereka. Kemudian, salah satu karyawan dari Departemen Perencanaan terlihat bangkit dan mulai memencet tombol remote yang ada di tangannya. Sedangkan mereka tampak serius mendengarkan presentasi lelaki itu dengan sesekali mengangguk. Tanpa mereka semua sadari, ternyata di tempat lain terdengar sorakan yang begitu bahagia dan membuncahkan isi gelanggangan olahraga milik salah satu pesaing bisnis Xiao Na. sayangnya, sang tuan rumah kalah telak sehingga harus menelan kekecewaan dalam-dalam. Wajah bahagia nan semringah itu tercetak jelas di wajah Tim N&N, terlebih Su Yuan yang langsung bangkit sembari ikut bertepuk tangan penuh bangga. Tidak ada yang menyangka kalau tim kecil itu bisa memenangkan pertandingan sebesar ini, meskipun hanya digolongan antar tim, tetapi pencapaian luar biasa. “Tim Nana!” Slogan membanggakan milik Tim N&N yang selalu mengumandangkan dirinya adalah milik Zhang Xiao Na. Setelah berfoto dan menyerahkan piala sekaligus mengalungkan medali, Zarco beserta kawan-kawan lainnya turun dari panggung. Tentu saja Su Yuan langsung menghampiri mereka semua dengan tersenyum lebar. “Aku sangat bangga denganmu, Zarco!” puji Su Yuan tulus, lalu merangkul Zarco singkat. “Kapten memang yang terbaik. Padahal tadi aku sudah sangat pasrah kalau kita kalah,” sahut Feng Zhen membuat Mingyu langsung mengalungi leher lelaki itu, kemudian mencekiknya gemas. “Aku tidak percaya kalau kau malah mengharapkan kita kalah,” sungut Mingyu. Namun, Demo yang melihat kedua temannya berkali itu pun hanya tertawa pelan. Memang tidak ada yang mau mengalah antara Feng Zhen dan Mingyu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN