46. The First Winner

1030 Kata
“Xiao Na jie!!!” Entah kenapa samar-samar Xiao Na mendengar seseorang yang meneriaki namanya di luar ruangan, membuat wanita itu langsung mengalihkan perhatian dari presentasi yang ada di hadapannya. Kemudian, mengernyit bingung saat pintu ruangan khusus Tim N&N terbuka paksa, dan menampilkan timnya berlari kegirangan. “Ada apa ini?” tanya Xiao Na bingung. “Jie, kita menang!” seru Demo setengah berteriak membuat semuanya langsung berseru meramaikan suasana, membuat Li Xian yang mengetahui situasi tidak mendukung pun mematikan microphone. “Benarkah? Siapa yang kalian lawan?” tanya Xiao Na tidak percaya, lalu menatap piala yang cukup besar di tangannya. “Tentu saja kita melawan Tim Zhou, tapi mereka kalah telak,” jawab Mingyu masih dengan wajah kegirangan. Seulas senyum bangga terpatri di wajah Xiao Na, membuat timnnya langsung melompat senang. Meskipun ini pertama kalinya mereka bertanding secara terbuka, tidak menutup kemungkinan kalau mampu menembus hingga kejuaraan dunia. Itulah yang selama ini selalu ditanamkan oleh Xiao Na. Agar tim didikannya mampu mengejar kejuaraan dunia. Namun, Demo yang menyadari kalau Xiao Na tengah melakukan pertemuan konferensi melalui video call pun langsung mengkode temannya untuk memisahkan diri sejenak. Tak lama kemudian, suasana kembali hening membuat Li Xian tersenyum tipis. Ia merasa bangga akan kepedulian mereka semua terhadap Xiao Na. Dan suasana hening itu pun berlangsung cukup lama dengan Xiao Na menyelesaikan konferensi, lalu kembali menatap mereka semua dengan senyum lebar. Sedangkan Li Xian terlihat mematikan laptop miliknya. “Aku tidak percaya kalau kalian mampu melawan Tim Zhou dengan kalah telak seperti itu,” celetuk Xiao Na membuat Demo yang paling antusias langsung mendekat. “Seharusnya kita semua yang tidak percaya, jie. Sebab, Zarco menyerang detik-detik waktu akhir membuat Tim Zhou tidak bisa berkutik,” jawab lelaki paling muda diantara semua tim. “Jadi, kalian semua sudah menyiapkan taktik untuk melawan?” Xiao Na menatap satu per satu lelaki yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri. “Tidak ada, jie. Semua itu yang melakukan Zarco sendiri. Dia sengaja berpura-pura lemah untuk meringankan memperhambat pertahan lawan. Sehingga waktu mereka terjebak, Zarco langsung mengeluarkan kemampuan tersembunyi,” sahut Feng Zheng. “Sudahlah, tidak masalah apapun taktik yang kalian semua gunakan. Yang terpenting sekarang kalian sudah mempunyai semangat untuk terus ikut maju diberbagai pertandingan. Berminat?” ucap Li Xian membuat semuanya kompak memangguk. “Percayalah anak-anak, kalau Li Xian mengatakan hal itu untuk memperbanyak olahraga kalian,” gumam Su Yuan membuat senyum setan milik Li Xian terbit. “Tentu saja!” Sontak semua yang ada di sana langsung berpura-pura pingsan mendengarnya, tetapi tidak dengan Xiao Na. Wanita itu tertawa lepas mendengar nada lesu dari mereka semua yang sangat tidak menyukai olahraga. Sementara itu, di sisi lain terlihat seorang lelaki berkemeja warna putih dengan tergulung sampai ke siku itu tampak memantau satu per satu mekanik yang terlihat sibuk mereparasi mobil. Tentu saja setiap tahun showroom mobil SNAIL selalu mengeluarkan mobil terbaru sehingga mereka semua harus bekerja keras demi mencapai target tersebut. Namun, perhatian lelaki itu malah teralihkan dengan getaran ponsel yang ada di saku celananya, membuat Han Siyang langsung menggeser layar kuncinya. Segaris lengkungan indah nan menawan itu terbit saat dirinya membaca pesan dari seorang teman dari masa lalu, yaitu Xiao Na. Xiao NaNa Han Siyang, kau harus melihatku di berita harian.   Han Siyang Iya, aku sudah melihatnya. Selamat, Nana! Akhirnya kau mampu membawa tim kecilmu sampai juara seperti ini. Jadikan motivias kemenangan kali ini untuk melangkah lebih jauh, dan bisa menggantikan kita sebagai juara dunia.   Xiao NaNa Aku tidak akan lupa dengan pesanmu. Oh ya, kalau ada waktu luang malam ini aku akan mengajak seluruh tim untuk makan, jadi kau datang saja!   Han Siyang Baiklah. Akan aku usahakan untuk datang.   Setelah itu, Han Siyang kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Tentu saja ia masih tidak percaya akan pencapaian yang telah dibuat Xiao Na, terlebih tim wanita itu bukanlah terkenal seperti para pesaingnya, tetapi ia mampu membuktikan kalau semua itu bisa hanya dengan perjuangan. Seakan semua itu terbayar dengan sepantar membuat Han Siyang merasa sangat bangga. Karena sejak dulu Xiao Na selalu mempimpikan mempunyai tim didikannya sendiri dengan meraih banyak kejuaraan. Dan ternyata, semua itu telah tercapai dengan berjalan lima tahun lamanya. Setelah mendapatkan jawaban memuaskan dari Han Siyang, Xiao Na kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas lengan. Siang ini dirinya memang harus kembali ke kantor sehingga tidak bisa berlama-lama. “Xiao Na jie, aku ingin menemui para penggemar dulu,” ucap Mingyu membuat Xiao Na yang hendak melangkah langsung mengurungkan niat. “Baiklah. Aku akan menunggu kalian semua di bus,” balas Xiao Na tegas, sebelum wanita itu benar-benar melenggang pergi seorang diri, sedangkan Li Xian tampak sibuk berbincang dengan Su Yuan. “Apa benar kalau nanti malam kita akan diajak ke restoran oleh Xiao Na jie?” tanya Demo setengah berbisik pada Zarco. “Iya,” jawab Zarco singkat, padat, dan jelas. “Aku tidak menyangka kalau Bos akan sebaik ini dengan kita,” sahut Feng Zhen ikut dalam pembicaraan Demo dengan Zarco. “Sepertinya perkataanmu selalu jujur, Zhen. Apa tidak ada yang keluar dari mulutmu sebuah kebohongan?” sinis Mingyu melihat temannya yang selalu seperti itu. “Apa kau bilang?” Mata sipit nan lucu milik Feng Zhen langsung membulat sempurna, membuat lelaki itu terlihat sangat imut sekaligus cantik. “Oh tidak, Zhen. Kau jangan bertingkah konyol. Wajahmu itu benar-benar menurunkan repurasi tim kita sebagai lelaki tampan,” canda Demo tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya mendadak lemas dan terjatuh di atas sofa sembari terus mentertawakan tingkah absurd Feng Zhen. “Ayolah, kenapa aku yang dinistakan?” tanya Feng Zheng sedikit kesal. “Karena kau memang pantas!” seru Grunt tanpa rasa bersalah membuat Feng Zheng semakin mengenaskan, karena tidak ada satu pun yang mau mendukungnya. “Kau tidak sama seperti mereka, ‘kan Kapten?” Feng Zheng menatap Zarco memelas, sayangnya lelaki itu malah menatap ke arah lain, lalu menggeleng saat menerima kode dari Demo. Entah apa yang dikatakan sang maknae itu sampai Zarco menurut saja. “Baiklah, aku akan marah pada kalian selama 1 detik,” putus Feng Zhen dengan kalimat matematika anehnya, membuat wajah kebingungan Demo terlihat jelas. “Bukankah 1 detik itu sangat cepat?” tanya Demo menggaruk kepalanya yang tidak hatal sembari menatap mereka semua bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN