47. Aku menyukainya?

1101 Kata
Selepas pesta perayaan kemarin, Xiao Na menjadi sangat dekat dengan timnya sendiri. Bahkan wanita itu secara terang-terangan berbincang ringan bersama dengan Demo. Padahal biasanya ia tidak pernah mau menjawab apapun ketika berada di kantor. Hal tersebut berlaku bagi Li Xian yang baru saja keluar dari ruangannya sendiri untuk mengantarkan laptop milik Tong Xin. Karena laptop gadis bertubul mungil itu mendadak rusak dengan tidak terhubung dengan internet membuat Li Xian langsung mengambilnya, agar tidak menghambat pekerjaan. Namun, saat lelaki itu melewati ruang pantry, tanpa sengaja matanya terpaku pada sesosok punggung mungil dengan rambut pendek sebahunya yang terikat rapi. Lalu, di hadapannya terlihat seorang lelaki tertawa lepas. Wanita itu adalah Xiao Na. Seorang wanita pemberani dan tidak mengenal rasa takut yang mampu membuat dirinya merasa penasaran, termasuk melihat keduanya berbincang tanpa beban. Bukannya ia iri, hanya saja merasa bingung sekaligus aneh. Akan tetapi, di balik itu semua, Li Xian ikut tersenyum melihat kedekatan mereka. Meskipun begitu, ia harus tetap mengembangkan hubungan ini. Tentu saja durasi waktu yang tidak Sebentar itu mengharuskan dirinya untuk berputar otak. Demo tanpa sengaja melihat Li Xian pun langsung berseru, “Direktur Li!” Spontan Xiao Na yang tengah menandaskan latte-nya membalikkan tubuh, lalu mengernyit bingung saat mendapati seorang lelaki tampan di sana. “Presdir Zhang, Demo!” sapa Li Xian menunduk hormat pada Xiao Na, dan tersenyum lebar menatap Demo. Entah kenapa melihat lelaki yang lebih muda daripada dirinya membuat Li Xian semakin mengerti rasanya memiliki seorang adik. Sebab, Demo terlalu muda untuk menjadi anggota Tim N&N. “Xiao Na jie, kesepian, jadi aku menemaninya sebentar,” ucap Demo membuat Li Xian mendudukkan diri tepat di sampingnya. “Aku tahu. Sekarang Yushi sedang ada pekerjaan di pabrik,” balas Li Xian. Xiao Na yang masih berada di sana pun terlihat sangat menikmati latte-nya. Padahal minuman manis itu sudah habis, tetapi tetap saja dicari tetesan terakhir. Membuat kedua lelaki itu saling melemparkan senyuman geli satu sama lain. “Li Xian, apa kau sangat menganggur duduk di sini?” tanya Xiao Na sinis. “Tentu saja tidak, tapi aku di sini karena melihat kalian berdua,” jawab Li Xian tersenyum manis membuat wanita itu langsung memutar bola matanya malas. “Jie, bukankah tadi kau bilang kesepian karena menganggur? Kenapa kau tidak mengikuti Xian Ge saja?” usul Demo terdengar tanpa beban. “Sepertinya rahangmu enteng sekali, Demo. Aku tidak ingin menghabiskan waktu dengan dia yang membosankan,” balas Xiao Na mendecih pelan. Seketika Li Xian tidak terima pekerjaannya diterima oleh wanita itu. “Baiklah, Presdir Zhang. Mungkin kau akan bosan ketika bergelut dengan banyak kabel.” Demo yang mulai mengerti situasi panas ini pun langsung menyela, “Oh ya, Xian Ge, sepertinya aku ada urusan lagi. Aku meminta tolong padamu untuk menjaga Xiao Na jie. Karena hari ini ada evaluasi bulanan. Aku tidak ingin kalau kemampuanku menurun. Tanpa menunggu jawaban dari keduanya, Demo langsung melesat cepat. Bahkan Xiao Na yang tengah membuka mulut itu langsung mendelik tidak percaya. “What the hell!” seru Xiao Na menatap kepergian Demo yang mata berapi-api. Tentu saja ia merasa tidak terima akan perlakuan lelaki itu. Li Xian yang melihat hal tersebut hanya menggeleng pelan, lalu menoleh ke arah Xiao Na lagi. “Presdir Zhang, apa kau tidak ingin masuk ke dalam?” “Tidak. Aku hanya ingin di sini sambil menunggu kedatangan Yushi. Karena wanita itu sudah meninggalkanku tanpa pekerjaan apapun. Padahal aku sangat bosan hari ini,” keluh Xiao Na menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu menutup mata penuh lelah. Sejujurnya, sejak kemarin wanita itu memang terbesit sebuah pikiran di otaknya. Akan tetapi, bukan rencana jahat, melainkan memikirkan apa yang akan ia buat kembali untuk membesarkan perisahaannya sendiri. Meskipun ia sangat yakin bahwa Li Xian pasti akan membantu dirinya dengan cara apapun, tetapi itu akan menjadi hutang budi yang sangat besar. Dan dirinya tidak akan melakukan hal tersebut sampai kapanpun. “Direktur Li, apa yang sedang kamu bawa?” tanya Xiao Na mendadak memperhatikan sebuah benda tipis tersebut. “Ah, ini! Aku sedang memperbaiki laptop milik Tong Xin yang tidak bisa terhubung ke internet,” jawab Li Xian memperlihatkan sebuah benda tipis berwarna hitam dengan aksen silver di beberapa tepi. “Jadi, laptop ini yang hampir saja Tong Xin jual? Aku tidak percaya hanya karena masalah kecil seperti itu harus melayangkan benda berharga.” “Benda berharga?” “Iya, laptop ini merupakan pemberian dari mantan kekasihnya dulu.” “Bagaimana bisa dia masih mengingat mantan kekasih?” “Tentu saja bisa. Kau tidak pernah mengetahui hubungannya terdahulu, Li Xian.” “Kau benar. Tapi, aku masih tidak percaya kalau ini laptop pemberian mantan kekasihnya.” “Ah, sudahlah. Aku sedang tidak ingin membicarakan siapapun,” putus Xiao Na bangkit dari tempat duduknya membuat Li Xian langsung menegakkan tubuh bingung. Dan benar saja, wanita itu melenggang pergi tanpa beban meninggalkan dirinya yang masih setia di sana. Membuat lelaki tampan berjas kotak abu-abu itu langsung menggeleng tidak percaya. Semakin hari sikap Xiao Na semakin tidak bisa ditebak oleh dirinya. Setelah itu, Li Xian pun ikut melenggang pergi meninggalkan pantry yang berdampingan dengan salah satu kantor hukum. Akan tetapi, kantor tersebut kedap suara sehingga tidak bisa mendengar apapun yang terjadi di dalam. Sejujurnya, Xiao Na meninggalkan Li Xian dalam keadaan seperti itu hanya tidak ingin membuat dirinya kembali merasakan masa lalu yang sempat membelenggu hatinya cukup lama. Bahkan hati yang katanya setia itu mulai mengkhianati. Tanpa sadar membuat percikan api asmara. Xiao Na akui kalau dirinya memang sempat tertarik pada Li Xian. Namun, untuk berhubungan dengan lelaki itu, ia merasakan ada hal aneh yang terjadi di dalam dirinya. Ada sebuah gejolakan tak kasat mata yang terus memaksanya. Tanpa sadar lamunan wanita itu diketahui oleh sekretarisnya sendiri yang baru saja datang dari lobi kantor sehingga bertemu langsung dengan Xiao Na. Akan tetapi, menurut Yushi ada yang aneh dengan wanita itu sehingga dirinya memutuskan untuk melangkah lebih pelan, lalu menginstruksi beberapa karyawan di belakang untuk memisahkan diri dan kembali pada pekerjaannya masing-masing. Seiring Yushi menyamakan langkah Xiao Na, wanita itu masih saja melangkah tanpa arah dengan tatapan kosong lurus ke depan. Sehingga membuat Yushi sedikit kebingungan. Karena ini pertama kalinya Zhang Xiao Na melangkah tanpa emosi seperti biasanya. “Uhm ... Presdir Zhang, kau kenapa?” tanya Yushi berhati-hati, tetapi wanita itu masih saja diam tanpa berkutik sama sekali sehingga membuat dirinya kembali memutar otak. Namun, pada saat yang bersamaan Yushi hendak berbicara lagi, tiba-tiba Xiao Na membuka mulutnya. Tentu saja hal tersebut membuat wanita itu kembali membungkam rapat. “Apa aku menyukainya?” gumam Xiao Na tanpa sadar membuat Yushi mendelik tidak percaya. “Daebag! Amazing!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN