Suara kicauan burung yang terdengar dari atas balkon itu tampak sama sekali tidak mengusik seorang lelaki paruh baya mendudukkan diri di kursi goyang. Namun, seorang lelaki tampan yang baru saja masuk ke dalam mansion terlihat membelokkan diri ke arah kicauan burung tersebut, lalu mendongak ke atas.
Di sana terlihat seorang lelaki tengah membersihkan kandang dan mengisi kembali wajah makanan serta minuman tersebut. Karena ini merupakan jadwal semua burung-burung kesayangan Keluarga Li dibersihkan, termasuk burung berwarna kucing cerah milik Li Xian secara pribadi.
“Pa, kau ada di sini,” ucap Li Xian memperhatikan sang ayah yang terlihat sibuk dengan ipad berwarna silver di tangannya.
“Kau sudah pulang?” tanya Li Tian Xin mengalihkan perhatiannya sesaat.
“Iya, hari ini aku tidak ada lembur, jadi bisa pulang cepat.”
“Baguslah, kau tidak perlu mengambiskan waktu dengan posisi direktur seperti itu Xian. Lagi pula perusahaan sangat membutuhkanmu. Papa sudah tidak sanggup lagi meng-handle semuanya.”
Mendengar pertanyaan itu membuat Li Xian membisu sesaat. Sejujurnya, ia sendiri juga bingung harus berbuat apa. Sebab, memang tidak ada yang bisa membela dirinya sehingga mau tidak mau ia harus berjuang sendirian. Apalagi mengejar wanita tanpa perasaan seperti Xiao Na memang butuh waktu yang cukup panjang.
“Maaf, Pa. Aku tidak bermaksud untuk merepotkanmu,” sesal Li Xian menunduk dalam.
“Lupakan saja. Hari ini Papa ingin pergi bersama Mamamu ke acara pertunangan salah satu kolega bisnis. Apakah kau mau ikut?” tanya Li Tian Xin menatap anak semata wayangnya dengan penuh harap.
Semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, termasuk orang tua dari Li Xian. Mereka berdua memang sering kali menyuruh anak semata wayangnya untuk segera menikah. Bahkan tidak segan merencanakan kencan buta yang pada akhirnya lelaki itu sendiri membatalkan.
Baru saja Li Xian hendak menjawab perkataan sang ayah, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring membuat lelaki itu langsung meraih ponsel yang ada di kantung celana bahan berwarna abu-abu kotak tersebut.
Terlihat sebuah nama sepupu laknat Li Xian di sana, membuat lelaki itu menghela napas pelan. Entah kenapa ia merasa sedikit aneh dengan Liu Bai. Padahal mereka berdua sepakat untuk tidak saling menelepon satu sama lain, tentu saja jika bukan dalam keadaan darurat.
“Wei, Ta Ge?” tanya Li Xian to the point.
“Li Xian, kau ada di mana? Tadi Yushi menghubungiku menanyakan keberadaanmu.”
Suara Liu Bai terdengar berat membuat lelaki itu sedikit bingung, tetapi tidak mengurungkan Li Xian mengangguk mengerti. Sebab, ia juga mengerti kalau Yushi menanyakan hal tersebut. Karena dirinya memang beberapa hari ini terlihat dekat dengan bosnya sendiri.
“Aku sudah ada di mansion, Ta Ge. Aku juga sedang berbincang dengan Papaku. Apakah kau tidak salah kalau menanyakan hal tersebut?”
“Lalu, apa kau melihat Xiao Na? Yushi sangat panik tidak bisa menghubungi wanita itu tepat saat Kedua orang tuanya datang ke kantor tadi.”
“Maksudmu Keluarga Zhang datang?”
“Iya, Xiao Li. Biasanya Xiao Na kalau ada masalah dengan keluarganya selalu mendatangi Yushi, tetapi tidak dengan hari ini.”
“Baiklah. Kalau begitu, aku akan mencarinya sekarang.”
“Oke, aku akan mengabari Yushi kalau kau akan mencari Xiao Na. Sebab, malam ini aku sedang ada acara pertunangan kolega bersama Li Xuxu.”
“Iya, aku tahu.”
Setelah itu, panggilan pun terputus dengan Li Xian mulai mengetikkan sesuatu di ponsel miliknya sendiri. Membuat kening lelaki itu beberapa kali berkerut. Tentu saja hal tersebut mengundang rasa penasaran bagi seorang lelaki paruh baya yang tidak kalah tampan dengan dirinya.
“Apa ada, Xiao Xian?” tanya Li Tian Xin penasaran.
“Nana mendadak tidak ada kabar, Pak. Liu Bai menghubungiku untuk segera mencarinya, jadi aku tidak bisa menemani kalian berdua datang ke acara pertunangan nanti malam,” jawab Li Xian bergegas membereskan semua barang miliknya.
“Baiklah. Kau harus berhati-hati. Apa perlu ditemani oleh supir?” Li Tian Xin mendadak cemas melihat anak semata wayangnya harus pergi dengan hampir gelap seperti ini.
“Tidak, Pa. Aku akan berangkat sendiri. Kalau begitu, aku pergi dulu.”
Setelah itu, Li Xian pun melenggang pergi meninggalkan sang ayah yang masih setia di tempat duduknya sembari mendengarkan kicauan burung. Tentu saja hal tersebut menjadi suasana paling nyaman bagi seorang lanjut usia yang hanya ingin menikmati kehidupan senjanya.
Sementara itu, seorang lelaki yang meninggalkan jasnya di kamar, dan hanya menyisakan kemeja berwaran putih tergulung sampai ke siku. Akan tetapi, dasi rapi itu masih terpasang cantik, tidak ia tinggalkan. Hanya kemeja dan tas kerjanya saja.
Li Xian kembali menuruni anak tangga satu per satu membuat seorang wanita yang membawa nampan makanan menoleh, lalu mendapati sang anak terburu-buru. Padahal sore ini Li Xian sudah waktunya pulang kerja, tetapi ia terlihat ingin pergi lagi.
“Mau ke mana, Xiao Xian?” tanya Li Yura membuat sang pemilik nama langsung menoleh.
“Aku ingin keluar sebentar, Ma,” jawab Li Xian memeluk sang ibu singkat. Tentu saja kebiasaan lelaki itu ketika bertemu wanita kesayangannya.
“Apa kau tidak ikut lagi ke acara pesta pertunangan nanti malam?” selirik Li Yura/
Spontan Li Xian meringis pelan, lalu tersenyum lebar menatap sang ibu dengan menyiratkan sesuatu. “Bukan seperti itu, Ma. Aku tidak menghindarinya, hanya saja aku memang benar-benar tidak bisa pergi sekarang.”
“Lalu, apa? Kau selalu berpura-pura sibuk untuk menghindari pertemuan kolega Papamu. Padahal aku ingin sekali menimang cucu, Li Xian,” keluh Li Yura membuat lelaki itu langsung merasa bersalah.
Sebenarnya, Li Yura memang sering kali menyindir dirinya yang belum juga menikah, padahal usia sudah beranjak matang dan cocok untuk segera menjadi seorang ayah. Namun, sampai sekarang Li Xian malah tidak terlalu memikirkan hal tersebut, membuat Li Yura diam-diam merasa ada sesuatu yang janggal. Ia sangat takut kalau anaknya tidak lurus.
“Iya, Ma. Nanti dibicarakan lagi. Sekarang aku harus pergi dulu,” sela Li Xian berusaha membuat sang ibu menenangkan dirinya sendiri.
“Kalau jawab pertanyaanku dulu, kau mau ke mana, Anakku?” desak Li Yura semakin gencar membuat Li Xian mau tak mau harus menjawab rasa penasaran ibunya sendiri.
“Baiklah, Ma. Aku sedang bergegas pergi mencari Xiao Na. Tadi aku mendapat kabar dari Liu Bai, kalau wanita itu tidak ada kabar sampai sekarang. Sejak kedatangan orang tuanya secara mendadak di kantor tadi. Tapi, aku tidak tahu jelas kenapa bisa seperti itu, jadi aku ingin mencarinya, Ma. Aku takut hal yang tidak diinginkan terjadi,” tutur Li Xian.
Sejenak Li Yura terdiam membisu. “Apa hubungan Xiao Na dengan orang tuanya tidak baik?”
“Entahlah, Ma. Aku tidak tahu pasti, tapi menurut cerita Yushi selaku sekretaris pribadinya, Xiao Na memang sering kali berbeda pendapat sehingga tidak sedikit membuat orang tuanya merasa kesal.”
“Kalau begitu, kau harus segera mencarinya. Xiao Na jangan dibiarkan sendiri,” titah Li Yura membuat lelaki itu langsung tersenyum.
“Baik. Aku pergi dulu, Ma,” pamit Li Xian.
Li Yura hanya mengangguk, lalu menatap kepergian sang anak dengan wajah cemas sekaligus khawatir. Sejujurnya, ia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan Li Xian dengan Xiao Na, tetapi ia bisa menangkap jelas kalau anak semata wayangnya itu sangat mencintai Xiao Na.
“Mama harap kamu bahagia dengan Xiao Na,” gumam Li Yura penuh harap.