49. Playing With Me?

1169 Kata
Dengan mengemudikan mobil di atas rata-rata, Li Xian mulai membelah jalanan Kota Shanghai yang terlihat sedikit padat, tetapi tidak sampai macet. Karena di kota ini penduduknya masih menggunakan angkutan umum seperti bus, subway, dan kereta bawah tanah. Sesekali lelaki itu menatap satu per satu halte yang ada di pinggir jalan, di sana terlihat kosong sehingga Li Xian langsung berpikiran kalau Xiao Na tidak melarikan diri, melainkan menghindari semua orang. Kini tujuannya hanya ke tempat-tempat menenangkan seperti The Bund, Sungai Huangpu, dan beberapa taman ramai pengunjung. Mungkin besar kemungkinan wanita itu ada di sana untuk menenangkan diri sejenak. Namun, baru saja Li Xian hendak membanting stir mobilnya menuju Jalan Nanjing, ponselnya yang ada di dashboard mobil berdering pelan, membuat lelaki itu langsung menghubungkannya dengan mobil. “Ada apa, Yushi? Aku sedang dalam perjalanan mencari Presdir Zhang,” ucap Li Xian saat mendapati nama seorang wanita yang sempat bekerja sama dengan dirinya. “Bukan seperti itu, Direktur Li. Aku hanya memberitahukan kalau Presdir Zhang ada di Sungai Huangpu. Aku melihatnya dari jejak lokasi ponselnya,” balas Yushi membuat lelaki itu langsung menepikan mobilnya. “Apa kau tidak sedang bercanda? Aku dalam perjalanan ke sana,” ucap Li Xian lagi, kali ini terdengar serius. “Iya. Jejak ponselnya terakhir ada di sana, tetapi hilang lagi. Kau coba cari di sana dulu Direktur Li. Kalau nanti ada perubahan, aku akan langsung menghubungimu.” Setelah itu, panggilan pun terputus dengan Li Xian langsung menancapkan gas mobilnya untuk bergegas ke tempat yang diarahkan oleh Yushi. Sejujurnya di dalam hati lelaki itu sangat takut, sebab ia sempat mengetahui kalau hubungan Xiao Na dengan Kedua orang tuanya merenggang tepat ketika Xiao Wei menikah. Tentu saja dengan keadaan tersebut, Xiao Na menjadi sasaran empuk. Karena sang kakak jarang sekali ada di rumah, dan lebih menghabiskan waktu bersama istrinya di rumah baru. Tentu saja semua informasi itu diberikan oleh Han Siyang saat dirinya mulai mengatakan kalau sedang mengejar Xiao Na. Meskipun terkadang lelaki itu sempat memperingati dirinya untuk tidak terlalu mencintai, karena Xiao Na telah memiliki pujaan hatinya sendiri yang tidak akan pernah bisa ia lupakan. Tak lama kemudian, mobil mewah berwarna putih itu tampak berhenti di tepi jalan. Membuat sang pengemudi langsung keluar dari sana. Tentu saja tatapan lelaki itu langsung terpaku pada seorang wanita yang terlihat bersandar di pembatas Sungai Huangpu. Namun, wanita itu tidak sendiri, melainkan ada seorang lelaki yang terlihat menemaninya. Akan tetapi, Li Xian langsung bisa menebak kalau lelaki yang menemani Xiao Na adalah Han Siyang. Sebab, wanita itu memang tidak mempunyai teman lagi, selain Han Siyang. “Presdir Zhang!” seru Li Xian berlari menghampiri wanita itu. Sedangkan Xiao Na yang tampak terdiam itu mendadak terkejut, lalu menoleh dengan mata membulat saat melihat Li Xian berada tidak jauh dari tempatnya berdiri. “Bukankah itu Li Xian? Kenapa dia bisa ada di sini?” tanya Han Siyang membuat Xiao Na langsung menggeleng. Sesampainya menghampiri Xiao Na dan Han Siyang, lelaki itu pun tersenyum singkat. Tentu saja ia tidak akan membongkar identitasnya sendiri sebagai anak bos. Karena pasti itu akan merasa sangat canggung mengingat dirinya sudah menjadi anak biasa selama beberapa bulan. “Siyang, kenapa kau tidak mengabariku kalau Presdir Zhang ada di sini?” sinis Li Xian membuat lelaki itu langsung mengusap tekuknya yang tidak gatal. “Maafkan aku, Li Xian. Sebenarnya, aku ingin mengabarimu tadi. Tapi, Nana langsung mengancamku kalau aku menghubungimu, maka dia tidak akan menghubungi siapapun ketiak ada masalag,” balas Han Siyang dengan raut wajah penuh sesal. Mendengar penjelasan itu, Xiao Na menghela napas berat. Sebenarnya ia hanya tidak ingin merepotkan siapa pun dengan masalah keluarga yang tidak akan pernah selesai. Bahkan Xiao Na sendiri sanksi kalau semua ini akan selesai begitu saja. Mengingat aura permusuhan sudah terjadi sejak lama. Akan tetapi, Xiao Na kembali mengingat kepergiannya tadi memang langsung membuat siapa pun menimbulkan banyak tanya, terlebih dirinya tepat pada saat kedua orang itu datang dengan tanpa permisi dan basa basi. “Presdir Zhang, kenapa kau kabur dari kantor? Yushi mencarimu sampai menghubungiku,” tanya Li Xian dengan wajah penuh kecemasan. “Aku tidak kabur. Untuk apa Yushi mencariku?” jawab Xiao Na ringan. “Entahlah, aku tidak tahu. Kau harus segera kembali, Presdir Zhang. Karena Yushi sedari tadi menghubungiku agar cepat dapat menemukanmu.” “Bilang pada Yushi. Aku sedang tidak ingin diganggu. Aku membutuhkan waktu beberapa hari.” “Ada apa, Presdir Zhang?” “Tidak ada. Cepat berikan perintah pada Yushi untuk meng-handle semua pekerjaanku.” Akhirnya, mau tak mau Li Xian pun mengetikan pesan singkat pada Yushi untuk menyampaikan titahan yang diberikan tadi. Meskipun ia sendiri bingung kalau wanita perfeksionis itu kembali bertanya. Setelah selesai, Li Xian kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celana bahan. Kemudian, menatap kedua manusia yang ada di hadapannya, tetapi salah satu dari mereka terlihat murung sekali sampai membuat Li Xian bertanya-tanya. Namun, di tengah keterdiaman itu ponsel milik Han Siyang berdering pelan membuat lelaki itu langsung menggesernya pelan. “Wei, zhe me la, Wu Nian?” tanya Han Siyang sedikit pelan membuat Li Xian langsung mengangkat alis kanannya tidak percaya. “Baik, aku akan segera menjemputmu,” putus Han Siyang sembari memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Li Xian yang mengerti sang penelepon itu pun bertanya, “Tunanganmu?” “Iya, aku harus pergi dulu. Dia telah menyelesaikan acara festival bulanannya, jadi aku harus menjemputnya di sana. Maafkan aku, Nana. Aku terburu-buru sehingga tidak bisa menemanimu lebih lama.” Han Siyang terdengar sangat menyesal tidak bisa menemani temannya dalam keadaan sulit seperti ini, tetapi ia sendiri mempunyai kesulitan sehingga mau tak mau harus merelakan salah satu diantara keduanya. “Baiklah, kau pergi saja. Setelah ini aku ingin kembali ke apartemen,” balas Xiao Na tersenyum tipis membuat Han Siyang merasa bersalah, tetapi tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain segera pergi dari sana meninggalkan keduanya. Selepas kepergian Han Siyang menjadikan Xiao Na bertambah murung, akhirnya Li Xian pun memutuskan untuk mencoba menghibur wanita itu, meskipun ia sendiri tidak tahu harus bagaimana. Setidaknya ia sudah berusaha, walaupun gagal. “Presdir Zhang, apa kau sedang ingin bermain?” tanya Li Xian membuat Xiao Na tersenyum remeh. “Apa kau sedang menganggapku seorang anak kecil?” Xiao Na berbalik tanya. “Bukan seperti itu maksudku. Hanya saja untuk menghilangkan rasa jenuh, kita memang harus sesekali menghibur diri,” jawab Li Xian tersenyum lebar membuat Xiao Na langsung menggeleng pelan. “Aku tidak pernah membuang-buang waktu seperti itu. Lagi pula saranmu sama sekali tidak bermutu,” kecam Xiao Na tanpa hati membuat Li Xian mendadak tersentil emosinya. Akan tetapi, ia cukup sadar kalau wanita itu tengah berperang melawan batinnya sendiri sehingga mau tak mau ia harus berusaha menekan semua emosinya. “Aku anggap itu sebagai jawaban ‘iya’, Predir Zhang!” Tanpa ragu Li Xian langsung menarik pergelangan Xiao Na lembut, lalu membawa wanita itu masuk ke dalam mobil yang ia bawa asal tadi. Meskipun terlihat mahal, tetapi Li Xian sudah tidak lagi memikirkan hal tersebut. Tujuannya kali ini agar bisa menghibur Xiao Na sehingga tidak banyak yang ia pikirkan lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN