“Kenapa kita ke sini?”
Terdengar nada suara bingung sekaligus tidak percaya dari seorang wanita yang masih lengkap dengan pakaian kantornya. Celana bahan berwarna hitam panjang dengan mantel besar menutupi kemeja putih beraksen renda di sepanjang kancingnya.
“Karena kita akan segera berlibur,” jawab Li Xian berlari pelan sembari berpegangan dengan tangan Xiao Na sehingga wanita itu ikut tertarik dan berlari berhamburan ke dalam kerumunan orang banyak.
Teriakan demi teriakan penuh takut itu terdengar dari masing-masing wahana hiburan membuat senyum tipis milik Xiao Na terbit. Entah sudah berapa lama dirinya tidak pernah ke sini lagi. Mungkin sejak perpisahannya dengan lelaki itu.
“Predir Zhang, apa kau ingin naik itu? tanya Li Xian menunjuk sebuah halilintar yang sudah dipenuhi banyak orang.
“Tidak. Aku sudah besar dan bukan anak kecil,” tolak Xiao Na menggeleng cepat, lalu hendak melenggang pergi dari sana.
Akan tetapi, pergerakan tersebut kalah cepat dengan Li Xian yang langsung membayar, dan mendorong Xiao Na masuk ke dalam. Sayangnya, yang dibeli lelaki itu merupakan tiket terakhir sehingga dirinya tidak bisa melarikan diri dari sana. Sebab, pintu wahana sudah ditutup dan ia harus segera duduk di salah satu bangku kosong.
“Kau benar-benar sangat menyebalkan,” gumam Xiao Na kesal.
“Ayo, Presdir Zhang! Wahananya sudah mau jalan,” ajak Li Xian tanpa mengindahkan umpatan dari wanita itu.
Perlahan wahana pun mulai berjalan dengan semestinya, tetapi ketegangan tampak menyelimuti Xiao Na sehingga wanita itu terlihat mencengkram pegangan dengan kuat. Kemudian, sesekali menatap ke arah bawah yang tampak sangat menakutkan.
Sedangkan Li Xian yang menyadari bosnya ketakutan pun tersenyum tipis, lalu dengan tidak sopan telapan tangan besar nan hangat itu mendarat di punggung tangan milik Xiao Na yang terasa sangat dingin.
Perlahan namun pasti, tubuh Xiao Na mulai tenang dan menikmati wahana hiburan ini dengan tersenyum lebar. Tidak sedikit ia berteriak kegirangan saat bergoncang cukup dahsyat, membuat teriakan yang memekakkan itu tampak ingin merobek-robek gendang telinga milik Li Xian.
Setelah selesai, wahana halilintar, Li Xian pun memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menikmati manisan yang dibeli saat melangkah ke arah tempat duduk. Tentu saja wajah lelah sama sekali tidak terlihat bagi Xiao Na yang berkali-kali tersenyum lebar melihat pemandangan menakjubkan tepat di hadapannya.
“Apa kau menyukainya?” tanya Li Xian dengan nada santai membuat wanita itu menoleh.
“Kenapa nadamu santai sekali?” Xiao Na malah berbalik tanya membuat suasana menjadi sedikit canggung, tetapi seakan mengerti wanita itu kembali melanjutkan, “Aku sangat-sangat senang. Sepertinya aku sudah lama sekali tidak merasakan sesenang ini.”
Li Xian yang awalnya merasa canggung pun ikut tersenyum lebar. Diam-diam ia merasa pendekatan hari ini cukup pesat. Ia mulai melihat senyum manis yang jarang sekali terbit.
“Oh ya, kau jangan memanggilku Presir lagi kalau di luar. Sebab, kau dan aku terpaut usia cukup jauh. Panggil aku Nana saja, sama seperti Han Siyang,” ucap Xiao Na tersenyum manis membuat Li Xian ikut tersenyum.
“Baiklah, Nana,” sahut lelaki itu terdengar sangat manis membuat Xiao Na menahan senyuman lebarnya.
Namun, di saat yang tidak terduga, muncullah sepasang kekasih terlihat berlarian menghampiri keduanya. Sontak Li Xian langsung menyadari kalau keduanya adalah Liu Bai dan Yushi. Mereka berdua telah mengatakan akan menyusul dirinya ke tempat ini.
“Astaga, Presdir Zhang! Kau membuatku sangat panik tadi,” celetuk Yushi sedikit keras membuat Xiao Na langsung mengernyitkan keningnya bingung.
Tentu saja ia bertanya-tanya melihat kedatangan sekretarisnya. Karena sejak tadi ia sengaja tidak menyalakan lokasi, sebab wanita itu pasti akan datang untuk mengacaukan semuanya.
“Yushi datang ke sini, karena aku yang mengabarinya,” sahut Li Xian membuat Xiao Na langsung mengangguk mengerti.
Kemudian, tatapan Xiao Na langsung mengarah pada Liu Bai. “Bukankah kau yang waktu itu datang ke acara pertunangan Han Siyang?”
“Iya, namaku Liu Bai. Direktur Departemen Pemasaran SNAIL,” jelas lelaki berpakaian santai yang ada di samping Yushi, lalu mengulurkan tangannya ke arah Xiao Na.
“Zhang Xiao Na.” Seperti biasa, wanita itu akan berekspresi datar dengan semua orang yang baru dikenal.
Sementara itu, tidak ada yang tahu tentang hubungan Li Xian dengan Liu Bai yang sebenarnya. Bahkan Yushi pun tidak menyadari hal tersebut. Karena ini sudah menjadi kesepakatan antara dirinya dan Liu Bai.
“Apa kalian berdua baru saja menaiki wahana?” tanya Liu Bai melihat wajah lesu dari keduanya.
“Iya, kita berdua baru saja menaiki halilintar,” jawab Li Xian santai membuat kakak sepupunya itu langsung mendecih sinis.
“Wah, kau sangat menyebalkan, Presdir Zhang! Ayo, sekarang ajak aku menaiki wahana lagi,” pinta Yushi menarik pergelangan tangan Xiao Na yang terlihat malas.
“Aku sangat lelah, Yushi. Wahana tadi membuat seluruh tubuhnya sakit,” tolak Xiao Na berusaha menyingkirkan tubuh sekretarisnya yang mendadak aneh. Ia terlihat begitu dekat dengan dirinya.
“Aku tidak mau tahu. Kau harus mengajakku kali ini, Presdir Zhang!” ucap Yushi bersikeras.
Akhirnya, Xiao Na pun mengalah demi menuruti permintaan Yushi di luar pekerjaan. Mungkin kalau sudah ada di lingkungan kantor, jangan harap wanita itu akan bebas meminta hal apapun.
Sedangkan kedua lelaki itu hanya mengikuti dari belakang. Karena hari ini mereka akan menjadi pengikit saja, dan membirkan kedua wanita kesayangannya berkreasi sesuka hati, termasuk memilih wahana-wahana menakutkan.
Padahal Li Xian berpikir kalau Xiao Na tidak akan menyetujui permintaan Yushi, karena sifat bosnya itu tidak mudah ditebak, akhirnya ia sempat tidak percaya. Namun, lagi-lagi dirinya hanya bisa mengikuti tanpa perlu protes.
Satu, dua, atau bahkan semua wahana di sini sudah dinaiki oleh mereka berempat sampai tidak sadar waktu malam telah menyambut. Terlihat beberapa wahana ditutup, dan akan dilanjut besok pagi. Namun, ada pula sebagian yang masih dibuka.
“Aku tidak menyangka kita akan sampai kelelahan seperti ini,” ucap Li Xian menyandarkan tubuhnya lelah di kursi taman.
“Kau benar, Li Xian. Aku juga merasa kalau seluruh tulangku akan rontok,” sahut Liu Bai sembari merenggangkan tubuh.
Akan tetapi, tidak ada yang menyadari kalau kedua wanita mereka sudah terlelap saling bertumpu satu sama lain. Membuat Li Xian langsung mengkode kakak sepupunya untuk menatap Yushi yang sudah menutup matanya sembari bernapas damai.
“Sepertinya mereka berdua sangat kelelahan. Ta Ge, apa kau tahu apartemen, Nana?” tanya Li Xian menatap Liu Bai yang terlihat sibuk memeluk tubuh Yushi.
“Aku tidak tahu. Coba kau cek saja riwayat lokasi ponselnya,” jawab Liu Bai dengan saran yang sangat tidak mungkin Li Xian jalankan. Sebab, ponsel milik wanita itu berada di dalam kantung celana sehingga mustahil untuk dirinya ambil.
“Ah, sudahlah. Aku akan membawa Nana ke apartemenku saja. Nanti kalau Mama dan Papaku menghubungimu, tolong kau katakana aku menginap.”
Tanpa memedulikan jawaban kakak sepupunya, Li Xian pun langsung melenggang pergi dari sana dan melangkah ke arah mobil yang satu-satunya masih terparkir. Padahal hari ini belum larut malam, sehingga masih banyak kendaraan umum dan pribadi yang mengisi jalan raya.