51. Foreign Place

1034 Kata
Seorang wanita terlihat menggeliat pelan merenggangkan seluruh tubuhnya yang terasa sedikit kaku, kemudian ia terlihat meraba sisi tempat tidurnya mencari ponsel. Akan tetapi, kening wanita itu langsung mengernyit bingung saat merasakan permukaan tempat tidur tersebut berbeda dengan biasanya. Sontak Xiao Na langsung terduduk menatap sekitar dengan mata mendelik penuh. Awalnya ia masih mengantuk pun mendadak terbuka seluruhnya. Tempat ini sangat asing bagi dirinya yang bermalam di kamar tanpa pemilik. Akan tetapi, tatapannya terpaku pada secarik kertas yang ditempel di sisi lampu tidur di atas nakas. Xiao Na yang melihatnya pun langsung membaca pesan singkat tersebut. ‘Bagaimana tidurmu semalam, Nana? Kalau sudah bangun, cepatlah sarapan! Aku akan menunggumu di lobi hotel.’ -Li Xian, Direktur Perusahaan N&N Entah kenapa senyum Xiao Na mendadak terbit ketika membaca pesan manis itu. Ia merasa seperti seorang wanita yang baru saja bercinta. Padahal semalam tidak terjadi apa pun. Bahkan pakaiannya masih lengkap, meskipun ada beberapa perhiasan di tubuhnya yang terlepas. Tanpa pikir panjang, wanita itu langsung bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju bak mandi yang ada di sudut ruangan dengan sekat kaca transparan. Akan tetapi, ia sama sekali tidak khawatir, sebab lelaki itu sudah tidak ada di sini sehingga dirinya mampu melakukan hal apa pun sesuka hati. Setelah beberapa menit menghabiskan diri untuk berendam, Xiao Na pun merias wajahnya dengan tipis. Untung saja ia selalu sedia make up berbentuk mini di dalam tas lengannya. Kalau tidak, mungkin pagi ini dirinya akan merepotkan Yushi untuk membeli beberapa benda tersebut saat hendak ke kantor. Dirasa cukup dengan penampilan pagi ini, Xiao Na pun bangkit dan melihat ponselnya. Ternyata, belum ada tanda-tanda Yushi membangunkan dirinya pagi ini. Padahal jika dalam keadaan biasa, wanita itu pasti akan menghubungi ponselnya hingga berderit tanpa henti. Langkah kaki panjang nan jenjang itu menyusuri lorong apartemen yang terlihat sepi. Ia masih mengenakan pakaian kemarin, tetapi tidak menutup kecantikan alami miliknya. Bahkan ada beberapa pengunjung yang menatap dirinya tidak percaya. Tatapan Xiao Na menyusuri sekeliling lobi apartemen yang dipenuhi beberapa pengunjung tengah meminum kopi. Rata-rata pengusaha kaya di tempat ini banyak menghabiskan waktu sarapannya dengan berbincang tentang masing-masing aset yang dimiliki. Obrolan khas orang kaya yang sangat Xiao Na benci. Namun, wanita itu langsung mendapati Li Xian yang terduduk di sofa apartemen sembari sesekali meminum kopinya. Lelaki itu terlihat sibuk mengetik di laptop tipisnya. Padahal hari ini masih pagi, tetapi Li Xian seakan mencerminkan seorang pekerja keras. “Pagi, Direktur Li,” sapa Xiao Na singkat, lalu mendudukkan diri disalah satu sofa kosong. Li Xian yang mendengar sapaan itu langsung mengangkat kepalanya, dan tersenyum lebar. “Pagi, Presdir Zhang. Kau ingin sarapan apa?” “Latte saja,” jawab Xiao Na membuka ponselnya kembali. Kali ini ia ingin melihat email yang sudah masuk, karena banyak sekali pekerjaan hari ini. Pelayan yang tadi bersama Li Xian pun unduk diri untuk menyiapkan pesanan Xiao Na. Tentu saja pesanan singkat itu dapat disiapkan hanya dengan beberapa menit saja. Sebab, Li Xian termasuk salah satu dari penghuni kelas atas sehingga semua pelayanannya diistimewakan. “Kenapa kau tidak membangunkanku selama?” tanya Xiao Na tanpa mengalihkan perhatiannya sedikit pun dari ponsel. “Sebenarnya, aku ingin membangunkanmu, Presdir Zhang. Tapi, kau terlihat sangat kelelahan, dan kebetulan pula Yushi ikut tertidur sehingga tidak ada yang bisa aku tanyakan. Karena Liu Bai juga tidak mengetahui letak apartemenmu,” jawab Li Xian menutup laptopnya. “Iya, aku memang tidak pernah memberi tahu siapa pun,” gumam Xiao Na pelan, lalu seakan teringat sesuatu ia kembali melanjutkan, “Bukankah kau sangat mahir mencari letak lokasi seseorang? Kenapa tidak mengikuti riwayat lokasi kunjunganku saja?” “Aku sangat menghormati kehidupan pribadimu, Presdir Zhang. Jadi, dengan nekat aku membawamu ke sini semalam. Tapi, kau tenang saja. Aku tidur di kamar lain,” balas Li Xian berusaha menjelaskan apa yang terjadi semalam. Sejujurnya, Li Xian memang sempat bertarung dengan batinnya sendiri. Karena ini bukanlah tempat yang biasa dikunjungi siapa pun. Bisa terlihat jelas sekali kalau dirinya berusaha menyembunyikan asset kekayaan orang tuanya dari orang lain. Sehingga tidak ada yang tahu jelas tentang silsilah keluarganya dan latar belakang lelaki itu. “Baiklah. Kali ini aku memaafkanmu, Direktur Li. Tapi, untuk lain kali aku tidak bisa membuat pengecualian,” putus Xiao Na menyeruput latte yang masih mengepul tersebut. Sejenak Li Xian menatap ke arah pergelangan tangannya, melihat sebuah arloji berwarna hitam dengan jarum yang terus bergerak mengelilingi angka. Tidak terasa sudah pukul 07:30 AM, menandakan mereka berdua harus bergegas ke kantor. Karena letak apartemen ini cukup jauh dari Perusahaan N&N. “Presdir Zhang, bagaimana kalau kita berangkat sekarang?” tanya Li Xian sembari membereskan barang-barang miliknya ke dalam tas. Xiao Na mengangguk singkat. “Baiklah. Kita harus sampai sebelum kantor dipenuhi banyak orang. Karena mereka semua pasti akan salah paham kepada kita.” “Bagaimana bisa salah paham, Predir Zhang? Aku hanya mengantarkanmu, karena aku tahu kau tidak membawa mobil sejak kemarin,” ucap Li Xian bingung dengan ucapan wanita itu. “Iya, maksudku begitu,” balas Xiao Na mengangguk beberapa kali, lalu bangkit dari tempat duduknya. Sedangkan Li Xian hanya tersenyum geli melihat ekspresi Xiao Na yang setengah bingung. Entah kenapa ada kesenangan tersendiri ketika melihat wajah cantik itu berbeda daripada biasanya. Kemudian, mereka berdua pun meninggalkan lobi apartemen menuju basement tempat di mana mobil Li Xian terparkir cantik. Awalnya, beberapa penjaga di sana yang sudah mengenal dirinya hendak memanaskan mobil. Akan tetapi, ia langsung menolak kalau hari ini biar dirinya saja. Sesampainya di basement, Li Xian langsung memencet remot kontrol jarak jauh untuk mengetahui letak mobil miliknya yang asal ia parkir semalam. Mungkin kalau dalam keadaan seperti biasa, ia akan memarkirkan mobil tersebut tepat di depan pintu keluar. Tentu saja untuk memudahkan dirinya ketika ingin meninggalkan tempat ini. Akan tetapi, semalam ia tidak memiliki waktu untuk memikirkan hal tersebut. Karena masih sangat beruntung dirinya sampai dengan selama tanpa ada kekurangan suatu apa pun. “Li Xian, sepertinya kau mengganti mobil lagi,” celetuk Xiao Na melihat sebuah mobil mewah yang berbeda daripada lainnya. Seakan menandakan kalau mobil itu ingin diperhatikan sehingga sangat mencolok, meskipun ditutupi dengan warna hitam pekat. “Ini mobil milik orang tuaku. Aku hanya meminjamnya sebentar,” balas Li Xian mengusap tekuknya yang tidak gatal. Entah kenapa ia seperti tertangkap basah mencuri sesuatu dari wanita itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN