“Duizhang, kau sedang apa?”
(Duizhang = Kapten)
Terlihat para trainee Perusahaan N&N bersantai di salah satu ruangan yang biasa dijadikan untuk tempat olahraga. Mereka semua mengenakan kau berbentuk huruf N disetiap d**a sebelah kirinya. Tentu saja hampir semua yang mereka kenakan adalah milik perusahaan tersebut.
Akan tetapi, tidak sedikit dari mereka asyik berlatih kecepatan otot tangannya. Semua yang ada di sana rata-rata adalah seorang lelaki. Bahkan gelak tawa khas mereka terdengar sangat keras hingga ke luar ruangan.
Percayalah, di sana yang paling mengenaskan adalah Demo. Ia merupakan maknae di dalam timnya sehingga sering kali dijadikan sasaran empuk untuk kejahilan Grunt, Mingyu, dan Feng Zhen.
Zarco yang mendengar pertanyaan dari salah satu anggota timnya langsung menoleh, dan menjawab, “Ada sebuah turnamen gaming di Singapura.”
Sontak Mingyu yang paling bersemangat langsung memisahkan diri dan menghampiri sang kapten di dekat tangga menuju ruang bawah. Lelaki itu terlihat duduk di sofa panjang sembari terus menatap ponsel yang ada di tangannya.
“Turnamen apa itu? Apakah hadiahnya menyenangkan?” tanya Mingyu.
Tidak ingin menjawab lebih lanjut, Zarco pun menyerahkan ponselnya kepada Mingyu. Kemudian, memisahkan diri untuk mengatakan hal ini kepada Su Yuan. Walau bagaimanapun juga, lelaki itu wajib mengetahui turnamen apa pun untuk menjadikan mereka lebih giat lagi.
Langkah lebar milik Zarco mengarah pada anak tangga yang turun ke bawah. Ia tahu keberadaan lelaki itu. Pasti sedang menghabiskan diri di ruang kerja dengan menggeluti beberapa pekerjaan dari Xiao Na. Tentu saja untuk keberlangsungan tim mereka semua.
Sesampainya di pintu lebar nan kokoh itu, Zarco menghentikan langkahnya. Kemudian, lelaki itu terlihat mengetuk beberapa kali sembari meraih handle pintu tersebut. Terlihat Su Yuan tengah memilah laporan keuangan bulan ini.
“Zarco, kenapa kau ke sini?” tanya Su Yuan mendengar pintu ruangannya yang terbuka dan menampilkan sesosok lelaki tampan bertubuh tegap.
“Ada turnamen di Singapura,” jawab Zarco mendudukkan diri di salah satu sofa panjang.
“Baiklah, aku akan membicarakan hal ini pada Xiao Na,” putus Su Yuan menatap seorang lelaki yang menjabat sebagai kapten di dalam timnya.
Memang sifat Zarco yang cenderung serius dan tidak mudah goyah membuat siapa pun merasa segan, termasuk Su Yuan. Entah kenapa ia sudah beberapa tahun menjadi manager mereka, tetapi tetap saja rasa gugupnya terus melanda ketika tengah berbincang dengan lelaki itu.
Setelah mendapat persetujuan oleh Su Yuan, Zarco pun kembali bangkit dari tempat duduknya. Ia hendak mempersiapkan diri dengan berlatih di ruangan alat. Karena pertandingan kali ini mencangkup di seluruh luar negeri sehingga persaingan ketat pun tidak dapat dihindarkan.
Sementara itu, Su Yuan terlihat menghela napas berat tepat ketika Zarco keluar dari ruangannya. Bukan karena ia tidak setuju, melainkan permintaan lelaki itu tidak main-main. Ini memang wajib dilakukan untuk langkah awal meraih kejuaraan dunia, tetapi bukan berarti mereka ingin langsung mencapai tempat yang jauh lebih tinggi.
Akan tetapi, manager dari Tim N&N itu terlihat mengetikkan sesuatu di ponselnya, membuat kening berkerut itu tercetak jelas. Kemudian, lelaki itu terlihat kembali meletakkan benda pipih berwarna hitam pekat dengan aksen tengkorak di bagian case belakangnya.
Sedangkan di sisi lain, Xiao Na yang baru saja menyelesaikan rapat pun langsung dihadapkan oleh Yushi. Sekretaris pribadinya itu terlihat menyerahkan sebuah ponsel yang sengaja ia titipkan tadi. Tentu saja ia terbiasa melakukan hal tersebut untuk menghindari hal-hal tidak terduga.
“Ada apa, Yushi?” tanya Xiao Na bingung, lalu tak urung ia meraih ponselnya sendiri.
“Ada pesan dari Manager Su,” jawab Yushi singkat, kemudian wanita itu kembali menyibukkan diri dengan membereskan barang bawaan milik Xiao Na. Karena rapat hari ini telah selesai, dan mereka berdua harus kembali ke kantor.
Tanpa pikir panjang, wanita yang mengenakan pakaian ala kantor dengan tinggi di atas lutut pun bangkit dari kursi kebesarannya. Sepatu bot yang menutupi kaki jenjang hingga ke lutut itu memberikan kesan arogan sekaligus kaya raya. Sangat mencerminkan bagaimana suksesnya Keluarga Zhang dalam mengelola perekonomian di Shanghai.
“Halo, Su Yuan!” sapa Xiao Na tepat ketika panggilannya tersambung.
“Wei, Nana. Apa kau sudah membaca pesanku tadi?” tanya Su Yuan.
“Iya, aku sudah membacanya. Apa kau serius untuk ikut pertandingan seperti itu? Aku sedikit tidak yakin, karena ini meliput seluruh dunia, meskipun tidak mencangkup antar dunia,” ucap Xiao Na terdengar cemas.
Sebenarnya, ia tidak meragukan kemampuan timnya sendiri, tetapi maju dengan langkah sejauh ini memang sedikit mencemaskan. Apalagi kepribadian mereka belum terlalu matang sehingga Xiao Na takut untuk menurunkan tim yang baru saja memenangkan satu pertandingan, tepat ketika per debut mereka bulan lalu.
“Tapi, Nana, ini yang meminta Zarco. Aku rasa dia sudah mulai berlatih sendiri,” sanggah Su Yuan membuat Xiao Na mendadak bingung.
“Kalau begitu, tunggu aku ke sana. Kebetulan rapat hari ini telah selesai, tapi aku masih harus mengikuti makan siang dengan mereka semua. Jadi, aku akan kembali sehabis makan siang,” putus Xiao Na.
“Hao, akan aku tunggu,” balas Su Yuan singkat.
Kemudian, panggilan itu pun terputus dengan Xiao Na yang masih setia di posisinya, membuat Yushi sedikit kebingungan. Karena sejak tadi ia sudah memperhatikan sikap bos cantiknya yang terlihat sedikit aneh.
Entah kenapa ia merasa kalau Xiao Na tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Kebiasaan wanita itu ketika dilanda kebingungan.
“Presdir Zhang!” panggil Yushi sedikit ragu.
“Ah, iya? Sebentar, Yushi,” balas Xiao Na merapikan penampilannya, lalu berbalik dengan tersenyum singkat.
Kedua wanita cantik itu pun melenggang pergi meninggalkan ruang rapat yang berada di salah satu restoran mewah bergaya Eropa. Entah apa yang dipikirkan oleh koleganya sehingga memilih tempat seperti ini hanya untuk membicarakan masalah pembuatan situs web resmi. Padahal bisa saja mereka mengirimkan sebuah proposal permintaan tersebut.
“Yushi, setelah makan siang hari ini, apakah aku masih memiliki agenda?” tanya Xiao Na tanpa menghentikan langkah kakinya.
“Tidak ada, Presdir Zhang,” jawab Yushi sembari menatap punggung bos cantiknya itu penasaran. “Apa kau sedang memiliki janji dengan seseorang?”
Mendengar hal tersebut, Xiao Na hanya menghela napas pelan. “Tidak, aku hanya ingin menghabiskan waktu di ruang pelatihan.”
Seketika bibir tipis nan mungil itu membentuk huruf ‘O’ dengan mengangguk beberapa kali. Padahal ia sempat berniat untuk mengucapkan selamat. Karena wanita itu jarang sekali meminta izin untuk berkencan, selain paksaan dari orang tuanya.
“Baik, Presdir Zhang!” balas Yushi patuh, lalu mulai menuliskan sesuatu di notebook yang ada di jas miliknya.
Setelah itu, keduanya langsung melenggang pergi dengan santai menyusuri seisi restoran privat yang sering dijadikan ajang pertemuan bisnis, seperti Xiao Na saat ini. Walaupun sebenarnya ia sangat muak berada di sini, karena semua orang terlihat begitu munafik memamerkan kekayaan mereka semua yang tidak ada habisnya.