53. Unexpected

1127 Kata
Meja bundar berisikan makanan itu tampak mengitari sekeliling orang yang mengenakan pakaian formal. Mereka semua tertawa seiring dengan gelas berisikan cairan merah itu terlihat sedap dipandang. Padahal menurut Xiao Na, pemandangan tersebut hanyalah rekayasa belaka. “Presdir Zhang, apa kau ingin kembali ke kantor?” tanya Yushi setengah berbisik saat mendapati bosnya terdiam hanya mengusap bibir gelas tanpa tenaga. Xiao Na menoleh sekilas. “Kau tahu? Aku sangat bosan di sini.” “Baiklah. Aku akan membantumu, Presdir Zhang,” balas Yushi tersenyum tipis. Kemudian, wanita berpakaian kemeja warna putih dengan rok selutut berwarna cokelat itu tampak bangkit dari tempat duduknya. Ia menatap seluruh kolega yang ada di sana. “Permisi, sepertinya acara makan siang ini harus tertunda. Mendadak Presdir Zhang tidak enak badan, dan harus segera beristirahat. Mohon maklumi kelancangan ini,” ucap Yushi mengundang pertanyaan dari wajah-wajah yang selama ini berlindung di balik topeng prihatin. “Apa kau sedang sakit, Presdir Zhang?” tanya salah satu kolega wanita yang memandang Xiao Na khawatir. “Iya, aku mendadak merasa tidak enak badan,” jawab Xiao Na berpura-pura lemah. “Kalau begitu, beristirahatlah.” Kolega wanita itu tersenyum tipis melihat wajah Xiao Na yang mendadak lemah. Memang tidak ada yang salah dengan sebutan bos arogan dari wanita itu. Karena ia tidak akan memberi tahu siapa pun tentang kelemahannya sendiri. Setelah mendapat persetujuan, Yushi pun membantu Xiao Na bangkit dari tempat duduknya, lalu menuntun wanita itu untuk segera keluar dari sana. Namun, tidak ada yang tahu kalau senyum licik Xiao Na terbit tepat ketika pintu ruangan privat itu tertutup rapat. “Akhirnya, aku bisa melepaskan diri dari penjaga tak kasatmata itu,” sinis Xiao Na membenahi penampilannya sendiri. “Setelah ini kita mau ke mana, Presdir Zhang?” tanya Yushi mensejajarkan langkahnya. “Kembali ke kantor. Aku ingin bertemu Su Yuan,” jawab Xiao Na melangkah dengan cepat membuat sekretarisnya langsung berlari kecil menjauhi bos cantik itu untuk memberi tahu supir pribadi kantor untuk segera menyiapkan mobil. Sepeninggalnya Yushi, seorang wanita berpakaian kantor selutut itu tampak memperlambat langkah kakinya. Ia menatap sekeliling yang terlihat banyak sekali pengunjung, baik itu sepasang kekasih maupun para pebisnis andal seperti dirinya. Dari suasana tersebut, Xiao Na hanya bisa menyimpulkan kalau hari ini banyak sekali orang yang bersantai. Padahal tanpa mereka ketahui, sikap santai itu membuat mereka semua malah mengalami ketertinggalan. “Sayang, apa kau lupa membawa uang hari ini?” Tiba-tiba Xiao Na mendengar suara dari arah belakang membuat wanita itu menghentikan langkahnya sejenak. Lalu, berpura-pura memainkan ponsel tepat di belakang sepasang kekasih yang terlibat sebuah permasalah belaka. “Iya, WeChat-ku kurang,” jawab sang lelaki berpura-pura lemas. Seketika sang wanita itu pun menekuk wajahnya kesal. Akan tetapi, mau tak mau ia langsung mengarahkan ponsel ke arah mesin barcode yang ada di hadapannya. Tepat sebelum mesin tersebut berjalan, dengan lancang Xiao Na mengambil ponsel tersebut dan menatap lelaki di depannya sinis. “Apa kau tidak salah pacarmu yang disuruh membayar?” tanya Xiao Na menggenggam ponsel tersebut dengan wajah santai. Seketika lelaki itu langsung menatap Xiao Na kesal. “Kau siapa?” “Aku? Aku Kakaknya,” jawab Xiao Na percaya diri, lalu menatap lelaki itu dengan tajam. Seakan ia tidak pernah takut dengan apa yang terjadi setelah ini. “Cih, Kakaknya? Aku tidak akan tertipu. Dia tidak pernah mempunyai kakak,” sahut lelaki itu tertawa sinis. Namun, sang wanita yang ada di sisi Xiao Na tampak naik pitam. Tentu saja ia sudah sangat muak berpacaran dengan seorang lelaki tidak bertanggung jawab seperti itu. Selalu saja ada alasan yang dikeluarkan setiap kali mereka berkencan. “Dia memang Kakakku,” sinis wanita itu spontan memeluk Xiao Na yang ada di sampingnya. “Kalau kau tidak percaya, kenapa kita tidak putus saja? Lagi pula aku sudah muak dengan sikapmu yang tidak pernah berubah!” Sejenak Xiao Na merasa takjub dengan seorang wanita yang ada di sampingnya. Ia terlihat sangat berani padahal kekasihnya sudah merasa sangat marah atas tindakan memalukan tadi. “Kenapa? Apa kau sudah kehilangan mulutmu yang berani itu?” sinis Xiao Na. Seketika lelaki itu menipiskan bibirnya kesal membuat Xiao Na tertawa dalam hati. Tentu saja siapa pun dapat menebak kalau lelaki di hadapannya ini sudah marah sekaligus malu. Tidak ada yang merasa mau dipermalukan seperti itu. Akhirnya, sang lelaki tadi itu pun mengeluarkan dompet. Ia terlihat mengeluarkan sebuah kartu debit berwarna hitam, membuat Xiao Na mengangkat alisnya sinis. “Kena kau!” ucap Xiao Na dalam hati. Sebenarnya, ia sudah menebak sejak tadi kalau lelaki itu bukanlah tipikal miskin. Karena terlihat jelas sekali cara berpakaiannya yang berkelas dan mahal sehingga siapa pun dengan melihat saja sudah bisa ditebak. “Sudah kubayar!” ucap lelaki itu tidak santai membuat wanita yang tadi memutuskan hubungan langsung tersenyum ringan, lalu mengajak Xiao Na untuk pergi dari sana. Tentu saja sang wanita tidak akan pernah mau kembali dengan seorang lelaki tanpa modal itu. Sebab, ia sudah sangat muak menjadi ATM berjalannya yang selalu saja mengeluarkan uang untuk segala macam acara kencan, termasuk makan seperti saat ini. Saat jarak sudah lumayan jauh dari lelaki itu, sang wanita itu pun berbalik menatap Xiao Na yang memandang lurus ke depan. Ia terlihat kagum pada wanita cantik yang ada di sebelahnya. Akan tetapi, ia percaya kalau Xiao Na adalah wanita hebat. Terlihat dari cara berpikir dan pakaiannya yang bukan sembarangan orang. Namun, pandangan itu langsung terputus ketika melihat seorang wanita yang tidak asing mendekat ke arah mereka berdua. Membuat Xiao Na langsung tersenyum tipis. Seakan tahu yang membuat sekretarisnya itu terlambat. “Maafkan aku, Presdir Zhang. Aku terlambat karena harus mencarimu tadi,” sesal Yushi menundukkan kepalanya dalam-dalam. Akan tetapi, alis miliknya langsung bertaut bingung saat melihat sepasang sepatu yang berada di samping Xiao Na. “Tidak apa-apa, Yushi. Aku tadi sedang membantu seseorang, jadi wajar saja kalau kau tidak melihatnya,” balas Xiao Na menoleh ke arah wanita tadi. “Aku harus pergi.” “Hao, terima kasih, jie,” ucap wanita itu tersenyum tulus akan kebaikan Xiao Na tadi. Sedangkan Yushi yang mendengar suara tidak asing di telinganya itu pun langsung mengangkat kepala dengan mata membulat penuh. Ia mengerjap pelan demi memperjelas penglihatannya. “Ningning? Sedang apa kau di sini?” tanya Yushi dengan nada sedikit tinggi membuat Xiao Na langsung mengangkat alisnya tidak mengerti. Namun, wanita itu ikut terkejut. “Kenapa kau bisa ada di sini, jie?” “Dasar gadis bodoh! Aku bertanya padamu,” umpat Yushi menjitak kepala Ningning kesal. Seketika Xiao Na merasa seperti orang bodoh yang mendengarkan perdebatan mereka berdua. Wanita itu pun mengela napas panjang, lalu melipat kedua tangannya di depan d**a sembari menatap perdebatan itu dengan wajah datar. “Maaf, jie. Aku di sini ada urusan,” jawab Ningning meringis pelan. “Urusan apa? Jangan bilang kau masih berhubungan dengan lelaki itu,” sinis Yushi tepat sasaran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN