“Siapa tadi?”
Suasana mobil mendadak sepi dengan Yushi yang menyibukkan diri dengan pekerjaan. Sebenarnya, sejak tadi ia hampir saja marah kalau tidak ingat situasi.
“Adikku, Presdir Zhang. Maaf sudah merepotkanmu,” ucap Yushi meringis pelan. Ini pertama kalinya ia mengumbar masalah pribadi.
“Aku pikir selama ini kau sendiri, karena kehidupanmu terlihat baik-baik saja,” balas Xiao Na santai.
“Tidak. Aku hanya tidak ingin masalah pribadi ikut mencampuri masalah kantor, Presdir Zhang. Jadi, sebisa mungkin aku menutupinya darimu,” ralat Yushi setengah berbisik, tetapi masih dapat didengar oleh bosnya.
“Iya, aku akui kalau rahasia keluargamu sangat rapat, Yushi. Bahkan aku sangat tidak percaya kalau kau mempunyai seorang adik perempuan.”
“Sebenarnya, itu bukan adik kandungku.”
“Lantas?”
“Adik sambung dari ibuku.”
“What the ....”
“Iya, Presdir Zhang. Keluargaku memang tidak seharmonis dengan keluargamu.”
“Tidak. Maksudmu ..., Ningning itu adik dari ayahmu yang lain?”
“Bukan, Ningning adalah anak dari ibuku.”
“Oh, maaf. Jadi, keluargamu ada berapa?”
“Mungkin kalau digabungkan ada empat, Presdir Zhang.”
“Sebanyak itu?”
“Iya, dan masih saling mengabari satu sama lain, meskipun tidak ada lagi hubungan suami istri.”
“Wah, harmonis sekali!”
“Tidak, Presdir Zhang. Itu hanya pencitraan di depan saja. Nyatanya kalau sudah satu atap pasti akan ada perdebatan panjang yang akan diselesaikan dalam berhari-hari.”
“Wajar saja, karena menyatukan banyak kepala itu memang sulit.”
Seketika suasana mobil kembali hening dengan pikiran Xiao Na yang mulai melayang pada keluarganya sendiri. Entah kenapa ia mulai membayangkan kalau keluarganya akan seperti Keluarga Gao.
Mungkin dengan persenan besar Xiao Na tidak akan kembali pada keluarganya sendiri. Karena ia merasa sedikit tidak adil telah dilahirkan dari Keluarga Zhang. Meskipun hidupnya selalu terjamin, tetapi tetap saja ada sebuah benang merah di antara mereka semua sehingga tidak akan membuat dirinya merasa bebas.
Akan tetapi, di tengah lamunan itu ponsel milik Xiao Na mendadak berdering dan menampilkan nama yang sejak tadi mulai terpikir di dalam otak cantiknya. Seorang lelaki yang selama ini telah melindungi dirinya sampai ia memutuskan untuk keluar dari mansion tersebut.
“Wei Ge, ada apa?” tanya Xiao Na menyandarkan tubuhnya sembari menatap ke arah luar jendela mobil.
“Nana, apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau kabur dari kantor saat Mama dan Papa ke sana,” jawab Xiao Wei terdengar khawatir.
“Entahlah. Aku hanya tidak ada waktu untuk membicarakan masalah perjodohan,” ucap Xiao Na tanpa tenaga.
Seketika Xiao Wei yang mendengar perbedaaan dari suara adiknya itu pun mengernyit bingung. “Apa kau sedang sakit? Suaramu lemah sekali, Nana.”
“Tidak. Aku hanya kelelahan para kolega itu,” sungut Xiao Na benar-benar kesal.
Xiao Wei yang mendengarnya pun langsung tertawa keras sekali sehingga membuat Xiao Na menduga kalau lelaki itu tertawa sembari terpingkal-pingkal tidak bisa diam.
“Ge,” ucap Xiao Na memberi Peringatan.
“Iya, maaf. Aku hanya tidak percaya kau bisa lelah hanya masalah seperti itu,” balas Xiao Wei tersenyum geli.
“Sudah aku bilang, kalau aku muak sekali dengan mereka. Tapi, apa boleh buat. Aku juga tidak bisa melakukan apa pun tanpa uang dari mereka,” ucap Xiao Na menggeser tubuhnya yang terasa pegal dan mencari posisi nyaman.
“Kalau begitu, cepatlah kembali ke kantor, Nana. Aku sedang ada di sini menunggumu,” titah Xiao Wei.
Seketika adiknya itu langsung menegakkan tubuh tidak percaya. “Apa kau bercanda? Aku sedang dalam perjalanan bisnis.”
“Jangan berbohong, Nana. Aku tahu siang ini kau pulang,” sinis Xiao Wei tidak ingin dihindari oleh adiknya lagi.
“Kau tahu dari mana?” tanya Xiao Na terdengar penasaran.
“Apa kau lupa kalau aku mempunyai banyak kolega? Jadi, mudah saja aku meminta bantuan mereka untuk mencari tahu jadwalmu,” jawab Xiao Wei terdengar ringan.
“Kau benar-benar sangat bersemangat,” gumam Xiao Na tidak percaya.
“Sudahlah cepat ke sini!” putus Xiao Wei sembari mematikan panggilan tersebut.
Seorang lelaki gagah nan tampan berjas merah mahal itu tampak berputar-putar di kursi kebesaran milik Xiao Na. Entah kenapa senyum lelaki itu tidak pernah luntur melihat interior yang ada di hadapannya.
Namun, tidak seperti seorang lelaki lainnya. Ia terlihat malas, dan berkali-kali terlihat menghela napas panjang sembari menatap arloji yang ada di tangan kirinya. Ini sudah lima belas menit setelah mereka berdua datang ke tempat ini.
“Direktur Zhang, apa kau sedang bercanda denganku? Aku sangat sibuk untuk kau ajak bersantai seperti ini,” protes Liu Bai menatap kolega di hadapannya kesal.
“Nikmatilah masa hidup santaimu, Xiao Bai. Lagi pula kau selalu saja bekerja dengan Keluarga Li. Padahal kau bisa saja membuka perusahaamu sendiri,” balas Xiao Wei tanpa beban.
“Aku rasa julukanmu sebagai pekerja keras sangat tidak cocok. Lihatlah, sekarang kau sangat santai dengan pekerjaan yang hanya menunggu kedatangan sang adik dari perjalanan bisnis,” sindir Liu Bai mengusap wajahnya sedikit kesal.
Tentu saja dirinya sangat sibuk melebihi Tuan Muda Li yang sempat ia lihat tengah menghamburkan diri di kerumunan karyawan kantor untuk membicarakan masalah pengembangan perangkat lunak yang sudah rilis di pasaran.
“Lain kali aku tidak akan mau mengikutimu,” celetuk Liu Bai membenahi jambulnya yang sedikit acak.
“Oh ya? Coba saja kalau kau memang berani menantangiku,” balas Xiao Wei tersenyum miring.
“Dasar Pewaris Zhang!” ejek Liu Bai tanpa memedulikan sama sekali status lelaki itu yang jauh lebih tinggi daripada dirinya.
“Aku juga mencintaimu,” balas Xiao Wei tertawa pelan.
Liu Bai yang mendengarnya hanya bisa menghela napas panjang. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki itu.
Tak lama kemudian, kedua lelaki itu terdiam sesaat. Mereka terlihat kompak menoleh ke sumber suara yang berasal dari satu-satunya pintu ruangan ini. Karena Xiao Na membangun kantor alay dirinya sendiri sehingga tidak ada yang bisa menyamainya.
Tepat ketika sang pelaku menyembulkan kepala, dan pada saat itu juga Liu Bai terjengit kecil menatap seorang lelaki yang ada di sana membawa sebuah map berwarna hiru dengan logo khas perusahaan.
Sedangkan Li Xian sudah mengetahui Liu Bai ada di sini pun hanya bersikap santai, lalu mendekat ke arah meja kerja Xiao Na yang diduduki oleh seorang lelaki. Ia tahu kalau lelaki itu adalah kakak dari bosnya sendiri.
“Siapa kau?” tanya Xiao Wei menatap lelaki di hadapannya dengan menyelidik.
“Aku Li Xian dari Departemen Teknologi,” jawab Li Xian tersenyum manis, lalu meletakkan benda tersebut di sana.
“Sejak kapan kau bekerja di sini?” tanya Xiao Wei lagi.
“Sudah beberapa bulan sejak perusahaan ini untung besar dari siaran langsung,” jawab Li Xian tetap memperlihatkan senyum manisya, meskipun ia tahu kalau lelaki yang menjadi kakak dari Xiao Na itu terlihat sinis.
Akan tetapi, di dalam kehidupan ini selalu berjalan tidak sempurna. Ada saja masalah atau permasalah yang harus mereka hadapi ke depannya. Dan semua itu tergantung dari pribadi masing-masing untuk mengatasinya.