55. Business Trip

1061 Kata
Sebuah mobil mewah berwarna putih itu tampak berhenti di depan gedung besar nan megah yang mengelilingi dinding perusahaan N&N. Pemandangan mewah menjadikan sisi lain dari perusahaan gaming tersebut. “Presdir Zhang, kita sudah sampai,” ucap Yushi melirik bos cantik yang ada di belakang kursinya. Sejenak Xiao Na yang mendengar hal tersebut langsung mendongak. “Iya, aku tahu.” Yushi pun turun dari mobil, dan membuka pintu penumpang yang diduduki oleh Xiao Na. Memang sehabis perjalanan bisnis kedua wanita dengan satu supir pribadi langsung memutuskan untuk kembali. Karena permintaan Xiao Wei benar-benar menyebalkan. “Yushi, aku ingin ke markas. Kau duluan saja ke ruanganku,” pinta Xiao Na membuat sekretaris pribadinya langsung menoleh bingung. “Presdir Zhang!” sanggah Yushi cepat. “Kau bisa dimarahin Pimpinan Zhang.” “Aku tidak peduli ...,” balas Xiao Na melenggang pergi tanpa beban ke arah elevator yang langsung turun ke ruang bawah tanah perusahaan miliknya. Sementara itu, Yushi hanya bisa menghela napas panjang melihat keras kepala Xiao Na yang mulai kembali. Ia tidak peduli apa pun kata orang, asalkan hatinya merasa puas. Tentu saja wanita itu hendak menanyakan perihal kompetisi yang diketahuinya siang tadi. Sehingga batin Xiao Na belum puas, jika tidak mengetahuinya secara langsung. Selama di perjalanan menuju markas Tim N&N, ponsel Xiao Na berdering tanpa henti dengan menampilkan sebuah nama yang selalu berada di layar ponselnya beberapa saat lalu. Tentu saja itu adalah perbuatan dari Zhang Xiao Wei, kakaknya. Namun, Xiao Na hanya mengabaikan begitu saja. Ia tidak peduli apa pun yang akan diomelkan oleh lelaki itu. Sebab, niat pertama dirinya pulang ada untuk menanyakan hal penting yang sedari tadi mulai mengganjal di pikirannya, dan hal tersebut membuat Xiao Na harus segera menuntaskan. Sesampainya di markas, Xiao Na langsung melenggang pergi menyusuri ruangan yang dihiasi dengan beberapa onderdil motor besar, seperti geer, jari-jari, dan beberapa roda dijadikan hiasan dinding ruangan. Akan tetapi, dari semua pemandangan itu, ada sebuah benda menjadi ikon ruangan yaitu pada bagian jembatan yang membentuk bak di atas awan dengan kepulan asap digital yang ditutupi oleh kaca transparan. “Su Yuan!” panggil Xiao Na mengelilingi ruang latihan, tetapi lelaki itu tidak ada di sana membuat dirinya langsung menaiki anak tangga yang langsung mengarah pada kamar. Terlihat dari ujung tangga deretan pintu yang terhiasi hitam-putih bak papan catur tertutup rapat seakan tidak ingin ada orang lain melihatnya, selain dirinya sendiri. Membuat Xiao Na mendekati salah satu pintu yang ada di sana. Sembari mengetuk pelan, Xiao Na bertanya, “Su Yuan, apa kau ada di dalam?” “Nana, apa itu kau? Sebentar, aku sedang berganti pakaian,” jawab Su Yuan setengah berteriak dari dalam. Mendengar hal tersebut, Xiao Na melipat kedua tangannya di depan sembari menyandarkan diri pada dinding ruangan tersebut. Kakinya yang terhiasi bot heels diketuk-ketukkan pelan. Tak lama kemudian, seorang lelaki berpakaian jaket berwarna abu-abu keluar dari ruangan yang tengah ditunggu Xiao Na. Su Yuan tersenyum lebar melihat kedatangan bos cantiknya yang sudah bisa ia tebak akan menanyakan kompetisi. “Aku ingin rapat. Cepat kau kumpulkan anak-anak!” titah Xiao Na membuat Su Yuan langsung mengangguk pelan. Kemudian, lelaki itu langsung berlari kecil menuruni tangga satu per satu. Sedangkan Xiao Na hanya mengikutinya dari belakang dengan langkah tegas nan tegap. Ia mengerti kalau sekarang ini mengapa anak-anak pelatihannya ingin sekali mengikuti banyak kompetisi. Di ruang rapat, masih sedikit sekali yang hadir membuat Xiao Na mendudukkan diri terlebih dahulu sembari memainkan ponselnya untuk membalas pesan Yushi mulai memenuhi kotak masuk miliknya. “Xiao Na jie, apa kau tidak lelah baru pulang perjalanan bisnis?” tanya Demo menatap seorang wanita berpakaian rapi menandakan ia belum pulang sama sekali. Xiao Na mengangguk singkat, lalu meletakkan kembali ponselnya di atas meja. “Iya, aku langsung ke sini untuk memastikan kalian ingin mengikuti kompetisi itu dengan serius.” “Benar, jie! Kita semua ingin mengikuti kompetisi bergengsi itu untuk mengukur kemampuan,” sahut Grunt semangat membuat Xiao Na menatap lelaki itu sejenak. “Apa kalian semua serius? Permasalahnya, ini bukanlah kompetisi yang seperti kemarin.  Antar negara tidak semudah melawan antar tim, tapi aku bukan berarti meragukan kemampuan kalian semua. Aku akan tetap mengikutkan kompetisi tersebut. Menang atau kalah itu adalah bonus dari perjuangan. Jadi, sebaik mungkin kalian harus mempersiapkannya dari sekarang,” tutur Xiao Na menautkan jemarinya di atas meja menatap serius seakan menandakan kalau dirinya tengah dalam keadaan tidak ingin bercanda. Sejenak rapat dadakan itu berlangsung cukup lama dengan berbagai pendapat yang dikeluarkan dari masing-masing trainer. Tentu saja semua suara tersebut Xiao Na pertimbangkan untuk menjadi pelatihan beberapa bulan ke depan. Sebab, kompetisi yang diadakan di Singapura itu masih beberapa bulan lagi. Setelah selesai dengan rapat yang ditutup oleh beberapa program pelatihan dari Zarco untuk meningkatkan kecepatan tangan. Xiao Na pun berpamitan untuk segera pergi dari sana. Karena Yushi sudah mengabarkan kalau dirinya berada di depan elevator markas untuk segera menjemput dan membawa Xiao Na ke ruangan menemui sang kakak. “Presdir Zhang, kita harus bergegas. Tadi Pimpinan Zhang memerintahkanmu untuk segera ke ruangan,” ucap Yushi tepat saat pintu elevator terbuka membuat Xiao Na langsung memutar bola matanya malas. “Apa kau tidak ada perkataan lain lagi, Sekretaris Yushi? Aku bosan mendengar perkataanmu yang selalu sama,” balas Xiao Na melenggang pergi tanpa memedulikan sekretaris pribadinya yang masih terdiam di tempat. “Maaf, Presdir Zhang. Aku hanya mengikuti perintah dari Pimpinan Zhang,” sanggah Yushi tersenyum paksa membuat Xiao Na langsung mengangguk singkat. Kemudian, wanita berekspresi datar itu langsung melenggang pergi dengan mengangguk singkat saat mendengar sapaan dari beberapa karyawan yang tanpa sengaja bertemu dirinya di dalam kantor. “Presdir Zhang!” seru seorang gadis yang sangat dikenali membuat Xiao Na menghentikan langkahnya. “Ada apa, Tong Xin?” tanya Xiao Na menatap gadis itu datar. “Aku hanya ingin memberikan ini,” ucap Tong Xin menyerahkan sebuah map berisikan kontrak kerja sama yang akan ia rapatkan besok. “Baiklah, terima kasih,” balas wanita itu tulus, lalu kembali melenggang pergi. Melihat Xiao Na yang berbeda hari ini membuat Tong Xin mengernyitkan bingung, lalu menoleh ke arah Yushi dengan tatapan bertanya. Namun, wanita perfeksionis itu hanya mengangkat bahunya acuh tak acuh, lalu berlari kecil ikut menyusul sang bos yang sudah lumayan jauh. Meninggalkan Tong Xin dengan segudang pertanyaan di benaknya, membuat gadis berjepit rambut lidi itu hanya menggaruk kepalanya tidak gatal. Kemudian, ikut melenggang pergi dari sana dengan sesekali menunduk hormat saat melihat karyawan yang lebih senior.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN