Sudah lima tahun Xiao Na mendirikan perusahaan sekaligus membina para trainer agar bisa menjadi diri di masa mendatang. Semua itu ia kerjakan seorang diri tanpa bantuan siapa pun, termasuk keluarganya sendiri. Ia tidak pernah mengeluh, bercerita, atau bahkan mendengarkan saran dari orang terdekatnya untuk segera menikah saja daripada harus bersusah payah mendirikan perusahaan dari titik terbawah.
Akan tetapi, bertahun-tahun Xiao Na jatuh dan bangkit dari kegagalan yang tidak hanya sekali membuat dirinya bisa membangun sebuah perusahaan di gedung miliknya sendiri. Ia memang sudah memiliki gedung tepat ketika perusahaan berulang tahun tepat ke-3 tahun.
Saat itu, Xiao Na mendapatkan sebuah pekerjaan dari salah perusahaan terkenal di Norwegia untuk mempromosikan salah satu pengacara hebat mereka untuk tampil pada acara online sehingga ia mendapatkan kepercayaan menyelenggarakan acara tersebut dengan sangat baik. Bahkan tidak sedikit wanita itu mengeluarkan banyak sekali dana untuk membeli alat sendiri, demi meminimalisir pencurian data ketika dirinya telah menyelesaikan acara tersebut.
Rasanya, semua perjuangan yang dulu sangat terasa ketika Xiao Na sudah berada di titik setinggi ini dengan ciri payah dirinya sendiri. Memang agak sedikit tidak percaya ia telah mencapai titik tertinggi dalam kehidupannya, tetapi ini sepadan dengan apa yang telah ia korbankan selama ini.
Menikmati hasil perjuangan memang tidak seindah menikmati hasil, tetapi ada rasa kepuasan tersendiri saat menikmatinya. Dan hal tersebut sudah Xiao Na buktikan pada dirinya sendiri untuk tetap berusaha, meskipun sekelilingnya selalu berkata tidak dan jangan. Karena itu hanya akan menghambat kesuksesan saja.
“Presdir Zhang,” panggil Yushi ketika mendapati Xiao Na tengah melamunkan sesuatu.
Sejenak wanita itu hanya melirik sekilas, lalu mengangguk singkat menandakan dirinya kembali fokus. Entah kenapa beberapa hari ini ia selalu melamunkan sesuatu sampai tidak sadar sudah menarik perhatian sekretaris pribadinya.
“Baiklah, rapat sampai di sini,” putus Yushi menutup rapat yang selalu diadakan setiap minggu, membuat beberapa petinggi perusahaan langsung membereskan perlaratan serta berkas-berkas kerja dari atas meja.
Kemudian, satu per satu petinggi perusahaan itu tampak keluar dari ruang rapat sembari menghela napas panjang. Sebab, rapat kali ini belum menemukan titik terang sehingga mereka harus kembali menyiapkan mental dan jiwa untuk memuaskan permintaan Xiao Na yang dikenal dengan perfeksionis dan serba bisa. Ia tidak akan mau tahu apa pun yang dilakukan oleh karyawannya, selain pekerjaan.
Sepeninggalnya petinggi perusahaan, Yushi pun ikut bangkit dari tempat duduknya, lalu menatap Xiao Na bingung sekaligus penasaran. Karena ini bukan kali pertama wanita itu kepergok tengah melamunkan sesuatu.
“Apa ... kau sedang ada masalah, Presdir Zhang?” tanya Yushi ragu.
“Tidak ada,” jawab Xiao Na cepat tanpa mengalihkan perhatiannya sama sekali membuat Yushi langsung mempercepat kegiatannya, lalu melenggang dari sana tanpa mengatakan apa pun lagi.
Tentu saja Yushi tidak akan melawan perkataan Xiao Na yang terdengar sedang dalam masalah besar. Karena ini memang sangat menakutkan, apalagi kalau sampai bosnya mengeluarkan pengumuman untuk lembur. Tamatlah riwayat kantor mendengar omelan Xiao Na yang sudah dipastikan akan memarahi satu per satu kinerja mereka tanpa lelah. Bahkan hal sekecil apa pun tidak akan pernah terlewat dari perhatiannya.
Setelah di rasa sudah tidak ada orang lagi, selain dirinya. Xiao Na pun memutuskan untuk menumpukan kepalanya di lipatan tangan. Menenggelamkan kepala mungil itu di dalam genangan rasa lelah yang dibaluti oleh kekesalan. Sejak mendengar perkataan sang kakak beberapa menit yang lalu membuat Xiao Na berasa dalam suasana hati sangat buruk. Ditambah lagi rapat hari ini sangat tidak memuaskan.
Di tengah kegiatan menenangkan diri, tiba-tiba pintu ruang rapat diketuk pelan membuat Xiao Na langsung mengangkat kepalanya, lalu menatap sang pelaku yang berdiri di ambang pintu. Ia pun mengangguk singkat untuk mengkode, agar lelaki itu masuk ke dalam.
“Apa kau sedang lelah, Presdir Zhang?” tanya Li Xian melenggang masuk ke dalam, lalu menarik kursi yang tadi diduduki oleh Yushi.
“Tidak. Aku merasa lelah saja,” jawab Xiao Na mengusap dahinya sembari mengembuskan napas singkat, dan menatap Li Xian. “Ada urusan apa, Direktur Li?”
“Aku hanya ingin menyerahkan ini, Presdir Zhang. Sudah aku bilang kalau kemarin para trainer melakukan beberapa pelatihan khusus dari aku, jadi ini catatan perkembangan mereka selama beberapa minggu ini. Memang tidak terlalu pesat, tetapi mampu membuatmu merasa terkesan dengan peningkatan yang dilakukan oleh mereka,” tutur Li Xian panjang lebar dengan memperlihatkan banyak sekali grafik dan table keterangan.
Sejenak Xiao Na membaca satu per satu kata dan gambar yang tertera di sana. Sesekali ia mengernyitkan keningnya, lalu manggut-manggut mengerti. Bahkan wanita itu menyentuh ujung dagu runcing dengan jemari terlunjuknya.
“Bagaimana dengan Zarco?” tanya Xiao Na sembari menutup laporan tersebut.
“Seperti yang dikatakan oleh Presdir Zhang, Zarco melakukan beberapa pelatihan khusus tersendiri denganku. Jadi, aku tidak menuliskannya di sana, tapi dari pemantauanku selama ini dia memiliki banyak kelebihan yang tidak dia ketahui. Aku berniat untuk memperketat pelatihannya, agar dia bisa menjadi lebih dari apa yang dia ketahui. Menurutmu, bagaimana?” jawab Li Xian membuat Xiao Na langsung menatap serius.
“Iya, Zarco memang memiliki kelebihan dari trainer lainnya, tapi dia masih memiliki kekurangan, Direktur Li,” sanggah Xiao Na terdengar cemas.
“Apa itu?” tanya Li Xian penasaran.
“Gangguan kecemasan,” jawab Xiao Na menggantungkan kalimatnya. “Dia memang dingin, tetapi di balik sikap dinginnya dia berusaha untuk tidak terpengaruh atas penyakit psikologisnya itu. Karena dia tidak ingin membuat yang lain merasa cemas.”
Seketika Li Xian mendelik tidak percaya mendengar penuturan Xiao Na yang terdengar tidak masuk akal. Apalagi mengatakan kalau Zarco mengalami gangguan kecemasan. Memang hal tersebut sering terjadi, tetapi sedikit tidak masuk akal seorang gamers memiliki penyakit psikologis tersebut.
“Benarkah?”
“Iya, jadi sebisa mungkin kita tidak terlalu memaksa Zarco. Karena aku mempercayakan dia sebagai kapten untuk tetap percaya pada dirinya sendiri. Kalau dia mampu melakukan apa pun di luar batas kemampuannya sendiri,” jawab Xiao Na tersenyum tipis.
“Astaga, aku benar-benar tidak tahu, Presdir Zhang,” seru Li Xian.
“Untuk sekarang kau harus lebih berhati-hati, Direktur Li. Aku tidak melarangmu memaksa Zarco terus maju, tetapi ketahuilah batasan dia sebagai trainer yang sama seperti anak-anak lain,” ucap Xiao Na membuat Li Xian langsung merasa sangat bersalah.
“Baik, Presdir Zhang!” balas lelaki itu mantap.
Meskipun jauh dari lubuk hatinya merasa sangat bersalah. Karena ia beberapa kali meminta Zarco untuk berlatih keras setiap harinya.
“Jangan menyalahkan diri sendiri, Direktur Li. Aku hanya tidak ingin kau kelewat batas sehingga mengharuskan kau mengetahui kebenaran ini,” celetuk Xiao Na seakan mengetahui isi pikiran lelaki itu.