57. Family Issues

1146 Kata
Kini entah kenapa pikiran Li Xian selalu mengarah pada Zarco yang baru saja ia ketahui mengalami gangguan kejiwaan. Ini memang bukan kali pertama ia menemukan masalah penyakit seperti ini, tetapi tetap saja hal tersebut tidak bisa didiamkan begitu saja. Apalagi Zarco adalah idola yang berperan paling penting di tim. Sehingga dalam keadaan apa pun mengharuskan lelaki itu ikut andil. Bahkan di tengah menyetir seperti ini, Li Xian terlihat menghela napas panjang, lalu menatap lampu yang ada di hadapannya masih berwarna merah. Membuat dirinya bisa menenangkan diri sembari mencari cara menghilangkan penyakit yang dialami oleh Zarco. Namun, di tengah pemikiran tersebut, ponselnya berdering nyaring membuat Li Xian langsung menggeser layar ponsel. Kemudian, memasang earphone di telinga sembari menancapkan gas mobilnya. “Li Xian, kau ada di mana?” tanya seorang lelaki yang terdengar tidak asing di telinga Li Xian. “Perjalanan pulang,” jawab Li Xian tanpa mengalihkan perhatiannya dari kemudi mobil. “Oh, baiklah.” Seketika alis tebal milik lelaki itu langsung menukik tidak suka. “Seperti itu saja?” “Lalu, aku harus apa?” tanya Liu Bai terdengar polos. “Lupakan saja,” jawab Li Xian malas. Kemudian, lelaki itu pun menancapkan gas mobil menyusuri jalan komplek dekat mansionnya dengan kecepatan rata-rata tanpa memedulikan panggilan yang masih tersambung. “Oke, serius. Aku hanya ingin mengatakan kalau kau hari ini jangan pulang dulu,” ucap Liu Bai ringan tanpa mengindahkan suara decitan dari rem mobil yang dihasilkan oleh Li Xian. “Ada apa, Xiao Bai?” tanya Li Xian terkejut. Untung saja di belakang mobilnya sedang tidak ada kendaraan apa pun sehingga ia tidak perlu merasa bersalah atas kecerobohan dirinya sendiri yang mengerem tanpa aba-aba terlebih dahulu. Membuat semua pengendara menjadi resah. “Kau tahu? Kedua orang tuamu sedang memaksaku untuk mengatakan semua dengan jujur, termasuk kedekatanmu dengan wanita yang bernama Xiao Na,” jawab Liu Bai membuat lelaki tampan yang berada di seberang telepon langsung mendelik tidak percaya. “Lalu, kau mengatakannya?” “Tidak mungkin. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Lagi pula aku tidak akan mengatakan apa pun yang membuat diriku sendiri merasa terancam. Karena Yushi merupakan sekretaris dari Xiao Na sehingga aku tidak ingin mengambil resiko kalau kekasihku akan menjadi serba salah,” tutur Liu Bai berusaha menjelaskan apa pun yang terjadi. Seketika Li Xian menghela napas lega. Setidaknya Liu Bai masih mau diajak kerja sama, walaupun harus memandang Yushi terlebih dahulu. Akan tetapi, hal tersebut tidak akan menjadi masalah asalkan Liu Bai selalu memihak dirinya. “Baguslah, kalau begitu aku tidak ragu lagi,” balas Li Xian mulai menjalankan mobilnya kembali. Namun, kali ini Li Xian memutar balikkan ke arah lain untuk menghindari mansion yang didiamkan oleh Kedua orang tuanya. Tentu saja mendengar penuturan Liu Bai tadi membuat Li Xian langsung memasang aba-aba untuk menghindar saja. Karena ia sudah tahu apa yang akan terjadi ke depannya. “Sekarang kau mau ke mana?” tanya Liu Bai penasaran. “Entahlah. Aku mencari penginapan saja,” jawab Li Xian tanpa sadar mengangkat bahunya acuh tak acuh. “Kalau begitu, aku kembali ke dalam. Kau jangan pulang sampai besok. Karena aku akan mencari alasan untuk menghindari keadaan seperti ini,” pamit Liu Bai membuat Li Xian langsung mengangguk mengerti. Kemudian, panggilan pun tertutup dengan Li Xian mulai mencari penginapan untuk malam ini. Tentu saja ia menghindari keadaan seperti itu untuk tidak membuat keluarganya semakin mendesak dirinya untuk segera mewariskan perusahaan. Sebab, sang ayah memang sudah beberapa kali mengeluhkan tentang perusahaan yang semakin sibuk. Bukan Li Xian tidak ingin menjadi anak yang berbakti, tetapi ia berusaha untuk tetap membantu orang tuanya melalui Liu Bai. Karena biarpun dirinya tidak menginginkan perusahaan itu, tetapi hak ahli waris akan tetap jatuh pada Li Xian sebagai anak semata wayang dari Keluarga Li. Namun, di tengah perjalanan menuju penginapan yang tidak jauh dari kantor, tiba-tiba ponsel Li Xian kembali berdering. Kali ini terpampang nama Su Yuan di sana, membuat lelaki itu langsung menggeser tombol hijau. “Ada masalah, Su Yuan?” tanya Li Xian tepat teleponnya tersambung. “Tidak ada. Hanya saja aku ingin meminta kau datang ke markas. Sebab, Nana baru datang ke sini dan memarahi beberapa trainer yang tidak mencapai kualitas dari didikannya,” jawab Su Yuan terdengar cemas. “Baiklah. Aku akan ke sana sekarang,” putus Li Xian tanpa memikirkan lagi apa yang ia lakukan setelah mengajarkan mereka. Mungkin dirinya akan memutuskan untuk menginap di sana saja. Lagi pula kamar masih ada yang kosong. Tak lama kemudian, mobil mewah tersebut kembali memasuki basement perusahaan N&N yang terlihat sepi. Karena hari ini sudah sore sehingga banyak karyawan yang sudah kembali. Jadi, tinggallah beberapa mobil perusahaan yang terparkir di sana. Kemudian, Li Xian memasuki elevator yang terlihat kosong menuju lantai bawah tanah tempat para trainer tinggal. Di dalam benda tersebut ia hanya diam sembari sesekali memainkan ponselnya untuk melihat grafik saham dari perusahaan LX Group. Tak lama kemudian, pintu elevator pun terbuka membuat lelaki itu melenggang keluar. Bahkan Li Xian langsung memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. Tentu saja ia melakukan hal tersebut untuk menghindari kecurigaan orang kantor terhadap dirinya. “Direktur Li, kau sudah datang?” tanya Su Yuan mendapati Li Xian melenggang masuk. Seorang lelaki berjas formal itu menoleh ke arah sumber suara. Ternyata, di sana ada Su Yuan tengah memegangi cangkir yang berisikan kopi panas. Ia pun tersenyum singkat, lalu mengangguk mengiakan pertanyaan lelaki itu. “Anak-anak sedang ada di ruang rapat,” ucap Su Yuan lagi. “Baiklah. Aku ke sana,” balas Li Xian tanpa menunggu lama. Sesampainya di ruang rapat, lelaki itu melihat sudah banyak sekali trainer yang berkumpul sembari sesekali melontarkan candaan satu sama lain. Untuk mengisi kekosoangan saat Li Xian datang. Karena dirinya memang lumayan lama melakukan perjalanan dari mansion hingga ke tempat ini. “Apa ini sudah berkumpul semua?” tanya Li Xian memasuki ruangan membuat semua lelaki muda yang ada di dalam terdiam sesaat. “Sudah, Ge,” jawab Mingyu mewakili. “Maaf, tadi agak terlambat. Su Yuan tidak mengatakan padaku untuk mengisi latihan hari ini. Jadi, tadi masih dalam perjalanan pulang sehingga lumayan lama untuk kembali lagi,” sesal Li Xian membuat semua lelaki muda itu spontan menggeleng. “Tidak apa-apa, Ge,” balas 02. Sejenak Li Xian menatap mereka satu per satu sampai tatapannya terhenti pada Grunt yang terlihat sedikit aneh daripada biasanya. Lelaki itu terlihat pucat dengan bibirnya selalu tersungging sebuah senyuman. “Uhm ... Grunt, apa kau sedang tidak enak badan?” tanya Li Xian cemas. “Tidak apa-apa, Ge. Ini sudah biasa,” jawab Grunt berusaha tertawa, meskipun terdengar paksa. “Tapi, wajahmu sangat pucat. Apa tidak sebaiknya istirahat saja?” Li Xian benar-benar merasa cemas melihat Grunt. Sayangnya, lelaki itu tetap bersikeras untuk mengikuti rapat sehingga mau tak mau Li Xian pun mengikuti permintaannya saja. Akhirnya, rapat pun dibuka dengan beberapa kalimat pembuka dan saran dari para trainer untuk melakukan pelatihan pada minggu pertama bulan kedua pada tahun ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN