58. Who This?

1065 Kata
Setelah menyelesaikan rapat yang berlangsung cukup lama, Li Xian pun mengistirahatkan diri di kamar kosong dekat asrama trainee. Di sana, lelaki berjas formal itu sudah meninggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan kemeja putih bersih yang tergulung sampai ke siku. Li Xian terlihat menumpukan kepalanya menatap langit-langit kamar dengan ekspresi wajah datar. Entah kenapa seluruh tubuhnya terasa sangat pegal dan nyeri membuat lelaki itu merasakan kalau tubuh atletis ini sudah berubah menjadi seorang kakek. Terdengar suara ketukan dari luar kamar, membuat fokus Li Xian sejenak terpecah, lalu menatap ke arah pintu yang mulai terbuka pelan. Menampilkan wajah Su Yuan tersenyum jenaka sembari membawakan nampan berisi makanan kotak lengkap dengan minumannya. “Aku tahu kau belum makan, jadi aku bawakan ini,” ucap Su Yuan meletakkan nampan tersebut di atas meja. “Xie xie,” balas Li Xian tersenyum tipis. “Oh ya, aku tadi sempat mendengar perencanaanmu minggu ini,” celetuk Su Yuan mendudukkan diri di sofa panjang, lalu menatap Li Xian serius. “Apa kau yakin akan melakukan semua pelatihan itu? Karena selama perusahaan ini berdiri, aku tidak pernah memberikan pelatihan fisik secara langsung.” Mendengar hal tersebut, Li Xian pun mendudukkan diri di tempat tidur. “Tentu saja aku sangat yakin untuk membuat pelatihan itu. Karena untuk apa kalau kita pintar, tetapi dengan tubuh tidak sehat. Lagi pula aku tidak akan langsung memberikan pelatihan yang berat. Hanya sekedar jogging, push up, sit up, dan skipping.” “Iya aku tahu, tapi kau sangat hebat, Li Xian. Baru menjabat sebagai Direktur Departemen Teknologi sudah mampu mengelola para trainer agar menjadi maju,” puji Su Yuan tersenyum tulus membuat Li Xian hanya tertawa pelan. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan dari pintu kamar membuat kedua lelaki yang ada di dalam sana menoleh sesaat. Terlihat Mingyu dan Demo tersenyum jenaka sembari melenggang masuk membawakan sebuah minuman berbentuk botol. “Xian Ge, kami semua ingin memberikanmu ini,” ucap Demo memberikan sebuah minuman dengan perasa madu membuat Li Xian langsung mengernyit bingung. “Kalian tahu dari mana aku menyukai minuman ini?” tanya Alvaro meraih botol tersebut dengan senyum mengembang. “Benarkah? Itu sangat bagus kalau kau menyukainya, Xian Ge. Karena kita semua mempunyai banyak sekali minuman itu,” jawab Mingyu sangat bersemangat. “Baiklah. Kalau begitu, aku akan memintanya lagi padamu,” canda Alvaro tertawa pelan mengundang tatapan aneh dari Su Yuan. “Kau sangat tidak bermodal, Li Xian,” celetuk lelaki itu tanpa beban. “Memangnya kenapa? Bukankah lebih bagus memanfaatkan fasilitas kantor yang ada?” balas Li Xian tidak mau kalah. “Iya kau benar, tapi aku tidak ingin ikut-ikutan kalau Nana marah saat mengetahui minuman miliknya dihabiskan oleh kau,” cetus Su Yuan membuat kedua alis tebal milik Li Xian langsung bertaut bingung. “Nana menyukai minuman ini?” tanya lelaki itu setengah bergumam. “Iya. Sudah lama sekali dia menyediakan minuman itu. Katanya, untuk mengingatkan diri pada seseorang yang ada di masa lalu. Aku sendiri memang tidak tahu siapa dia, tapi yang jelas hidup Nana berubah total saat lelaki itu pergi,” jawab Su Yuan panjang lebar. Seketika pikiran Li Xian langsung mengarah pada kejadian-kejadian dirinya yang pernah bertemu dengan seorang gadis. Akan tetapi, wajahnya sama sekali tidak terlihat membuat lelaki itu semakin tersiksa. Tanpa sadar membuat Mingyu dan Demo langsung menatap dirinya cemas. “Apa kau baik-baik saja, Xian Ge?” tanya Demo. “Tidak apa-apa. Kepalaku hanya mendadak pusing,” jawab Li Xian lemah. Ia benar-benar merasakan kalau kepalanya ingin pecah. Seketika Su Yuan yang mengetahui situasi itu pun menyuruh Mingyu dan Demo untuk segera keluar dari kamar. Tentu saja agar Li Xian bisa kembali tenang. Karena sejak tadi ekspresi lelaki itu mulai berbeda sehingga mengundang tatapan bingung dari orang sekitarnya. “Kau terlihat tidak baik-baik saja, Li Xian. Apa ingin aku panggilkan dokter?” tanya Su Yuan cemas. Li Xian spontan menggeleng. “Tidak perlu. Aku baik-baik saja. Pusing kepala seperti ini sudah biasa.” Setelah itu, mau tak mau Su Yuan pun mengangguk mengerti apa yang dikatakan oleh lelaki itu. Sebab, ini sudah masuk tengah malam sehingga untuk ke rumah sakit pun agak sulit. Sebagian dari para trainee sudah terlelap dalam tidurnya. “Kalau begitu, kau makan dulu. Habis itu istirahat. Karena aku tahu kalau kau besok memiliki jam terbang yang sangat tinggi sehingga tidak memiliki banyak waktu,” ucap Su Yuan menepuk pundak Li Xian pelan, lalu bangkit dari tepi tempat tidur meninggalkan lelaki itu. Sepeninggalnya Su Yuan yang melenggang keluar, kini tinggalan Li Xian seorang diri di dalam kamar. Merenungkan perkataan Su Yuan tadi. Ia menjadi sangat penasaran dengan apa yang terjadi di kehidupan Xiao Na. Entah kenapa semua kebenaran itu semakin lama membuat dirinya semakin tertarik pada dimensi lain yang tidak kasatmata. “Apa yang sebenarnya terjadi padaku?” tanya Li Xian pada dirinya sendiri. Entah kenapa ia mulai merasa kalau seseorang yang ditunggu Xiao Na adalah dirinya. Sebuah rasa aneh menggelitik mulai terasa di benak lelaki itu. Sehingga terkadang ia mengaitkan pada seseorang yang ada di masa lalunya. Namun sayang, Li Xian sendiri tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Seakan ada kabut putih yang menutupi sebuah kenangan dari masa lalunya hingga membuat lelaki itu merasa kesal sekaligus geram. Lelah mencari semua kebenaran tentang hal ini membuat Li Xian merebahkan diri dengan kasar. Ia ingin menumpahkan semua permasalah yang muncul di benaknya. Karena semua itu sangat mengganggu. Apalagi dalam hal masa lalu dirinya sendiri. Dengan mengusap wajahnya kasar, Li Xian berkata, “Apa yang harus aku lakukan? Kalau masa laluku sendiri saja tidak bisa diingat.” Semakin lama bergelut dengan masa lalu membuat lelaki itu tanpa sadar memejamkan matanya perlahan. Mulai terlelap dalam tidurnya yang panjang. Melupakan semua makanan dan minuman yang telah dibawakan tadi. Seakan perutnya yang tadi keroncongan mulai terisi dengan sangat baik sehingga tidak menimbulkan bunyi kembali. Dan tanpa lelaki itu ketahui, ada sepasang mata yang sejak tadi memperhatikan semua gerak-geriknya. Lelaki yang selama ini telah mengetahui siapa Li Xian sebenarnya. Meskipun lelaki itu tidak mengetahui identitas Li Xian sebagai pewaris tunggal. “Sebentar lagi kau akan mengetahuinya, Li Xian,” gumam lelaki itu pelan membalas semua pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak Li Xian. Kemudian, bayangan hitam yang berada di ambang pintu itu pun mulai menjauhi kamar. Meninggalkan Li Xian seorang diri dengan terlelap di dalam tidurnya. Ia tidak ingin mengganggu lelaki itu sebelum tiba pada waktu yang telah ditentukan. Karena semua ini akan sia-sia kalau dirinya bertindak konyol.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN