59. The Past Is a Memory

1219 Kata
Keesokan paginya, Li Xian pun terbangun akibat alarm yang berbunyi dari ponsel miliknya. Seorang lelaki tampan dengan wajah acak-acakan khas bangun tidur itu tampak terduduk mengusap wajahnya pelan. Kemudian, menatap sekelilingnya yang tampak asing. Seketika ia langsung teringat kalau semalam dirinya memang masih berada di sini. Membuat lelaki itu bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi yang tidak jauh dari dirinya. Di sana terlihat sangat bersih dengan sepasang sikat gigi dan odol baru itu tampak terbungkus rapi. “Selamat pagi,” ucap Li Xian dengan wajah bantal menatap ke arah cermin yang menampilkan wajahnya sendiri. Setelah itu, ia langsung mencuci wajahnya menggunakan air bersih agar terlihat lebih segar. Sebab, pagi ini dirinya harus segera kembali ke kantor agar bisa mengganti pakaian. Untung saja pagi ini Li Xian sudah menyiapkan beberapa pasang pakaian kantor di dalam ruangannya. Bila sewaktu-waktu dalam keadaan darurat dan sangat diperlukan. Di tengah kegiatannya itu, pintu kamar diketuk pelan membuat Li Xian yang baru saja menyelesaikan bersih-bersih menoleh bingung saat mendapati seorang lelaki muda mengenakan jaket berwarna hitam masuk ke dalam sembari membawa paper bag. “Xian Ge, ini pakaianmu,” ucap lelaki muda itu membuat Li Xian mengangguk pelan. “Xie xie,” balas Li Xian tersenyum tipis, lalu melirik bagian dalamnya yang berisikan jas baru lengkap dengan label. “Siapa yang memberikan ini?” “Tadi Xiao Na jie yang mengantarkannya pagi-pagi ke sini,” jawab lelaki itu membuat Li Xian mengangguk mengerti. Kemudian, kedua lelaki itu pun mengundurkan diri dari hadapan Li Xian. Meninggalkan seorang lelaki yang terlihat bingung sembari memegangi paper bag berwarna merah di tangannya. Setelah selesai berganti pakaian, Li Xian merapikan sedikit jambulnya agar terlihat rapi. Ia memang tidak berharap lebih untuk penampilannya hari ini. Sebab, semua serba minim sehingga dirinya harus cepat kembali ke ruangan kerja. “Pagi, Xian Ge,” sapa Feng Zhen saat melihat Li Xian keluar kamar. “Ke mana semua orang?” Li Xian mengangguk pelan, lalu mengitari sekelilingnya yang terlihat kosong. “Ada di gym, Ge,” jawab Feng Zhen menghampiri Li Xian sembari menatap pakaiannya dengan seksama, lalu kembali melanjutkan perkataan, “Sepertinya aku pernah melihat jas ini.” Seketika Li Xian yang mendengar hal tersebut langsung menatap jasnya sendiri, lalu mengernyit bingung melihat tatapan Feng Zhen. “Iya, benar! Aku juga merasa kalau Xiao Na jie memberikanmu jas yang pernah dipakai oleh seseorang dari masa lalunya,” sahut Mingyu yang baru saja turun dari ruang pelatihan. Tentu saja hal tersebut mengundang tatapan penasaran dari Li Xian. Sebab, ia sama sekali tidak tahu kalau Xiao Na akan memberikan pakaian yang sangat berarti di kehidupannya. “Aku jadi penasaran. Apakah Xiao Na jie sudah melupakan lelaki itu,” timpal Feng Zhen penasaran. “Sudahlah, lupakan itu,” putus Mingyu menggeleng pelan untuk mengkode temannya, agar tidak terlalu jauh. Karena siapa pun yang menyindir masalah ini pasti akan mendapat hadiah dari Zhang Xiao Na. Sedangkan Li Xian hanya menghela napas pelan. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi pada masa lalu Xiao Na. Karena dirinya hadir untuk masa depan. Sehingga menjadikan masa lalu hanya kenangan saja, tidak untuk dijadikan panutan lagi. “Uhm ... Su Yuan, ke mana?” tanya Li Xian yang sejak tadi belum melihat manager dari kedua lelaki muda di hadapannya. “Aku tidak tahu, tapi terakhir kali aku melihatnya di ruang kerja,” jawab Mingyu mengangkat kedua bahunya. “Sepertinya Manager Su sedang mengadakan konferensi telepon. Karena beberapa hari ini aku selalu melihat dia sibuk dengan ponselnya sendiri,” sahut Feng Zhen mengundang tatapan penasaran dari Li Xian. “Kalau begitu, aku pergi dulu. Masih banyak sekali pekerjaan yang belum aku selesaikan hari ini,” pamit Li Xian melenggang pergi meninggalkan mereka berdua. Sepeninggalnya Li Xian, kedua lelaki mudah itu tampak berpandangan satu sama lain. Menyiratkan sebuah tatapan penuh makna di sana. Akan tetapi, hanya mereka berdua yang mengetahuinya. Sementara itu, di dalam elevator yang mulai merangkak naik dengan berisikan seorang lelaki tampan menatap pintu di hadapannya. Pikiran lelaki itu mulai dipenuhi berbagai pertanyaan yang mulai hinggap. Hanya karena mendengar perkataan aneh dari trainee Feng Zhen dan Mingyu. Tak lama kemudian, pintu pun terbuka menampilkan wajah seorang gadis yang terlihat ramah menatap dirinya. Itu adalah Tong Xin. Sepertinya, ia hendak menuju ruangan Xiao Na. Karena hanya elevator ini yang bisa menembus lantai tak berujung itu. “Tong Xin, apa kau ingin bertemu dengan Presdir Zhang?” tanya Li Xian melangkah keluar dari benda berbentuk kotak tersebut. “Iya, Direktur Li. Aku harus memberikan beberapa berkas yang harus ditanda tangani,” jawab Tong Xin tersenyum ramah. “Kalau begitu, aku duluan,” pamit Li Xian melenggang pergi dengan langkah lebar menuju ruangannya sendiri yang tidak jauh dari elevator tersebut. Sedangkan Tong Xin hanya mengangguk pelan, dan mulai memasuki benda kosong yang berbahan logam anti karat. Jemari lentiknya memencet salah satu tombol berisikan angka menuju tempat kediaman yang paling ditakuti oleh semua orang. Sebab, siapa pun yang menuju ke atas, maka dia bermasalah. Akan tetapi, semua itu tidak berlaku bagi Tong Xin yang sudah biasa ke sana tanpa melakukan kesalahan apa pun. Karena dirinya diangkat menjadi sekretaris umum dari presiden perusahaan ini. Tentu saja semua itu berkat kegigihannya dalam bekerja sehingga bisa menjabat dengan dua departemen sekaligus. Meskipun ada beberapa pekerjaan yang dilakukan oleh Yushi seorang diri. Mungkin bagi sebagian orang merasa kalau menjadi Tong Xin adalah impian dari siapa pun. Mendapat jabatan bergensi dan ditakuti oleh semua departemen. Akan tetapi, tidak ada yang menyangka kalau semua itu sangatlah berat. Apalagi untuk ukuran mahasiswi yang baru saja mengejar sarjana ekonomi dengan IPK lumayan besar. Sesampainya di lantai tujuan, Tong Xin pun melangkahkan kaki keluar dari benda tersebut menuju pintu besar yang berada di paling ujung lantai ini. Terlihat beberapa karyawan tengah sibuk mengetikkan sesuatu di layar komputer besar tersebut. Suara mesin ketik dan beberapa deringan telepon mengisi kekosongan lantai ini. Mereka semua terbiasa bekerja dalam keadaan sepi, karena tidak ingin terkena masalah oleh wanita yang bersembunyi di balik pintu besar berkayu tersebut. “Xiao Tong Xin!” panggil seorang wanita cantik yang berada tidak jauh dari posisinya. “Yushi jie, ada apa?” tanya Tong Xin. “Apa kau ingin masuk ke ruangan Presdir Zhang?” “Iya, aku memerlukan beberapa tanda tangan berkas yang harus diserahkan besok.” “Presdir Zhang sedang mengadakan konferensi telepon, jadi kau letakkan saja di mejanya.” “Baiklah. Aku tidak akan menganggu pekerjaan Presdir Zhang.” Setelah mengatakan hal tersebut, Yushi pun mengangguk singkat dan mempersilakan untuk sekretaris mungil itu masuk ke dalam ruangan presiden dari perusahaan ini. Seorang wanita yang keputusannya sangat dihormati oleh siapa pun. Bahkan tidak ada yang berani menganggu gugatnya. Dan benar saja, tepat ketika Tong Xin masuk, terlihat kursi kebesaran itu membelakanginya. Menandakan wanita berwajah dingin nan angkuh itu tengah sibuk dan tidak ingin diganggu. Sesuai dengan perintah Yushi tadi, Tong Xin pun meletakkan berkas yang tadi ia pegang ke atas meja. Di sana terlihat banyak sekali tumpukan berkas yang belum ditanda tangani. Padahal hari ini sudah waktunya untuk menyerahkan berkas tersebut. “Yushi, apa itu kau?” tanya Xiao Na membalikkan kursinya membuat Tong Xin mendelik tidak percaya dan spontan membungkuk hormat. “Presdir Zhang, ini aku Tong Xin,” jawab gadis itu meringis pelan. “Baiklah. Aku tahu,” putus Xiao Na mengangguk singkat, lalu kembali berkata, “Tolong panggilkan Yushi ke sini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN