7. Interview

1085 Kata
“Presdir Zhang, jadwal hari ini hanya menyeleksi karyawan baru dan menandatangani beberapa berkas kontrak kerja,” ucap Yushi sembari membaca agenda seperti biasa. “Baik. Aku tahu,” balas Xiao Na singkat. Setelah itu, Yushi tersenyum tipis sembari memundurkan diri dari hadapan bos cantiknya. Hari ini ia bisa bersantai sedikit, sehabis kemarin berjuang demi kelancaran siaran langsung tersebut, dan untuk masalah Direktur Zhao sampai hari ini ia belum juga mengetahui kabarnya. Bahkan Zhang Xiao Na sama sekali tidak menyinggung lelaki itu, membuat batinnya sedikit tidak mengerti. Sepeninggalnya Yushi, Zhang Xiao Na langsung meraih ponselnya, lalu menelepon seseorang yang berada di seberang sana. Wajah wanita itu terlihat datar sekaligus menyeramkan. Sebab, hari ini ia akan membuat perhitungan dengan Direktur Zhao yang sudah berani berbuat macam-macam di perusahaannya. Tidak ada yang tidak diketahui Zhang Xiao Na. Mungkin karyawannya sendiri tidak mengetahui bahwa dirinya telah memasang banyak cctv tersembunyi. Maka dari itu, kali ini ia tidak akan melepaskan Direktur Zhao begitu saja setelah mengalami gangguan seharian penuh. “Lakukan sekarang!” titah Xiao Na tegas, lalu mematikan ponselnya secara sepihak. Tak lama kemudian, sebuah telepon masuk. Zhang Xiao Na melihat nama kakaknya yang tertera di sana. Tanpa pikir panjang ia langsung mengangkat telepon tersebut, sebab ia sangat yakin kalau kakaknya itu pasti menanyakan masalah sabotase kantor kemarin. “Kenapa, Kak?” tanya Xiao Na sembari menempelkan ponselnya di telinga kanan. “Xiao Na, benarkah apa yang ingin kau lakukan hari ini?” Suara Zhang Xiao Wei terdengar cemas, membuat Xiao Na tersenyum miring. Senyuman yang membuat siapapun bergidik ngeri saat melihatnya. “Lihat saja nanti.” “Mengapa kau begitu bersikeras untuk membalasnya, Xiao Na? Lagi pula siaran langsung kemarin berjalan dengan lancar, bukan? Sudahlah lupakan itu.” “Apa katamu? Lupakan? Mimpi! Aku tidak ingin membuat orang yang sudah membuat perusahaanku hampir mengalami kerugian pergi begitu saja. Biarkan dia menikmati hidupnya selama masih di dunia, sebelum aku mengambil semuanya dengan lebih kejam dari apa yang dia lakukan padaku.” Zhang Xiao Wei menghela napas pelan sembari melangkah ke arah dinding kaca perusahaan orang tuanya. Wajah lelaki dewasa itu terlihat khawatir saat mendapat kabar bahwa hari ini Xiao Na akan membalaskan dendam pada Direktur Zhao. “Baik. Itu terserah kau, Xiao Na. Oh ya, hari ini jangan lupa pulang ke rumah. Mama sama Papa mengadakan makan malam besar.” “Rencana apa lagi yang tengah mereka rencanakan?” “Hanya makan malam, Xiao Na. Sudahlah jangan menghindari mereka.” “Baiklah, setelah selesai urusan kantor aku akan pulang. Kakak ipar minta dibawakan apa?” “Kau ini selalu saja memperhatikan kakak ipar, padahal akulah kakak kandungmu.” “Kau sudah besar tidak usah manja.” “Kakak ipar tidak ingin apa-apa, selain kau pulang dengan selamat sampai rumah.” “Baiklah, aku pulang malam ini.” Setelah itu, Xiao Na memutuskan panggilannya dan kembali berkutat dengan beberapa kontrak kerja yang harus ia tandatangani. Namun, pikirannya mengarah pada Direktur Zhao yang selama beberapa hari ini menikmati libur panjang tanpa diganggu gugat oleh dirinya. “Tidak semudah itu kau lepas dariku, Zhao Yuan,” gumam Xiao Na tersenyum iblis. Akan tetapi, senyum Xiao Na luntur saat pintu ruangannya bergerak terbuka. Di sana terdapat Tong Xin yang tersenyum tipis menatap dirinya sembari membawa beberapa berkas. Kedua alis Xiao Na menukik bingung, sebab ini bukanlah jadwal interview karyawan baru, tetapi sekretaris personalia sudah masuk. “Presdir Zhang, maaf menganggu. Jadwal interview dimajukan, jadi aku ke sini membawa beberapa berkas orang yang akan kau seleksi nanti,” ucap Tong Xin menghampiri Xiao Na sembari menyerahkan berkas tersebut. Zhang Xiao Na mengangguk pelan, kemudian meraih berkas tersebut. Matanya melihat ada tiga buah berkas. Pantas saja hari ini kakaknya meminta dirinya untuk datang ke rumah. Pasti sudah mendapatkan semua informasi dari Yushi. Menyebalkan sekali. “Baiklah. Aku tahu,” balas Xiao Na mengangguk singkat. Tong Xin bernapas lega melihat bosnya yang tidak memasang wajah kesal. Padahal ia pikir awalnya Zhang Xiao Na akan memaki-maki, sebab jadwal interview memang dimajukan lebih awal daripada seperti yang diagendakan. Tanpa pikir panjang, Tong Xin langsung melesat cepat dari ruangan itu, dan berniat memberitahu Yushi kalau Xiao Na menyetujuinya. “Bagaimana?” tanya Yushi tidak sabaran. “Oke,” jawab Tong Xin tersenyum senang. Yushi mengangguk senang, lalu menghampiri para calon interview yang duduk di kursi tamu. Ia memasang wajah tenang sekaligus tegas. Sebuah tameng yang selalu Gao Yushi perlihatkan pada mereka yang belum mengenal dirinya. “Mari, sekarang giliran interview oleh Presdir Zhang,” ucap Yushi membuat salah satu dari mereka mendelik tidak percaya. “Apakah harus diseleksi seperti itu?” tanya salah satu dari mereka. “Harus. Sudah menjadi prosedur perusahaan,” jawab Yushi tenang. Setelah itu, Yushi meninggalkan ketiganya yang masih terduduk di kursi tamu. Walaupun telinganya mendengar bisikan yang mengatakan bahwa Zhang Xiao Na itu kejam dan tanpa ampun, membuat karyawannya tidak betah sehingga memutuskan melakukan pengunduran diri. Namun, itu semua dari mereka yang tidak tahu kebenarannya. Nyatanya pihak Zhang Xiao Na-lah yang dirugikan akibat pemecatan itu. Sebab, Yushi harus bersusah payah mencari alat sehingga membuat Zhang Xiao Na turun tangan sendiri mengoptimalkan alat tersebut agar lebih cepat digunakan. Sesampainya di depan ruangan Zhang Xiao Na, wajah mereka terlihat pucat. Aura dingin dari wanita itu menguar jelas, membuat mereka ketakukan. Apalagi ini bukanlah interview jabatan biasa, melainkan sebuah posisi jabatan paling bergengsi. Satu per satu dari mereka pun masuk ke dalam ruangan Zhang Xiao Na. Akan tetapi, tidak sampai hitungan ke sepuluh mereka sudah kembali keluar, membuat Yushi tersenyum miring. Kemudian, tibalah saatnya Li Xian. Salah satu dari tiga lelaki yang menjadi pelamar perusahaan N&N. Lelaki itu mengenakan jas formal cukup mahal dengan sepasang sepatu hitam yang menghiasi kedua kakinya, lalu di punggung kokoh lelaki itu terdapat tas punggung berwarna senada dengan sepatunya. Perlahan Li Xian masuk ke dalam ruangan Zhang Xiao Na yang diikuti Yushi dari belakang. Sedangkan Tong Xin mempersilakan pelamar yang gagal untuk kembali ke rumah. Zhang Xiao Na terlihat memunggungi keduanya, membuat Li Xian tidak dapat melihat wajah cantik itu. Padahal ia sangat berharap bisa melihatnya walaupun sekilas. “Silakan perkenalkan diri,” ucap Yushi sembari melangkah mendekati Zhang Xiao Na, lalu membuka berkas yang menjadi CV lelaki itu. “Namaku Li Xian. Lulusan master ganda dari Massachusetts Institute of Technology. Aku baru saja pindah dari Korea Selatan untuk datang ke sini menjadi pelamar,” ucap Li Xian singkat, padat, dan jelas. “Mengapa kau jauh-jauh dari Korea Selatan ke sini hanya untuk bekerja?” tanya Zhang Xiao Na mulai bersuara. Akan tetapi, ia belum juga memutar kursinya menghadap Li Xian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN