Mungkin bagi sebagian orang hidup seperti Zhang Xiao Na adalah sebuah impian. Menduduki jabatan besar, dihormati semua orang, dan siapapun tidak akan ada yang berani dengan dirinya. Bahkan keluarganya sendiri.
Akan tetapi, di balik semua kesuksesan itu tidaklah mudah. Terlebih dirinya mengalami jatuh-bangun selama membesarkan perusahaan, dan ia hanya mengandalkan dirinya sendiri untuk bangkit. Tidak ada orang yang mau mengulurkan tangan untuk dirinya yang masih berada di titik paling rendah.
Maka dari itu, sulit sekali bagi Zhang Xiao Na terbuka pada siapapun selain timnya sendiri. Tidak adil memang untuk kedua sekretarisnya yang begitu baik. Namun, entah kenapa ia masih belum nyaman, meskipun sudah sepuluh tahun bersama dirinya. Lain halnya dengan Tong Xin yang baru menetap beberapa tahun setelah lulus dari perguruan tinggi.
Dan kini semuanya terbukti, nyatanya tidak akan ada orang yang bisa ia percayai walaupun karyawannya sendiri. Pelajaran itu Xiao Na dapat setelah memecat seorang direktur paling penting di perusahaan. Semua itu juga ia lakukan demi keberlangsungan perusahaannya. Untuk apa ia menggaji orang pemalas seperti Direktur Zhao? Lagi pula banyak tenaga kerja pengangguran yang jauh lebih membutuhkan uangnya daripada lelaki paruh baya itu.
Jadi, jangan salahkan Xiao Na kalau bertindak tegas pada siapapun yang tidak ingin bekerja kembali. Sebab, ia telah melakukan surat peringatan berkali-kali, tetapi tidak ada satu pun janji yang Direktur Zhao tuntaskan.
Setelah puas berputar-putar di atas kursi kebesarannya, Xiao Na bangkit dan meraih jas formalnya. Ia berniat ke ruang alat. Masalah ini memang tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut masalah image perusahaan yang terkenal baik dan tidak pernah mengecewakan. Bahkan perusahaan sering kali mendapat sebutan ‘Jalan ninjaku adalah bergabung dengan internet N&N.’
Tepat ketika dirinya keluar dari ruangan, tiba-tiba karyawan yang tadinya ramai seperti pasar mendadak senyap. Mereka kompak membungkukkan tubuhnya saat Zhang Xiao Na melintas tanpa menoleh sedikit pun, hanya Tong Xin yang berani menghampiri wanita itu. Karena ia memang sempat ditolong oleh Xiao Na, meskipun terlihat dingin dan kejam.
“Presdir Zhang, apakah kamu ingin ke ruang alat?” tanya Tong Xin menyamai langkah Xiao Na.
Zhang Xiao Na mengangguk pelan tanpa berniat bersuara menjawab pertanyaan dari sekretaris personalia sekaligus pengatur keuangan perusahaannya. Tidak ada sekretaris Xiao Na yang terlihat santai, sebab mereka dituntut untuk menjadi sebuah mesin tanpa lelah.
Keduanya pun melangkah ke arah ruang alat yang cukup jauh dari ruangan utama perusahaan. Meskipun jauh, tidak membuat Xiao Na memperlambat langkah kakinya. Padahal Tong Xin sendiri sudah melambat dan meringis pelan mengusap betisnya yang terasa kaku. Sepertinya gadis itu harus sering-sering berolahraga agar tidak menyusahkan seperti ini.
Sesampainya di ruang Departemen Teknologi, semua karyawan yang mengalungi kartu kunci terlihat membungkuk ke arah Zhang Xiao Na yang melangkah ke arah kursi Direktur Teknologi kosong, lalu mendudukkan diri di atas meja.
Zhang Xiao Na menatap seluruh teknisi termasuk Tong Xin yang berada di antara mereka. Wanita cantik itu melipat kedua tangannya di depan d**a sembari menatap mereka datar.
“Bagaimana kalian semua bisa tidak ada yang mengetahui masalah ini?” tanya Zhang Xiao Na dengan nada sedikit kesal, membuat bulu kuduk mereka yang mendengarnya mulai berdiri ketakutan.
“Maafkan kami, Presdir Zhang. Sebenarnya, ini di luar kendali kita semua. Karena Direktur Zhao juga memiliki kunci yang sama seperti kami,” jawab salah satu dari mereka membuat Zhang Xiao Na memutuskan untuk menatap orang tersebut.
“Ruang alat disabotase orang perusahaan. Seperti itu maksud kamu?” sinis Zhang Xiao Na.
Seluruh karyawan itu kembali menunduk tanpa ada yang berani menatap Zhang Xiao Na.
“Saya maafkan, karena ini baru pertama kalinya perusahaan mengalami kecolongan di ruang alat. Tapi ... untuk lain waktu, saya tidak akan bertanggung jawab lagi atas kerugian yang kalian ciptakan.”
Zhang Xiao Na memberi keringanan pada mereka, membuat semuanya bernapas lega, termasuk Tong Xin.
“Karena ... pada peraturan selanjutkan akan saya berlakukan bagi semua yang ada di sini tidak sembarangan orang masuk lagi ke ruang alat, selain teknisi.”
“Baik, Presdir Zhang!” jawab mereka serentak.
“Kalau sampai ada yang terlibat seperti ini lagi, saya tidak akan segan-segan memecat mereka. Meskipun kalian adalah karyawan tetap perusahaan,” ancam Zhang Xiao Na tajam, membuat mereka semua bergidik ngeri dan lebih baik menghindari masalah.
Biarpun Zhang Xiao Na terlihat kejam, tetapi bagi mereka pemimpinnya bukanlah orang seperti itu. Sebab, wanita itu tidak akan menyulitkan siapapun kalau mereka memang bersungguh-sungguh dalam bekerja.
Setelah itu, Zhang Xiao Na meninggalkan Departemen Teknologi bersama Tong Xin. Sekretaris personalia perusahaan itu terlihat begitu ceria melihat pemimpinnya tidak lagi memecat dengan mudah. Meskipun ini cukup merugikan perusahaan, sebab harus kembali membeli alat yang harganya bisa sampai ratusan juta yuan.
“Tong Xin, setelah ini saya ada rapat dengan QuanSheng Group. Tolong persiapkan semua bahan rapatnya, dan antarkan ke ruangan saya sekarang!” titah Zhang Xiao Na.
“Baik, Presdir Zhang,” balas Tong Xin memisahkan diri dari Zhang Xiao Na dan mulai bergegas kembali ke ruangannya mempersiapkan seperti apa yang diminta tadi.
Sebenarnya, Zhang Xiao Na tidak berniat kembali ke ruangan, melainkan ia ingin membuat segelas kopi untuk dirinya yang merasa sangat lelah ini. Kemungkinan akibat delay dari Norwegia ke China sehingga ia merasakan tidak mengenakkan di tubuhnya. Akan tetapi, untuk memejamkan mata rasanya Xiao Na tidak bisa, masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan hari ini.
Di ruang istirahat kantor hanya ada beberapa dari mereka yang telihat membuat kopi, mungkin hari sudah siang membuat mereka harus menghilangkan rasa jenuh. Akan tetapi, ia sama sekali tidak melihat dari mereka yang mengisi ruangan istirahat ini. Padahal biasanya terlihat sangat ramai, walaupun ia sendiri tidak tahu karyawan itu dari mana asalnya.
Perlahan Zhang Xiao Na mulai mengambil salah satu cangkir berwarna putih dan meletakkannya di atas meja, lalu meraih toples yang berisikan kopi bungkus tanpa gula dengan ukuran cangkir kopi. Dengan jemari lentiknya, Xiao Na mulai membuka bungkus tersebut menggunakan gunting, diikuti dengan gula instan yang berbentuk panjang.
Asap mengepul mulai mengisi segelas cangkir kopi nikmat milik Xiao Na. Kemudian, ia melenggang pergi ke ruangan untuk berkutat dengan tumpukan kertas yang tidak ada habisnya. Bahkan ia sendiri menjadi tidak mengerti, mengapa pekerjaan di perusahaan selalu saja banyak. Tidak pernah sekalipun ia melihat ada mesin kopian yang ada di ruang percetakan itu menganggur.
Tong Xin yang baru saja kembali dari ruangan Zhang Xiao Na pun terkejut melihat bosnya tengah membawa segelas cangkir kopi yang seharusnya menjadi pekerjaan dirinya atau pun Yushi.
“Astaga, Presdir Zhang! Kau bisa menyuruhku untuk membuatnya,” ucap Tong Xin menghampiri Zhang Xiao Na panik.