5. Cooperation Agreement

1095 Kata
“Begini saja, untuk formalitas. Bagaimana kalau kita bertemu? Sekaligus membicarakan masalah pembelian alat ini. Rasanya tidak sopan bagi perusahaan kami kalau tidak bertemu secara langsung.” Yushi terdiam beberapa saat menunggu jawaban dari sang penelepon. Telinganya tidak mendengar sama sekali suara dari seberang sana, membuat wanita itu menjauhkan teleponnya dan melihat layar ponsel yang masih tersambung beberapa menit. “Baiklah.” “Kalau begitu, kita bertemu di kafe persimpangan jalan Bantian Baoshan.” “Hao. Sampai jumpa di sana.” Setelah itu, Yushi pun menutup teleponnya dan bernapas lega. Semoga pertemuan ini akan membawa kabar baik. Tanpa pikir panjang, ia pun bergegas meraih tas selempangnya dan beberapa map yang telah disiapkan untuk perjanjian pembelian alat. Untung saja kala itu dirinya meminta Tong Xin membuat lebih banyak sehingga ia tidak perlu mencetaknya lagi. Namun, sebelum itu Yushi berpamitan dengan Zhang Xiao Na yang masih setia di dalam ruangannya sembari memikirkan cara agar siaran langsung hari ini lancar tanpa kendala. “Presdir Zhan! Aku ingin keluar sebentar. Ada salah satu perusahaan yang menawarkan alatnya,” ucap Yushi sejujurnya. “Hao. Hati-hati di jalan,” balas Zhang Xiao Na mengangguk singkat. Namun, diam-diam ia bernapas lega mendengar perkataan Yushi. Sedangkan di sisi lain, terlihat seorang lelaki tampan tengah membujuk salah seorang lelaki berpakaian formal. Lelaki itu adalah Li Xian. Ia tengah membujuk ayahnya sendiri untuk segera menemui Yushi. Sebab, ia tidak mungkin menemui wanita itu sendirian. “Pah!” “Tidak, Li Xian!” “Hao. Kalau begitu, aku akan membujuk Liu Bai.” Li Xian pun melenggang pergi meninggalkan ayahnya yang sibuk meminum teh di balkon. Padahal hari ini seharusnya lelaki tua itu bekerja, tetapi entah alasan apa tiba-tiba memutuskan untuk mogok kerja dan malah mengacaukan semua rencana Li Xian. Namun, bukan Li Xian namanya kalau lelaki itu kehabisan akal. Ia langsung memutuskan untuk menemui Liu Bai yang ternyata berada di ruang tengah sedang bermain dengan kucing kesayangannya, Maomao. “Liu Bai!” panggil Li Xian dari lantai dua. Merasa namanya dipanggil, Liu Bai pun mendongak sembari menghela napas pelan mendapati Li Xian yang tersenyum, lalu menuruni tangga dengan cepat. “Ada apa lagi?” “Kau berjanji untuk selalu membantuku, bukan?” “Apa? Aku tidak akan membantumu kalau itu merugikan.” “Percayalah! Ini mudah sekali.” “Membantu apa?” “Bagaimana kalau kau menggantikan aku untuk bertemu transaksi penjualan alat?” “Ni feng le ma!?” Liu Bai mendelik menatap kegilaan Li Xian yang tidak pernah ada habisnya. Lelaki itu selalu menemukan cara-cara aneh membuat orang yang ada di sekitarnya merasa tidak percaya akan kecerdasan yang dimiliki Li Xian. (Apa kamu gila!?) “Han mei you. Ayolah, kau harus membantuku kali ini.” (Belum) “Kenapa kau tidak ke sana sendiri?” “Kau tahu sendiri Rubah Tua itu tidak akan membantuku. Hanya kau, Liu Bai. Satu-satunya sahabat terbaikku.” “Cih, kemana saja kau selama ini.” “Dang ran le, wo bu hui wang ji ni. Ni xiang qu dai wo, shi ma?” (Tentu saja, aku tidak akan melupakanmu. Jadi, kau mau menggantikanku, bukan?) “Hao ba, dan ni yao xian da ying wo.” (Boleh, tapi kau harus berjanji dulu padaku) “Cepat, katakan! Lama-lama kau menjadi Rubah Tua itu kebanyakan permintaan.” Li Xian menatap asisten pribadinya sinis. Sepertinya Liu Bai terlalu lama mengikuti ayahnya menjadi seperti itu. Sangat menyebalkan. “Mudah saja. Kau harus mengajak diriku kemana pun kau pergi. Bagaimana?” “Ap-apa!? Kau ingin menjadi penguntitku?” seru Li Xian mendelik tidak percaya. “Ish! Maksudku, kau harus mengajak kau pergi keluar, meskipun kau sedang kencan,” ralat Liu Bai sembari memutar bola matanya malas. “Astaga, Liu Bai! Lebih baik kau mencari wanita untuk kau kencani daripada merusak acara kencanku dengan segudang tugas yang diberikan Rubah Tua itu. Tidak ada!” “Baik. Aku tidak akan membantumu,” ucap Liu Bai kembali bermain bersama Maomao, membuat Li Xian mengacak rambutnya kesal. “Hao le! Aku berjanji akan mengajakmu.” “Nah, begitu kan mudah! Kalau begitu, aku pergi dulu, ya?” Li Xian mencibir pelan menirukan Liu Bai berbicara, lalu mendengus kesal menatap punggung lelaki itu yang perlahan menjauhi dirinya. Akan tetapi, senyumnya seketika melebar melihat Maomao yang menatapnya dengan mata mengerjap lucu. “Maomao, kamu lucu sekali,” puji Li Xian menggendong kucing kesayangannya masuk kembali ke atas. Sedangkan Liu Bai yang mendapat suruhan untuk menemui sekretaris pun mau tidak mau ia harus menurutinya. Perjanjian tadi hanyalah semata-mata untuk dirinya yang selalu dimanfaatkan oleh Li Xian. Tak sampai lama, ia pun tiba di tempat pertemuan yang telah diberitahu Li Xian. Namun, di sana hanya ada segelintir orang membuat Liu Bai mencari-cari sesosok yang seperti diceritakan oleh Li Xian. Akan tetapi, pandangannya terpaku pada salah satu wanita yang duduk diantara beberapa meja. Wanita itu memakai pakaian formal berwarna abu-abu dengan rambut yang terikat rapi. Namun, batinnya langsung mengatakan kalau Li Xian sebenarnya mendapat janji pertemuan dengan wanita itu. Merasa diperhatikan, Yushi langsung mengangkat kepalanya dan menatap seorang lelaki gagah memakai jas masuk ke dalam memperhatikan dirinya. Seketika ia langsung teringat dengan janji pertemuan tadi. “Di sini!” ucap Yushi sembari mengangkat tangannya melambai ke arah Liu Bai. Sejenak Liu Bai mendelik, ia tidak percaya akan bertemu wanita itu lagi di sini. Akan tetapi, yang membuat dirinya tidak mengerti adalah mengapa wanita itu tidak mengenali dirinya? “Presdir Li,” sapa Yushi bangkit dari tempat duduknya. Liu Bai yang awalnya terkejut pun buru-buru menetralkan ekspresinya. “Maaf, Presdir Li sedang sibuk. Jadi, saya selaku asisten pribadinya yang menggantikan.” Yushi tersenyum singkat, dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Li Bai. “Yushi, sekretaris pribadi Zhang Xiao Na.” “Liu Bai,” jawab Liu Bai sekenanya dan membalas jabatan tangan Yushi yang terlihat melebarkan matanya walaupun samar. “Baik. Langsung pada poin intinya, perusahaan kami memiliki beberapa prosedur pembelian alat untuk teknisi, dan harus menandatangani sebuah perjanjian,” ucap Yushi professional sembari mengeluarkan sebuah map. “Perjanjian apa itu?” tanya Liu Bai penasaran. Sebenarnya, ia penasaran dengan prosedur rumit yang dikembangkan dari Zhang Xiao Na. Seorang wanita tangguh yang menjadi aspek penting di internet China. “Silakan dibaca!” Yushi memperlihatkan sebuah lembaran perjanjian yang perlu ditandatangani kedua belah pihak. Di perjanjian itu terdapat beberapa pasal dan rentetan kalimat padat, lalu di bawahnya terdapat dua kolom tanda tangan pihak pertama dengan pihak kedua. Liu Bai membacanya dengan seksama, walaupun sesekali melirik Yushi yang asyik meminum kopi. “Baik, perjanjian ini bisa disetujui,” putus Liu Bai setelah selesai membaca. “Kalau begitu, silakan tanda tangan dan aku akan men-scan WeChat kamu untuk melakukan pembayaran,” balas Yushi memberikan pulpen berwarna hitam yang elegan bertuliskan ‘N&N’ di sekitar body pulpen. Liu Bai mulai membubuhkan tanda tangan, lalu menempelkan jemari jempolnya hingga terlihat jelas sidik jarinya di sekitar tanda tangan tersebut. Setelah itu, ia memberikannya pada Yushi yang langsung ditandatangani dan mengikuti hal yang sama seperti dirinya lakukan. “Senang bekerja sama denganmu,” ucap Yushi bangkit dari tempat duduknya sembari mengulurkan tangan ke arah Liu Bai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN