Malam itu… Zayn memutuskan untuk tidak kembali. Sebuah hotel di kota kecil itu menjadi pilihannya. Setelah semua urusan check-in selesai, mereka akhirnya berada di dalam kamar. Sunyi. Namun bukan sunyi yang menenangkan. Zayn berdiri di dekat jendela. Tatapannya kosong. Namun pikirannya... penuh. Bayangan itu terus muncul. Rian. Dan kata-katanya. “Om Pram, mau jadi papa Rian?” Rahang Zayn mengeras. Tangannya mengepal. Seketika, emosinya kembali naik. “Tidak masuk akal…” gumamnya pelan. Andre yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya, menghela napas. “Tuan harus tenang.” Zayn langsung menoleh. Tatapannya tajam. “Bagaimana aku bisa tenang?” Suaranya naik. “Bisa kau bayangkan...?” ia tertawa pendek, sinis, “anak itu… mencari ayah lain.” Andre terdiam. Namun Zayn

