Bab 2 - Kembali Sebagai Penguasa

1782 Kata
Bagian 1 – Langkah di Atas Panggung Dunia Lampu kristal raksasa berkilauan di langit-langit ballroom hotel berbintang lima itu. Ruangan penuh oleh para pebisnis, pengusaha internasional, diplomat, dan wartawan dari berbagai negara. Malam itu adalah perhelatan besar: Konferensi Ekonomi Asia Pasifik. Semua orang menanti pidato pembuka seorang tokoh baru yang tiba-tiba menguasai pasar dengan kekuatan besar: Arsen Dirgantara, CEO muda yang namanya mendadak mendominasi berita bisnis dalam dua tahun terakhir. Langkah Arsen terdengar mantap ketika memasuki ruangan. Jas hitamnya terjahit sempurna, dasi perak terikat rapi, sepatu kulit mengkilap memantulkan cahaya. Wajahnya tegas, garis rahang tajam, tatapan dingin menembus siapa saja yang berani menatap balik. Ia seperti magnet yang memaksa semua orang memperhatikannya. Bisikan-bisikan kagum langsung terdengar. “Dia masih muda, tapi sudah menguasai pasar energi.” “Lihat sorot matanya… pria itu bukan orang biasa.” “Aku dengar perusahaannya menelan tiga konglomerasi besar hanya dalam satu tahun.” Arsen tidak tersenyum. Bibirnya tetap datar, seolah senyum adalah sesuatu yang tak perlu ia buang untuk dunia. Ia berjalan melewati kerumunan, setiap langkahnya seakan menegaskan: inilah penguasa baru yang tidak bisa ditantang sembarangan. Ketika naik ke podium, sorot lampu menyorotinya. Jurnalis sibuk mengangkat kamera, kilatan blitz menyambar-nyambar. Arsen menatap ruangan luas itu, sejenak diam, lalu membuka pidatonya dengan suara berat dan tenang. “Dunia tidak lagi milik mereka yang hanya berani bermimpi,” katanya. “Dunia adalah milik mereka yang berani mengambilnya, meski dengan darah dan luka.” Semua hadirin terdiam. Kata-katanya terdengar lebih seperti peringatan daripada motivasi. Tetapi itulah yang membuatnya berbeda: Arsen tidak berbicara untuk menyenangkan, melainkan untuk menguasai. Dalam diamnya, bayangan masa lalu menyelinap ke benaknya. Malam penuh hujan. Rumah besar keluarganya terbakar. Suara jeritan ibunya. Tawa dingin seorang pria yang dulu menghancurkan segalanya. Arsen kecil berdiri tanpa daya, tubuhnya gemetar, namun matanya bersumpah: “Suatu hari aku akan berdiri di atas mereka. Suatu hari, mereka akan sujud di kakiku.” Kini, sumpah itu nyata. Di hadapan dunia, ia bukan lagi anak yang hancur. Ia adalah penguasa. Pidatonya berlanjut, penuh kekuatan, tanpa ragu. Para pengusaha senior terpaksa mengangguk, beberapa bahkan bertepuk tangan. Di mata mereka, Arsen bukan sekadar pebisnis muda, melainkan ancaman nyata yang harus diakui. Di kursi belakang, diam-diam, Alena Prameswari ikut menjadi saksi. Ia hadir sebagai staf salah satu perusahaan partner acara. Saat melihat Arsen berdiri di podium, tubuhnya membeku. Tatapan itu… meski kini penuh wibawa, ia tak akan pernah salah mengenali. Dialah pria itu… pria yang dulu muncul dalam hidupnya, di malam penuh luka. Alena menunduk, dadanya berdebar. Dunia mungkin melihat Arsen sebagai penguasa, tapi ia tahu… di balik sorot mata dingin itu, tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam: luka dan dendam. --- Bagian 2 – Senyum yang Disembunyikan Konferensi berakhir dengan tepuk tangan meriah. Musik instrumental mengalun pelan, menandai dimulainya acara jamuan makan malam. Para tamu undangan sibuk bercengkerama, saling bertukar kartu nama, dan menyanjung satu sama lain dengan senyum penuh basa-basi. Arsen berdiri di sisi ruangan, dikerumuni beberapa investor asing yang ingin berbicara dengannya. Ia hanya mengangguk singkat, menanggapi seperlunya. Sorot matanya tetap dingin, seakan tak ada yang mampu menembus dinding perasaan yang ia bangun. Di sisi lain, Alena berjalan pelan sambil menunduk, membawa berkas-berkas yang harus ia serahkan pada supervisor perusahaan tempatnya bekerja. Ia tak menyangka akan berhadapan langsung dengan pria itu. Lelaki yang kini dikenal sebagai Arsen Dirgantara, sang CEO fenomenal. Kakinya berhenti ketika sosok tinggi itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. Tatapan mata Arsen bertemu dengan tatapan matanya. Deg. Jantung Alena berdegup kencang. Dalam sekejap, tubuhnya terasa ringan, seolah kehilangan tenaga. Ia buru-buru menunduk, pura-pura sibuk dengan berkas di tangannya. Namun dalam hatinya, suara-suara masa lalu kembali bergema. “Dia… benar dia. Pria yang malam itu menolongku. Wajah itu tak mungkin kulupakan.” Arsen menatapnya lama, dalam diam. Ada kilatan aneh di matanya—bukan sekadar pengakuan, melainkan semacam rasa ingin tahu yang ia sembunyikan rapat-rapat. Seorang investor menepuk bahunya, membuat perhatian Arsen kembali teralih. Ia hanya memberi isyarat singkat, lalu melangkah pergi. Namun saat melewati Alena, ia berhenti sejenak. “Berkas,” ucapnya datar, seolah hanya meminta dokumen yang Alena pegang. Tangan Alena gemetar ketika menyerahkannya. “I—ini, Tuan…” suaranya hampir tak terdengar. Arsen menerima berkas itu, lalu menatapnya sekilas. Tatapan itu tajam, menusuk, tapi entah kenapa Alena merasa tatapan itu juga… mengenali. Namun, alih-alih berkata sesuatu, Arsen hanya menoleh sekilas, lalu melangkah pergi begitu saja. Alena menghela napas berat. Senyum tipis muncul di bibirnya, senyum yang ia sembunyikan dari semua orang. Senyum getir, karena ia tahu: pertemuan ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan di balik semua dinginnya, Alena yakin Arsen pun sedang menyembunyikan sesuatu. --- Bagian 3 – Bisikan Dendam dalam Sunyi Malam semakin larut. Usai jamuan, Arsen kembali ke penthouse mewahnya di puncak gedung tertinggi kota. Dari jendela kaca raksasa, ia menatap kerlip lampu kota yang tak pernah tidur. Segelas anggur merah ia putar perlahan di tangannya. Cairan pekat itu berkilau diterpa cahaya lampu, mirip dengan darah yang membekas di ingatannya. Arsen duduk di kursi kulit hitam, menutup mata sejenak. Namun sunyi tak pernah benar-benar menenangkannya. Sebaliknya, dalam kesunyian itulah bisikan masa lalu justru semakin jelas. "Arsen kecil, sembunyi! Jangan keluar!" Suara ibunya bergema. Jeritan itu masih menusuk hingga kini. Lalu, suara derap langkah kasar, tawa menghina, dan panas api yang melalap segalanya. Arsen membuka matanya, tatapannya dingin. “Satu per satu… kalian akan merasakannya. Dunia ini tidak cukup luas untuk melindungi kalian dari aku,” bisiknya pada dirinya sendiri. Ia meneguk anggur itu perlahan. Namun di antara gelombang dendam yang menguasai pikirannya, wajah seorang gadis tadi malam tiba-tiba muncul. Alena. Arsen mendengus. “Kenapa dia harus muncul lagi?” gumamnya. Ia ingat sorot mata gadis itu. Ada sesuatu yang tak bisa ia abaikan. Bukan hanya kenangan samar masa lalu, tapi juga semacam cahaya yang mengganggu kegelapan yang selama ini ia pelihara. Arsen berdiri, berjalan ke arah cermin besar di ruangannya. Ia menatap refleksi dirinya—pria dengan wajah tegas, pakaian mahal, dan aura tak terbantahkan. Namun jauh di balik semua itu, ia tahu dirinya masih anak kecil yang kehilangan segalanya. Dan dendam… adalah satu-satunya alasan ia masih berdiri. Namun kini, ada satu masalah baru: Alena Prameswari. Wanita itu bisa jadi kelemahan… atau justru kunci untuk menghancurkan musuhnya. Arsen mengepalkan tangan. “Kalau takdir mempertemukan kita lagi, aku akan memutuskan sendiri… apakah kau pantas berdiri di sisiku, atau hancur bersama mereka.” Kesunyian kembali menyelimuti ruangan. Namun malam itu, api dendam dalam diri Arsen menyala lebih kuat dari sebelumnya—dibumbui oleh rasa penasaran terhadap wanita yang seharusnya hanya bagian kecil dari masa lalunya. --- Bagian 4 – Jebakan di Balik Meja Pertemuan Pagi berikutnya, ruang rapat megah di lantai 56 dipenuhi oleh para direktur dan mitra bisnis. Dinding kaca memperlihatkan panorama kota yang sibuk, namun di dalam ruangan itu, suasana tegang terasa menyelimuti udara. Arsen memasuki ruangan dengan langkah mantap. Setelan jas hitamnya rapi tanpa cela, wajahnya dingin tanpa ekspresi. Semua orang langsung terdiam. Aura kekuasaan yang dibawanya cukup untuk membuat siapa pun menunduk. “Selamat pagi,” suaranya datar, tapi mengandung tekanan yang memaksa setiap telinga memperhatikannya. Seorang pria paruh baya dengan senyum licik membuka pembicaraan. “Tuan Arsen, kami senang akhirnya Anda bersedia duduk bersama. Meski… ada rumor bahwa langkah Anda kembali hanya sekadar permainan singkat.” Tawa samar terdengar di antara beberapa direktur. Mereka mengira bisa menggoyahkan pria itu dengan sindiran. Namun Arsen hanya menatapnya, tenang, lalu tersenyum tipis. Senyum yang lebih menyeramkan daripada tatapan tajam. “Permainan singkat? Saya pikir, justru Anda yang selama ini bermain terlalu lama dengan apa yang bukan milik Anda.” Kata-kata itu membuat ruangan kembali hening. Alena, yang hadir sebagai staf pencatat rapat, menunduk dalam-dalam. Jari-jarinya bergetar saat mengetik notulen di laptop. Ia bisa merasakan ketegangan yang memuncak, seolah udara menekan dadanya. Pria paruh baya itu menyeringai kaku. “Kata-kata yang tajam, Tuan Arsen. Tapi bukti tetaplah bukti. Tanpa dukungan mayoritas pemegang saham, Anda tak lebih dari bayangan di balik nama besar perusahaan ini.” Arsen menyandarkan tubuhnya ke kursi, menyilangkan tangan. Sorot matanya seperti elang yang mengintai mangsa. “Bukti? Akan saya tunjukkan. Satu per satu permainan kotor Anda akan terbongkar. Dan ketika waktunya tiba…” suaranya turun, dingin, “…tak ada satu pun yang bisa Anda sembunyikan.” Alena menelan ludah. Ia bisa merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Ia tidak mengerti seluruh detail permainan bisnis itu, tapi ia tahu satu hal: Arsen bukanlah pria yang akan mundur begitu saja. Namun tanpa sadar, kehadirannya di ruangan itu sudah membuat beberapa orang melirik curiga. Mereka melihat bagaimana Arsen sempat memperhatikan Alena sekilas. Dan bagi mereka yang licik, setiap celah bisa menjadi senjata. Di balik meja pertemuan itu, bukan hanya strategi bisnis yang dimainkan. Ada jebakan yang sedang dipasang—jebakan yang perlahan akan menyeret Alena ke pusaran api dendam Arsen. --- Bagian 5 – Tarian Rahasia di Balik Topeng Malam turun perlahan, membungkus kota dengan lampu-lampu yang berkilauan. Di balkon sebuah ballroom hotel mewah, Alena berdiri sendiri, menatap langit yang kelabu. Rapat siang tadi masih terbayang di kepalanya. Aura Arsen terlalu kuat untuk ia abaikan, dan semakin lama ia berada di dekat pria itu, semakin banyak pertanyaan yang muncul di benaknya. “Masih suka berdiri sendirian?” Suara dingin namun dalam itu membuatnya menoleh. Arsen berdiri tak jauh darinya, bayangan tubuhnya menjulang di bawah cahaya lampu balkon. Angin malam meniup setelan jasnya, membuat sosoknya terlihat semakin angkuh. Alena menunduk sopan. “Tuan Arsen… saya hanya butuh udara segar.” Arsen berjalan perlahan mendekat, langkahnya mantap. Mata hitamnya menatap tajam, seakan berusaha menembus setiap lapisan hati Alena. “Udara segar… atau pelarian?” tanyanya datar. Alena terdiam, dadanya terasa sesak. Ia tahu, pria di hadapannya bukan sembarang orang. Ada sesuatu dalam tatapan itu yang membuatnya merasa seolah sedang dipelajari, dipahami, bahkan dihakimi sekaligus. “Jangan khawatir,” Arsen melanjutkan, suaranya rendah tapi penuh tekanan. “Aku tidak tertarik pada alasanmu. Selama kau bekerja, lakukan saja dengan baik.” Alena menggigit bibir. “Tentu, Tuan Arsen.” Namun ketika ia hendak kembali masuk, langkahnya tertahan oleh genggaman halus di pergelangan tangannya. Arsen menahannya, meski hanya sebentar. “Alena…” suaranya lirih, hampir seperti bisikan. “Dunia ini tidak selalu seperti yang terlihat. Hati-hati memilih di sisi mana kau berdiri.” Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu terasa berhenti. Ada sesuatu yang berkilau di mata Arsen—campuran antara amarah, kesepian, dan… kerinduan yang tak ingin diakui. Alena tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk pelan, lalu melepaskan diri dan kembali masuk ke ruangan. Arsen menatap punggungnya yang menjauh. Dalam hati, ia mendesah pelan. “Kenapa harus kau yang muncul, di antara semua orang…?” Di balik topeng dingin seorang penguasa, hatinya mulai retak. Dan tanpa mereka sadari, sebuah tarian rahasia telah dimulai—tarian antara dendam yang membara dan cinta yang berusaha lahir. ---
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN