bc

Pelukan Dalam Api Dendam

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
family
drama
bxg
serious
brilliant
like
intro-logo
Uraian

Delapan tahun lalu, keluarga Arsen Dirgantara hancur karena pengkhianatan. Sejak saat itu, ia hanya hidup untuk satu tujuan: balas dendam.Kini ia kembali sebagai CEO muda yang dingin, ambisius, dan berkuasa. Semua orang tunduk padanya. Semua rencana berjalan mulus… sampai ia bertemu Alena Prameswari, wanita yang tanpa sadar menjadi kunci dari masa lalunya.Di mata Arsen, Alena hanyalah bidak permainan. Tetapi semakin ia mendekat, semakin sulit baginya untuk mengabaikan pesona gadis itu. Amarahnya mulai bercampur dengan rasa yang tak seharusnya tumbuh: cinta.Namun cinta mereka tidak sederhana.Ketika kebenaran masa lalu terbongkar, Alena mungkin akan menjadi orang yang paling ia benci sekaligus satu-satunya yang ia butuhkan untuk hidup.Pada akhirnya, Arsen harus memilih:Meneruskan balas dendam yang membakar hatinya, atau menyerah pada cinta yang bisa menghancurkan segalanya.

chap-preview
Pratinjau gratis
📖 Bab 1 – Bayangan Masa Lalu
Bagian 1: Malam Kehancuran Hujan malam itu turun begitu deras, seakan langit sedang melampiaskan seluruh amarahnya. Petir menyambar bertubi-tubi, membuat kaca jendela besar rumah keluarga Dirgantara bergetar setiap kali cahaya putih membelah kegelapan. Di dalam ruang kerja luas bergaya klasik, aroma kayu mahoni bercampur dengan bau logam dan sesuatu yang lebih menusuk: darah. Seorang bocah laki-laki berusia sebelas tahun berdiri kaku di depan pintu. Arsen Dirgantara kecil. Tubuhnya mungil, bahunya bergetar, tapi tatapan matanya menolak untuk berpaling dari pemandangan yang ada di hadapannya. Ayahnya, Aditya Dirgantara, seorang pengusaha besar yang selama ini menjadi sosok pahlawan baginya, tergeletak di lantai dengan darah membasahi kemeja putihnya. Nafas sang ayah tersengal, wajahnya pucat, namun matanya masih berusaha menatap anak lelakinya dengan sisa kekuatan yang dimiliki. “Pa...” suara Arsen tercekat, hampir tak keluar. Sosok lain berdiri di atas sang ayah—Rafael, adik kandung ayahnya sendiri, paman Arsen. Tangannya masih memegang sebilah pisau yang berkilat terkena cahaya lampu gantung kristal. Senyum sinis tersungging di bibirnya. “Semua ini... seharusnya jadi milikku sejak awal, Kak,” ucap Rafael dengan suara rendah namun penuh kebencian. “Kekuasaan, perusahaan, semuanya. Kau terlalu serakah.” Arsen gemetar, tidak mengerti. Otaknya yang masih kanak-kanak tak sanggup merangkai arti dari kata-kata itu, kecuali kenyataan pahit: pamannya menusuk ayahnya. Sang ayah mengangkat tangan, berusaha meraih jemari putranya. Darah menetes, meninggalkan jejak merah di lantai marmer. “Arsen...” suaranya parau, lemah, namun penuh penekanan. “Ingat ini baik-baik... jangan pernah percaya siapa pun... bahkan orang terdekat sekalipun.” Air mata Arsen jatuh. Ia ingin berlari memeluk ayahnya, tapi kakinya membeku di tempat. Paman Rafael menoleh kepadanya, tatapannya dingin seperti es. “Bocah ini...” gumamnya, “akan menjadi masalah kelak.” Rafael melangkah maju, mendekati Arsen. Bocah itu mundur perlahan, punggungnya menempel pada dinding kayu dingin. Jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu. Ia yakin malam itu akan berakhir dengan kematiannya juga. Namun sebelum pisau itu bisa menyentuhnya, suara pintu berderit keras. Seorang wanita—ibunya, Larasati—masuk dengan wajah panik. “Arsen! Cepat lari!” teriaknya dengan histeris. Ia menubruk Rafael, memberi kesempatan bagi putranya untuk kabur. Dengan tubuh bergetar, Arsen berlari menembus lorong panjang rumah besar itu, menuruni tangga dengan air mata yang memburamkan pandangannya. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar jeritan ibunya dan suara tawa dingin pamannya yang menusuk hati. Malam itu, dalam deras hujan, Arsen kecil meninggalkan rumahnya—rumah yang tak pernah lagi menjadi tempat pulang. Dan sejak malam itu, bayangan kehancuran selalu menghantui setiap tidurnya. --- Bagian 2: Sumpah Balas Dendam Tiga hari setelah malam mengerikan itu, nama keluarga Dirgantara lenyap dari berita, seolah-olah semuanya hanya kisah biasa yang tak layak diingat. Tak ada satu pun yang tahu kebenaran. Tidak ada satu pun yang peduli pada bocah berusia sebelas tahun yang kehilangan segalanya. Arsen duduk sendirian di ruang kecil panti asuhan tempat ia akhirnya dititipkan. Matanya kosong menatap jendela berembun, tubuhnya kaku, seakan jiwa kanak-kanaknya ikut mati malam itu. Mimpi buruk menghantui setiap malamnya. Suara ayahnya yang sekarat, tatapan ibunya yang penuh ketakutan, dan senyum dingin pamannya—semua terulang berkali-kali di kepalanya. > “Jangan pernah percaya siapa pun...” Kalimat itu bergema tanpa henti. Pada suatu malam, ketika hujan kembali turun, Arsen yang beranjak remaja berdiri di halaman belakang panti. Tangannya terkepal erat, matanya menatap langit gelap yang dipenuhi kilat. “Ayah... Ibu...” bisiknya, suaranya bergetar tapi penuh tekad. “Aku berjanji... aku akan mengambil kembali semua yang sudah direnggut dariku. Aku akan membuat mereka yang menghancurkan kita... membayar dengan harga paling mahal.” Air hujan bercampur dengan air matanya. Dingin menusuk, tapi hatinya terbakar. Hari itu, seorang anak lelaki berhenti menjadi anak. Ia berubah menjadi jiwa yang hanya digerakkan oleh balas dendam. Sejak saat itu, Arsen muda menutup diri dari semua orang. Ia belajar dengan cepat, membaca buku-buku tentang bisnis, hukum, hingga psikologi manusia. Semua dengan satu tujuan: mengalahkan musuhnya dengan cara yang sama kejamnya. Tak ada lagi tawa bocah. Tak ada lagi mimpi polos tentang masa depan. Yang tersisa hanyalah sumpah yang akan menuntunnya hingga dewasa. > Malam kehancuran itu tidak berakhir di rumah keluarganya. Malam itu baru memulai perjalanan panjang menuju balas dendam. --- Bagian 3: Kembali sebagai CEO Sepuluh tahun berlalu sejak malam penuh darah itu. Di lantai tertinggi sebuah gedung pencakar langit di jantung kota Jakarta, kaca-kaca besar memantulkan bayangan seorang pria muda dengan setelan jas hitam yang rapi. Tubuhnya tegap, rambutnya tersisir rapi, rahangnya tegas, dan tatapan matanya tajam bagaikan bilah pedang. Arsen Dirgantara kini berusia 29 tahun. Dalam usia yang masih muda, ia berhasil menguasai sebuah konglomerasi besar yang berdiri kokoh di berbagai sektor: properti, teknologi, hingga investasi internasional. Namanya dikenal sebagai sosok yang jenius sekaligus menakutkan. Namun bagi mereka yang benar-benar mengenalnya, Arsen hanyalah seorang pria dingin yang tidak pernah membiarkan siapa pun masuk ke dalam hidupnya. Tidak ada teman dekat. Tidak ada kekasih. Hanya segelintir orang yang ia percaya untuk menjalankan bisnisnya. Di balik meja kerjanya yang besar, Arsen menatap layar laptop yang menampilkan laporan keuangan perusahaan. Namun pikirannya melayang jauh, bukan pada angka-angka itu, melainkan pada satu nama yang selalu menghantui: Rafael Dirgantara. Pamannya kini memimpin perusahaan lama keluarganya, hasil pengkhianatan belasan tahun lalu. Dan Arsen tahu, suatu hari nanti, ia akan merebut kembali semuanya. Pintu ruangannya diketuk. Seorang pria masuk—Seno Wijaya, tangan kanan sekaligus satu-satunya orang yang dianggapnya sahabat. “Semua sudah siap, Tuan,” ucap Seno dengan hormat. “Hari ini Anda akan bertemu dengan dewan direksi grup milik Tuan Rafael. Mereka tidak tahu kalau Anda sudah membeli sebagian besar sahamnya.” Arsen berdiri. Jas hitamnya berkilau terkena pantulan cahaya matahari pagi. Tatapannya tajam, penuh determinasi. “Bagus,” jawabnya singkat. Suaranya rendah, dalam, penuh kuasa. Lalu ia berjalan menuju pintu, setiap langkahnya memantulkan aura d******i yang membuat siapa pun enggan melawan. Namun di balik semua itu, hanya ada satu hal yang menggerakkan hatinya: balas dendam. > Malam itu, bocah kecil yang ketakutan telah mati. Yang hidup kini hanyalah seorang CEO muda yang berambisi menghancurkan musuhnya. Dan dunia… akan segera tahu siapa sebenarnya Arsen Dirgantara. --- Bagian 4: Bayangan yang Masih Menghantui Malam itu, langit kota bertabur cahaya lampu gedung. Dari balik jendela kaca setinggi langit-langit kantornya, Arsen Dirgantara berdiri seorang diri, menatap jauh ke arah kota yang tidak pernah tidur. Segelas wine merah berputar pelan di tangannya. Cairan itu berkilau keemasan, namun tatapan matanya kosong, terserap dalam bayangan masa lalu. Bayangan yang selalu datang tanpa diundang. — darah di lantai marmer. — suara ayahnya yang bergetar. — jeritan ibunya. — senyum sinis pamannya. Semua itu hadir lagi, menyesakkan d**a. Arsen menutup mata, menarik napas panjang. Tapi setiap kali kelopak matanya menutup, kenangan itu semakin nyata. Seakan malam kehancuran itu tidak pernah benar-benar berlalu. Tangannya mengepal. Gelas di tangannya nyaris pecah. > “Aku sudah memiliki segalanya sekarang...” batinnya berusaha meyakinkan diri. “Tapi kenapa bayangan itu tidak pernah hilang? Kenapa aku masih melihat mereka setiap kali aku menutup mata?” Ketukan pintu memecah keheningan. Seno masuk dengan wajah hati-hati. “Tuan, rapat dengan direksi selesai. Mereka tampak kaget dengan kehadiran Anda. Tapi… rencana berjalan lancar.” Arsen menoleh perlahan, menyimpan semua gejolak di balik wajah datarnya. “Bagus. Biarkan mereka tahu... ini baru permulaan.” Seno mengangguk, lalu pamit keluar. Ruangan kembali hening. Arsen menenggak habis isi gelasnya. Namun bukannya menenangkan, rasa pahit alkohol hanya membuat pikirannya semakin kacau. Ia berjalan ke ruang pribadi di balik kantor utamanya—sebuah ruangan rahasia yang tak pernah diketahui siapa pun kecuali dirinya. Di dalam ruangan itu, dinding-dindingnya dipenuhi dokumen lama, foto-foto, bahkan artikel berita tentang keluarga Dirgantara. Di tengah ruangan, sebuah lukisan besar bergambar ayahnya tergantung dengan megah. Arsen berdiri di depannya, menatap wajah ayah yang selalu tampak tegas bahkan di atas kanvas. “Ayah...” suaranya serak, “sudah sepuluh tahun berlalu. Aku sudah berdiri di puncak. Tapi kenapa aku masih merasa hampa? Kenapa dendam ini justru semakin berat di pundak?” Sunyi. Hanya suara jarum jam yang berdetak pelan. Dan untuk kesekian kalinya, bayangan masa lalu kembali menghantui malam Arsen, mengingatkan bahwa meskipun ia telah menjadi penguasa, hatinya masih terikat pada luka lama. --- Bagian 5: Pertemuan Takdir Pagi berikutnya, langit Jakarta tampak cerah. Namun bagi Arsen Dirgantara, cerah atau mendung sama saja—dunia selalu kelabu. Ia melangkah keluar dari mobil hitam mewahnya. Derap sepatunya yang mantap terdengar tegas ketika memasuki lobi hotel bintang lima yang akan menjadi lokasi pertemuan penting dengan calon mitra bisnis. Setiap orang yang melihatnya spontan menunduk, tak berani menatap terlalu lama. “Selamat pagi, Tuan Arsen,” sambut manajer hotel dengan wajah penuh hormat. Arsen hanya mengangguk singkat, lalu melangkah menuju ruang pertemuan. Aura dinginnya cukup membuat ruangan seakan membeku. Namun, sesuatu membuat langkahnya berhenti. Seorang wanita muda tengah berjalan tergesa melewati lobi yang sama, memeluk setumpuk dokumen yang hampir jatuh. Rambut hitam panjangnya tergerai, wajahnya sedikit panik, dan matanya berkilat jernih ketika tanpa sengaja bertabrakan dengan tubuh tinggi Arsen. Dokumen-dokumen itu berserakan di lantai. “Saya—maaf! Saya benar-benar tidak sengaja...” suara wanita itu lembut namun tergesa, jemarinya berusaha meraih kertas yang terjatuh. Arsen menunduk sekilas. Pandangannya bertemu dengan mata bening itu. Untuk sepersekian detik, dunia seakan berhenti berputar. Ada sesuatu dalam tatapan gadis itu—sesuatu yang asing namun mengguncang dinding dingin di dalam dirinya. Ia mengernyit. “Lain kali, perhatikan langkahmu.” Suaranya rendah, penuh kuasa, tapi ada getaran aneh di dalam dadanya yang tak ia pahami. Wanita itu menunduk cepat. “I-iya, maaf...” Seno yang berdiri di sisi Arsen menatap kaget. “Itu karyawan baru dari perusahaan mitra, Tuan. Namanya... Alena Prameswari.” Nama itu bergaung di kepala Arsen, menimbulkan sensasi aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa berkata lagi, ia melangkah pergi, meninggalkan Alena yang masih berjongkok mengumpulkan kertasnya. Namun dalam hati, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, seseorang berhasil menembus dinding es di dalam dirinya—walau hanya dengan tatapan singkat. > Dan tanpa disadari, pertemuan sederhana itu akan menjadi awal dari badai besar antara balas dendam dan cinta. ---

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
6.0K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.3K
bc

Menyala Istri Sah!

read
3.3K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
53.1K
bc

PENGANTIN PENGGANTI SAUDARA TIRIKU

read
1.8K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
6.3K
bc

Desahan Sang Biduan

read
55.9K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook