Keluarga Elf yang menganggap ku

1975 Kata
“Nifi! Siapkan sebuah kamar untuk Arvin supaya dia bisa beristirahat dan Arvin ikuti Bibi ke meja Resepsionis!” ucap Bibi Azana sambil mulai berjalan. Nifi yang mendengarkan perintah dari ibunya, langsung bergegas pergi dari hadapan kami berdua. Dia terlihat tergesa-gesa saat melakukan perintah dari Bibi Azana, sangat jarang bisa menemui anak-anak di umur se belia itu sudah patuh terhadap orang tua mereka. Aku berjalan mengikuti Bibi Azana menuju meja Resepsionis, terlihat ada seorang pria Elf yang sedang berdiri di balik meja sambil menuliskan sesuatu di buku. Aku menghentikan langkah ku begitu sampai di meja Resepsionis, sedangkan Bibi Azana melanjutkan langkahnya dan masuk ke balik meja hingga menemui pria Elf tadi. Pria Elf ini menyadari kedatangan ku dan Bibi Azana sehingga menghentikan hal yang tengah dia lakukan saat Bibi Azana masuk menemuinya. “Sayang, siapa yang kau bawa ini?” ucapnya sambil melihat ke arah ku “Dia adalah Arvin, Arvin kenalkan ini suami ku namanya Hain,” ucap Bibi Azana sambil mengambil piring serta makanan dan minuman. “Oh... nama mu Arvin, salam kenal yah, kau bisa memanggil ku Paman Hain,” ucap pria Elf ini sembari mengalihkan pandangannya dari Bibi Azana menuju ku. “S-salam kenal Paman Hain!” jawab ku dengan gugup. “Ha ha ha, tak perlu gugup begitu! Anggap saja kami seperti orang tua mu” ucap Paman Hein sembari menepuk-nepuk meja. Pria Elf yang ku panggil Paman Hain ini memiliki wajah yang tampan dengan rambut panjang sebahu berwarna putih seperti milik Bibi Azana serta Nifi. Caranya ia berdiri sempat membuat ku berpikir bahwa pria ini adalah seorang bangsawan, dia terlihat sangat bijaksana meskipun saat berdiri biasa. “Iya tak perlu gugup Arvin, cobalah untuk sedikit meringankan beban pikiran mu!” tambah Bibi Azana sembari membawa makanan dan minuman menuju ke arah ku. Kata-kata terakhir yang si ucapkan oleh Bibi Azana membuat ku terkejut namun aku tak menampakkannya pada mereka, aku terkejut karena dia mengatakan untuk meringankan beban pikiran ku. Aku tak menyangka bahwa dia akan mengetahui mengenai apa yang ku rasakan saat ini, namun aku mengacuhkan perkataan dari Bibi Azana dan menganggap bahwa itu hanyalah sebuah insting dari seorang ibu saja. “Duduklah dan makan ini terlebih dahulu, buah-buahan tadi tentu hanya cukup untuk sekedar cemilan buat mu,” ucap Bibi Azana sambil meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja. “Ehmm terima kasih Bibi!” ucap ku sambil menatap Bibi Azana. Aku pun berjalan dan duduk di atas kursi di depan meja Resepsionis untuk melahap makanan yang telah Bibi Azana siapkan untuk ku. Aku memakan makanan yang di berikan Bibi Azana sambil di pandangi oleh Bibi Azana serta Paman Hain, mereka melihat aku yang sedang lahap memakan makanan seolah tanpa peduli apa yang sedang ada di hadapannya. “Baiklah, Sayang kau di sini temani Arvin sambil mengobrol bersama, aku akan ke atas membantu Nifi menyiapkan kamar untuknya,” ucap Bibi Azana sembari pergi ke arah tangga yang menuju ke lantai Dua. “Ok serahkan pada ku!” jawab Paman Hain sambil mengangkat jempolnya. Aku merasa bahwa di sini aku di terima dengan baik oleh keluarga Elf ini, mereka tak membedakan perlakuan kepada ku ataupun kepada pelanggan lain yang bukan satu Ras dengan mereka. Ada kabar burung yang bilang bahwa ras Elf, Dwarf dan manusia sebenarnya masih menyimpan benci antara satu sama lain, terutama pada ras Manusia. Kedua ras selain manusia tadi kabarnya masih menyimpan kebencian terhadap manusia, hal itu di karenakan Kerajaan mereka yang seharusnya di pimpin oleh ras mereka sendiri, saat ini di pimpin oleh ras manusia karena perjanjian damai antara ketiga ras tadi. Meskipun begitu, perlakuan keluarga ini membuat ku tak percaya akan kabar burung yang beredar, mereka memperlakukan ku selayaknya seorang anak-anak biasa tanpa peduli dari ras mana aku berasal. “Hei? Kenapa kau melamun Arvin?” ucap Paman Hain sambil melambai-lambaikan tangannya di hadapan wajah ku. Aku memang melamun saat memikirkan hal tadi, dengan lambaian tangan dari Paman Hain. Aku pun tersadar dari lamunan ku dan kembali ke kenyataan. “Ah maaf Paman Hain,” ucap ku begitu tersadar. “Hmm? Kenapa kau meminta maaf? Astaga kau pasti kelaparan sampai bisa melamun seperti itu,” ucap Paman Hain sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. “Makanlah dulu Arv!” tambahnya. Panggilan yang membuat ku tergidik karena teringat akan orang tua ku di desa, mereka biasanya memanggil ku seperti itu saat aku di sana. “Iya, terima kasih Paman!” jawab ku sembari menunduk menyembunyikan rasa haru ku dengan memakan makanan yang di berikan Bibi Azana pada ku. “Arv, darimana asal mu?” tanya Paman Hain sembari memakan buah yang di bawa Bibi Azana. “Aku dari kerajaan Barthley Paman!” jawab ku sambil terus makan. “Hmm... itu jauh sekali dari sini, apa kau sendiri datang ke sini? Yah itu mana mungkin sih!” lanjutnya sembari duduk bersantai di kursi yang ada di balik meja Resepsionis. “Iya Paman, aku memang sendiri datang ke sini,” jawab ku pada Paman Hain. “Hmm? Benarkah itu? Yah kau tak mungkin berbohong sih, jika kau bersama keluarga mu pasti kau tak akan datang ke sini bersama Azana,” ucap Paman Hain dengan sedikit terkejut. “Apa mungkin tujuan mu datang ke sini adalah memasuki Dungeon?” tanya Paman Hain lagi pada ku. “Iya Paman,” jawab ku singkat. Setelah itu kami berdua terdiam selama beberapa saat sambil memakan makanan kami masing-masing, aku berusaha menghabiskan makanan ku secepat yang ku bisa dan ingin merebahkan tubuh ku sesegera mungkin. Setelah beberapa lama, makanan di piring ku sudah habis dan aku mengeluarkan uang untuk membayar makanan serta kamar yang akan ku gunakan nanti. “Paman Hain, berapa biaya sewa satu kamar selama 2 minggu dan harga makanan yang ku makan tadi?” tanya ku pada Paman Hain setelah selesai makan. “Hei Arv! Bukankah sudah ku bilang untuk menganggap kami seperti keluarga mu sendiri?” ucap Paman Hain sambil berdiri dan menatap ku. “Apa maksud mu Paman?” tanya ku karena tak mengerti. “Apakah sebuah keluarga meminta bayaran untuk makanan yang di makan oleh anggota keluarganya sendiri?” tanya Paman Hain pada ku. “Apakah sebuah keluarga meminta bayaran untuk ruangan yang di gunakan untuk anggota keluarga mereka sendiri?” tambah Paman Hain. “T-tentu tidak Paman!” jawab ku dengan sedikit gugup. “Kalau begitu kenapa kau ingin membayar? Simpan uang mu untuk petualangan mu sendiri, kau pasti akan membutuhkannya!” ucap Paman Hain sambil menepuk-nepuk pundak ku. “Lagi pula jika Azana tau bahwa aku menerima uang dari anak kecil seperti mu, pasti dia akan membuat ku babak belur sama seperti saat aku memakan cemilan punya Nifi,” tambah Paman Hain sambil mengelus-elus pipinya. “Ha ha ha... kalau begitu terima kasih banyak atas kebaikan mu Paman!” ucap ku sambil tertawa canggung. Aku teringat akan Ayah ku saat Paman Hain mengatakan saat dia di buat babak belur oleh Bibi Azana, ku pikir kedua orang ini akan berteman baik jika di lihat dari sifatnya yang hampir sama. “Asal kau tau saja! Jika Azana tak membawa mu ke sini dan kau malah memilih penginapan yang dekat dengan Guild ataupun sangat dekat dengan Dungeon, maka bisa ku pastikan dalam sehari kau mengeluarkan uang paling sedikit 3 keping koin emas hanya untuk semalam saja,” ucap Paman Hain sambil mengisyaratkan angka tiga dengan jarinya. Aku terkejut saat dia mengatakan hal itu dan aku berinisiatif berdiri sambil berjalan mundur beberapa langkah untuk memberikan hormat pada Paman Hain. “Terima kasih atas kebaikan mu dan Bibi Azana,” ucap ku sambil menundukkan kepala. “Ha ha ha, tak perlu sampai seperti itu Nak!” ucap Paman Hain sambil tertawa saat aku menundukkan kepala padanya. Kami pun berbincang-bincang mengenai banyak hal sembari menunggu kamar ku yang di siapkan oleh Nifi dan Bibi Azana. Dari obrolan kami, aku mengetahui bahwa keluarga Paman Hain ini merupakan keturunan murni dari Elf. Hal itu bisa di ketahui dari rambut mereka yang berwarna putih layaknya salju, sedangkan jika Elf yang bukan dari keturunan murni akan memliki warna rambut yang berbeda dari mereka yang merupakan keturunan murni. Paman Hain juga mengatakan bahwa dia sebelumnya juga merupakan petualang tingkat A dan pernah memasuki Dungeon hingga ke lantai delapan. Aku berusaha mengalihkan pembicaraan saat dia mulai mengatakan apa saja yang ada di dalam Dungeon. Paman Hain saat ini berada di tingkatan inti mana Encourage Defiance yang mana lebih rendah dari pada aku, aku tak mengatakan tingkatan inti mana ku padanya karena seharusnya dia telah mengetahuinya. Hal itu aku sadari saat aku berjalan menemuinya ketika masih bersama Bibi Azana, dia terlihat sedikit terkejut ketika meilhat kedatangan dan hal itu yang membuat ku tau bahwa dia telah tau tingkatan inti mana ku. Berkat obrolan kami yang lumayan lama, kami saat ini sudah semakin akrab antara satu sama lain. “Sepertinya kalian sangat akrab!” terdengar sebuah suara yang berasal dari belakang ku. Aku menolehkan kepala ku ke belakang untuk melihat ke sumber suara. Gadis elf yang tak lain adalah Nifi sedang berdiri sambil berkacak pinggang dan menatap ku dengan tatapan serius, di belakang Nifi adalah Bibi Azana yang berjalan ke arah ku sambil membawa kain handuk. “Para pria memang seperti itu Nifi, mereka bisa akrab bahkan saat baru bertemu,” ucap Bibi Azana sambil berjalan ke arah ku. Bibi Azana memberikan kain handuk itu pada ku saat dia sampai di hadapan ku. Ini menandakan bahwa dia menyuruh ku untuk mandi, namun aku tak tau dimana tempat untuk mandi. “Arvin kau mandilah dan beristirahatlah di kamar yang ada di lantai 2, Nifi akan mengantar mu ke kamar mu nanti karena kamar kalian bersebelahan,” ucap Bibi Azana. “Tempat untuk mandi ada di sana,” tambahnya sambil menunjuk ke arah pintu yang ada di sebelah tangga yang menuju ke lantai dua. “Terima kasih Bibi!” ucap ku sambil sedikit menundukkan kepala pada Bibi Azana. “Hei Arv! Bisakah kita mandi bersama?” ucap Paman Hain begitu aku beranjak dari kursi yang ku duduki. “Tolong jangan bercanda Paman! Bukankah kau sudah dewasa untuk mandi sendiri?” ucap ku membalas perkataan dari Paman Hain. “Ehh? Kenapa? Apakah kau malu? Ayolah kita kan sama-sama laki-laki,” pinta Paman Hain dengan nertubi-tubi. “Lagi pula belum tentu Adikmu itu sudah membesar!” tambahnya. Aku mengacuhkan perkataannya dan terus pergi menuju pintu yang tadi Bibi Azana katakan pada ku. Di tengah berjalan menuju ke tempat ku untuk mandi, aku mendengar Nifi yang bertanya pada Bibi Azana. “Ibu apa maksud Ayah dengan Adik milik Arvin? Bukankah dia datang kesini sendirian?” tanya Nifi dengan polosnya. Saat mendengar itu aku tak kuasa menahan tawa karena apa yang Nifi tanyakan, jika ku tebak saat ini Paman Hain sedang dalam kondisi ketakutan karena amarah dari Bibi Azana. Dan benar saja apa yang ku pikirkan saat aku menyempatkan diri untuk menoleh dan melihat Paman Hain. Paman Hain terlihat menggigil ketakutan sambil menyembunyikan diri di balik meja dengan hanya kepalanya yang terlihat di atas meja, Bibi Azana terlihat memelototi Paman Hain dengan pandangan dingin yang terlihat menakutkan. “A-anu sayang, tolong lupakan apa yang Ayah katakan tadi yaa!” pinta Paman Hain dengan gelagapan. “Haaain! Jangan gunakan lagi istilah aneh di depan anak kita! Apa kau mengerti!?” ucap Bibi Azana dengan nada bicara yang menyeramkan. “T-tentu S-saja sayang, aku tadi hanya keceplosan kok,” jawab Paman Hain dengan ketakutan. Aku bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Paman Hain yang sedang di pelototi oleh Bibi Azana. Aku segera melepaskan seluruh pakaian ku dan mulai mandi dengan cepat, rasanya hari ini banyak kejadian yang sangat menarik yang terjadi di sekitar ku. Aku bertemu dengan Kakek Yosep yang kuatnya bukan main, penjaga gerbang yang sangat unik, aku memperoleh telur binatang magis yang misterius, aku di buat kesal oleh pelayanan di guild Areti sehingga sampai pada aku mandi di sini sedangkan Paman Hain yang aku tak tau apa yang menimpanya setelah aku masuk ke sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN