Berkah dari Elf

1864 Kata
Yah sudahlah, toh juga bukan urusan ku,” ucapnya sambil mengangkat Stempel dan memukulkannya pada kartu petualang ku. Setelah itu ia menggeserkan kartu petualang ku hingga sampai ke hadapan ku yang tengah berdiri saat ini. Raut wajahnya menunjukkan ekspresi seakan merendahkan ku dan rasa tak mempercayai apa yang tertulis di kartu petualang ku ini, jika saja bukan karena aku baru sampai di sini maka aku akan benar-benar memberinya pelajaran. Namun untuk sekarang aku hanya bisa untuk menahan diri agar tak berbuat gegabah, aku masih harus mengetahui seluk beluk di kota ini terlebih dahulu. Bahkan Kakek Yosep yang aku temui hari ini di pintu gerbang, memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari siapapun yang pernah aku lawan. Jika aku melakukan hal yang gegabah maka bukan hal yang tidak mungkin bahwa aku akan menghembuskan nafas terakhir ku di sini. “Ambil ini dan pergilah Nak!” ucapnya setelah menyerahkan kartu ku di hadapan ku. Aku pun mengambil kartu petualang ku dan pergi meninggalkan Resepsionis yang kurang sopan ini tanpa mengatakan apa-apa, aku mendengar dia mencemooh ku begitu aku meninggalkannya. Aku paham sekarang bahwa masuk pada orang-orang yang harus dilenyapkan, jika di lihat dari sikapnya yang masih sama meskipun melayani petualang lain selain aku, dia telah melakukan hal itu sejak lama. Aku akan mengurus Resepsionis tadi lain waktu saja karena masih ada hal penting lainnya yang masih menunggu. Aku berjalan keluar dari guild ini dengan menghela nafas panjang untuk melupakan sejenak hal yang barusan ku alami, aku kembali menghibur diri dengan pemandangan yang memanjakan mata ini. “Baiklah, sekarang aku butuh tempat untuk tidur,” ucap ku sambil mencari-cari bangunan yang bertuliskan penginapan. Aku berjalan mengelilingi alun-alun kota sembari terus mencari-cari penginapan, melihat ke kanan dan kiri untuk mencari tempat yang ku maksud namun meskipun telah berjalan hampir satu jam aku belum bisa menemukannya. Aku kemudian memutuskan untuk duduk di sebuah kursi yang tersedia di samping sungai hanya untuk sekedar melepas penat sejenak sambil memandangi aliran air di sungai. Brak.... Tiba-tiba aku mendengar sebuah suara dari benda yang jatuh tepat di belakang ku yang saat ini tengah duduk, aku membalikkan tubuh ku untuk melihat ke arah sumber suara berasal. Seorang elf perempuan sedang terjatuh dengan beberapa buah-buahan yang ikut terjatuh dari tempat dia membawa buah-buah itu. Aku pun berinisiatif bangun dari tempat duduk dan membantu perempuan ini dari jatuhnya. Aku mengulurkan tangan ku dan membantu perempuan ini untuk bangun, dia sama sekali tak menolak bantuan ku dengan mengambil tangan ku untuk pegangannya supaya bisa bangun dan berdiri. “Terima kasih Nak!” ucap perempuan ini dengan lembut. Penampilan perempuan Elf ini sangat membuat ku terpukau. Wajahnya yang cantik tanpa cacat sedikit pun, kulitnya yang putih bersih layaknya s**u yang biasa ku minum, dan yang terpenting adalah rambut panjang berwarna putih seputih salju yang membuat ku ingin membelai rambutnya meskipun sebentar saja. Perawakan dari Elf hampir sama dengan manusia biasa namun yang menjadi perbedaan yang bisa di lihat jelas adalah dari daun telinga. Daun telinga para ras Elf berbentuk panjang melonjong sehingga sangat mudah untuk membedakan ras Elf dan ras Manusia. Perbedaan yang lainnya adalah masa hidup mereka, ras Elf memiliki umur yang panjang bahkan sampai puluhan dekade, berbeda dengan manusia yang memiliki umur yang tak terlalu panjang dari pada Elf “Iya Bibi!” jawab ku dengan sopan. Aku membantunya memunguti buah-buahan yang tadi ikut jatuh hingga berserakan, dalam beberapa saat buah dari Bibi Elf ini sudah kembali terkumpul di tempatnya semula. Bibi ini tersenyum pada ku setelah aku membantunya mengumpulkan buah-buahannya. “Ini silahkan kau ambil 1,” ucapnya sambil menyodorkan satu buah dakino. Buah ini berbentuk seperti persik saat aku masih di bumi namun perbedaannya adalah warnanya yang berwarna putih seperti bola salju dengan sedikit kuning tanda bahwa buah ini telah matang dengan benar. Aku mengambilnya tanpa ragu karena jika aku menolaknya takut akan membuat Bibi ini merasa tak enak. Karena merasa Bibi ini adalah orang yang baik maka aku bertanya padanya tentang penginapan yang tersedia di sini. “Bibi, bolehkah aku bertanya dimana penginapan yang dekat dengan Dungeon?” tanya ku tanpa ragu. “Eh? Apa kau adalah pendatang baru?” tanya dia balik pada ku. “Iya Bi, aku baru sampai hari ini dan sekarang aku memerlukan tempat untuk tidur,” jawab ku sembari memakan buah dakino yang tadi Bibi ini berikan pada ku. Rasanya sangat manis dan ada sedikit rasa asam yang membuat ku menyukai buah ini, rasanya benar-benar mirip dengan persik yang pernah ku makan saat di bumi dulu namun perbedaannya adalah buah ini tak memiliki biji di dalamnya sehingga aku bisa memakan keseluruhan buah tanpa harus khawatir akan memakan biji buah. Bibi ini melihat ku yang sedang memakan buah dakino pemberiannya dengan lahap, karena memang pada saat ini aku sedang lapar. Dia menyadari hal itu mungkin karena aku memakan buah dakino pemberiannya dalam hitungan detik saja, dia kembali menyodorkan satu buah dakino lagi pada ku namun aku enggan menerimanya karena merasa tak enak. “Tidak bibi, bibi cukup beritahukan penginapan yang ku sebutkan tadi saja,” ucap ku sambil mengangkat tangan ku tanda menolak. “Ambillah ini dan ikutlah bersama ku,” ucapnya sambil tetap menyodorkan buah dakino pada ku. Karena dia telah berkata demikian maka aku tanpa sungkan mengambil kembali buah dakino dari tangannya, sesuai dengan perkataannya aku mengikuti Bibi Elf ini dengan berjalan di sampingnya sambil memakan buah dakino pemberiannya. “Sepertinya ini memang takdir kita untuk bertemu hari ini Nak,” ucapnya sambil berjalan. Aku yang tak memahami apa yang di maksud Bibi ini memberanikan diri untuk bertanya kepadanya,” Apa maksudnya itu?” “Aku dan Suami ku mengelola penginapan dengan ciri-ciri yang kau maksud, karena aku meyakini bahwa tak ada yang namanya kebetulan maka ini merupakan takdir supaya kita bertemu hari ini,” jawabnya sambil terus berjalan. “Benarkah itu? Syukurlah!” ucap ku saat mendengar jawaban dari Bibi ini. Aku menyadari kami telah banyak berbincang-bincang saat ini namun masih belum mengetahui nama satu sama lain, karena aku yang termuda saat ini maka aku berinisiatif untuk memperkenalkan diri ku terlebih dahulu. Karena mereka menurut ku bukanlah orang yang jahat ataupun memiliki niat tersembunyi pada ku, aku berencana memperkenalkan diri ku dengan identitas asli ku. “Perkenalkan Bibi, nama ku Arvin atau kau bisa memanggil ku Clay,” ucap ku memperkenalkan dir sembari berjalan dan menoleh ke Bibi ini. “Ah iya juga, kita belum berkenalan ya? Ha ha ha,” ucapnya begitu aku memperkenalkan diri. “Salam kenal Arvin! Panggil saja aku Bibi Azana” tambahnya memperkenalkan dirinya. Kami pun berjalan menuju penginapan yang Bibi Azana kelola, sepanjang kami hanya berbicara mengenai beberapa hal kecil untuk obrolan yang tak penting semata tujuannya hanya agar di sepanjang jalan tak ada kesunyian antara kami berdua. Matahari saat ini sudah menunjukkan waktu bahwa sore hari akan segera tiba, aku terus berjalan di samping Bibi Azana menuju penginapan yang dia maksud. Setelah beberapa lama berjalan kaki, mata ku tertuju pada sebuah bangunan yang cukup besar dengan papan nama yang bertuliskan Great Yokan. Hal yang membuat ku menjadi tertarik adalah nama dari penginapan ini yang memiliki kata-kata dalam bahasa jepang, dimana artinya adalah selai kacang. Namun aku tak menanyakan arti sebenarnya dari nama penginapan ini karena itu merupakan hal yang tak penting menurut ku. “Yak kita sudah sampai!” ucap Bibi Azana begitu melihat penginapan ini. “Apakah ini tempatnya?” tanya ku pada Bibi Azana untuk meyakinkan diri ku. “Iya benar, ayo masuk!” jawab Bibi Azan sembari menarik ku masuk ke dalam penginapan. Keadaan di dalam penginapan ini kurang lebih sama dengan penginapan yang aku tempati saat di desa Molin. Meja-meja yang tersusun dengan beberapa kursi yang mengelilingi meja itu, meja yang ku yakini sebagai meja Resepsionis dengan botol minuman yang tersusun rapi di rak belakang. Perbedaannya mungkin hanyalah warna cat dan para staf yang memakai baju yang tak sama. “Selamat datang Ibu!” ucap salah satu perempuan Elf yang sedang mengelap meja. Kesan pertama dari yang ku dapat dari perempuan Elf ini adalah pendek, tubuhnya lebih pendek dari pada aku saat ini. Memang benar tubuh ku lebih tinggi dari pada anak-anak lainnya yang berumur sama seperti ku, dan mungkin itu juga yang membuat ku berpikir bahwa gadis Elf ini sangat pendek di mata ku. Gadis elf ini memiliki wajah yang cukup cantik dan sedikit mirip dengan Bibi Azana, dia juga memiliki rambut putih yang sama seperti Bibi Azana. “Perkenalkan itu adalah Anak ku! Namanya Nifi” ucap Bibi Azana sambil mengarahkan tangannya ke perempuan Elf tadi. “Ibu, siapa yang kau bawa itu?” ucap perempuan Elf tadi dengan nada yang penasaran. “Nifi, perkenalkan ini adalah Arvin! Dia adalah orang yang menolong ku saat jatuh tadi siang,” jawab Bibi Azana. Elf itu pun menatap ke arah ku dan meneliti seluruh tubuh ku melalui pandangannya, aku pun membiarkan apa yang dia lakukan tanpa bereaksi apapun. Saat kedua mata kami bertemu, aku lun langsung menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa aku senang bertemu dengannya. “Kau! Berapa umur mu?” tanya perempuan Elf itu pada ku sambil menunjuk ke arah ku. “A-aku saat ini berumur 13 tahun,” jawab ku gelagapan karena kaget dengan apa yang dia katakan. “Hee... kau sangat tinggi untuk anak-anak yang berusia segitu,” ucapnya sambil memegang dagunya. “Baiklah, mulai sekarang panggil aku Kakak!” tambahnya sambil mendongakkan kepala dengan bangganya. “Kakak? Memangnya berapa umur mu?” tanya ku pada Elf itu. “Aku saat ini berumur 15 tahun, jadi kau harus memanggil ku Kakak dan memperlakukan ku sebagai Kakak perempuan mu,” jawabnya sambil menunjuk dan menyentuhkan telunjuknya ke hidung ku. “Maaf aku tak bisa melakukan itu karena aku sudah memiliki 2 orang Kakak yang tak bisa di gantikan,” ucap ku menolak permintaannya. “Lagi pula kau terlalu pendek untuk menjadi Kakak ku,” tambah ku menggodanya. Sesuai dengan keinginan ku, telinga panjang dari gadis Elf ini memerah tanda dia sedang marah. Telinganya yang merah dapat terlihat jelas karena gadis Elf ini memiliki warna rambut yang sama dengan Bibi Azana. “K-kau! Siapa yang kau maksud pendek hah!? Aku ini normal! Kau saja yang terlalu tinggi!” ucapnya memaki-maki sambil melompat lompat. Bibi Azana yang melihat itu menjadi tertawa akan apa yang kami berdua lakukan. “ Kalian seperti akan menjadi teman akrab,” ucap Bibi Azana sambil mengusap air matanya karena terlalu banyak tertawa. “Hmmph... siapa yang mau berteman dengan bocah menyebalkan seperti dia,” ucap Nifi sambil menggembungkan pipinya. “Eh? Jadi kau tak mau berteman dengan ku?” ucap ku sambil berpura-pura sedih. Nifi terlihat panik saat melihat ekspresi ku yang terlihat sedih di matanya. Dia kebingungan dan tiba-tiba menjabat tangan ku. “Baiklah-baiklah, kita adalah teman sekarang jadi jangan sedih ya,” ucapnya sambil menggenggam erat tangan ku. Aku pun tertawa dengan apa yang coba dia lakukan, sepertinya akan mudah mengerjai Nifi di masa depan nanti jika di lihat dari sifatnya yang seperti ini. Plaakkk.... Tiba-tiba Bibi Azana menepukkan tangannya dengan cukup keras hingga kami berdua menoleh ke arahnya saat ini. “Mari kita sudahi perkenalan ini dan kalian bisa bermain nanti,” ucapnya setelah menepukkan tangannya. “Nifi! Siapkan sebuah kamar untuk Arvin supaya dia bisa beristirahat dan Arvin ikuti Bibi ke meja Resepsionis!” tambah Bibi Azana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN