Guild Areti

1573 Kata
Aku melepaskan tangan ku dengan cepat karena tak tahan lagi akan tekanan dari hawa membunuh yang aku rasakan. Nafas ku memburu seperti saat setelah berlari dengan jarak yang sangat jauh, keringat dingin mulai bercucuran jatuh dari kepala ku. Hawa membunuh yang sangat luar biasa yang belum pernah ku rasakan selama ini, hawa membunuh ini seperti memang seperti sifat alami dari binatang magis yang ada di dalam telur ini yang masih belum ku ketahui apa jenisnya. Namun jika di lihat dari hawa membunuh yang di keluarkan dari saat dia masih telur, aku dapat berasumsi bahwa ini bukanlah telur dari binatang magis biasa. hooh...hoooh...hooohhh nafas ku tersengal-sengal dan aku berusaha menguasainya. “Hey Nak! Ada apa dengan kau?” ucap pria itu menghentikan perhitungan koin emasnya saat melihat keadaan ku. “Ah, aku tak apa, jangan di pikirkan Tuan, silahkan lanjutkan hitung koin emas mu,” ucap ku sambil menormalkan pernafasan ku. Pria itu pun melanjutkan perhitungannya, aku mencoba untuk bersikap biasa saja agar pria ini tak curiga pada ku. Aku tak ingin dia membatalkan untuk menjual telur ini pada ku setelah tau bahwa ada binatang magis yang luar biasa yang ada di dalam telur ini. Aku sangat senang akan perolehan ku begitu sampai ke kota Liutas, bahkan belum sampai satu hari aku berada di sini aku sudah memperoleh telur binatang magis yang luar biasa. Namun ada satu hal yang membuat ku sedikit tak tenang, yaitu cara menetaskan telur ini. Dari berbagai buku yang aku baca, cara menetaskan telur dari binatang magis adalah mengalirkan energi mana yang cukup padanya setiap hari. Aku harus melalui tekanan dari hawa membunuh yang luar biasa itu setiap harinya sampai telur ini menetaskan dirinya sendiri, hal ini bertujuan untuk membiasakan diri dengan induk atau pemiliknya. “Tak ada yang mudah dalam kehidupan,” ucap ku dalam hati saat mengingat tentang cara menetaskan telur binatang magis. Pria itu terlihat telah selesai dengan perhitungannya dan menatap ku dengan menunjukkan senyum sumringah atas apa yang dia dapatkan hari ini. “Apa itu pas?” tanya ku saat menyadari bahwa dia telah selesai dengan perhitungannya. “Ha ha ha, tentu saja, jika tidak bagaimana aku akan memasang tawa seperti ini?” jawabnya sambil tertawa keras. “Baguslah kalau begitu,” ucap ku sembari memasukkan telur itu ke dalam cincin ruangan ku. Aku kemudian teringat akan alasan ku datang ke kota ini, yaitu memasuki Dungeon. “Oh iya Tuan, apakah kau tau letak dari guild petualang di kota ini?” tanya ku pada pria ini hingga dia berhenti tertawa. “Ohh itu, kau tinggal ikuti saja jalanan utama ini hingga sampai ke alun-alun kota, saat ada di sana maka kau akan mengetahui secara langsung dimana guild petualang,” jawabnya sambil menunjuk ke arah jalanan. “Terima kasih, kalau begitu aku akan pergi sekarang!” ucap ku sembari berjalan keluar dari toko ini. “Iya sama-sama, datanglah sesekali ke sini untuk melihat-lihat barang dagangan ku,” ucapnya sembari melambaikan tangan. Aku tak menjawab perkataannya dan terus berjalan menuju arah yang dia katakan. Aku terus menyusuri jalanan bersama kerumunan orang-orang yang mungkin memiliki tujuan sama dengan ku yaitu alun-alun kota, setelah beberapa saat berjalan tanpa henti dan menghiraukan barang-barang yang di jual di setiap samping jalan. Akhirnya aku sampai pada alun-alun kota yang cukup besar, wilayahnya dari alun-alun kota menurut ku mungkin sama dengan ukuran lapangan sepak bola saat aku masih di bumi dulu. Bangunan-bangunan penting serta pemandangan yang di suguhkan sangat memikat ku untuk berlama-lama ada di sini, sungai yang mengalir dengan air jernihnya serta jembatan yang membentang menghubungkan daerah di sekitarnya. Banyak orang yang sekedar berkumpul di sini untuk melepas penat atau bahkan mencoba peruntungan dengan membuka kios di sekitar bangunan. Mata ku tertuju pada bangunan besar yang memiliki papan nama besar dengan bertuliskan Guild Areti. Bangunan yang berdiri dengan megahnya memiliki atap yang tak biasa menurut ku karena berbentuk lancip layaknya sebuah kastil, besar dari bangunan guild Areti sendiri menurut ku tiga kali lipat lebih besar dari pada guild Reistess yang ada di desa Molin. Pintu masuk dari guild Areti juga terlihat sangat besar dan indah dengan ukiran-ukiran yang berbentuk berbagai macam binatang magis serta monster, pilar-pilar yang berdiri megah mengingatkan ku pada bangunan yang ada di kastil-kastil yang sangat besar. Aku tak kunjung berhenti berdecak kagum dengan apa yang aku lihat saat ini, bahkan belum sampai aku masuk ke dalam bangunan guild mata ku sudah di manjakan begitu melihatnya. Aku pun bergegas berjalan menuju guild dengan bersemangat, hiasan patung-patung berdiri di samping pilar seperti mengatakan betapa gagahnya para petualang yang berasal di sini. Sesampainya di depan pintu guild, aku langsung masuk ke dalam bangunan karena pada saat ini pintu sedang di buka. Aku berjalan memasuki guild dengan tatapan kagum atas apa yang aku lihat saat ini, bahkan bagian dalamnya seperti istana dari seorang raja. “Astaga, apa yang mereka pikirkan sampai membuat tempat seperti ini?” pikir ku saat melihat seisi bangunan guild. Aku terus berjalan untuk mencari Resepsionis guild untuk meminta izin masuk ke dalam Dungeon. Mata ku tertuju pada barisan orang yang sedang berbaris seperti menunggu sesuatu, aku meyakini bahwa barisan ini adalah barisan orang yang meminta surat izin untuk memasuki Dungeon. Dengan cepat aku bergabung pada barisan itu, seharusnya pemikiran ku benar akan orang-orang ini tentang mereka yang sedang mengantri untuk surat izin masuk ke dalam Dungeon. Untuk memastikan bahwa aku ada di tempat yang tepat, aku menepuk pundak orang yang ada di depan ku untuk bertanya. “Tuan, apa tujuan orang-orang ini berbaris?” tanya ku pada orang yang ada di hadapan ku. Orang ini menolehkan kepalanya dan kemudian menatap ku selama beberapa saat. “Ini para petualang yang ingin meminta Stempel izin untuk masuk ke dalam Dungeon, berbarislah dan tunggu, harusnya ini tak akan memakan banyak waktu jika kau memenuhi syarat,” jawabnya tanpa curiga dan kembali memutar kepalanya ke posisi sebelumnya. Aku pun cukup merasa tenang karena aku ada di barisan yang tepat. Sembari menunggu giliran, aku melihat-lihat keadaan di guild ini. Kondisinya tak beda jauh dengan apa yang ku alami di guild Reistess, namun perbedaan signifikannya adalah jumlah petualang dan staf guild yang banyaknya jauh melebihi di guild Reistess. Papan pemberitahuan untuk misi yang berjumlah empar buah papan dengan ukuran yang sangat besar tertempel di bagian dinding yang bertuliskan misi. Para staf di sini juga memakai pakaian yang sama antara satu sama lain, hal ini mungkin bertujuan untuk memudahkan para petualang untuk menemukan para staf di guild ini. Setelah beberapa lama mengantri di barisan ini, giliran ku sudah tiba. Aku menghela nafas karena hal ini sama dengan apa yang pria tadi katakan pada ku. “Silahkan tunjukkan kartu petualang anda!” pinta seorang perempuan dari balik meja yang berhadapan dengan ku. Aku meyakini bahwa perempuan ini adalah salah satu Resepsionis dari guild ini karena dia memakai pakaian yang sama dengan para Staff lainnya. Aku menyerahkan kartu petualang ku seperti apa yang dia pinta pada ku. Namun, setelah beberapa saat memeriksa kartu petualang ku, reaksi dari perempuan ini mengingatkan ku pada Systine dan penjaga gerbang. Mereka mengeluarkan ekspresi yang sama saat mereka melihat kartu petualang ku. Aku rasa bisa memahami apa yang mereka rasakan karena sangat mustahil seorang bocah berusia tiga belas tahun mencapai tahapan inti mana Talisman Defiance dan juga mencapai petualang tingkat B. “Apa ini benar-benar asli?” tanya Resepsionis ini sambil menatap ku dengan pandangan yang seakan tak percaya akan hal yang dia lihat. Resepsionis perempuan ini menatap ku dengan tatapan tak percaya bahkan merendahkan ku melalui tatapannya. Dengan perbuatannya ini, aku di buatnya merasa kesal atas apa yang dia lakukan pada ku. Aku bisa saja saat ini membuat dia buta karena aku tak menyukai tatapannya, namun aku sadar jika aku melakukan hal itu maka aku hanya akan mendapat masalah yang lebih merepotkan lagi. “Tentu saja itu asli, bukankah kau Resepsionis? Jadi seharusnya kau bisa memastikan bahwa kartu itu asli atau tidak!” jawab ku sambil membalas tatapannya dengan memandang sinis ke arahnya. “Kalau begitu taruh tangan mu di batu altar ini, biarkan aku memeriksa hasil scanning mu,” ucapnya dengan nada malas. Aku tak menyangka akan mendapatkan pelayanan seperti ini saat baru sampai di dalam guild ini. Ibukota memang indah namun orang-orang seperti inilah yang membuat pemandangan indah menjadi rusak. Meskipun sebenarnya enggan melakukan scanning karena aku selalu merasa tak nyaman bila kekuatan ku di ketahui oleh banyak orang, aku tetap melakukan apa yang Resepsionis ini minta agar aku memperoleh Stempel izin untuk masuk ke dalam Dungeon. Setelah aku melakukan scanning, Resepsionis ini pun memeriksa hasilnya dengan teliti. Dia terlihat memeriksa satu persatu kata-kata yang tertulis di atasnya sampai pada detil-detilnya. “Haaahhh... aku tak percaya atas apa yang ku lihat barusan,” ucapnya sambil menghela nafas panjang. “Di umur 13 tahun sudah menjadi petualang tingkat B? Bahkan tahapan inti mananya sangat luar biasa,” tambahnya sambil sesekali mendenguskan nafasnya dengan keras. “Jadi apakah ada masalah?” tanya ku karena tak memperoleh jawaban dan hanya mendengarkan keluhannya saja. Resepsionis ini kembali meneliti keseluruhan tubuh ku melalui tatapannya, dia melihat dari ujung kaki sampai ke ujung rambut ku seakan tak melewatkan setiap bagian kecil pun. Tindakannya saat ini sudah menguras emosi ku secara berlebih, aku merasa ingin mencekik wanita ini dengan keras hingga bola matanya keluar dengan sendirinya karena tekanan dari tangan ku. Namun dengan masih mencoba menahan diri, aku mengurungkan niat ku tadi dan hanya pasrah menunggu keputusan darinya. “Yah sudahlah, toh juga bukan urusan ku,” ucapnya sambil mengangkat Stempel dan memukulkannya pada kartu petualang ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN