Penawaran

1552 Kata
Ada satu hal yang masih aku tak mengerti, jika di lihat dari cara mendapatkan bahkan sampai membuat armor yang berbahan dasar dari sisik Basilisk merah tua. Benda itu mungkin keberadaannya sama sekali tak ada, bahkan jika ada sekalipun pastilah hanya segelintir orang yang memilikinya. “Tuan, apa armor ini benar-benar ada?” tanya ku pada pria itu karena masih penasaran. Pria itu mendenguskan nafasnya dan matanya menampakkan tanda kecewa yang mendalam, dengan menatap ku melalui pandangan sayu ia mengatakan,” Aku takut kau tak puas akan jawaban ku Nak!” Rasa penasaran ku semakin memuncak begitu pria ini mengatakan hal demikian. “Tak apa Tuan, jika hal itu tak memberatkan diri mu maka aku akan menerimanya,” ucap ku dengan menunjukkan senyum kecil. “Baiklah jika begitu, jika ku katakan pada mu bahwa armor ini benar-benar ada, apakah kau akan percaya?” tanyanya begitu aku menyelesaikan kata-kata ku. “Jika di teliti dari penjelasan mu Tuan, aku menyimpulkan bahwa armor ini memang tak ada,” jawab ku sambil memegang dagu. “Tak apa, aku mengerti itu. Tapi, armor ini memang benar adanya!” ucap pria ini dengan mencoba berbisik pada ku. “Hmm? Benarkah itu?” tanya ku karena tak percaya akan apa yang pria ini katakan. “Iya, aku memiliki beberapa teman Dwarf yang bercerita pada ku tentang armor ini,” jawabnya sambil berbisik. Aku tersentak begitu mendengar jawabannya, karena jika para Dwarf yang mengatakan hal itu dengan sendirinya maka hal itu memang benar adanya. “Kau pasti tau ras Dwarf adalah ras yang paling menjunjung tinggi kejujuran,” ucapnya sambil menyilangkan tangannya. “Iya Tuan!” jawab ku singkat. Aku memang pernah membaca di buku mengenai ras-ras yang ada di dunia ini. Ras Dwarf memiliki kebiasaan atau kepercayaan aneh yang di anutnya, yaitu jika mereka berbohong terhadap suatu hal maka mereka akan mengecapkan stempel yang terbuat dari iron ore pada tubuh mereka. Stempel itu di panaskan terlebih dahulu sampai berwarna merah menyala, setelah itu di tempelkan pada tubuh mereka. Oleh karena itu mereka di katakan sebagai ras yang sangat menjunjung tinggi lejujuran. “Mereka mengatakan bahwa armor ini dulunya di gunakan oleh Raja Dwarf saat melakukan peperangan antar ras, dengan mengandalkan elemen api dan tanah yang membuat Raja Dwarf bisa merapalkan sihir elemen langka yaitu elemen magma. Dengan adanya kemampuan ini, dulu Raja Dwarf bisa bertarung seimbang dengan ras lainnya.” ucap pria ini dengan penuh keyakinan. “Elemen magma? Apa itu?” tanya ku karena tak mengerti. “Emm... aku juga tak atau, mungkin itu kemampuan langka dari para Dwarf,” jawabnya dengan mengangkat bahunya. Karena pria ini tak tau tentang apa yang tanyakan tadi, maka aku tak melanjutkan pertanyaan ku mengenai elemen itu meskipun aku penasaran. “Lalu kemanakah armor itu sekarang?” tanya ku pada pria ini. “Sini dekatkan diri mu,” ucapnya sambil melambaikan tangannya sebagai tanda bagi ku untuk sedikit mendekatinya. Aku pun melakukan apa yang pria ini katakan dengan tanpa mencurigainya. “Menurut para Dwarf, armor ini di rampas oleh Raja dari ras manusia saat mereka kalah, namun karena ras manusia tak bisa mengeluarkan kemampuan dari armor ini dengan sempurna maka armor ini hanya di biarkan berdebu di suatu tempat yang hanya orang kerajaan yang tau,” ucap pria ini sambil berbisik pelan pada ku. Aku mendengarkan perkataan pria ini dengan seksama, setelah dia selesai mengatakan pada ku mengenai armor ini, di kepala ku saat ini penuh dengan pertanyaan karena masih ada beberapa hal yang tak ku mengerti. Namun aku sadar karena meskipun aku bertanya pada pria yang memiliki toko ini, dia tak akan memberi jawaban yang memuaskan. Oleh karena itu aku mengurungkan niat ku untuk bertanya dan hanya mengangguk tanda paham dengan apa yang dia katakan. Kami berdua terdiam selama beberapa saat seperti sedang mencerna informasi yang ada saat ini. Aku tersadar bahwa masih ada satu telur yang masih di jelaskan oleh pria ini, dengan sigap untuk mengatasi suasana hening seperti ini, aku pun menanyakan tentang telur ini. “Tuan! Bagaimana dengan telur ini?” tanya ku sambil menunjuk pada telur terakhir. Telur terakhir ini berwarna hijau dengan pola sisik yang memenuhi permukaannya, jika di lihat dari teksturnya maka permukaan dari telur ini kasar. Cahaya hijau gelap yang di keluarkan membuat aku terpana akan telur ini, telur inilah yang menarik perhatian ku begitu aku melihatnya dari luar toko. “Ohh telur ini, maaf Nak, aku tak tau ini telur dari binatang magis apa?” ucapnya sambil mengangkat kedua tangannya. “Ha? Kenapa begitu?” tanya ku karena tak paham dengan apa yang pria ini katakan. “Itu adalah telur yang ku beli dari seseorang yang memaksa ku beberapa minggu lalu,” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepala. “Aku terpaksa membelinya karena orang itu terlihat sangat membutuhkan uang, oleh karena itu aku tak tau ini adalah telur dari binatang magis apa,” tambahnya sambil menghela nafas. Karena aku merasa ini adalah telur dari binatang magis yang tak biasa, aku jadi memiliki keinginan untuk membelinya. “Tuan, berapa kau membeli telur ini?” tanya ku kembali sambil menunjuk telur hijau ini. “Hmm aku membelinya sekitar 50 koin emas, aku sungguh bodoh memberikan uang ku pada telur yang aku sendiri tak tau dari binatang magis apa!” jawabnya sambil memukul-mukul meja. Beruntungnya aku uang yang ku miliki saat ini cukup, jika tau harganya akan semahal ini maka aku terima saja uang dari Dave. Di masa depan aku tak akan melakukan kesalahan seperti itu lagi, bahkan di dunia mana pun uang adalah hal yang berharga yang menjadi salah satu faktor pendukung penting untuk mencapai hal yang di inginkan. “Bagaimana jika aku membeli telur ini dengan harga 40 koin emas?” tanya ku sambil tersenyum kecil pada pria ini. “Nak,selisihnya itu tidak sedikit bagi ku, setidaknya 48 koin emas dan aku akan menjualnya pada mu,” jawab pria ini sambil menggeleng-gelengkan kepalannya. “42 koin emas, dengarkan aku Tuan, tak ada jaminan bahwa telur ini akan terjual, bukankah kau memperolehnya setelah beberapa minggu? Dan sampai saat ini belum ada yang membelinya!” ucap ku menawar kembali telur ini. “Perkataan mu benar juga tapi sebagai pedagang yang mencari keuntungan, aku meminta mu untuk menambahkan kembali jumlahnya,” ucap pria ini sambil menunjuk ke arah ku. “Baiklah 45 keping koin emas, setidaknya kau sudah berbaik hati untuk mengatakan telur-telur tadi pada ku,” jawab ku menyerah akan permintaannya. “Oke, kita sepakat!” ucap pria ini sambil menepukkan tangannya. Aku pun mengeluarkan sejumlah koin emas yang telah di tetapkan sebagai harga dari telur ini. Pria ini terlihat terkejut ketika aku mengeluarkan koin emas ku melalui cincin penyimpanan ku. Dia menatap tajam ke arah cincin ku selama aku mengeluarkan koin emas. “Nak, maukah kau menjual cincin ini pada ku? Aku akan membelinya dengan 300 koin emas!” ucap pria ini dengan mata yang berbinar-binar. “Haa? Ayolah Tuan jangan bercanda, aku tak akan menjual cincin ini meskipun kau memberi armor dari sisik Basilisk merah tua!” jawab ku sembari menatapnya. “Cih dasar bocah tengil, sebaiknya kau menyembunyikan cincin Hrudzi itu dengan benar, jika kau menunjukkannya secara jelas seperti itu maka kau akan menjadi sasaran dari perampok atau bahkan sesama petualang,” ucapnya pria ini dengan terlihat kesal. Aku yang tadinya masih belum menyadari nilai sebenarnya dari cincin ini, terus saja bersikap masa bodoh akan apa yang pria ini katakan. Namun mengingat kejadian saat perampok yang menyerang ku juga ekspresi terkejut yang sama saat orang-orang melihat aku memiliki cincin ini membuat ku tersadar. Aku harus mencari cara untuk menyembunyikan cincin ini di tangan ku agar orang-orang tak sadar akan keberadaan cincin ini. Setelah beberapa saat, koin emas yang berjumlah empat puluh lima keping sudah terkumpul di atas meja tepat di hadapan pria ini. Matanya berbinar-binar saat melihat koin emas yang ada di hadapannya layaknya seekor singa yang melihat rusa di depan matanya, dia terlihat siap menerkam koin emas itu. “Dari mana kau bisa mendapat koin emas sebanyak ini? Ah bodohnya aku, kau kan seorang petualang,” ucapnya sambil melihat ku dengan tatapan takjub. “Silahkan di hitung terlebih dahulu Tuan!” ucap ku menyuguhkan koin emas itu. “ lTentu saja, kami para pedagang selalu bersikap hati-hati akan uang,” ucapnya seperti memaki pada ku. “Kalau begitu tak perlu sungkan!” tambahnya sambil menyambar satu keping koin emas. Ia pun menghitung koin emas yang ada di hadapannya dengan wajah yang serius, air liurnya seperti akan jatuh saat dia menghitung satu persatu koin emas itu. Sementara menunggu ia selesai akan perhitungannya, aku memeriksa telur itu dengan cara menyentuhnya. Berbeda dengan saat aku menyentuh telur dari Kadal es biru yang terasa dingin saat aku menempelkan tangan ku ke permukaan telur itu. Saat aku menyentuh telur itu sama sekali tak ada perubahan suhu yang terasa di tangan ku, bahkan tangan ku hanya merasakan tekstur kasarnya saja yang berasal dari permukaan telur ini. Aku mencoba menutup mata ku dan mencoba mengalirkan energi mana ku ke dalam telur ini. Saat energi mana ku telah mengalir ke telur ini, tiba-tiba aku merasakan sebuah tekanan yang berasal dari hawa membunuh yang sangat kuat. Hawa membunuh ini memang tak di arahkan pada ku namun tetap saja sangat terasa begitu aku mengalirkan energi mana ku. Dengan cepat aku melepaskan tangan ku dari telur ini karena aku merasa tekanan dari hawa membunuh telur ini semakin kuat seiring semakin lama aku mengalirkan energi mana ku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN