Telur yang menarik perhatian

1560 Kata
Kota Liutas atau di kenal sebagai ibukota dari kerajaan Shelion. Kota yang padat dengan mayoritas penduduknya adalah ras manusia, sekitar delapan puluh persen dari penduduk di sini adalah manusia dan sisanya adalah ras Elf dan Dwarf. Katedral yang berdiri dengan megahnya merupakan ciri khas dari kota ini, katedral ini merupakan salah satu daya tarik di kota ini dan merupakan salah satu alasan dari orang-orang dari berbagai daerah datang ke sini hanya untuk masuk ke dalamnya. Masuk ke dalam katedral ini pun juga bukan sebuah pekerjaan yang bisa semua orang lakukan karena ada batasan dan ujian hanya untuk masuk ke dalamnya. Salah satu ujian yang terkenal adalah tangga harapan, dimana orang-orang di perintahkan untuk menaiki tangga ini satu persatu hingga sampai ke pintu masuk katedral. Hal yang membuatnya menjadi terkenal adalah, setiap menaiki satu anak tangga ada seperti kekuatan aneh yang membebani tubuh sehingga terasa kian berat. Kekuatan aneh yang menekan orang-orang setiap menaiki anak tangga, kian bertambah seiring banyaknya anak tangga yang di naiki. Dengan jumlah anak tangga yang mungkin sekitar seribu lebih, dan kekuatan yang meningkat kian banyaknya anak tangga yang di naiki maka ujian ini menjadi semakin berat dam mustahil untuk di lewati. “Aku ingin tau siapa saja yang bisa melewati itu,” ucap ku dalam hati sambil melihat ke arah tangga harapan yang terlihat jelas meskipun aku berada cukup jauh darinya. Aku beranjak dari tempat ku berdiri saat ini dan berjalan menyusuri jalanan utama untuk mencari penginapan serta guild petualang. Menyusuri jalanan utama kota ini, aku menyadari bahwa buku yang aku baca ketika masih di desa ku memang benar adanya. Dimana selama aku berjalan, aku hanya bisa bertemu dengan beberapa Elf yang jika di lihat dari pakaian yang di kenakan, ia bekerja sebagai petualang dan Dwarf yang membuka kios ataupun toko senjata untuk perlengkapan para petualang. “Tak sia-sia aku membaca banyak buku saat masih di desa,” pikir ku sambil terus berjalan. Kaki ku terhenti dan pandangan ku terpaku pada beberapa telur besar yang ada di dalam sebuah toko, telur-telur dengan berbagai corak dan warna yang menghiasi permukaannya menarik perhatian ku untuk memasuki toko itu. Pada awalnya telur-telur ini ku pikir adalah sebuah permata besar yang di jual oleh toko ini, alasannya karena telur-telur ini bisa mengeluarkan cahaya meskipun tak terlalu terang. Dari buku yang aku baca, telur-telur ini adalah telur dari binatang magis yang memiliki kekuatan untuk memanipulasi elemen layaknya manusia. Bahkan ada beberapa yang sangat langka hingga bisa menggunakan kemampuan teleportasi atau ruang dan waktu. Aku pun memasuki toko itu dengan pandangan takjub akan hal yang aku lihat saat ini. Toko ini sepertinya berfokus untuk menjual potion dan barang-barang yang biasa di gunakan oleh petualang. Telur binatang magis yang berjumlah tiga butir ini memiliki warna mereka dan cahaya masing-masing, aku tergoda untuk mengetahui binatang magis apa yang ada di dalamnya sehingga aku pun berjalan mendekati telur-telur itu. Namun belum sampai aku di berjalan ke telur-telur itu, aku dikagetkan dengan suara langkah kaki dan sambutan seorang pria dari balik pintu di belakang meja yang di atasnya adalah tempat telur-telur itu berada. “Selamat datang di toko Eidikos!” ucap seorang pria sambil membuka pintu itu. “Ada yang bisa aku bantu Nak?” tambahnya begitu melihat ku. Seorang manusia yang cukup tinggi dengan janggut dan kumis berwarna pirang yang menempel di wajahnya saat ini. Pria dengan tatapan lembut namun tegas, meneliti ke keseluruhan tubuh ku dengan seksama melalui pandangannya saja. “Nak, apa kau seorang petualang?” tanya dia begitu selesai memperhatikan ku. “Iya Tuan!” jawab ku singkat sambil memandanginya. “Hmm... apa yang kau butuhkan sampai masuk ke toko ku?” tanya dia kembali. Insting ku mengatakan bahwa jika aku tak mengatakan kebenaran, aku akan memperoleh kerugian besar. Jadi aku akan memutuskan untuk mengatakan kebenarannya saja karena memang tak ada alasan untukku agar berbohong pada orang ini. “Aku hanya tertarik pada ketiga telur ini!” jawab ku dengan tegas. “Apa boleh Tuan mengatakan telur binatang magis apakah mereka semua ini?” tanya ku pada pria itu. Pria itu mengangkat tangannya kemudian mengusap-usap janggutnya seakan memikirkan sesuatu yang aku tak tau apa itu. Karena dia tak kunjung menjawab pertanyaan ku, maka ku simpulkan bahwa Tuan ini tak ingin menjawab pertanyaan ku sehingga sejenak aku berpikir untuk pergi meninggalkan toko ini. “Baiklah, aku akan mengatakannya pada mu, toh tak ada yang harus di sembunyikan,” ucap pria ini secara tiba-tiba. “Terima kasih Tuan!” jawab ku dengan penuh antusias. Pria ini mulai mengarahkan tangannya pada telur pertama yang memiliki corak retakan dengan kulit telur berwarna biru muda, terlihat ada cahaya yang redup keluar dari setiap retakan. “Ini adalah telur dari Kadal es biru yang berasal dari daratan es di utara, binatang magis ini memiliki kekuatan sesuai dengan namanya yaitu mengendalikan es. Dia bisa menggunakan es sebagai senjata untuk menyerang atau bahkan menggunakan perisai es untuk melindungi dirinya. Binatang ini sangat susah di jinakkan karena kecenderungannya sebagai pemangsa, bahkan kontrak dari binatang magis ini bisa membahayakan pemiliknya karena ia memiliki suhu yang sangat dingin yang bisa membuat beku meskipun berdiri di sampingnya,” ucap pria ini dengan penuh semangat. “Kau bisa menyentuh telur ini untuk merasakan suhunya,” tambah pria ini mempersilahkan aku untuk menyentuh telur yang dia katakan. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini dan melakukan apa yang dia katakan pada ku. Setelah ku sentuh, tangan ku memang merasakan dingin namun tak sampai se dahsyat seperti apa yang pria ini katakan sebelumnya. Hal ini membuat ku kebingungan atas penjelasan dan kenyataan yang ada di depan mata ku. “Tuan, ini memang dingin tapi tak sedingin dengan apa yang kau katakan,” ucap ku membantah apa yang pria itu jelaskan pada ku tadi. “Bocah bodoh, itu memang normal karena kau menyentuh telurnya bukan binatang magisnya, jika kau menyentuh binatang magisnya maka mungkin tangan mu saat ini sudah membeku!” jawab pria itu dengan sedikit meninggikan suaranya. Aku pun memuaskan diri dengan apa yang dia katakan karena jika di pikirkan kembali apa yang dia katakan barusan memang benar. Dia melanjutkan penjelasannya kepada telur selanjutnya, telur yang memiliki warna merah gelap dengan cahaya merah menyala di bagian bawah yang membentuk layaknya bebatuan. “Ini adalah telur dari Basilisk merah tua yang berasal di kawasan gunung berapi yang ada di sebelah wilayah Aurian, bisa kau bayangkan betapa berharganya dan mahalnya telur dari seekor binatang magis yang memerlukan beberapa kelompok petualang tingkat A untuk menaklukan satu ekor Basilisk dewasa. Binatang magis ini mengeluarkan sebuah cairan dari mulutnya yang panasnya seperti magma dari gunung berapi, dia bisa menggunakan cairan ini kapan saja jika dia tengah terancam,” ucap pria ini melanjutkan penjelasannya. “Sisik dari Basilisk merah tua sangat keras layaknya iron ore berkualitas tinggi, bahkan sebuah armor yang di buat dari sisik Basilisk merah tua memiliki kemampuan tahan terhadap api,” tambahnya. Aku memahami betapa berharganya binatang magis ini, bahkan orang yang memasuki sarang dari Basilisk merah tua menurut ku hanyalah orang-orang yang berani. Karena dari buku yang pernah k*****a mengenai Basilisk ini mengatakan bahwa daerah yang di diami oleh makhluk ini adalah tempat dimana binatang magis dengan kekuatan yang sangat kuat dan monster yang mendiami daerah sekitarnya setidaknya sekitar tingkat A. “Apa ada orang yang bisa menjinakkan dan menjalin kontrak dengan makhluk ini?” tanya ku pada pria ini. “Ada seorang bangsawan yang kabarnya bisa menjinakkan Basilisk merah tua ini, namun aku tak tau itu benar atau tidak,” jawabnya dengan mengangkat kedua tangannya. “Kenapa kau menanyakan itu Nak?” lanjutnya kembali bertanya pada ku. “Ahh tidak Tuan, aku hanya penasaran orang seperti apa yang mampu mengendalikan binatang magis seluar biasa seperti ini,” jawab ku dengan sambil tertawa. “Yahh, aku paham maksud mu,” ucapnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Aku kemudian teringat akan apa yang pria ini katakan pada ku mengenai armor yang di buat dari sisik Basilisk merah tua, yang mana itu memiliki kemampuan tahan terhadap api. Jika saja aku dapat memiliki armor itu ataupun sisik Basilisk merah tua, aku ingin menguji cobanya dengan api hitam ku. “Lalu apakah Tuan memiliki armor dari sisik Basilisk yang Tuan katakan pada ku?” tanya ku kembali. “Bocah, apa kau serius bertanya seperti itu bahkan setelah tau toko ku ini menjual apa,” jawabnya sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang. “Lupakan betapa langkanya bahan itu karena cara mencarinya yang harus masuk ke dalam gunung berapi, bahkan harga dari satu buah sisik Basilisk merah tua hampir mencapai 1 platinum. Bagaimana jika armor jadi yang terbuat dari sisik makhluk itu hah? Apa kau bisa membayangkan seperti apa harganya? Tak terhingga!” jawabnya dengan muka yang emosi. “Apa yang membuatnya mahal Tuan?” tanya ku kembali. “Haaahhh... pertama adalah bahannya yang langka, habitatnya yang mempunyai suhu sangat tinggi membuat para petualang enggan memburu makhluk ini. Kedua, meskipun kau memiliki bahannya dengan jumlah yang banyak, kau tak bisa menyerahkan bahan ini untuk di buat armor pada Blacksmith biasa. Setahuku hanya ras Dwarflah yang bisa melakukan pekerjaan itu karena teknik metalurgi mereka yang rahasia dan hanya para Dwarf yang tau,” jawab pria itu dengan menundukkan kepalanya. Aku mengangguk-anggukan kepala ku setelah mendengarkan penjelasan dari pria ini mengenai armor dari Basilisk merah tua, hati ku tergerak untuk memiliki bahan ini. Namun untuk saat ini aku hanya perlu fokus terhadap Dungeon dan menaklukan setiap lantainya sampai aku mengetahui hal apa yang menyebabkan seorang Dewa membuat Dungeon di sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN