Selamat Datang di Ibukota

1554 Kata
Aku terus mempercepat langkah ku agar bisa segera sampai ke benteng yang menjadi gerbang masuk ke kota Liutas. Pada saat sampai di depan jembatan, aku di kejutkan dengan megahnya benteng dari kota Liutas ini. Aku bahkan tak bisa melihat bangunan yang ada di dalam kota karena tinggi dari benteng ini, aku segera berjalan menuju barisan orang yang mungkin sedang menunggu untuk memasuki kota Liutas. Barisan yang lumayan panjang hingga kurasa akan banyak memakan waktu menunggu di sini, namun perkiraan ku salah karena proses dari pemeriksaan ternyata cukup cepat sehingga barisan ini bisa berjalan maju. “Nak, nak, kenapa kau di sini sendirian? Mana orang tua mu?” ucap seorang pria mengagetkan ku dalam barisan Aku menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang saat ini sedang berbicara dengan ku. Pria yang berpakaian serba putih dengan janggutnya yang cukup panjang dengan warnanya yang putih, pria ini berdiri dengan tegap meskipun wajah dan rambutnya menunjukkan bahwa umurnya tak lagi muda. Dia menatap ku dengan tatapan sayu selayaknya seorang kakek-kakek yang biasa aku temui. “Ah... aku di sini untuk berpetualang Tuan,” jawab ku dengan sopan. “Haah? Bocah seperti mu mau berpetualang? Kau terlalu banyak membaca dongeng nak,” ucap seorang pria mengikuti pembicaraan antara aku dan kakek ini. Aku menolehkan kepala ku pada sumber suara untuk melihat siapa yang berbicara begitu pada ku. Mata ku menatap seorang pria yang mungkin umurnya sedikit lebih muda daripada ayah, wajahnya yang sangar bisa saja membuat seorang anak kecil menangis hanya dengan menatapnya. Orang ini menatap tajam ke arah ku dengan tatapan yang tak mengenakkan, aku menggubris pria ini karena dia masih terlalu lemah untuk melawan ku, tahapan inti mana dari pria ini adalah Encourage sehingga kata-katanya tak begitu membekas bagi ku. Aku kembali menolehkan kepala ku pada kakek ini dan melanjutkan perbincangan kecil kami. “Jangan dengarkan orang itu dan juga jangan panggil aku Tuan, panggil saja aku Kakek,” ucap Kakek ini sambil tersenyum pada ku. “Kalau begitu apa yang anda lakukan di sini kek?” tanya ku pada Kakek itu. “Aku di sini hanya untuk pergi ke Katedral,” jawab Kakek itu sambil tersenyum. Pria yang tadinya dengan seenaknya mengikuti pembicaraan kami saat ini terdiam dan fokus berbaris menunggu giliran masuk ke dalam kota Liutas. Aku memang berencana tak membuat masalah selagi aku masih baru sampai dan juga belum masuk ke dalam kota, jika saja pria tadi meneruskan pembicaraannya dan menghinaku, mungkin saja aku akan mengakhiri hidupnya begitu masuk ke dalam kota. “Nak, jawab kau dengan jujur! Kau itu siapa?” tanya Kakek itu dengan memasang wajah yang serius. “Hmm? Apa maksud Kakek? Apa Kakek menanyakan nama ku?” ucap ku karena kebingungan. “Nama ku Clay!” tambah ku. “Bukan, bukan namamu tapi, hmm... nama kakek Yosep,” ucap Kakek itu dengan wajah yang tak puas. Karena masih kebingungan dengan apa yang dia maksud, aku pun kembali menanyakan apa yang sebenarnya dia ingin katakan. “Apa ada yang salah Kek?” tanya ku. “Tidak, hanya saja dari mana kau mendapatkan aura dan tekanan seperti ini?” tanya dia balik pada ku. “Hmm apa maksud mu Kek?” ucap ku karena masih tak mengerti apa yang coba Kakek Yosep katakan pada ku. “Apa yang sudah kau alami dalam hidup sehingga aura mu lebih menyeramkan daripada Petualang kelas atas yang ku ketahui,” ucap Kakek itu dengan sedikit gemetaran. Sekarang aku paham apa yang coba dia katakan pada ku, namun aku tak berencana menjawabnya karena itu bukanlah hal yang harus ku jawab dan seharusnya dia juga mengetahui itu. Tak baik mencampuri urusan orang lain apalagi jika orang itu baru kau kenal. “Sudahlah, lupakan apa yang aku katakan tadi, barisannya sudah berjalan, ayo kita mendekat ke sana,” ucapnya dengan sambil memegangi pundak ku. Aku pun melakukan apa yang dia katakan dan berjalan maju untuk merapatkan barisan ku. Aku memperkirakan Kakek Yosep ini adalah salah satu tokoh penting dalam katedral ataupun di sini, karena aku sepintas melihat kalung yang di pakainya saat ini sama seperti lambang yang ada di atas benteng. Katedral ini sendiri juga menarik perhatian ku, aku penasaran tentang apa yang ada di dalam sana. Sikap sopan ku pada Kakek Yosep ini bukanlah hanya karena dia adalah seseorang yang baik dan juga berumur lebih tua dari pada aku, namun karena tahapan inti mananya jauh melebihi aku saat ini. Aku merasakan kekuatan energi mana yang membuat ku seperti akan pingsan hanya karena berdiri di hadapannya, dia melakukan itu secara sengaja hanya untuk menguji ku dan juga menunjukkan kekuatan dari seseorang yang ada di tingkatan Spellbreaker Valor. “Bagaimana seorang pria tua seperti ini bisa mencapai tingkatan ini,” pikir ku saat tadi berhadapan dengannya. Camazot mungkin bukan apa-apa di hadapan orang tua ini, mungkin dia akan terbunuh hanya dengan satu sihir yang dikeluarkannya. Barisan terus menipis hingga giliran ku hampir tiba, pria yang tadi mengikuti pembicaraan kami masuk ke dalam terlebih dahulu untuk melakukan pemeriksaan. Sesaat akan masuk ke dalam benteng, dia tersenyum sinis pada ku seakan tak menyukai kehadiran ku di sini. “Hee? Ayo kita lihat apa kau akan tetap bersikap seperti itu jika kedua bola mata mu lenyap,” pikir ku saat melihat pria itu tersenyum sinis pada ku. Setelah beberapa saat giliran ku untuk melakukan pemeriksaan di mulai. Aku memasuki benteng dan di tunjukkan ke arah ruangan yang di jaga oleh beberapa orang dengan dua meja yang berisi satu orang yang duduk di belakang setiap meja sambil menuliskan sesuatu. “Silahkan perlihatkan surat izin mu dan kartu petualang mu jika kau seorang petualang,” ucap pria yang sedang duduk pada ku. Aku pun memberikan apa yang mereka minta tanpa menanyakan apa-apa, tak ada keanehan saat mereka melihat surat izin masuk ku. Namun, pria yang duduk sambil memeriksa kartu petualang ku tiba-tiba berdiri dan menatap ke arah ku. “Apa-apaan ini? Petualang tingkat B di umur 13 tahun?” ucapnya sambil meninggikan suara. Para penjaga dan orang yang memeriksa surat izin masuk ku pun juga terlihat kaget setelah mendengar hal itu. Mereka kemudian menatap ku dalam waktu yang cukup lama sehingga hal itu cukup mengganggu ku. “Anoo... apa ada yang salah?” tanya ku pada mereka karena mereka tak berhenti menatap ku. “Ah tidak-tidak, hanya saja kami terkejut karena peringkat mu di umur se muda ini,” jawab pria yang memeriksa kartu petualang ku. “Sangat jarang ada petualang tingkat B di umur seperti mu,” lanjut dia. Aku tak menyangka mereka kaget hanya karena peringkat ku, sejujurnya aku tak memperdulikan hal itu karena itu sama sekali tak penting bagi ku. Namun menurut perkataan Systine dua hari yang lalu bahwa ada batasan tingkatan untuk memasuki Dungeon, maka hal ini cukup membantu ku. “Apa alasan mu datang ke kota ini?” tanya pria yang memeriksa surat izin masuk ku. “Hei, kau serius bertanya lagi untuk apa dia datang ke sini? Sudah jelas dari peringkat nya bahwa dia akan pergi ke dalam Dungeon,” jawab pria yang memeriksa kartu petualang ku. “Yah itu hanya pertanyaan formal pada setiap orang yang masuk ke kota ini, dan kenapa kau yang menjawab pertanyaan ku?” ucap pria yang memeriksa surat izin masuk. Keduanya saling berdebat dalam waktu yang cukup lama, mereka memperdebatkan hal yang sama sekali tak penting mengenai diri ku sampai menyerempet ke hal lainnya. Aku ingin segera masuk ke dalam kota Liutas saat ini namun di hentikan dengan perdebatan mereka yang menganggu ku. “Hei bisakah kalian berhenti melakukan itu? Barisan pendatang tersendat lama dan semakin bertambah! Jika kalian tak menghentikan kebiasaan kalian yang seperti ini maka jangan harap ada gaji untuk bulan depan” ucap seorang pria yang tiba-tiba memasuki ruangan tempat aku sedang di periksa saat ini. Kedua pria itu langsung berhenti begitu pria ini menceramahi mereka, jika di lihat dari perilaku mereka yang patuh terhadap pria yang baru masuk ini. Maka aku menyimpulkan bahwa dia adalah ketua divisi ini yang menguasai penjagaan gerbang. “Tuan Clay, silahkan ambil kartu petualang anda di sini,” ucap pria yang memeriksa kartu petualang ku. Aku pun menghampirinya dan mengambil kartu petualang ku yang ada di atas meja nya. Pria ini menatap ku dengan ekspresi yang ingin mengatakan sesuatu pada ku. “Maaf atas perbuatan kami tadi Tuan,” ucapnya meminta maaf pada ku. “Tak apa, suatu hiburan tersendiri bagi ku,” ucap ku sambil mengambil kartu petualang ku. Kedua pria itu hanya merespon dengan tertawa kecil atas jawaban ku. "Selamat datang di kota Liutas Tuan Clay!" ucap kedua pria itu secara bersamaan. Aku kemudian di arahkan masuk ke dalam kota di pandu oleh seorang prajurit dengan armor lengkap dan senjata yang melekat di tempatnya. Prajurit itu membukakan pintu untukku dan aku kemudian berjalan ke dalam kota Liutas dengan tak sabar. Begitu sampai di dalam kota Liutas, hal pertama yang membuat ku kagum dan terkejut adalah katedral. Katedral yang berdiri dengan megahnya dengan ketinggian yang mungkin akan menghancurkan tubuh manusia jika melompat dari ujung atas bangunannya. Suasana di sini jauh lebih ramai dari pada desa Molin dimana bangunan-bangunannya juga lebih megah dari desa Molin. Jalan-jalan yang di miliki bukan lagi menggunakan tanah, namun seperti menggunakan batu-batu yang di susun rapi membentuk jalan dan nyaman untuk di tapaki. Aku bahkan sampai tak tau untuk berkomentar apa-apa lagi di sini. Dengan keadaan seperti ini, kota Liutas memang layak menyandang nama sebagai ibukota dari Kerajaan Shelion.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN