Sekumpulan semut

1856 Kata
“Apa alasan mu berkata begitu?” tanya ku pada Latz yang terlihat begitu yakin akan perkataan nya. Latz mendongakkan kepalanya dan menatap ku yang sedang berada di atas kuda saat ini. “Kyle yang Tuan utus untuk menyelinap masuk ke dalam kota Liutas, memiliki seorang teman yang merupakan prajurit kerajaan yang saat ini bertugas untuk menjaga gerbang masuk Tuan,” jawab Latz dengan percaya diri. “Kyle memberitahukan pada saya dan Bernal sebelum berangkat menuju ke sini,” tambah Latz. Aku mengangguk-anggukan kepala tanda paham atas apa yang Latz sampaikan pada ku. Dengan adanya dukungan seperti itu, maka memasuki kota Liutas tanpa surat izin adalah hal yang memungkinkan. “Lalu kenapa kau mengatakan bahwa kalian bisa masuk di malam hari jika memiliki hubungan seperti itu?” tanya ku pada Latz. “Saya juga tak tau akan hal itu Tuan, namun Kyle bilang pada kami bahwa kami semua bisa masuk saat hampir tengah malam,” jawab Latz sambil menundukkan kepalanya. Karena dari kedua Ketua regu yang bersama ku tak tau alasannya maka aku tak menanyakan hal itu lebih jauh lagi. Aku kemudian bergerak ke depan barisan untuk melihat kota Liutas dengan mata kepala ku sendiri, namun dari jarak seperti ini yang terlihat hanyalah benteng besar dengan jembatan yang menjadi jalan masuk ke dalam sana. Aku harus pergi ke sana sendiri untuk melihat lebih jelas lagi. “Baiklah jika begitu, aku akan pergi ke sana sekarang!” ucap ku sambil melihat ke arah para anggita Yami. “Aku mempercayakan Latz untuk memimpin sekarang selagi aku masuk ke sana sendirian,” tambah ku. Aku pun turun dari atas kuda ini dan membiarkan kuda ini berada di sini bersama para anggota Yami. Aku berjalan meninggalkan kelompok Yami tanpa memberi perintah lagi pada mereka, aku percaya Latz akan melakukan tugasnya dengan sebaik-baiknya jika dilihat dari sikapnya. Jarak antara aku dan kota Liutas saat ini sekitar lima kilometer, alasan kenapa aku bisa melihat kota ini dari jarak yang lumayan jauh adalah karena dataran yang saat ini ku tapaki berbentuk layaknya bukit-bukitan yang cukup tinggi sehingga pepohonan dan yang lainnya tak dapat menghalangi pemandangan kota Liutas dari jarak sejauh ini. Aku terus berjalan tanpa memperdulikan apapun yang ada di sekitar ku, rasanya cukup nyaman berjalan menggunakan kaki ku sendiri tanpa harus mengawasi kelompok Yami. Namun, setelah menempuh setengah jarak untuk mencapai kota Liutas, aku merasakan ada orang yang membuntuti ku dari tadi. Hal itu memang benar adanya saat aku menggunakan sihir deteksi ku, ada sekitar empat orang yang sedang membuntuti ku dari hutan di samping ku. Mereka semua membawa senjata namun tak ada pergerakan lain kecuali mengikuti ku. Karena mereka tak menyerang, maka aku tak memperdulikan mereka dan terus berjalan sambil mengaktifkan sihir deteksi ku. Setelah beberapa saat berjalan menyusuri jalan yang menuju kota Liutas, sihir deteksi ku menangkap ada enam orang yang berdiri menghadang ku di jarak lima puluh meter dari ku. Aku meyakini bahwa mereka adalah teman dari orang-orang yang mengikuti ku sedari tadi karena ketika jarak antara aku dan orang-orang yang menghadang ku semakin pendek, orang-orang yang membuntuti ku juga semakin mendekat kepada ku. Aku terus berjalan sambil bertingkah biasa seperti tak terjadi apa-apa, dan aku mulai melihat ke enam orang yang menghadang ku di depan jalan ku. Mereka mengeluarkan senjata mereka di ikuti dengan ke empat orang yang membuntuti ku juga keluar dan menghadang ku dari belakang. “Ha ha ha, bocah serahkan harta mu!” ucap salah satu dari mereka yang ku yakini sebagai pemimpin mereka. Perawakan dari orang-orang ini memang layak sebagai perampok. Wajah mereka yang mayoritas ada bekas luka jahitan dan bekas luka sayatan dari benda tajam, tubuh mereka yang berotot hingga terasa mendominasi di hadapan seorang bocah seperti ku. Namun sayangnya ada satu hal yang amat di sayangkan sehingga menjadi kekurangan fatal bagi mereka, itu adalah tahapan inti mana mereka semua. Dari yang ku amati sedari tadi, mayoritas tahapan inti mana mereka berada di tahap Scorch dan yang paling kuat hanya dua orang dengan tahap inti mana Bravery Defiance. Jika aku menggunakan senjata ku untuk melawan sepuluh orang lemah ini, maka itu akan menjadi penghinaan bagi ku. “Anoo Paman-paman sekalian, apa yang kalian inginkan?” tanya ku berlagak bodoh di hadapan mereka. “Serahkan harta mu bocah jika kau tak ingin hidup mu berakhir di sini,” jawab orang yang pertama kali membuka suara tadi. “Hmm... apa Paman sekalian tak melihat aku tak membawa apa-apa?” ucap ku dengan masih berlagak bodoh. Namun sepertinya mereka menyadari keberadaan dari cincin penyimpanan milik ku yang ada di jari telunjuk tangan kanan ku. Sepertinya insting ku memang benar karena saat aku mengatakan bahwa aku tak membawa apa-apa, mereka langsung melihat ke arah cincin dengan permata hijau yang merupakan cincin penyimpanan ku. “Jangan kira kami bodoh bocah tengik! Serahkan cincin itu jika kau tak ingin mati!” ucap pemimpin perampok itu. “Cepat lepaskan cincin itu!” tambahnya sambil mengacungkan pedang ke arah wajah ku. Aku kemudian tersenyum dengan apa yang dia katakan dan kembali menggoda mereka. “Kalau begitu silahkan ambil sendiri saja!” ucap ku pada mereka sambil menjulurkan tangan ku ke depan. “Aku tak bisa melepaskannya,” tambah ku sambil berpura-pura ketakutan. Aku berpura-pura ketakutan agar para perampok ini tetap mengira aku sebagai bocah biasa, dan mereka benar-benar termakan umpan yang aku berikan. Salah satu dari mereka maju tanpa komando dari pemimpinnya dan berjalan ke arah ku sambil memasukkan pedang miliknya ke tempat semula. Dia dengan senyum percaya diri maju menuju ke arah ku dan mencoba melepaskan cincin milikku ini. Di saat tangannya memegangi tangan kanan ku dan mencoba melepaskan cincin ku, aku segera menusuk d**a bagian kirinya menggunakan tangan ku yang sudah ku aliri dengan energi mana sehingga tangan ku saat ini seperti layaknya pedang yang amat sangat tajam. Tangan ku menembus d**a kiri pria itu sambil mengeluarkan jantung miliknya dari tempat semula, jantungnya saat ini terasa masih berdetak di tangan ku yang memeganginya dengan lumuran darah yang masih menetes. Orang-orang yang mengepung ku menyadari apa yang aku lakukan dan terkejut dengan mata yang terbelalak ke arah ku, mereka berinisiatif menyerang ku secara bersamaan. “Bocah!! Beraninya kau!” teriak pemimpin perampok sambil mengayunkan pedangnya. Aku melemparkan tubuh pria yang di bunuh oleh ku saat ini dengan cara memutar tubuh dan menarik dengan keras tubuh pria ini sehingga terlempar ke belakang mengenai dua temannya yang berlari ke arah ku. Aku mengalirkan energi mana ku ke kedua tangan ku dan melompat pada orang-orang yang mencoba menyerang ku secara satu persatu. Dimulai dari pemimpin perampok itu, aku melompat ke hadapannya dan memotong kedua tangannya sehingga dia berteriak kesakitan akan hal itu, ketika dia masih berteriak dan anggotanya yang lain baru menyadari apa yang ku lakukan. Aku segera memotong paha pemimpin perampok ini menggunakan tangan ku, dia jatuh tersungkur ke atas tanah dengan darah yang masih mengalir deras dari kedua tangannya serta paha kanannya. Aku memang tak berencana tak membunuhnya karena ada beberapa hal yang ingin ku tanyakan padanya, namun karena terlalu semangat untuk melawan para orang lemah ini, aku jadi sedikit kelewatan. Perampok lain yang menyaksikan kejadian ini, terdiam membisu dan mematung dengan ekspresi sangat ketakutan. Melihat pemimpin mereka yang masih merintih kesakitan dan tak berdaya ketika berhadapan dengan ku pastilah membawa beban mental yang mendalam bagi mereka. Aku yang menyadari keadaan para perampok lainnya ini, semakin merasa terhibur dan semakin ingin membuat mereka menyesal dengan pekerjaan yang selalu mereka lakukan saat ini. “Hei... kenapa Paman sekalian diam saja? Bukankah kalian menginginkan cincin ini?” ucap ku sambil menunjukkan cincin di tangan ku yang tadinya berwarna kuning dengan permata hijau, saat ini berubah menjadi merah karena darah segar yang menutupi bagian permukaan cincin ini. Mereka semua bergidik mendengar ucapan ku dan perlahan melangkah mundur untuk berusaha kabur dari hadapan ku. Para perampok yang masih berdiri, mengurungkan niatnya untuk melawan ku dan memilih lari untuk kabur dari ku. Aku tadinya berencana untuk bermain-main terlebih dahulu dengan mereka, namun karena mereka kabur jadi aku tak punya pilihan lain selain mengambil nyawa mereka semua. Jika saja mereka tak kabur, mungkin aku akan membebaskan mereka dengan meninggalkan cacat di tubuh mereka tentunya, hal itu sebagai hadiah sekaligus pelajaran dari ku. “Haaah... kenapa kalian kabur? Aku jadi tak punya pilihan lain selain menggunakan sihir,” ucap ku sambil menghela nafas panjang. Aku mengambil ancang-ancang untuk menembakkan sihir ku, sihir yang ku gunakan kali ini adalah sihir yang berbentuk seperti peluru angin. Sihir ini bisa melesat dengan kecepatan tinggi dan kerusakan yang besar, jika dinding saja bisa di buat berlubang oleh sihir ini maka tubuh manusia hanyalah seperti kertas bagi sihir ini. Aku menargetkan sihir ini untuk mengenai kepala dari para perampok yang melarikan diri, dengan harapan semua perampok yang melarikan diri bisa mati seketika saat terkena sihir ini. Dengan jumlah energi mana yang pas dan konsentrasi yang tinggi, aku melepaskan sihir ini sekaligus dengan tujuan menghemat waktu ku. Sihir ini melesat layaknya peluru menuju ke kepala para perampok, dalam hitungan detik semua perampok yang melarikan diri mati dengan kepalan mereka berlubang bahkan sampai ada yang hancur. “Ho ho semuanya tepat sasaran,” ucap ku sambil menyaksikan para perampok itu mati. Karena semua perampok mati kecuali pimpinan mereka yang masih merintih kesakitan di belakang ku saat ini, aku berbalik arah dan melihat pimpinan yang saat ini sekarat karena kehabisan terlalu banyak darah. “Hei, apa ada yang menyuruh mu?” tanya ku pada perampok itu. “Jika di lihat dari cara kalian menyergap ku tadi, kalian sudah terlatih atau bahkan melakukan pekerjaan ini dalam waktu yang lama,” tambah ku. Perampok itu hanya meringis kesakitan karena luka yang ku berikan, aku menyadari bahwa aku terlalu berlebihan padanya. Namun karena sudah terjadi maka biarlah seperti ini saja. “Hmm... kau tak ada niatan untuk menjawab ya? Ya sudahlah, aku akan pergi meninggalkan mu di sini,” ucap ku sambil membalikkan badan. “Jangan menyalahkan aku atas apa yang telah terjadi, aku melakukan hal ini karena kalian mempunyai niat yang tak baik untukku,” ucap ku sambil beranjak pergi dari sini. Aku tak memperdulikan lagi pemimpin perampok yang saat ini tengah sekarat, aku terus berjalan menuju kota Liutas dengan santai seperti tak terjadi apa-apa tadi. Di kedua tangan ku masih terdapat noda darah yang menutupi dari ujung jari sampai ke siku, jika ini terlihat oleh prajurit yang menjaga gerbang maka bisa saja tak di perbolehkan masuk ke dalam kota atau bahkan di tangkap oleh mereka. Untungnya aku bisa membasuh darah ini saat aku melihat ada sungai kecil di samping ku, tepatnya di dalam hutan. Aku membersihkan darah-darah di tangan ku terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan ku ke kota Liutas. Aku kembali berjalan menuju kota Liutas setelah membersihkan kedua tangan ku, setelah hampir setengah jam berjalan kaki. Benteng besar yang aku lihat dari kejauhan sebelumnya, mulai nampak dengan jelas di mata ku. Tembok benteng yang besarnya mungkin tiga kali lipat lebih besar dari pada tembok benteng yang ada di desa Molin, jembatan yang besar yang memungkinkan empat kereta kuda untuk berjalan secara bersamaan di atasnya membuat ku takjub akan pemandangan ini. Aku jadi semakin tak sabar untuk melihat isi dalam kota Liutas dengan mata kepala ku sendiri, aku mempercepat langkah ku menuju benteng itu agar cepat sampai kesana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN