Perjalanan

1301 Kata
“Baiklah! Ayo berangkat!” teriak ku dengan keras. Sesuai dengan yang aku perintahkan, kedua barisan mulai berlari secara bersamaan. Aku menyadari mereka berlari dengan kecepatan yang lamban namun lebih cepat daripada berjalan, itu karena barang bawaan di punggung mereka yang membuat mereka menghemat energi agar tak cepat lelah. “Hee... boleh juga pemikiran mereka,” pikir ku sambil mengawasi mereka dari belakang. Kami semua bergerak selama tiga jam penuh hingga hari semakin tinggi dan panas. Semua anggota Yami terlihat sangat kelelahan dengan keringat yang bercucuran ke ke tanah, nafas mereka semakin tak beraturan dan terlihat bisa kapan saja kehilangan kesadaran diri mereka. Aku menyadari keadaan mereka saat ini, namun aku tak memerintahkan mereka untuk beristirahat. Aku menginginkan mereka tau batas dari diri mereka dan melampauinya, namun sepertinya mereka tak bisa menahan diri lagi dan hampir kehilangan kesadaran mereka. “Oke kita akan beristirahat di sini sekarang!” teriak ku memerintahkan mereka untuk berhenti dan beristirahat. Kebetulan kami saat ini berhenti tepat di hadapan sungai yang membentang panjang dan memisahkan daratan yang ku tapaki saat ini. Semua anggota Yami terlihat mengatur pernafasan mereka dan mencoba berdiri dengan benar untuk saat ini. Mereka tak langsung melompat ke dalam dalam sungai meskipun mereka sangat menginginkannya, mereka masih menunggu titah dari ku dengan menatap ku sambil berbaris rapi. “Baiklah, semuanya bebas melakukan apapun di sini dalam 1 jam!” ucap ku dari atas kuda. “Setelah 1 jam kita akan melanjutkan perjalanan kita kembali sampai sore hari!” tambah ku. “Siap Tuan!” jawab mereka serentak. Setelah itu mereka langsung menyebar dan melepas semua kain yang melekat di tubuh mereka. Tanpa aba-aba lagi, mereka semua langsung melompat ke dalam sungai layaknya anak-anak yang bermain bersama dengan teman sebayanya. Aku memilih menjauh dari mereka dan duduk di bawah pohon besar untuk sekedar menyandarkan punggung ku. “Astaga, lihatlah semua para paman-paman di sana yang bermain layaknya anak kecil,” ucap ku saat melihat para anggota Yami yang bersenang-senang. “Sungguh pemandangan yang tak enak di lihat!” tambah ku. Aku menunggu sambil duduk di bawah pohon besar sampai aku terlelap di bawahnya. Seperti yang biasa terjadi saat aku tertidur meskipun dalam waktu yang singkat, aku kembali bermimpi tentang keluarga ku yang di bunuh di depan mata ku. Seluruh tubuh ku terasa panas akibat luapan emosi yang tak terbendung lagi, aku merasa bisa membunuh siapa saja yang ada di hadapan ku saat ini karena emosi ku saat ini. “Tuan! Tuan!” sebuah panggilan dan tepukan terasa di bahu kanan ku. Aku terkejut sampai-sampai mencekik orang yang ada di hadapan ku saat ini dengan mata yang masih tertutup. Perlahan-lahan aku membuka mata dan melihat Latz sedang meronta-ronta mencoba melepaskan tangan ku yang mencengkeram lehernya saat ini. Dengan sigap aku langsung melepaskan tangan ku dari leher Latz sambil melihat Latz yang masih terbatuk-batuk setelah aku melepaskan tangan ku. Uhuk....uhuk....uhuk... Latz terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang masih menyisakan bekas tangan ku. Dia berusaha mengatur nafasnya setelah beberapa saat tak bisa menggunakannya, seluruh anggota Yami melihat kejadian ini dengan ekspresi ketakutan. “Apa yang kau lakukan Latz?” tanya ku pada Latz sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Uhuk... uhuk... saya hanya ingin membangunkan Tuan karena waktu istirahat yang Tuan berikan sudah habis,” jawab Latz sambil terbatuk-batuk. Aku mencekik Latz tanpa sadar karena dia berusaha membangunkan ku. Aku melakukannya karena luapan emosi yang menguasai tubuh ku saat aku bermimpi tadi. “Maafkan aku, aku melakukannya tanpa sadar tadi,” ucap ku pada Latz yang terlihat sudah mendingan daripada tadi. “Tidak Tuan, itu adalah salah saya karena berusaha membangunkan Tuan dengan cara yang kasar,” jawabnya sambil berdiri. Karena melihat Latz yang sudah membaik, aku kembali menaiki kuda awan dan bergerak ke belakang. “Baiklah, istirahatnya sudah selesai! Ayo kembali berbaris!” teriak ku pada semua anggota Yami. Mereka berbondong-bondong kembali membentuk barisan yang sama seperti sebelumnya, dua Ketua regu yang terlihat siap bergerak hanya menunggu perintah dari ku. Wajah-wajah semua anggota Yami yang juga sepertinya siap melakukan lari seperti yang mereka lakukan sebelumnya. “Ayo maju!” teriak ku layaknya seorang panglima perang yang memerintahkan para prajuritnya untuk mulai menyerang. Semua anggota Yami mulai bergerak berlari melewati jembatan yang membentang, dengan langkah pasti mereka semua bergerak secara berirama dan selaras. Aku mengikuti mereka dari belakang untuk mengawasi pergerakan dari seluruh anggota Yami. Kami terus melakukan lari seperti ini sampai hari semakin gelap yang menandakan bahwa malam akan segera tiba. Saat malam hampir tiba, aku menyuruh seluruh anggota Yami untuk berhenti dan beristirahat di tempat kami berhenti, aku menyuruh mereka tidur setelah makan agar bisa memulai pergerakan sebelum matahari terbit kembali. “Kita akan tidur di sini!” teriak ku pada seluruh anggota Yami. “Kalian harus tidur setelah makan karena kita akan bergerak pada saat subuh nanti!” tambah ku. Mereka pun melakukan apa yang aku perintahkan tanpa mengeluh sedikit pun. Sejujurnya aku sudah sedikit mempercayai mereka untuk saat ini, itu di mulai saat kejadian tadi siang saat aku mencekik leher Latz secara tidak sadar. Mereka memiliki kesempatan untuk mengkhianati dan membunuh ku saat aku tidur terlelap di bawah pohon siang tadi, namun mereka tak melakukannya dan malah berinisiatif untuk membangunkan ku saat mereka sudah selesai beristirahat. Kami melanjutkan pergerakan kami saat subuh dimana matahari belum terbit dan jalan masih dalam keadaan gelap gulita. Pada awalnya mereka terlihat bermalas-malasan saat baru berangkat, namun hal itu berubah saat Latz berteriak pada mereka. “Kalian! Jangan bermalas-malasan dalam melakukan perintah Tuan kita,” teriak Latz sambil berlari pelan. “Ingatlah saat beliau memberi kita kesempatan untuk hidup dimana sebenarnya beliau bisa menghabisi kita dalam satu gerakan!” tambahnya dengan masih berteriak. Pada saat itu jugalah mereka tak bermalas-malasan lagi dan berlari dengan gagahnya. Aku sebenarnya tak mempermasalahkan hal itu, namun sepertinya Latz menunjukkan sikapnya yang benar sebagai seorang Ketua regu. Perjalanan kami kali ini lebih cepat dari yang di perkirakan karena saat kami beristirahat untuk kedua kalinya sebelumnya itu sudah mencapai setengah perjalanan menuju kota Liutas. Metode ini bisa di bilang cukup sukses dimana aku bisa mempersingkat waktu perjalanan sambil melatih para anggota Yami, dan aku bisa melakukan perjalanan tanpa harus lelah karena aku menaiki kuda awan. Semua anggota Yami pun terlihat berbeda dari sebelumnya dimana mereka kelelahan saat sudah berlari selama tiga jam penuh, sekarang mereka baru kelelahan setelah lima jam berlari. Aku menyadari perbedaan yang signifikan dari cara mereka berlari di hari sebelumnya dan hari ini. Di hari pertama mereka berlari hanya mengandalkan kekuatan fisik dari tubuh mereka masing-masing tanpa menyalurkan energi mana ke tubuh mereka, sedangkan hari ini mereka melakukannya dengan cara mengkombinasi dari kekuatan fisik dan energi mana yang tersalurkan dengan benar. Hal itu menyebabkan meningkatnya kekuatan mereka sehingga mereka bisa berlari dalam waktu yang lebih lama dan kecepatan yang meningkat. Setelah sekian lama berlari tanpa berhenti, Latz berinisiatif mengangkat tangannya yang mengisyaratkan bagi seluruh Yami untuk berhenti. Aku yang melihat sinyal tangan darinya segera bergerak mendekat ke arah Latz untuk menanyakan apa yang terjadi, begitu juga dengan Latz yang berlari ke arah ku untuk melaporkan apa yang dia lihat di depan sana. “Lapor Tuan!” ucapnya saat berhadapan dengan ku. “Ada apa Latz?” tanya ku karena bingung. “Kota Liutas sudah terlihat di depan saat ini Tuan!” jawabnya sambil menunduk. “Hoo... baguslah,” ucap ku sambil melihat Latz. Aku mengingat kembali bahwasannya hanya aku yang memiliki surat izin masuk ke kota Liutas saat ini, sedangkan para anggota Yami sepertinya tak ada yang memilikinya. Aku juga berpikir bahwa tak bijak meninggalkan mereka di sini sementara aku masuk ke sana sendirian. Namun sepertinya Latz mengerti tentang apa yang aku pikirkan saat ini. “Silahkan Tuan masuk terlebih dahulu ke kota Liutas, biarkan kami menyusul saat malam tiba,” ucap Latz membuyarkan lamunan ku. “Apa alasan mu berkata begitu?” tanya ku pada Latz yang terlihat begitu yakin akan perkataan nya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN