Niat baik dan Hukuman

1603 Kata
“Aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada kalian berdua, aku akan pergi ke kota Liutas hari ini!” ucap ku pada Roku dan Systine. Systine hanya merespon perkataan ku dengan tatapan tenang, dia tak mengatakan apa-apa dan hanya terus memandangi ku. Sedangkan Roku, dia terlihat gelagapan dan kebingungan dengan perkataan yang ku lontarkan tadi. “Eh? Kenapa Teman Kecil? Kenapa kau ingin pergi ke sana?” tanya Roku dengan gelisah. “Ada hal yang harus ku kerjakan di sana,” jawab ku. “Ayolah, tak bisakah tetap di sini?” tanya kembali mencoba menghentikan kepergian ku. “Kau bisa tinggal bersama ku atau dengan Systine di sini,” tambah Roku sembari menunjuk Systine dengan kedua tangannya. “Apa yang kau bicarakan dasar bodoh!” ucap Systine sambil memukul kepala Roku dengan keras. Roku meringis kesakitan saat kepalanya di pukul oleh Systine, dia terlihat benar-benar tak ingin aku pergi dari sini. Begitu juga dengan Systine yang menatap ku dengan malu-malu saat Roku mengatakan bahwa aku boleh tinggal di rumahnya. Namun keputusan ku sudah bulat dan tak dapat di ganggu gugat lagi, aku datang ke sini karena Camazot dan setelah Camazot mati di tangan ku maka giliran mereka yang lain akan segera datang begitu aku sampai di hadapan mereka. “Tak bisakah kau menunggu 1 minggu lagi?” ucap Roku menghampiri ku sambil memegangi kepalanya yang di pukul oleh Systine. “Pedang mu akan selesai di perbaiki oleh Blacksmith kenalan ku dalam 1 minggu lagi, oleh karena itu, tunggulah 1 minggu lagi,” tambah Roku memohon pada ku. “Aku tak membutuhkannya lagi, kau bisa memilikinya!” jawab ku sembari berdiri dari kursi. Keduanya menatap dalam ke arah ku begitu aku berdiri dari tempat duduk ku. Sorot mata yang menginginkan ku supaya tak meninggalkan mereka terlihat dengan jelas. Aku berjalan menjauh dari meja Resepsionis dengan perlahan. “Roku, Systine, jaga diri kalian baik-baik!” ucap ku tanpa memandang keduanya. “Sampaikan salam ku pada Neil dan Gram, maaf aku tak bisa berpamitan secara langsung pada mereka,” tambah ku. Aku berjalan menuju pintu tanpa menoleh sedikit pun pada kedua orang yang ku kenal baik begitu masuk di guild Reistess ini. Kedua orang yang mengingatkan ku pada keluarga ku di rumah yang saat ini juga ku tinggalkan untuk mencapai tujuan ku. Systine yang mengingatkan ku pada Ibu yang ada di rumah, dari cara dia marah saat aku melakukan hal konyol dan cara dia khawatir saat aku sedang terluka. Sedangkan Roku mengingatkan ku pada sifat Ayah, sifat kekanak-kanakannya dan kadang bisa bersifat serius hingga membuat ku tau tempat ku sebagai seorang anak. Dari lubuk hati ku yang paling dalam, aku sungguh berterima kasih pada kedua orang itu karena telah memberi kenangan begitu aku sampai di sini. Sesampainya hadapan pintu, aku menyempatkan diri untuk menoleh dan melihat dua orang itu. Aku melihat Systine yang menatap ku dengan air mata yang mengalir jatuh di pipinya, aku sedikit merasa bersalah ketika melihat dia menjatuhkan air mata hanya karena kepergian ku dari sini. Sedangkan Roku, dia terlihat murung dan menundukkan kepalanya tanpa melihat ku. Dia saat ini terlihat seperti saat adiknya tertangkap oleh organisasi Camazot, tak ada semangat hidup dan terlihat sangat putus asa. Namun aku yakin keduanya akan segera melupakan kehadiran ku karena orang-orang yang berharga bagi mereka telah kembali ke sisi mereka masing-masing, sedangkan aku yang hanyalah orang asing, pasti kehadiran ku akan segera hilang di kehidupan mereka layaknya lilin yang telah mati karena terlalu lama menyala. Akhirnya aku membuka pintu dan keluar dengan berjalan santai tanpa memperdulikan kedua orang itu. Aku berjalan menuju gerbang keluar arah barat, karena ibukota kerajaan Shelion terletak di sana. Aku melewati para penduduk dan petualang di jalan ku, para penduduk bersikap layaknya meninggikan ku seperti halnya bangsawan atau orang suci yang harus di hormati setinggi-tingginya. Sedangkan para petualang hanya menyapa dengan ramah dimana sebelumnya hal ini sangat jarang terjadi pada antar petualang, mereka cenderung bersaing untuk mencapai peringkat setinggi-tingginya dan kadang tak memperdulikan petualang lain yang bukan anggota kelompoknya. Hal ini jelas tak membuat ku nyaman karena mereka bersikap tak biasa pada ku, hal ini jugalah yang membuat ku ingin segera pergi dari sini. “Ayolah, jangan buat aku menyesal karena telah menyelamatkan kalian, bisakah kalian bersikap biasa saja dan jangan pedulikan kehadiran ku,” pikir ku sepanjang jalan karena merasa risih dengan perlakuan para penduduk di sini. Bahkan ada penduduk yang sedang berjualan, dia tak melayani pembeli dan malah menunduk ke arah ku. “Astaga, kenapa aku tak mengubur mereka bersama dengan gereja itu,” sesal ku karena saking risihnya dengan perlakuan orang-orang sini. Sesampainya di gerbang, aku langsung menunjukkan kartu petualang ku pada penjaga gerbang dan mereka memperbolehkan aku keluar dari sini. Begitu keluar dari gerbang, aku di suguhkan dengan pemandangan pohon-pohon di kanan dan kiri ku serta jalan yang membentang lebar di depan ku saat ini. Aku pun berjalan lurus ke arah barat dengan santai karena hari masih belum terlalu siang, hingga aku memutuskan untuk menikmati sepanjang perjalanan ku menuju ke kota Liutas. Binatang magis yang terlihat melintas dan kabur begitu melihat ku, menjadi hiburan tersendiri bagi ku sepanjang jalan. Beberapa saat berjalan, aku melihat ada kumpulan orang yang mungkin berjumlah sepuluh orang dengan satu kuda awan yang cukup besar di samping kiri mereka. Aku menyadari bahwa itu adalah kelompok Yami yang ku suruh untuk menunggu aku untuk berangkat ke kota Liutas. Begitu aku sampai di hadapan mereka semua, mereka langsung mengambil sikap berlutut di hadapan ku dan mengucapkan salam pada ku. “Selamat datang Tuan!” ucap mereka serentak. “Astaga, berhentilah bersikap seperti ini, kalian semua bukan prajurit jadi jangan terlalu kaku,” ucap ku membalas salam mereka. “Mohon maaf Tuan, kami tak bisa melakukan itu karena untuk memperjelas derajat antara Tuan dengan kami yang sekedar bawahan Tuan,” jawab Latz dengan tegas. “Yah terserah kalian,” ucap ku menyerah dengan sikap mereka. Namun sepertinya mereka lebih senang bersikap seperti ini karena terlihat mata mereka berbinar saat aku mengatakan terserah. “Bagaimana dengan misi yang di lakukan oleh grup Gamma dan Theta?” tanya ku pada Latz karena sepertinya dia yang paling mendominasi seluruh anggota Yami. “Mereka sudah berangkat 15 belas menit setelah Tuan memerintah mereka, kemungkinan saat ini mereka sudah hampir sampai ke kota Liutas dan melaksanakan misi sebagai mana yang Tuan perintahkan,” jawab Latz sembari melihat ke arah ku. “Baguslah kalau begitu,” jawab ku singkat. Jarak dari sini ke kota Liutas sekitar hampir dua hari dengan cara berjalan, dan satu hari satu malam jika menggunakan kereta kuda. Karena binatang magis yang ada di jalur menuju ke kota Liutas cenderung lemah dan akan kabur ketika melihat sosok yang lebih kuat dari mereka, maka perjalanan menuju kota Liutas cenderung tak berbahaya. Sejak aku melihat dan sampai ke sini di hadapan kelompok Yami, ada sebuah makhluk yang begitu mengganggu pemandangan ku, yaitu kuda awan ini. Aku tak memerintahkan mereka untuk membawa kuda atau pun binatang lainnya karena aku ingin menikmati perjalanan ini dengan berjalan kaki. “Latz! Bernal!” ucap ku dengan tegas. “Siap Tuan!” jawab kedua pemimpin regu dengan serentak. “Ada hal yang mengganggu ku dari tadi, untuk apa kalian membawa kuda awan itu?” tanya ku pada mereka berdua selaku Ketua regu. “Siap! Itu adalah tumpangan untuk Tuan agar Tuan tak perlu berjalan kaki menuju ke kota Liutas,” jawab Latz dengan bangga. “Oh... kalian sangat baik! Tapi apa aku meminta hal itu pada kalian?” tanya ku sambil menatap tajam pada kedua orang itu. “Itu....” Latz tak melanjutkan jawabannya dan hanya menatap ku dengan ketakutan. Mereka semua terdiam dengan ekspresi ketakutan karena aku yang menatap tajam pada mereka. Sebenarnya aku mengerti tujuan mereka baik pada ku, namun aku tak peduli dengan itu. Aku hanya perlu mereka mematuhi perintah ku dan itu cukup bagi mereka, tak perlu melakukan hal seperti ini hanya untuk menyenangkan suasana hati ku. “Haaah... baiklah aku akan menerima niat baik kalian kali ini,” ucap ku sambil menghela nafas panjang. Mereka terlihat lega dengan perkataan ku dan mulai santai kembali seperti sebelumnya. Aku kemudian memikirkan sebuah cara untuk melatih sekaligus memberi mereka pelajaran. Aku berjalan melewati mereka yang sedang berlutut dan menuju kuda awan yang berwarna putih bersih. Aku menaiki kuda ini dan kuda ini sepertinya tak melawan malahan bersikap patuh pada ku. “ Yosh... kalian semua berdiri dan berbaris dengan rapi di depan sana!” perintah ku pada semua anggota kelompok Yami sambil menunjuk arah menuju kota Liutas. “Ketua regu berada paling depan di ikuti dengan anggotanya masing-masing di belakangnya!” tambah ku untuk memperjelas pada mereka. Mereka semua langsung melakukan apa yang aku perintahkan tanpa bertanya sedikit pun. Dalam beberapa saat, dua barisan sudah terbentuk rapi dengan Ketua berada di bagian paling depan barisan. “Yosh... karena aku sudah menerima niat baik kalian, maka kalian harus menerima niat baik ku juga!” ucap ku sambil menunggangi kuda awan ini. “ Kalian harus berlari dalam barisan selama perjalanan menuju kota Liutas bersama ku, usahakan supaya berlari secara berirama dengan kedua barisan, siapapun yang tertinggal atau berhenti tanpa arahan dari ku, maka mereka akan menerima hukuman yang di berikan langsung oleh ku,” ucap ku memberikan mereka hukuman serta melatih stamina mereka. “ Aku akan mengawasi kalian dari belakang, aku tak peduli kalian berlari secara cepat atau lambat, yang penting kalian berlari!” tambah ku dengan sedikit berteriak. Mereka semua terlihat ketakutan kembali dengan perkataan ku, bahkan di cuaca cerah berawan seperti ini, keringat yang di keluarkan oleh mereka terlalu banyak. Ini juga demi kebaikan mereka agar stamina mereka terlatih dengan baik dan tubuh mereka juga terlatih dengan baik. “Baiklah! Ayo berangkat!” teriak ku dengan keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN