Hari terakhir di desa Molin

1905 Kata
“Kyle! Colon! Apa kalian sanggup menjalani misi ini?” ucap ku pada kedua Ketua grup yang berdiri beserta para anggotanya. “Siap Tuan!” jawab keduanya dengan mantap. Keduanya menunjukkan ekspresi yang sangat serius akan jawabannya. Sorot mata yang tajam dan aura yang terpancar semakin membuat mereka menjadi percaya diri. “Baiklah kalau begitu, misi kali ini akan di lakukan oleh grup Gamma dan grup Theta, sedangkan yang lain pergi ke sana bersama ku besok,” ucap ku sambil menyilangkan tangan ku dan mendekapnya. “Siap tuan!” jawab seluruh Yami dengan serentak. “Berdirilah!” ucap ku kembali. “Karena regu sudah terbentuk dengan anggota dan pemimpinnya maka aku akan mengatakan satu hal lagi!” tambah ku sambil mengacungkan tangan. Para anggota Yami menanti ucapan ku dengan menatap tajam ke arah ku secara serius. Keseriusan yang di tunjukkan dan cara mereka mematuhi perintah ku bisa di katakan hampir sama dengan pembawaan para prajurit yang menjaga gerbang masuk dan keluar. “Semua Ketua grup memiliki tugas untuk menjaga dan mengatur seluruh anggota regu kalian masing-masing,” ucap ku sambil menunjuk para Ketua regu. “Jika anggota kalian gugur dalam misi karena kelalaian Ketua grup, maka bersiap-siaplah mendapat hukuman dari ku!” tambah ku sambil menatap tajam pada mereka. Semua Ketua grup terlihat pucat pasi dan menelan ludah saat aku selesai mengatakan itu. Aku melakukan ini agar mereka bertanggung jawab pada semua anggota mereka dan supaya mereka bisa bersikap seperti Pemimpin dari grup. “Dan untuk anggota setiap regu, dengarkanlah dan ikuti seluruh perkataan Ketua regu kalian!” ucap ku sambil menatap para anggota grup Yami yang terlihat tenang. “Jika kalian membelot atas perkataan Ketua kalian dan mencoba seenaknya sendiri, maka jangan salahkan aku jika saat itu terjadi, kepala kalian tak akan menjadi satu lagi dengan tubuh kalian!” tambah ku sambil mengisyaratkan tangan ku ke leher supaya mereka mengerti apa yang aku maksudkan. “Siap Tuan!” jawab mereka serentak. “Aku akan kembali beristirahat sekarang, regu yang menjalankan misi segera bersiap dan kalian harus pergi malam ini juga,” ucap ku sambil berjalan kembali ke depan rumah Systine. “Sisanya kembalilah dan temui aku besok di luar gerbang sekitar 500 meter dari gerbang, aku akan langsung berangkat saat surat izin ku sudah keluar!” tambah ku. Setelah mendengar perintah ku, para anggota Yami langsung berhamburan secara teratur ke seluruh penjuru. Aku cukup lega ketika mendapatkan bawahan seperti mereka, kekuatan mereka rata-rata adalah Encourage dan yang paling kuat Latz ada di tingkat Talisman Valor. Sedangkan kelas mereka semuanya adalah Executioner dan Warrior, sangat jarang ada seseorang dengan Class Evasion bahkan Hexe di sini dan aku tak tau kenapa hal itu bisa terjadi. Aku kembali ke kamar ku melalui jendela dengan cara melompat dari atas tanah menuju lantai dua dengan sekali lompatan. Dengan kekuatan ku saat ini, hal ini sangatlah mudah untuk di lakukan. Aku kembali membaringkan tubuh di tempat tidur dan langsung terlelap setelah itu. ** ** ** Hangatnya cahaya pagi mulai merembes masuk melalui jendela yang lupa aku tutup tadi malam. Suara hiruk pikuk para penduduk yang mulai beraktifitas, semakin lama semakin ramai ku dengar. Aku bangun dengan malas karena merasa waktu tidur ku tak cukup hari ini, namun karena teringat akan kepergian ku hari ini ke kota Liutas maka aku memaksakan mata untuk terbuka dan menyeret tubuh agar terbangun dari ranjang tidur. Butuh sedikit semangat untuk bangun dari ranjang ini karena mata dan tubuh ku masih terasa berat. Aku membuka kunci pintu ini dan membuka pintu agar segera turun dan berpamitan pada Neil serta Systine. Dengan perlahan aku menuruni tangga satu persatu agar tak terpeleset dan jatuh karena tubuh ku masih belum bangun sepenuhnya. Sesampainya di lantai 1 rumah ini, aku hanya di sambut oleh Neil dengan senyum hangat yang terpancar di wajahnya dan seakan menunggu ku turun dari kamar atas. “Selamat pagi Kak Clay,” sapanya sambil menunjukkan senyum hangatnya. “Ahh selamat pagi, apa-apaan kau memanggil ku dengan panggilan kak?” ucap ku sambil tersenyum balik padanya. “Ha ha ha, karena kau adalah penyelamat ku maka tak enak bagi ku untuk memanggil mu dengan nama saja,” jawabnya sambil menggaruk-garuk kepalanya dan tertawa. “Memangnya berapa usia mu sekarang?” tanya ku pada Neil. “Aku 16 belas tahun!” jawabnya singkat. Saat Neil mengatakan bahwa umurnya saat ini, aku cukup terkejut karena kekuatannya sangat jauh lebih lemah dari pada waktu aku berusia sepuluh tahun. Bahkan kedua saudara ku jauh seharusnya jauh lebih kuat dari pada Neil saat ini. Aku tak tak apa karena perkembangan ku terlalu cepat atau memang begini kekuatan orang-orang normal sebenarnya. “Haaaah... kau jauh lebih tua dari pada aku,” ucap ku sambil menghela nafas panjang. “Apa? Memangnya kau berusia berapa?” tanya Neil dengan penuh antusias. “Aku berumur 13 tahun!” jawab ku sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Apaaa!? 13 tahun!?” jawabnya dengan terkaget-kaget. Neil terdiam sejenak seperti tak menerima kenyataan bahwa seorang anak berusia tiga belas tahun menyelamatkannya bahkan menghancurkan organisasi yang menculiknya selama satu tahun itu. “Hei sadarlah!” ucap ku sambil menepuk-nepuk wajah Neil yang terdiam kaku. “Ah maafkan aku, hanya saja sulit menerima kenyataan ini selama sesaat! Tapi sekarang aku sudah tak apa,” ucapnya sambil memaksakan senyum di wajahnya. “Ayo kita makan!” tambah Neil mengajak ku makan. Aku pun mengiyakan ajakannya dan mengikutinya berjalan ke meja makan yang kami tempati semalam. Aku menyadari bahwa seseorang tak hadir dalam sarapan pagi ini, aku tak melihat Systine sejak keluar dari kamar. “Kemana Systine?” tanya ku pada Neil. “Ah Kakak berangkat pagi tadi saat kau masih tidur, dia bilang ada urusan penting sekarang,” jawab Neil sambil menuangkan s**u ke gelas ku. “Apa yang dia lakukan pagi-pagi sekali?” tanya ku kembali. “Entah? Dia tak mengatakannya pada ku dan pergi begitu saja,” jawab Neil sambil mengernyitkan dahinya. Aku pun berhenti menanyakan tentang Systine dan melahap makanan yang ada di depan ku saat ini. Aku mencoba mempersingkat waktu sarapan ku untuk segera pergi ke guild dan mengambil surat izin ku untuk pergi ke kota Liutas. Setelah makan aku langsung berpamitan pada Neil untuk pergi ke guild, aku tak mengatakan padanya bahwa hari ini aku akan pergi ke kota Liutas karena memang aku belum terlalu kenal dengannya, dan juga aku tak ingin dia memberi hadiah untuk kepergian ku karena jika di lihat dari kepribadiannya, hal itu sangatlah memungkinkan untuk terjadi. Neil mengantar kepergian ku hanya dari pintunya, aku pun bergegas pergi menuju guild Reistess. Sesampainya di guild Reistess, aku di sambut dengan pemandangan Bergh yang sedang terdiam murung dengan perban membaluti jari tangannya yang aku potong. Bergh terlihat ketakutan setengah mati saat aku memasuki dan berjalan melewatinya. Sepertinya metode ku berhasil untuk memberinya pelajaran, dan ku harap itu akan bertahan. “Systine! Kenapa kau meninggalkan ku pagi ini?” sapa ku dengan sedikit menyaringkan suara. Sapaan ku terdengar oleh beberapa Resepsionis lain dan mereka menjadi menggoda Systine karena perkataan ku. Aku mengabaikan mereka dan berjalan menuju meja Systine. “Apa yang kau katakan bodoh? Lihatlah apa yang kau buat, mereka menjadi salah paham karena itu,” ucap Systine dengan wajah memerah. “Apa yang kau pedulikan? Di mata mereka kita hanyalah seperti Adik dan Kakak, dan juga aku mengatakan yang sebenarnya,” jawab ku sembari duduk di kursi berhadapan dengan Systine. “Kenapa kau meninggalkan aku pagi ini dan berangkat sendirian ke guild? Padahal kita bisa berangkat bersama setelah sarapan tentunya,” tambah ku sambil memangku wajah dan menatap Systine. Systine terlihat semakin kehabisan kata-kata dan salah tingkah, wajahnya semakin memerah dan dengan godaan para Resepsionis lainnya, dia semakin tak berdaya untuk menjawab perkataan ku. “Baiklah mari sudahi pembicaraan ini, mana surat izin ku?” ucap ku menyadarkan Systine kembali. “Ah iya, kau harus melakukan Scanning lagi untuk menyelesaikan prosedur terakhirnya,” ucap Systine sambil mencari-cari informasi di sebuah buku. “Haa... ayo cepat lakukan!” ucap ku sambil berdiri dan bergerak menuju batu altar untuk melakukan Scanning. “Lakukanlah seperti biasanya, aku akan mencatatnya di sini,” ucap Systine sambil mengeluarkan pena serta secarik kertas Aku pun mengalirkan energi mana ku kepada batu altar sedangkan Systine mencatat hasilnya. Setelah ku rasa cukup, aku langsung melepaskan aliran energi mana ku pada batu itu dan kembali duduk di kursi sebelumnya. “Clay! K-kau naik tingkat lagi?” ucap Systine sambil menatap ku setelah melihat hasil Scanning. “ Yah seperti biasa, tolong rahasiakan!” jawab ku sambil tersenyum. Systine menghela nafas panjang dan kembali menulis beberapa hal di sebuah kertas. Dia juga meminta kartu petualang ku untuk diperbaharui supaya bisa mempermudah untuk memasuki kota Liutas. Setelah semuanya selesai, dia mengembalikan kartu petualang ku dan memberi ku sebuah kartu yang ku yakini sebagai surat izin masuk ke kota Liutas. “Ini semuanya sudah selesai, kau bisa memasuki kota Liutas sekarang,” ucapnya sambil menghela nafas. “ Karena ku yakini kau akan memasuki Dungeon di sana jadi aku menaikkan tingkat mu ke tingkat B,” tambahnya. “Mengapa begitu?” tanya ku karen kebingungan. “Yah... ada batas tertentu bagi petualang untuk memasuki Dungeon, kau harus berada di tingkat B atau lebih tinggi untuk memasukinya, jika kau di bawah peringkat B maka kau akan segera terbunuh begitu masuk di lantai 1 Dungeon!” jawabnya sambil mengacungkan tangan. Aku baru mendengar mengenai hal itu, sepertinya Dungeon di sana tak diperuntukkan bagi orang-orang lemah. Mendengar hal ini membuat ku semakin bersemangat untuk segera pergi ke sana. Namun tiba-tiba pintu arena tempat para penguji memberikan ujian kepada mereka yang ingin menjadi petualang terbuka, Roku keluar dan mulai berjalan ke arah ku begitu melihat ku. “Hei Teman Kecil! Kemana saja kau kemarin? Aku mencari-cari mu tapi tak bisa menemukan mu di mana-mana” ucapnya sambil memegangi kepala ku. Aku begitu kesal dengan perlakuannya namun aku tak bisa membuat orang ini tak sadarkan diri kali ini karena masih banyak petualang baru yang perlu dia uji. “Roku! Kenapa kau keluar dari arena? Bukankah masih banyak petualang baru yang perlu kau uji!” ucap Systine dengan sedikit meninggikan suara tanda bahwa dia marah. “Hei tenanglah! Aku perlu mengisi tenaga dengan minuman, itu alasannya aku keluar dari sana,” ucapnya dengan masih memegang kepala ku. “Lagi pula mengapa banyak sekali orang-orang yang mendaftar kali ini? Kita sedang kekurangan staf penguji di sini tau!” tambah Roku. “Jika kemarin kau tak bermain-main, maka hal ini tak akan terjadi!” jawab Systine dengan menunjukkan wajah yang menakutkan. “Cepat selesaikan pekerjaan mu atau ku adukan kau pada Ketua guild!” tambah Systine. “Baiklah baiklah, tapi aku ingin berbicara dulu dengan Teman Kecil ku di sini sebentar,” ucap Roku sambil memalingkan wajahnya dari Systine. Aku menatap tajam penuh kesal pada Roku yang sedari tadi belum melepaskan tangannya dari kepala ku. Saat Roku melihat ku menatap tajam kepadanya, dia segera melepaskan tangannya dan melompat sedikit ke belakang. “Maafkan aku Teman Kecil, aku terbawa suasana,” ucapnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku mengurungkan niat ku untuk memberikannya pukulan sebagai hadiah perpisahan. Suasana di sini akan semakin rumit jika orang ini ku pukul hingga tak sadarkan diri. “Beruntunglah aku kau ada di sini, hingga aku tak perlu membuang-buang waktu lagi untuk ke rumah mu,” ucap ku pada Roku. “Hmm? Memangnya kenapa? Tunggu kartu itu!” ucap Roku. Aku segera memotong perkataannya dan mengatakan niat ku kali ini,” Aku ingin mengucapkan selamat tinggal pada kalian berdua, aku akan pergi ke kota Liutas hari ini!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN