“Selamat datang di rumah ku, Clay!” ucap Systine sambil tersenyum hangat pada ku.
Sytine pun membuka pintu dan masuk ke dalam rumah itu di ikuti dengan aku yang berjalan mengikutinya. Suasana di rumah Systine sangatlah berbeda dengan rumah Roku, suasana di rumah Systine sedikit mengingatkan ku pada suasana di rumah.
Dari ruangan belakang yang menurut ku di sana tempat dapur berada, mulai terdengar langkah kaki yang semakin lama semakin mendekat mendekat ke arah ku dan Systine. Sebuah bayangan mulai terlihat dari dinding di belakang sana yang terkena pantulan cahaya, bayangan yang awalnya terlihat sangat besar untuk ukuran manusia, semakin lama semakin mengecil dan membentuk tinggi manusia normal. Dari balik pintu mulai keluar sesosok pria muda yang terlihat memakai celemek dan mengusap-usap tangannya menggunakan kain.
“Kakak! Kau sudah pulang” ucap pria itu ketika melihat Systine.
“Iya Neil!” jawab Systine sambil tersenyum padanya.
“Dan siapa tamu kita...?” Pria muda yang di panggil Neil oleh Systine belum menyelesaikan kata-katanya dan langsung berjalan menuju ke arah ku begitu melihat wajah ku. Dengan penuh semangat dia bergerak ke arah ku dengan setengah berlari agar cepat sampai kepada ku.
“Selamat datang Tuan pahlawan!” ucapnya sambil menunduk kepada ku.
“Hei bersikaplah biasa saja, anggap saja aku teman kakak mu oke?” ucap ku pada Neil.
Dia pun mengangkat kepalanya dengan menunjukkan senyum sumringah dengan air mata yang sedikit keluar dari matanya.
“Aku sangat senang kau kemari Pahlawan, aku sangat berterima kasih pada mu karena telah menyelamatkan ku,” ucap Neil dengan kegirangan.
“Neil tenanglah sedikit oke! Clay akan menginap di rumah kita malam ini” ucap Systine sambil memegangi kedua pundak Neil.
“Benarkah itu? Itu sebuah kehormatan bagi kita kak,” jawab Neil dengan gembira.
“Yah terima kasih sudah mengijinkan aku menginap malam ini,” ucap ku menyela perkataan kedua bersaudara ini.
“Dan kau cukup memanggil ku dengan Clay saja,” tambah ku.
“Baiklah Clay, bagaimana kalau kita semua makan terlebih dahulu karena aku sudah memasak banyak makanan!” ucap Neil dengan tersenyum.
“Itu ide yang bagus! Clay taruhlah barang-barang mu di meja ini terlebih dahulu, biar aku atau Neil yang membawanya ke tempat tidur mu,” ucap Systine sambil menunjuk kepada meja yang ada di samping ku.
Aku tiba-tiba teringat pada cincin penyimpanan yang di berikan Dave pada ku tadi pagi, jika saja aku tak lupa akan cincin ini maka aku tak perlu repot-repot membawa barang-barang ku.
“Tak usah! Biar aku saja yang mengurusnya” ucap ku sambil memasukkan barang-barang ku ke cincin penyimpanan ku.
Kedua bersaudara ini menatap ku dengan tatapan terkejut dengan apa yang barusan aku lakukan.
“C-clay! Itu cincin Hrudzi kan?” tanya Systine dengan gelagapan.
“Hmm seingat ku iya,” jawab ku sambil melihat cincin di tangan ku.
“K-kau d-darimana kau mendapatkannya?” tanya Systine kembali.
“Hmm... aku tak bisa mengatakannya, kenapa kalian se terkejut itu hanya dengan cincin ini?” tanya ku balik karena heran.
“Tidak-tidak, cincin Hrudzi itu sangat langka bahkan setau ku hanya Ketua guild yang memilikinya di desa ini,” jawab Systine sambil terus menatap ke arah cincin ku.
Ternyata cincin yang di berikan oleh Ketua guild pada ku, itu adalah barang pribadinya untuk menunjukkan rasa terima kasih yang tulus. Jika saja aku tau bahwa ini adalah barang yang amat langka, maka aku tak akan mempraktekkan penggunaannya di khalayak umum hingga menarik perhatian seperti ini.
Krucukk....
Suara perut ku tiba-tiba berbunyi karena Neil menyinggung soal makanan, aku yang belum makan dari tadi langsung bersemangat ketika dia mengajak untuk makan malam. Aku yakin kedua bersaudara ini mendengar suara dari perut ku karena suaranya cukup nyaring.
“Emm maafkan aku,” ucap ku sambil menggaruk-garuk kepala.
“Tidak-tidak, aku seharusnya tak menanyakan tentang cincin itu lebih lanjut, ayo kita makan!” jawab Systine dengan menahan tawanya.
Kami bertiga pun makan malam bersama, Neil menceritakan kepada Systine tentang apa yang dia lihat saat aku melawan Adam. Aku tak memperdulikannya dan terus menikmati makanan yang ada di depan ku saat ini. Systine yang mendengarkan cerita Neil, menjadi sangat terkagum-kagum pada ku hingga membuat ku risih melihatnya. Setelah selesai makan, Systine meminta ku untuk mandi terlebih dahulu sedangkan dia akan menyiapkan kamar ku untuk beristirahat. Aku pun melakukan apa yang dia suruh dengan segera karena tubuh ku sudah tak nyaman dan ingin segera membaringkan diri di tempat tidur. Setelah mandi, Systine mengantar ku ke kamar tempat aku tidur malam ini yang letaknya di lantai dua. Di depan ruangan ku ternyata adalah kamar Systine karena dia langsung masuk ke dalam sana begitu aku akan menutup pintu kamar ku.
“Astaga, semoga Systine tak melakukan hak yang aneh-aneh pada ku!” pikir ku saat akan menutup pintu.
“Ku kunci sajalah pintu ini, demi menghindari kejadian yang tak di inginkan,” tambah ku sambil mengunci pintu dengan sihir tanah karena pintu ini tidak di lengkapi dengan kuncinya sendiri.
Aku pun langsung tidur ketika berbaring di tempat tidur, aku berencana pergi keluar sejenak tengah malam nanti karena aku akan memberi tugas pada kelompok Yami. Sebenarnya aku bisa menemui mereka sekarang, tapi karena di luar masih ada beberapa penduduk yang berkeliaran maka aku mengurungkan niat ku.
Sesaat setelah terlelap, aku memimpikan mimpi yang biasa aku alami sebelum-sebelumnya. Mimpi tentang keluarga ku saat mereka terbunuh di depan mataku sendiri, bahkan di dalam mimpi pun aku tak bisa melakukan apa-apa. Tubuh ku serasa terikat oleh rantai yang sangat kuat dan tubuh ku di timpa oleh batu besar sehingga aku tak dapat melakukan apa-apa. Hanya bisa di memandangi keluargaku yang di bunuh dan istri ku yang di perkosa oleh penjahat.
** ** **
Aku terbangun seperti biasa karena merasa kepanasan setelah bermimpi itu. Aku teringat akan pekerjaan yang harus aku lakukan saat ini, sambil memastikan bahwa orang-orang telah tidur saat ini. Aku melihat ada serpihan dari tanah yang berasal dari kunci pintu yang ku buat dari tanah.
“Ha ha ha, untungnya aku mengunci kamar ini,” pikir ku dalam hati.
Aku membuka jendela secara perlahan agar tak membangunkan orang-orang karena suara yang di keluarkan. Setelah itu aku keluar melalui jendela untuk menemui para anggota Yami dan menjelaskan pekerjaan yang akan ku berikan pada mereka.
Setelah aku keluar dari rumah Systine, aku merasakan para anggota Yami sudah menunggu ku dan mereka mulai mendekat ketika aku sudah keluar dari rumah ini. Aku pun melompat turun dari atap menuju samping rumah Systine yang sepi dan gelap.
“Berkumpulah!” ucap ku begitu sampai ke bawah.
Dengan hitungan detik, para anggota Yami mulai keluar dari berbagai penjuru dan mulai berbaris di hadapan ku saat ini. Mereka membagi barisan menjadi empat bagian dengan berisi lima orang di setiap barisnya, sepertinya mereka telah menentukan para anggota seperti yang aku perintahkan.
“Aku akan memberi kalian misi kali ini!” ucap ku pada mereka.
Seketika mereka bersujud sambil mengangkat kepalanya ke arah ku saat ini.
“Dengarkan baik-baik, aku akan memerintahkan dua kelompok untuk menuju dan menginvestigasi kota Liutas,” perintah ku pada mereka.
Latz terlihat ingin menanyakan beberapa hal ketika aku menjelaskan perintah ku.
“Ada apa Latz?” tanya ku pada Latz.
“Tuan, untuk masuk ke dalam kota Liutas kami harus memiliki surat izin dari bangsawan yang memerintah di sini,” ucap Latz dengan menatap ku.
Aku tak memikirkan hal itu sebelumnya, namun aku tak peduli dengan itu. Seharusnya dengan kemampuan menyusup mereka saat ini, harusnya memasuki kota Liutas tak akan menjadi masalah.
“Aku tak peduli dengan itu, kalian putarlah otak kalian dan menyusuplah ke kota itu,” ucap ku sambil menatap Latz.
“Seharusnya dengan kemampuan kalian sekarang maka menyusup ke kota Liutas tak akan menjadi masalah besar,” tambah ku.
Mereka terdiam setelah aku mengatakan hal ini, sepertinya mereka mengerti tentang apa yang aku katakan.
“Baiklah, kalian yang percaya diri untuk melakukan misi ini, silahkan berdiri sekarang juga!” ucap ku dengan tegas.
Kyle dan Colon langsung berdiri ketika aku selesai mengatakan itu diikuti dengan anggota-anggota mereka yang juga mengikuti Ketua mereka yang berdiri. Aku sebelumnya berpikir bahwa mereka akan membuat aku yang memilih regu untuk misi kali ini, namun dengan berdirinya mereka untuk menjawab perintah ku, hal itu membuktikan bahwa mereka benar-benar percaya diri dengan misi kali ini.