Petualang

1865 Kata
Aku berencana membuat instruktur saat ini tak melancarkan serangan pertamanya pada ku. Aku mengkonsentrasikan energi mana ku pada kedua kaki ku dan bisa bergerak dengan cepat dan presisi dengan melompat menuju instruktur untuk memperpendek jarak ku dengannya dan menaikkan tingkat efektivitas serangan yang aku lancar kan. Serangan dengan menggabungkan berat badan ku sebagai tambahan momentum agar lebih dalam dan berat. Dengan cepat pedang ku bergerak menebas ke arah leher dari instruktur namun dia bisa menghindar tanpa menerima luka sedikit pun dengan cara melompat dan memutar tubuhnya di udara. Begitu dia mendarat dia langsung menghentakkan kaki nya ke tanah dan dengan cepat bergerak menuju ke arah ku. Bangkit dari serangan tadi, aku menyiapkan diri untuk menyerang balik saat dia sampai kepada ku dan mendaratkan serangannya. Serangan berupa tusukan tajam ke d**a tengah ku namun bisa ku tangkis dengan mengelakkan diri ke arah kanan. Pada saat itu juga aku menebaskan pedang ku ke arah lengan kirinya namun dia menggulingkan tubuh dan menyambut serangan balik ku dengan pedangnya. “Kau sangat hebat ya!” ucapnya. “Kau juga sama!” jawab ku padanya. Sebuah tendangan yang sangat kuat mendarat di perut ku dan mengakibatkan aku terpental hingga menabrak dinding dari arena dan jatuh ke tanah. Entah kapan terakhir kali aku merasakan rasa sakit seperti ini namun hal ini justru membuat ku semakin bersemangat untuk melawannya. Aku bangun dari tanah dan memasang kuda-kuda untuk menyerangnya. Rasa sakit masih kurasakan namun fokus ku sama sekali tak terganggu akan hal itu. Aku berpikir menggunakan petir hitam untuk melawannya adalah hal yang berlebihan oleh karenanya aku menggunakan elemen angin untuk membantu gerakan ku agar lebih cepat dan aku juga bisa mengeluarkan peluru udara untuk melawannya. Aku mempelajari sihir ini saat berburu di hutan, saat itu aku tak membawa busur ku karena terburu-buru pergi. Bukan hanya angin, tapi juga air dan api. Aku membayangkan konsep yang sama seperti sihir Fireball namun dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dan dampak yang jauh lebih parah. Mengalirkan energi mana dan memanifestasikannya sesuai dengan bayangan ku. Saat semua persiapan ku selesai, aku melancarkan peluru udara ku ke arah instruktur yang berlari ke arah ku. Tersentak karena terkejut akan serangan ku, instruktur menghindar dengan gerakan menyeleding namun masih berlari ke arah ku. Aku bertubi-tubi meluncurkan peluru udara ku ke arah nya dengan tujuan tak memberikan kesempatan dia untuk menyerang atau pun beristirahat hingga sihir ku menyebabkan luka-luka kecil di pipi, leher dan bagian d**a kiri sampingnya. Peluru udara yang berhasil dia hindari menabrak dinding arena hingga meninggalkan bekas lubang dan retak. Instruktur itu mengangkat pedang dan tangannya dan berkata. “Aku menyerah sialan!” ucapnya sambil menata kembali nafas nya yang ngos-ngosan. Aku langsung menghentikan sihir ku setelah mendengar pernyataan kalah darinya. “Astaga kau terlalu berlebihan, aku bahkan tak bisa mengeluarkan sihir ku,” tambahnya. “Namaku Roku, aku adalah petualang tingkat B yang kadang di tugaskan untuk menguji orang yang mendaftar menjadi petualang dan memutuskan di tingkat apa petualang baru itu akan mulai,” lanjut pria itu. “Nama ku Clay,” ucap ku singkat sambil menurunkan pedang yang masih yang ter acungkan ke arah Roku. “Kau tau Clay, kau itu sangat hebat!” ucap Roku pada ku. “Kau juga sangat hebat tapi gerakanmu kadang terlihat aneh,” ucap ku padanya sambil membersihkan pakaian ku yang kotor akibat terjatuh tadi. “Wow kau bahkan menyadarinya,” ucapnya sambil berjalan ke arah ku. “Apa maksudmu?” tanya ku. “Aku menggabungkan seni berpedang dengan gerakan yang sering aku pakai ketika menggunakan belati, hanya beberapa orang yang sadar ketika aku menggunakannya” ucapnya sambil menepuk pundak ku. “Kau sangat hebat dari pengendalian mana mu, akurasi sihir dan yang terpenting fokusmu tak pernah ter alihkan,” tambahnya. “Aku memutuskan bahwa kau lulus dari ujian dan menjadi petualang tingkat B!” lanjut dia sambil memandang ku. Aku berpikir bahwa jika aku langsung naik ke peringkat B maka aku akan terlalu menarik perhatian disini. Aku tidak mau hal yang merepotkan itu terjadi demi kenyamanan diri ku. Aku juga mempunyai rencana untuk menyelidiki Dewa Camazot yang merupakan sosok di sembah di sini. Jika aku terlalu banyak menarik perhatian maka rencana ku mungkin akan terganggu. “Tunggu sebentar,” ucap ku. “Bisakah kau membuat ku menjadi petualang tingkat D atau E?” tambah ku sambil menatap balik dia. “Hmm aku bisa saja melakukannya, tapi kenapa kau mau jadi petualang tingkat D atau E?” tanya dia pada ku. “Padahal jika semakin tinggi peringkat mu semakin banyak misi yang lebih bagus dan bayaran yang lebih besar,” lanjut dia sambil berjalan mendekati meja tempat dia mengambil pedang tadi. “Aku ingin mulai dari dasarnya, meskipun menurutmu aku bagus dalam berbagai aspek tapi aku tidak memiliki pengalaman dalam berpetualang, entah itu secara solo atau pun dengan grup,” jawab ku dengan tegas. “Hmm kau orang yang aneh dengan pikiran yang aneh juga,” jawab nya berjalan mengambil kedua belati yang dia lemparkan ke papan kayu. “Apa maksud mu?” tanya karena merasa heran dengan jawabannya. “Banyak orang yang mendaftarkan diri sebagai petualang tak akan mungkin melepas kesempatan ini untuk menjadi petualang tingkat tinggi dengan instan,” jawabnya sambil tersenyum. “Aku percaya sesuatu yang instan tidak akan berakhir baik, bahkan jika mereka kuat namun jika mereka tak memiliki pengalaman dan mental yang kuat, maka mereka akan lebih mudah di kalahkan oleh musuh saat menjalankan misi,” ucap ku pada Roku. Saat mendengar perkataan yang aku lontar kan padanya, Roku mulai tertawa dengan hebat sambil memegangi perutnya. Aku sedikit kesal dengan perlakuan nya saat mendengar perkataan ku tadi. Setelah hampir 3 menit penuh tertawa lepas, dia bangun dari jongkok nya dan berkata pada ku. “Sangat jarang menemukan orang seperti mu, baiklah aku akan menjadikan mu sebagai petualang dengan peringkat D!” “Pergilah keluar dari arena ini dan berikan surat ini pada resepsionis yang kau temui di guild,” ucapnya sambil menyodorkan secarik kertas. Aku yang sedari tak bergerak se inchi pun dari tempat ku berdiri mulai berjalan mendekati Roku dan menerima kertas yang dia sodorkan. “Ngomong-ngomong kau pendek ya!” ucap dia sambil menahan tawa. “Tentu saja karena aku masih berumur tiga belas tahun,” ucap ku dengan jengkel dan bergegas pergi meninggalkan arena ini. Sebelum aku pergi dari sini aku sempat melihat raut wajah dari Roku yang tadinya menahan tawa nya kemudian berubah menjadi terkejut tak karuan karena mengetahui umur ku yang masih sangat muda. “T-tiga belas? H-hey tunggu dulu!” ucapnya berusaha mencegah ku pergi dari arena itu namun terlambat karena aku sudah menutup pintu yang menuju arena dengan keras. Setelah keluar dari arena aku berusaha menghilangkan rasa kesal ku karena perlakuan dari Roku tadi. “Seharusnya aku membunuhnya saja,” pikir ku. Aku berjalan dengan santai menuju resepsionis yang aku temui pertama kali saat memasuki guild ini. Resepsionis itu melihat aku berjalan menuju ke arah nya dan menyambut ku. “Selamat datang Clay, bagaimana ujian dari guild?” “Menyenangkan!” sambil menyerahkan kertas yang di berikan Roku pada ku. “Kau berhasil lulus ujian nya dalam sekali coba?” ucapnya setelah membaca surat itu. “Begitulah,” jawab ku sambil tersenyum santai. “Kalau begitu letakkan tangan mu di atas batu mesgrat ini dan alirkan sedikit energi mana mu pada batu ini,” tambah resepsionis itu. Aku melakukan seperti apa yang resepsionis itu katakan dan memejamkan mata untuk memfokuskan energi mana ku agar bisa ter alirkan dengan sempurna. Saat yakin dengan jumlah energi mana yang aku alirkan sudah cukup, aku membuka mata dan sedikit terkejut karena batu yang ku alirkan mana tadi mengeluarkan sinar putih kehijauan. Namun resepsionis itu sama sekali tak terkejut dengan apa yang telah terjadi bahkan orang-orang yang ada di guild saat ini tak ada satu pun dari mereka yang tertarik dengan kejadian batu yang bersinar ini. “Baik kartu petualang mu sudah keluar dan aku akan mengechecknya sebentar sebelum kau menyimpannya,” ucap dia sambil mengambil suatu kartu yang mungkin berbahan dari kulit binatang yang di potong dan di bentuk persegi panjang. “Nama Clay, umur 13, jenis kelamin laki-laki, ras manusia, class Evasion.” Dia terkejut dan berdiri saat melihat class yang aku miliki lalu menatap ku dengan tatapan yang memberikan tekanan. “Tolong rahasia kan itu,” ucap ku sambil menyatukan tangan ku sebagai tanda memohon. Resepsionis itu menghela nafas dan duduk kembali di tempat duduknya semula dan mulai memeriksa kembali informasi yang tertulis di kartu itu. “Ranking D, tahap inti mana saat ini Encourage defiance, En-encourage!?” ucap dia dengan menunjukkan ekspresi yang sama seperti tadi. Aku pun bersikap sama seperti tadi memohon agar dia merahasiakan hal ini pada siapapun karena sebenarnya aku tak ingin orang-orang tau tentang ini bahkan pada resepsionis wanita satu ini. Wanita ini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya karena seakan tak percaya apa yang dia lihat tadi. Dia pun memberikan kartu itu pada ku dengan memaksakan senyum di wajahnya. Aku menerima kartu itu dan mengambil barang-barang yang ku titipkan di sini sebelumnya. “Terima kasih uhm??” aku tak melanjutkan kata-kata ku karena masih tak tau nama dari resepsionis itu. “Systine, panggil aku Systine!” ucapnya. “Ahh terima kasih Systine, sampai bertemu besok!” ucap ku sambil berjalan keluar meninggalkan bangunan ini . Sesampainya di luar bangunan, langit sudah berwarna jingga dengan gradasi merah muda dan biru langit yang menandakan bahwa hari sudah senja. Aku bergegas berjalan menuju penginapan yang aku kunjungi tadi siang dan merasa orang-orang yang membuntuti ku tadi siang sudah tak ada. Berjalan menyusuri jalan dengan cahaya dari matahari yang semakin menghilang hingga akhirnya sampai di depan penginapan Big Bear dengan papan nama yang juga berbentuk beruang yang tidur. Aku pun masuk ke dalam penginapan dan pergi menuju Resepsionis nya aku pun juga langsung menyadari bahwa resepsionis ini beda dari yang tadi siang. “Aku sudah memesan kamar,” ucap ku pada resepsionis itu. “Atas nama siapa tuan?” tanya dia pada ku sambil membuka buku daftar tamu. “Clay,” jawab ku singkat. “Namun kau belum membayar biaya untuk menginap,” ucapnya setelah beberapa saat mencari nama ku di buku itu. “Berapa total nya?” tanya ku dengan singkat karena sudah merasa lelah dan ingin beristirahat. “Semuanya empat belas koin perak,” ucapnya sambil tersenyum. Aku pun memberikan koin perak sesuai dengan total yang dia katakan tadi dan setelah itu dia memberikan kunci yang memiliki gantungan dengan angka tujuh, mungkin itu adalah penunjuk ruangan yang sesuai dengan kunci yang kumiliki. Setelah naik ke lantai dua, aku mulai mencari ruangan yang akan menjadi ruangan ku. Aku berjalan ke arah kiri sambil memperhatikan pintu yang bertuliskan angka tujuh dan tak lama kemudian aku pun menemukannya. Ku masukkan kunci yang dari tadi aku bawa dan mulai membuka pintu kamar yang akan ku tempati hari ini. Aku cukup puas dengan kamar ini, tak terlalu luas dan tak terlalu sempit. Jendela yang di miliki langsung menghadap ke jalan sehingga akan sangat baik melihat pemandangan di desa yang ramai ini melalui jendela. Kasur yang cukup nyaman dan penerangan redup yang di miliki sangat ku sukai. Menutup pintu dari kamar dan menguncinya dari dalam, aku merobohkan tubuh ku ke atas kasur untuk tidur dan beristirahat setelah banyak kejadian yang ku lalui hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN