Tak berselang lama setelah merobohkan diri ke atas kasur, aku mengalami mimpi yang sama seperti yang selalu saja kumimpikan setiap kali aku menutup mata, mimpi di mana keluarga ku di bunuh oleh perampok kadang juga mimpi tentang kerajaan yang luluh lantak karena terbakar oleh lautan api biru yang sangat panas, bahkan terkadang bermimpi melawan banyak naga-naga yang berkekuatan sangat dahsyat. Namun aku lebih sering bermimpi saat orang tua dan istri di bunuh oleh perampok. Menurut orang-orang yang hidupnya lebih tenang dan sukses, menyalahkan takdir adalah tindakan yang tak realistis sekaligus sangat naif. Namun aku tak peduli akan hal itu. Tak ada yang namanya kebetulan di dunia mana pun, semuanya telah tertulis dengan lengkap dari bagaimana seseorang akan lahir sampai bagaimana dia mati suatu saat. Jika ada yang mengatur hal seperti itu maka bukan hal yang tidak mungkin untuk merubah takdir dengan cara membunuh dia yang mengatur takdir itu.
Karena dari saking seringnya bermimpi hal yang sama, tubuh dan mental ku mulai beradaptasi dan tak terkejut lagi akan hal itu namun luapan amarah ku tetap saja mengalir deras seakan akan menenggelamkan ku kedalam lautan amarah yang tak bisa aku bendung.
Matahari sudah bersinar meskipun tak terlalu tinggi, aku terlalu malas bahkan hanya untuk merenggangkan tubuh ku. Aku merogoh kantong uang yang ada di ransel dan menghitung sisa uang yang aku miliki saat ini.
“4 koin emas dan 20 koin perak,” ucap ku sambil menghela nafas karena lega terhadap uang yang aku miliki masih cukup untuk kebutuhan ku di desa ini selama beberapa hari.
Aku bangun dari tempat tidur ku dan mulai memasang pakaian kemudian turun ke lantai bawah untuk sarapan. Ada beberapa orang yang telah duduk di meja yang di sediakan di sini, nampaknya mereka adalah petualang yang menginap di sini atau pun yang mampir untuk sarapan sebelum berangkat ke guild untuk melakukan misi. Senjata yang berupa pedang, busur panah beserta anak panahnya, tombak, tongkat sihir dan pakaian armor yang khas adalah alasan ku mengetahui bahwa mereka adalah petualang. Aku berjalan menuju meja resepsionis untuk bertanya.
“Apakah aku bisa sarapan di sini?” tanya ku pada resepsionis itu.
“Tentu, apa yang anda ingin makan?” ucap resepsionis itu sambil menatap ku.
“Emm aku ingin makanan yang biasa di makan penduduk di sini saat pagi hari,” jawab ku.
“Baiklah, silahkan tunggu sebentar!” ucap si resepsionis sambil memanggil pelayan dan memberikan catatan pesanan pada pelayan itu.
Sambil menunggu makananku datang, aku tak sengaja mendengar percakapan antar petualang yang menyinggung tentang organisasi penyembah Camazot.
“Penyembah Dewa Camazot semakin menggila ketika menyebarkan kepercayaannya,” ucap salah satu petualang yang sedang sarapan.
“Iya bahkan mereka bertindak nekat, kemarin teman ku bilang bahwa dia di serang orang-orang yang berasal dari organisasi itu hanya karena dia tak mau memberi uang sumbangan pada mereka,” sambung salah satu pria dengan mengangkat jari telunjuk nya.
“Bukankah sebelumnya mereka tak seperti ini, bahkan cenderung tak mengganggu,” lanjut seorang pria dengan janggut dan kumis yang cukup lebat.
“Ini karena Rasul baru mereka, saat Rasul yang dulu meninggal dan di ganti dengan Rasul baru yang saat ini memimpin organisasi itu,” jawab seorang pria yang memulai pembicaraan terlebih dahulu.
“Aku tak mengerti kenapa guild tak mengambil tindakan?” Tanya seorang pria yang berjenggot tadi.
Aku tak sampai mendengarkan pembicaraan mereka sampai selesai karena pelayan yang tadi telah membawakan makanan dan minuman ke arah ku.
“Bolehkah aku makan di meja ini?” tanya ku pada resepsionis itu.
“Silahkan tuan!” jawab resepsionis tadi dengan ramah.
Makanan yang berupa roti di lapisi dengan mentega cair dan potongan daging yang di potong kotak berupa dadu kemudian di tusukkan bilah kayu kecil dengan ujung yang runcing, jika di dunia ku yang dulu hidangan ini bernama sate namun disini di sebut jikkai dan untuk minumannya adalah segelas s**u segar. Aku memakan makanan yang saat ini ada di depan ku untuk mendapatkan energi supaya bisa menjalankan misi guild hari ini.
“Di sini ramai sekali ya, bahkan ini tak layak di sebut desa harusnya ini menjadi kota,” ucap ku setelah selesai memakan makanan ku.
“Anda benar, namun saat pertama kali saya sampai kesini beberapa tahun lalu, desa ini tak seramai dan semaju sekarang,” jawab resepsionis itu.
“Hmm begitu, kalau begitu aku menitipkan kunci kamar ku pada mu lagi, aku takut menghilangkan nya jika kubawa bersama ku,” ucap ku sambil menyodorkan uang sebanyak tiga perak dan kunci kamar yang aku tempati.
“Baiklah tuan Clay,” jawabnya sambil mengambil uang dan kunci yang aku serahkan.
Aku berjalan kaki menuju guild Reistes sambil menikmati sinar matahari pagi. Ada beberapa petualang yang berjalan searah dengan ku juga ada beberapa petualang yang sedang berbincang-bincang di samping air mancur. Aku memasuki guild dan saat membuka pintu, aku di kaget kan oleh nona Systine sang resepsionis guild Reistes yang sedang menempelkan kertas yang berisikan misi-misi yang ada untuk hari ini. Dia juga terkejut saat melihat ku sampai beberapa dari kertas itu terjatuh ke lantai sepertinya dia masih sedikit terkejut dengan class dan tahap inti mana ku yang dia ketahui kemarin saat memeriksa kartu petualang ku. Aku pun berjalan santai kearahnya dan mengambil kertas-kertas tadi yang jatuh dari dekapan tangannya tadi.
“Silahkan nona,” ucap ku sambil tersenyum dan menyodorkan kertas yang ku pungut tadi.
“Ahh terima kasih Clay,” ucapnya sambil tersenyum dan mengambil kertas dari tangan ku.
“Aku ingin mengambil misi yang sesuai dengan peringkat ku,” tambah ku.
“Ohh kalau begitu kau bisa mengambil misi ini,” jawab nya sambil menunjuk ke arah salah satu kertas yang dia tempel kan.
Kertas itu bertuliskan sebuah misi untuk mengalahkan landak besi sebanyak 10 ekor. Untuk imbalan yang di dapatkan setelah menyelesaikan misi adalah 15 koin perak. Karena menurut ku misi ini cocok dengan yang ingin ku jalani saat ini karena bisa di bilang misi ini sangatlah mudah bagi ku, aku sudah sering kali memburu landak besi seperti ini saat di desa ku dulu. Dan mungkin aku bisa mencari tentang Camazot setelah melakukan misi ini tanpa menarik perhatian karena seorang petualang pemula pasti akan membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan misi ini.
“Terima kasih Systine,” ucap ku sambil tersenyum padanya
.
“Oh iya, apa kau tau dimana wilayah organisasi penyembah Dewa Camazot?” tambah ku pada Systine.
“Hmm aku tak terlalu tau tentang itu tapi banyak petualang yang bilang bahwa anggota dari organisasi itu banyak terlihat di gereja tua yang ada di hutan Groll,” Jawabnya sambil terus menempelkan kertas-kertas yang di pegang nya ke bagian papan yang masih kosong.
“Hutan Groll? dimana itu?” tanya ku kembali.
“Itu berada di bagian utara dari desa ini ketika kau keluar dari gerbang masuk,” jawabnya.
“Kenapa kau menanyakan hal itu?” ucapnya sambil menghentikan pekerjaannya dan menatap ke arah ku.
“Tidak ada, aku hanya penasaran!” jawab ku sambil tersenyum canggung.
Dia masih menatap tajam diri ku seakan tau ada hal yang ku sembunyikan dari nya. Karena memang tak ada hubungannya dengan dia, aku memutuskan tak memberi tahu niat ku sebenarnya. Namun memang kepekaan dari perempuan tak bisa di anggap remeh.
“Apapun tujuanmu sebaiknya kau pikirkan kembali, hutan Groll bukan lah hutan yang bisa di atasi oleh petualang tingkat D, bahkan grup yang beranggotakan petualang tingkat B akan kesulitan oleh binatang magis yang ada di sana,” ucapnya sambil berhenti menatap ku dan kembali menempelkan kertas-kertas yang di pegang nya.
“Dan juga organisasi penyembah dewa Camazot bukan terdiri dari orang-orang yang lemah, para petinggi dari organisasi itu bukanlah orang-orang yang bisa di kalahkan dengan bermodalkan keberuntungan,” lanjutnya sambil sesekali melihat ke arah ku.
Aku dengan seksama menyimak perkataan dari Systine, dari hutan Grool sampai organisasi penyembah Camazot. Namun aku ke sana bukan untuk membuat keributan tapi untuk mencari dan mengumpulkan informasi. Setidaknya bukan sekarang waktu ku untuk membuat keributan pada organisasi itu, setelah semua informasi telah tersusun rapi dan jika organisasi itu menunjukkan celah maka aku tak akan segan untuk memulai sesuatu yang mereka tak harapkan.
“Terima kasih, aku akan berangkat sekarang,” ucap ku pada Systine sambil berjalan keluar dari guild.
“Berhati-hatilah!” ucap Systine pada ku sambil melanjutkan pekerjaannya.
Aku berjalan menuju gerbang keluar dari desa ini dan pergi ke padang rumput di samping hutan yang berlawanan arah dari hutan Grool. Landak besi biasanya sering berkumpul di padang rumput ini hanya untuk mencari makan atau pun mencari pasangan. Sesampainya di sana, ada beberapa petualang yang menurut ku juga melakukan misi yang sama. Ada beberapa yang berkelompok ada juga yang melakukannya dengan solo seperti ku sekarang. Landak besi merupakan binatang magis yang tak terlalu kuat namun bisa melukai seseorang dengan duri duri besi yang ada di seluruh punggungnya. Guild membutuhkan tanduk besi yang ada di kepala landak besi sebagai bukti terselesaikan nya misi ini. Tanduk besi ini digunakan sebagai campuran dalam senjata atau pun armor pertahanan dimana bisa menambah kekerasan dari suatu logam. Aku tak membutuhkan senjata untuk mengalahkan landak-landak besi ini, aku hanya mengepalkan tangan kiri ku dan membuat nya layaknya pistol dan peluru angin sebagai peluru yang di tembakkan ke landak besi yang mencoba menyerang ku.
“Aku bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup,” ucap ku sambil menembakkan sihir ku pada seekor landak besi yang berada sekitar 5 meter dari ku.
Tak sampai 5 menit aku sudah membunuh 10 landak besi sesuai dengan permintaan misi. Dan aku juga telah mengumpulkan tanduk-tanduk dari landak yang telah aku bunuh tadi dan menyimpannya di sebuah kantong agar tak jatuh atau pun hilang. Aku melakukan semua itu dengan cepat agar petualang-petualang lain tak sempat untuk memperhatikan apa yang aku lakukan. Setelah semua selesai, aku pergi ke arah sungai yang ada di sebelah padang rumput ini untuk membersihkan noda darah yang aku dapat ketika mencabut tanduk landak besi tadi. Setelah semua selesai sambil memastikan tak ada noda darah yang tersisa karena jika ada noda darah yang menempel di tubuh ku, maka itu bisa memancing kedatangan dari binatang buas lainnya. Aku pergi menjauh dari daerah itu dan pergi ke arah hutan Grool yang Systine katakan pada ku saat di guild. Setelah berjalan sekitar 1 jam setengah lamanya dan sampai di hadapan hutan Grool sekarang. Samar-samar aku merasakan energi mana yang tipis berasal dari dalam hutan, meskipun terasa tipis namun energi mana ini memberi tekanan yang cukup kuat dan mengeluarkan aura yang cukup berbahaya. Namun aku tak terlalu memikirkannya dan dengan percaya diri masuk ke dalam hutan ini.